Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Pengenalan Komplek Asrama

Pengenalan Komplek Asrama dan Suasana Kamar yang Padat.

Matahari sore baru saja merosot di balik deretan kubah masjid pesantren, menyisakan bias jingga kemerahan yang memantul di atas genting-genting tua Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur. Pukul empat lewat empat puluh menit sore itu, udara terasa begitu pekat oleh aroma debu tanah, uap masakan dari dapur umum santri, dan wangi khas minyak kayu putih yang menguap dari baju-baju santri yang dijemur berjajar di sepanjang kawat halaman asrama. Suara gemerincing gayung beradu dengan ember plastik di kamar mandi umum berpadu harmonis dengan deru angin pedesaan yang menggoyang-goyangkan daun-daun pohon mangga di sekitar halaman. Di tengah keriuhan sore yang sarat ritme kehidupan tradisional itu, Ghazi Al-Ghifari berdiri mematung di depan sebuah bangunan asrama putra bertingkat dua yang dinding temboknya sudah mengelupas di sana-sini.

Ghazi mengenakan kemeja koko putih polos yang sudah sedikit kumal di bagian kerahnya, sarung katun berwarna hijau lumut yang melilit longgar di pinggangnya, serta sebuah peci hitam bludru yang agak miring menutupi sebagian dahinya. Tangannya yang sebelah kanan erat menyeret sebuah koper kanvas besar berisi perlengkapan harian, sementara tangan kirinya menjinjing sebuah ember plastik hijau berisi sabun batangan, sikat gigi, gayung, dan handuk kecil yang menggantung di bahunya. Napasnya sedikit terengah-engah setelah berjalan kaki cukup jauh dari ndalem Kiai Mahmud melewati jalan-jalan setapak berkerikil putih yang dipadati santri berlalu-lalang menenteng kitab.

"Nah, Kang Ghazi, gedung di depan kita ini namanya Asrama Al-Ghazali, khusus untuk santri tingkat lanjutan dan beberapa santri baru yang dititipkan pengasuh," kata Kang Ubaid ramah sambil menunjuk bangunan bercat hijau pudar yang tampak dipadati aktivitas manusia di setiap jendelanya.

"Ramai sekali ya, Kang. Rasanya hampir mirip dengan suasana stasiun saat jam sibuk," ucap Ghazi lirih, mencoba tersenyum meskipun matanya menyapu sekeliling dengan perasaan canggung yang teramat sangat.

"Namanya juga asrama pesantren, Kang Ghazi. Di sini kesunyian itu barang mewah. Yang ada hanyalah suara orang mengaji, suara ember jatuh, atau suara santri saling berteriak minta tolong ambilkan handuk," balas Kang Ubaid sambil tertawa kecil, memecah ketegangan yang merayap di dada Ghazi.

Mereka berdua melangkah menaiki tangga kayu berderit menuju lantai dua asrama tersebut. Bau apek khas ruangan tertutup yang dihuni banyak orang langsung menyergap indra penciuman Ghazi begitu mereka menjejakkan kaki di selasar lorong yang memanjang. Di kiri dan kanan lorong, pintu-pintu kayu berukuran sedang terbuka lebar, memperlihatkan pemandangan kamar-kamar sempit yang dijejali tumpukan kasur busa tipis, sarung yang digantung sembarangan di paku dinding, serta tumpukan kitab kuning yang berserakan di atas meja-meja kecil. Anak-anak muda seusia remaja belasan tahun hingga pemuda awal dua puluhan tampak hilir mudik mengenakan sarung dengan berbagai corak, bercanda tawa menggunakan bahasa Madura dan Jawa bercampur aduk, menciptakan atmosfer kehidupan komunal yang begitu pekat dan hidup tanpa sekat formalitas kota besar.

