Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Pendaftaran Administrasi

Pendaftaran Administrasi dan Penyerahan Dokumen Santri Baru.

---

Pagi itu, halaman Pondok Pesantren Al Ikhlas Jawa Timur mulai dipenuhi kesibukan. Matahari baru saja naik dari ufuk timur, tetapi suasana pesantren sudah hidup oleh suara langkah kaki, percakapan para wali santri, dan panggilan beberapa pengurus yang mengarahkan calon santri menuju tempat pendaftaran.

Bangunan utama pesantren berdiri sederhana namun kokoh. Dinding-dindingnya memancarkan kesan tua yang penuh sejarah. Di sebelah kanan terdapat masjid besar dengan kubah hijau yang menjadi pusat kegiatan ibadah. Di sebelah kiri terbentang deretan asrama santri yang dipisahkan oleh halaman luas.

Di atas sebuah gedung sederhana terpampang papan nama: PONDOK PESANTREN AL IKHLAS. Di bawah asuhan Kiyai Haji Mahmud Al-Quthuz.

Ghazi Al-Ghifari berdiri beberapa langkah dari papan tersebut. Ia menarik napas panjang. Hari ini bukan lagi sekadar hari perjalanan. Hari ini adalah hari ketika ia secara resmi akan menjadi bagian dari pesantren.

Di tangannya terdapat sebuah map berwarna cokelat yang berisi dokumen-dokumen penting. Kartu keluarga, akta kelahiran, ijazah atau surat keterangan pendidikan sebelumnya, pas foto, serta beberapa berkas lain yang telah dipersiapkan dengan teliti.

Namun, meskipun semua dokumen sudah tersusun rapi, jantung Ghazi tetap berdegup lebih cepat.

"Ini benar-benar dimulai hari ini," gumamnya. Ia memandang kembali halaman pesantren.

Para calon santri datang bersama orang tua mereka. Ada yang tampak ceria, ada yang gugup, bahkan beberapa anak kecil terlihat bersembunyi di belakang ibunya.

Seorang pengurus berjalan melewati Ghazi sambil membawa setumpuk formulir.

"Calon santri baru, pendaftaran di sebelah sana!" serunya.

Ghazi mengangguk. "Baik, Kak." Ia menggenggam mapnya lebih erat. Kemudian ia melangkah menuju meja administrasi. Satu langkah. Dua langkah. Dan tanpa disadarinya, langkah-langkah kecil itu membawa dirinya memasuki babak baru kehidupan.

❖ ❖ ❖

Meja pendaftaran berada di sebuah ruangan yang cukup luas. Beberapa meja disusun berjajar. Di belakang masing-masing meja duduk para pengurus yang sibuk memeriksa dokumen calon santri.

Di dinding terpampang tulisan besar: "Administrasi adalah awal dari kedisiplinan." Ghazi membaca tulisan itu beberapa detik. Entah mengapa kalimat sederhana tersebut terasa begitu dalam baginya. Ia kemudian berdiri di antrean. Di depannya terdapat sekitar sepuluh calon santri.

Seorang anak yang berdiri di depan Ghazi menoleh. "Mas juga baru?" Ghazi tersenyum. "Iya." "Nama saya Farhan." "Ghazi."

"Kamu dari mana?" Ghazi menyebutkan daerah asalnya Palembang, Sumatera Selatan. Farhan mengangguk kagum. "Jauh juga." "Lumayan." jawab Ghazi

"Sudah pernah ke sini sebelumnya?" "Belum." jawab Ghazi. Farhan tersenyum. "Saya juga."

Percakapan singkat itu membuat ketegangan Ghazi sedikit berkurang. Namun pikirannya kembali kepada tujuan utama. Ia datang ke Pondok Pesantren Al Ikhlas bukan hanya untuk mendapatkan tempat tinggal atau melanjutkan pendidikan. Ia ingin belajar. Ia ingin memperbaiki dirinya. Ia ingin memahami ilmu agama dengan lebih baik. Dan yang paling penting, ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa keputusan yang telah diambilnya bukanlah sebuah kesalahan.

Beberapa waktu sebelumnya, ia sering merasa hidupnya berjalan tanpa arah yang jelas. Ia belajar, bergaul, menjalani hari-hari sebagaimana kebanyakan anak seusianya, tetapi di dalam dirinya ada ruang kosong yang tidak mampu ia jelaskan.

Ketika mendengar tentang Pondok Pesantren Al Ikhlas dan sosok Kiyai Haji Mahmud Al-Quthuz, ia mulai memiliki keinginan untuk menempuh jalan yang berbeda. Bukan karena pesantren menjanjikan kehidupan mudah. Justru sebaliknya. Ia tahu kehidupan pesantren akan penuh aturan. Bangun sebelum subuh. Shalat berjamaah. Mengaji. Belajar. Membersihkan lingkungan. Mengikuti jadwal yang ketat. Menjaga adab. Mengurangi kebiasaan lama. Semua itu membutuhkan ketekunan.

