
Penyesuaian Diri Pertama: Suara Lonceng, Antrean Mandi, dan Bau Kitab---
Pukul empat lewat lima belas menit pagi, ketika langit timur masih diselimuti warna kelam pekat yang menyisakan sisa-sisa embun malam, sebuah suara nyaring memecah keheningan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Suara itu berasal dari sebuah lonceng kuno berukuran sedang yang tergantung di bawah atap menara utama pesantren, dipukul secara berirama oleh seorang santri tugas jaga menggunakan pemukul kayu keras. Teng... teng... teng... Suara logam berpadu dengan udara subuh yang dingin menusuk tulang, merambat melewati dinding-dinding asrama santri, melintasi halaman luas berplester semen yang bersih, hingga menyusup ke setiap sudut kamar tidur santri baru.
Di salah satu kamar asrama sederhana berukuran empat kali enam meter yang dihuni oleh delapan orang santri—yang dikenal dengan sebutan kamar Al-Ghazali—suara lonceng subuh itu langsung direspon oleh pergerakan cepat. Ghazi, yang tidur terbungkus sarung tenun kasar dan selimut tipis bermotif kotak-kotak di atas kasur busa tipis di lantai, langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan hawa dingin pegunungan yang menyejukkan paru-parunya, jauh berbeda dari suasana lembap kota Bandar Lampung atau hiruk-pikuk pelabuhan di Surabaya yang baru saja ia tinggalkan beberapa hari lalu.
"Bangun, Ghazi! Jangan diterusin tidurnya, nanti keburu rakaat fajar atau kehabisan air di kamar mandi," suara serak khas bangun tidur terdengar dari sebelah kiri Ghazi, diucapkan oleh santri senior kamar bernama Kiai Muda Farhan yang bertindak sebagai ketua kamar.
Ghazi mengucek matanya pelan, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk yang masih menggelayut di kepalanya. Hari ini adalah hari pertamanya secara resmi menjalani kehidupan sebagai santri mukim di pondok pesantren—sebuah dunia baru yang kontras seratus delapan puluh derajat dari kehidupan mewahnya sebagai anak pengusaha sukses atau kebebasannya sebagai seorang fotografer dokumenter jalanan. Di sekelilingnya, suara derit lemari kayu tua, suara gayung yang berbenturan dengan ember plastik, serta langkah kaki bergesek sandal jepit di lantai keramik lorong asrama mulai bergemuruh silih berganti.
"Iya, Kang Farhan. Saya sudah bangun dari tadi," jawab Ghazi dengan suara pelan namun jelas, berusaha menyesuaikan diri dengan tata krama berbicara yang lebih santun di lingkungan pondok.
Ia mendudukkan dirinya di atas kasur, merapikan lipatan sarungnya yang sedikit berantakan, lalu meraba saku kemeja koko putih bersih yang digantung di dekat kepala pembaringannya. Suasana pagi itu dipenuhi dengan aroma khas yang langsung menyergap indra penciumannya: kombinasi antara wangi minyak kayu putih, aroma kertas kitab-kitab kuning tebal yang tersusun rapi di rak kayu dinding kamar, serta bau uap air hangat dari termos-termos kecil tempat para santri menyeduh teh sebelum subuh. Di luar jendela kayu berjeruji tanpa kaca, siluet pepohonan mahoni besar tampak bergoyang pelan diterpa angin subuh yang bertiup lembut.
"Cepat ambil wudu, Ghazi. Imam salat subuh pagi ini dijadwalkan langsung oleh Kiai Haji Mahmud, jangan sampai kamu terlambat di shaf pertama," tambah Farhan sambil menepuk pelan pundak Ghazi sebelum ia berjalan keluar kamar menuju deretan kamar mandi umum di ujung lorong asrama.
Ghazi mengangguk cepat. Ia meraih handuk kecil berwarna hijau tua yang tersampir di bahunya, lalu melangkah keluar kamar bergabung dengan puluhan santri lain yang berbondong-bondong berjalan tergesa-gesa menuju tempat wudu dengan membawa gayung dan handuk masing-masing di tangan.
❖ ❖ ❖
Berdiri di barisan paling belakang dalam antrean panjang di depan deretan keran air tempat wudu, Ghazi menatap tajam ke arah deretan ember plastik warna-warni yang berjejer rapi di lantai semen basah. Udara dingin air sumur bor pesantren yang menyentuh kulit telapak kakinya membuat seluruh tubuhnya langsung bergidik segar. Tujuan utamanya hari ini sangat jelas dan tidak boleh ditawar lagi: ia harus berhasil melewati hari pertama adaptasinya di pesantren tanpa melakukan satupun kesalahan fatal yang bisa memalukan nama baik ayahnya, Haji Akbar, sekaligus membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu bertahan hidup dalam disiplin ketat dunia santri.
"Antre yang tertib, jangan menyerobot! Giliran masih panjang kawan," tegur seorang santri bertubuh gempal berpeci hitam miring kepada santri di depannya, membuat suasana antrean yang riuh menjadi sedikit lebih teratur.