❖ ❖ ❖

Ghazi menghentikan langkahnya sejenak di depan sebuah pintu kamar bernomor tujuh yang terletak persis di ujung lorong lantai dua Asrama Al-Ghazali. Tujuannya hari ini sangat jelas namun sekaligus mencemaskan: ia harus segera beradaptasi, menempati tempat tidur barunya di ruangan yang sangat sempit itu, dan meleburkan diri ke dalam kelompok sosial yang sama sekali asing baginya. Setelah terbiasa hidup sendiri di apartemen mewah kawasan Jakarta dengan privasi penuh dan keheningan mutlak, kini Ghazi harus belajar berbagi ruang, udara, dan privasi dengan belasan orang asing di dalam satu ruangan berukuran tidak lebih dari empat kali lima meter.

"Nah, kamar nomor tujuh ini tempat penempatanmu, Kang Ghazi. Pintunya memang agak seret kalau ditutup, jadi harus ditarik sedikit ke atas," ujar Kang Ubaid sambil mengetuk daun pintu kayu yang permukaannya sudah penuh dengan coretan nama-nama santri angkatan sebelumnya.

Pintu perlahan berderit terbuka, dan pemandangan di dalam kamar nomor tujuh langsung menyergap pandangan Ghazi. Ruangan itu tampak begitu padat. Ada enam pasang tempat tidur tingkat besi berkarat yang tersusun mepet ke dinding, menyisakan lorong sempit di tengah ruangan yang hanya cukup dilewati satu orang dewasa dengan cara berjalan menyamping. Di sudut ruangan, kipas angin dinding berukuran kecil berputar pelan menghasilkan bunyi kriet-kriet yang monoton, berusaha mengusir hawa panas gerah yang menguar dari tubuh para santri yang baru saja pulang dari kegiatan sore di masjid.

"Assalamu’alaikum," ucap Ghazi ragu-ragu sambil melangkah masuk melewati ambang pintu.

"Wa’alaikumussalam!" jawab beberapa suara serempak dari dalam kamar. Empat orang santri yang sedang duduk melingkar di atas lantai beralaskan tikar pandan langsung menoleh ke arah Ghazi dengan tatapan menyelidik namun ramah.

"Kenalkan, ini Kang Ghazi. Santri baru titipan langsung dari ndalem yang akan menetap di kamar kita mulai hari ini," kata Kang Ubaid memperkenalkan Ghazi kepada penghuni kamar.

Seorang pemuda berbadan tegap dengan potongan rambut pendek cepak dan mengenakan sarung kotak-kotak merah langsung bangkit berdiri menyambut Ghazi. "Ah, selamat datang di kamar keramat nomor tujuh, Kang! Saya Fahrul, ketua kamar di sini. Silakan, silakan masuk, barangnya ditaruh di dekat lemari kosong sebelah pojok ya."

Ghazi tersenyum kaku, menganggukkan kepalanya tanda terima kasih. "Terima kasih, Kang Fahrul. Mohon bimbingannya, saya masih sangat awam dengan aturan di sini."

Tujuan Ghazi melangkah masuk ke kamar nomor tujuh bukan sekadar mencari tempat tidur untuk memejamkan mata di malam hari, melainkan memulai ujian kesabaran yang sesungguhnya dalam membina interaksi sosial. Di dalam kamar yang sesak ini, tidak ada lagi ruang untuk ego pribadi, sikap individualistis, atau gengsi ala perkotaan. Setiap orang di sini hidup dalam satu ikatan nasib yang sama: mengabdi, belajar, dan bertahan hidup dalam kesederhanaan pesantren. Ghazi meletakkan kopernya di lantai dekat sudut ruangan yang ditunjuk Fahrul, lalu merapikan tumpukan pakaian dan kitabnya ke dalam sebuah lemari kayu kecil berkunci usang yang sudah disediakan di sana.