Tetapi justru itulah yang ia cari. Sebuah kehidupan yang mengajarinya disiplin. Sebuah lingkungan yang dapat membentuk dirinya. Sebuah tempat di mana ilmu tidak hanya dipelajari dengan pikiran, tetapi juga diterapkan melalui kehidupan sehari-hari.

"Ghazi Al-Ghifari?" Suara pengurus membuatnya tersadar. Ghazi segera maju. "Iya, Kak."

"Formulir pendaftaran sudah diisi?" "Sudah." "Dokumen lengkap?" Ghazi menyerahkan map cokelatnya. "Ini semuanya."

Pengurus itu menerima map tersebut. Ia membuka satu per satu berkas di dalamnya. "Nama lengkap?" "Ghazi Al-Ghifari Al-Falimbani."

"Tempat dan tanggal lahir?" Ghazi menjawab. "Alamat?" Ia kembali menjawab. "Palembang, Sumatera Selatan"

Pengurus itu mencatat dengan teliti. "Kamu masuk program pendidikan yang mana?" Ghazi menyebutkan jenjang yang akan ditempuhnya. Pengurus itu mengangguk.

"Baik. Ada alasan khusus memilih Pondok Pesantren Al Ikhlas?" Pertanyaan itu sederhana. Namun Ghazi terdiam. Ia tidak menyangka akan ditanya demikian. "Alasannya..." Ghazi menarik napas. "Saya ingin belajar lebih banyak."

Pengurus itu tersenyum. "Belajar apa?" tanya pengurus pondok pesantren Al Ikhlas Jawa Timur. "Ilmu agama. Dan... belajar menjadi orang yang lebih baik."

Pengurus itu berhenti menulis sejenak. Ia menatap Ghazi. "Jawaban yang bagus." Ghazi menunduk. "Terima kasih."

"Tapi ingat, masuk pesantren itu mudah. Bertahan dan istiqamah yang sulit." Kata-kata itu membuat Ghazi terdiam. "Insyaallah saya akan berusaha."

"Bagus. Jangan hanya berusaha ketika semangat. Berusahalah ketika sedang lelah." Ghazi mengangguk. "Baik."

Pengurus itu kemudian melanjutkan pemeriksaan dokumen. Sementara itu, dari kejauhan terdengar suara azan yang berkumandang dari masjid. Ghazi menoleh. Suara itu terdengar begitu dekat. Begitu nyata. Dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa tempat ini bukan sekadar sekolah. Tempat ini akan menjadi rumahnya.

❖ ❖ ❖

Setelah dokumen diperiksa, Ghazi mendapatkan beberapa formulir tambahan. "Ini formulir data santri," kata pengurus. "Isi lengkap. Jangan ada yang dikosongkan kalau memang datanya ada."

"Baik." jawab Ghazi. "Setelah itu serahkan kembali ke meja sebelah." kata pengurus pondok pesantren Al Ikhlas Jawa Timur. Ghazi membawa formulir tersebut menuju bangku kosong.

Ia duduk dan mulai menulis. Nama : Ghazi Al Ghifari Al-Falimbani. Alamat. Riwayat pendidikan. Nama orang tua : Haji Ahmad Akbar Al-Falimbani. Nomor kontak keluarga. Riwayat kegiatan. Keterangan kesehatan umum. Semua ditulis perlahan.

Di tengah pengisian, tangannya berhenti. Pada bagian yang bertuliskan: Tujuan mengikuti pendidikan di Pondok Pesantren Al Ikhlas Jawa Timur. Ghazi menatap kolom tersebut cukup lama. Ia bisa saja menulis: "Untuk mendapatkan pendidikan agama." Tetapi rasanya terlalu sederhana. Ia kembali berpikir. Kemudian ia menulis: "Untuk mencari ilmu, memperbaiki akhlak, melatih kedisiplinan, dan mempersiapkan diri agar dapat menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat."

Ia membaca kembali kalimat itu. Tidak sempurna. Tetapi cukup mewakili apa yang ada di dalam hatinya. "Sudah?" tiba tiba ada seseorang yang bertanya. Ghazi menoleh. Farhan berdiri di sampingnya. "Belum." jawab Ghazi. Farhan melirik formulir. "Lama sekali." Ghazi tertawa kecil. "Saya sedang berpikir."

"Formulir saja dipikir." jawab Farhan. "Ini penting." Ghazi menimpali ucapan Farhan. Farhan duduk di sebelahnya. "Kamu serius sekali." Ghazi tersenyum. "Kalau sudah mulai, harus serius." Farhan mengangguk. "Benar juga."

Mereka kembali mengisi formulir. Beberapa menit kemudian, seorang pengurus masuk dan mengumumkan bahwa dokumen yang telah lengkap dapat diserahkan ke meja verifikasi.

Ghazi berdiri. Ia membawa formulirnya. Ketika menyerahkannya, pengurus memeriksa kembali. "Pas foto ada?" "Ada." "Fotokopi kartu keluarga?" "Ada." "Akta kelahiran?" "Ada."

Lihat selengkapnya