Ghazi menggeser tubuhnya selangkah maju ketika giliran keran di depannya kosong. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan air wadah wudu yang tenang. Bayangan seorang pemuda kota yang terbiasa dengan fasilitas serba instan, kamar ber-AC, dan kebebasan mutlak kini bertransformasi menjadi seorang santri berpeci hitam sederhana dengan kemeja koko putih polos. Di balik penyesuaian fisik yang melelahkan ini, Ghazi menyimpan sebuah tujuan batin yang jauh lebih besar: ia ingin mencari ketenangan jiwa dan jawaban atas kekalutan batin yang sempat menghantam hidupnya pasca insiden kapal kargo dan serangan siber di pelabuhan lalu.
"Mas Ghazi, betul ya Anda ini anak angkat atau putranya pengusaha besar dari Sumatra yang kemarin sempat heboh beritanya?" bisik santri di sebelah kanannya—seorang pemuda asal Malang bernama Rifai yang seusia dengannya—sambil meraup air wudu ke wajahnya.
Ghazi melirik sekilas, lalu tersenyum tipis sembari membasuh kedua tangannya hingga siku. "Ah, cerita dari mana pula itu, Rifai? Saya di sini cuma santri biasa seperti kalian, mau belajar ilmu agama dan memperbaiki diri."
"Hehehe, pura-pura tidak tahu saja kamu, Mas," balas Rifai berbisik dengan nada bercanda namun ramah. "Berita kedatanganmu diantar langsung oleh mobil mewah pengawal pribadi sempat jadi bahan obrolan para santri senior kemarin malam. Tapi tenang saja, di dalam pagar pesantren ini, semua pangkat, harta, dan status sosial di luar sana itu tanggal di gerbang. Kita semua sama di hadapan kitab."
Kalimat itu mendarat telak di kepala Ghazi, memperkuat tujuannya untuk melepas seluruh atribut kesombongan duniawi yang selama ini melekat pada dirinya. Selesai berwudu dengan cepat namun tetap tertib, Ghazi segera merapikan peci hitamnya, lalu berjalan beriringan bersama ratusan santri lainnya menuju bangunan utama masjid pesantren yang berarsitektur klasik dengan pilar-pilar kayu jati kokoh.
"Tujuan kita pagi ini khusyuk salat subuh berjemaah, lalu langsung taklim pagi mengkaji kitab Fathul Qarib bersama Kiai Mahmud," bisik Rifai lagi sambil menjejalkan sandal jepitnya ke dalam rak kayu di teras samping masjid.
Ghazi mengangguk mantap. Ia melangkah memasuki ruang utama masjid yang sudah dipenuhi oleh barisan saf-saf salat yang rapat dan rapi. Udara di dalam masjid terasa sejuk oleh terpaan angin pagi yang masuk melalui jendela-jendela besar tanpa kaca yang dibiarkan terbuka lebar. Ia membentangkan sajadah kecilnya di saf ketiga dari depan, lalu bersiap mengangkat takbir ketika iqamah berkumandang menggema indah dari pengeras suara masjid.
❖ ❖ ❖
Salat subuh berjemaah berlangsung dengan khusyuk dan penuh ketenangan di bawah imam langsung Kiai Haji Mahmud—pengasuh utama pondok pesantren yang suaranya begitu merdu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan tartil. Selepas salam penutup, para santri tidak langsung membubarkan diri. Mereka segera merapikan posisi duduk bersila, membalikkan badan menghadap ke arah mimbar utama tempat sang kiai duduk bersila di atas permadani merah sambil membuka sebuah kitab kuning tebal bersampul kertas buram.
Ghazi ikut menyesuaikan diri, melipat kakinya dengan rapi membentuk posisi duduk tasyahud awal, lalu merogoh tas kain kecil miliknya untuk mengeluarkan sebuah kitab Fathul Qarib baru yang baru saja ia beli di koperasi pesantren kemarin sore bersama Pak Darmawan sebelum pulang ke Sumatra. Transisi suasana dari keheningan ibadah ritual menuju hiruk-pikuk aktivitas intelektual pesantren terjadi begitu cepat namun sangat teratur.
"Perhatikan halaman empat puluh lima, bagian bab bersuci," suara serak namun berwibawa Kiai Mahmud menggema di seluruh penjuru masjid menggunakan mikrofon kecil yang dijepit di kerah jubah putihnya. "Gunakan pensil tajam untuk mencatat makna gandul di bawah setiap baris teks Arabnya. Jangan biarkan ada kalimat yang kosong tanpa arti."
Ghazi menelan ludah sambil memegang pensil mekanik di tangan kanannya. Ini adalah tantangan transisi terbesar kedua baginya setelah urusan fisik: metode pembelajaran tradisional pesantren yang menggunakan sistem bandongan dan sorogan, di mana santri harus menerjemahkan teks Arab gundul ke dalam bahasa daerah atau bahasa Indonesia menggunakan istilah-istilah khusus bergeser cepat.
"Kang Farhan, maaf... maksudnya makna gandul di kata faslun itu apa ya?" bisik Ghazi pelan kepada senior kamar yang duduk tepat di sebelah kirinya.
Farhan menoleh, tersenyum ramah melihat kebingungan di wajah santri baru itu, lalu mendekatkan kitabnya ke hadapan Ghazi. "Itu artinya 'ini adalah satu fasal'. Tulis di bawah kata faslun dengan huruf kecil menggunakan bahasa Jawa atau Indonesia sesuai kotamu. Nanti kalau kamu terbiasa, telinga dan tanganmu akan otomatis menangkap irama penjelasan kiai."