"Jangan sungkan-sungkan kalau butuh apa-apa, Kang Ghazi. Kalau sabun atau gayung kehabisan, tinggal pinjam ke anak-anak. Tapi kalau sarung, ya pakai punya sendiri, jangan pinjam punya saya karena baunya sudah khas," seloroh Fahrul disambut gelak tawa renyah dari santri-santri lain di dalam kamar, mencairkan ketegangan yang sempat menyelimuti perasaan Ghazi.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam kamar nomor tujuh perlahan mulai kembali normal setelah perkenalan singkat yang penuh kehangatan itu. Sebagian santri kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing; ada yang sibuk merapikan halaman kitab kuning di atas meja lipat kecil, ada yang sedang menyetrika baju koko menggunakan setrika arang tradisional di sudut dekat jendela, dan ada pula yang berbaring lelah di kasur atas sambil mendengarkan radio transistor kecil yang memutar lantunan salawat nabi dengan volume pelan. Ghazi duduk bersila di atas kasur busa tipis miliknya yang berada di ranjang bawah, merasakan permukaan lantai semen dingin yang menembus tikar tipis di bawahnya.

Peralihan dari keheningan ruang tamu ndalem Kiai Mahmud yang sakral ke dalam riuhnya kamar asrama berpenghuni padat ini menciptakan transisi batin yang cukup menghentak kesadaran Ghazi. Di sini, tidak ada waktu untuk merenung sendirian terlalu lama. Bau keringat, aroma minyak telon, bau buku-buku tua, dan wangi tembakau lintingan bercampur menjadi satu di dalam ruangan sempit tanpa ventilasi udara yang memadai tersebut.

"Biasanya jam segini ngapain saja, Kang Fahrul?" tanya Ghazi memulai percakapan ringan untuk mencairkan suasana sambil memerhatikan seorang santri muda di pojok ruangan yang tampak serius menghafalkan bait-bait nadhom Alfiyah Ibnu Malik.

Fahrul yang sedang melipat sarungnya menoleh sambil tersenyum lebar. "Oh, sebentar lagi menjelang maghrib kita persiapan piket kebersihan kamar, Kang Ghazi. Nanti jam setengah enam lewat sepuluh, suara lonceng asrama akan bunyi tiga kali menandakan semua santri harus bersiap turun ke masjid untuk salat berjamaah."

"Piket kebersihan? Apakah ada pembagian tugasnya?" tanya Ghazi penasaran, mengingat ia belum pernah memegang sapu lidi atau mengepel lantai semen kasar sejak bertahun-tahun lalu.

"Tentu saja ada dong, Kang! Di kamar nomor tujuh ini semua hal dilakukan secara bergiliran dan adil. Tidak ada istilah santri senior bebas dari piket. Kemarin giliran si Jefri yang nyapu, hari ini giliran anak baru... eh, maksudnya giliran Kang Ghazi kalau besok pagi," jawab Fahrul sambil terkekeh geli.

Jefri, seorang santri remaja asal Madura yang duduk di dekat jendela, ikut menimpali sambil nyengir lebar. "Tenang saja, Kang Ghazi! Nanti saya ajari cara menyapu lantai kamar biar debunya tidak beterbangan ke muka orang tidur. Ilmu menyapu di pesantren ini juga ada seninya tersendiri lho!"

Ghazi ikut tersenyum tipis mendengar candaan santai itu. Transisi mentalnya dari seorang mantan eksekutif perkotaan yang dilayani asisten rumah tangga menuju seorang santri mandiri yang harus membersihkan kamarnya sendiri berjalan dengan mulus berkat keramahan teman-teman sekamarnya. Rasa canggung yang sempat mencengkeram dadanya perlahan-lahan mulai meleleh digantikan oleh rasa kekeluargaan yang tulus.

"Wah, kalau begitu saya harus banyak belajar ilmu menyapu lantai dari Jefri nih," balas Ghazi merendah.

"Bagus kalau begitu! Besok pagi jam empat pas, sebelum subuh, siapkan dirimu jadi komandan sapu kamar nomor tujuh ya, Kang!" seru Jefri disambut tawa kecil dari anak-anak lain.

Transisi sore itu diakhiri dengan suara dentang lonceng besi tua yang digantung di pos satpam asrama—berdering nyaring tiga kali berturut-turut, memecah keheningan senja dan memberi aba-aba kepada seluruh santri untuk segera bergegas mengambil air wudu dan berjalan menuju masjid utama pondok.

Lihat selengkapnya