
Malam Pertama di Pesantren: Rindu Rumah dan Air Mata di Bawah Selimut---
Pukul sembilan malam baru saja beranjak ketika bunyi lonceng besi tua yang digantung di depan kantor pengurus pondok berdentang tiga kali berturut-turut, memecah keheningan malam di kompleks Pesantren Al-Ikhkas Jawa Timur. Suara dentangan itu bergema melewati jajaran asrama santri, memantul di dinding-dinding masjid, dan meresap ke dalam keheningan lereng bukit yang diselimuti kabut tipis. Udara malam di luar sedang dingin-dinginnya, menusuk pori-pori kulit dan membawa aroma embun basah yang bercampur dengan bau khas jerami serta tanah pegunungan. Di dalam kamar asrama Blok C—sebuah ruangan berukuran empat kali enam meter yang dihuni oleh delapan orang santri—suasana yang tadinya riuh oleh suara gelak tawa dan obrolan ringan perlahan-lahan mulai mereda, digantikan oleh suara gesekan sandal jepit di lantai semen dan derit ranjang besi bertingkat.
Ghazi duduk bersila di atas kasur busa tipisnya yang terletak tepat di sudut ruangan, bersandar pada dinding dingin bercat putih kusam. Di pangkuannya terhampar sebuah kitab kuning tebal bersampul hijau tua, namun matanya sama sekali tidak menangkap baris-baris huruf Arab gundul yang tercetak di halaman tersebut. Pikirannya melayang jauh menembus dinding-dinding kamar, menyeberangi jalanan berbatu pesantren, hingga meluncur bebas ke kota besar tempat ia biasa menghabiskan malam-malam panjangnya di balik meja kerja apartemen yang nyaman. Di kamar asrama yang sesak itu, hanya ada penerangan seadanya dari sebuah bohlam kuning sepuluh watt yang tergantung di tengah langit-langit, memancarkan cahaya temaram yang menciptakan bayangan panjang dari tumpukan lemari kayu dan gantungan pakaian di setiap sudut.
"Sudah jam sembilan lewat, Kang Ghazi. Kalau lampu utama nanti dimatikan pengurus blok, membaca kitab pakai senter HP susah lho kalau belum terbiasa," tegur Udin, santri gempal teman sekamarnya, sambil melipat sarungnya dan bersiap merebahkan diri di kasur sebelah.
"Ah, iya, Din. Sebentar lagi aku tidur," jawab Ghazi pelan, suaranya terdengar datar dan hambar, menyembunyikan gejolak ketidaknyamanan yang sejak tadi sore merayap di dadanya.
Bagi Ghazi, malam pertama ini terasa begitu panjang dan menyesakkan. Sepanjang hidupnya selama sembilan belas tahun, ia tidak pernah tidur sekamar dengan begitu banyak orang, tanpa pendingin ruangan, tanpa privasi, dan yang paling menyiksa: tanpa gawai atau akses komunikasi apa pun ke dunia luar. Keputusannya untuk meninggalkan rumah dan mencari ketenangan di pesantren kini diuji secara langsung oleh kesunyian malam yang mendadak berubah menjadi monster penikam ingatan. Setiap sudut kamar asrama itu seolah mengingatkannya pada apa yang telah ia tinggalkan—tempat tidur empuknya, aroma kopi hangat buatan ibunya, dan dering notifikasi pesan dari rekan-rekan kerjanya di ibu kota.
❖ ❖ ❖
Tujuan Ghazi malam itu sangat spesifik dan mendesak di dalam batinnya sendiri: ia ingin bertahan melewati malam pertama tanpa terlihat lemah di hadapan santri-santri lain yang tampak begitu tenang dan terbiasa dengan kehidupan pondok. Sebagai orang baru yang datang dengan status sosial yang sempat membanggakan di luar sana, Ghazi merasa memiliki beban gengsi yang harus dijaga. Ia tidak ingin dicap sebagai anak mami yang cengeng, pemuda manja yang langsung histeris hanya karena kehilangan fasilitas kamar ber-AC dan kasur spring bed empuk.
Namun, di balik topeng ketenangannya yang kaku, ada tujuan lain yang jauh lebih rapuh namun jujur: ia sangat ingin menemukan alasan yang masuk akal mengapa ia harus tetap tinggal di tempat asing ini alih-alih membereskan kopernya besok pagi dan memesan taksi online kembali ke Jakarta. Setiap tarikan napasnya malam itu dipenuhi oleh pergolakan batin yang melelahkan. Ghazi ingin membuktikan pada dirinya sendiri—dan diam-diam, pada ayahnya yang sempat meragukannya—bahwa keputusannya melarikan diri ke pesantren ini bukan sekadar pelarian pengecut, melainkan sebuah pencarian jawaban atas kehancuran hidup yang baru saja ia alami.
"Bagaimana, Kang? Masih pusing dengan jadwal padat besok pagi?" tanya Farhan, santri senior yang kebetulan lewat di depan pintu kamar dan menyempatkan diri melongok ke dalam. Wajah Farhan tampak ramah di bawah temaram lampu lorong.
"Sedikit, Farhan. Jadwalnya memang... luar biasa disiplin ya di sini," balas Ghazi sambil tersenyum kaku, berusaha menutupi getaran di ujung bibirnya.
"Bukan sekadar disiplin, Kang. Disiplin di sini adalah cara melatih batin supaya tidak mudah goyah saat dunia luar berantakan," ucap Farhan bijak, sebelum akhirnya berlalu untuk memeriksa kegiatan santri di kamar sebelah.
Kata-kata Farhan berputar-putar di kepala Ghazi, memperkuat tujuannya untuk tidak menyerah di malam pertama. Ia tahu persis bahwa jika ia menyerah sekarang, ia bukan hanya kalah dari aturan pesantren, melainkan kalah dari bayang-bayangnya sendiri. Ghazi menutup kitab kuning di pangkuannya dengan gerakan pelan, merapikan letaknya di samping bantal, lalu merebahkan tubuhnya yang terasa kaku di atas kasur busa tipis yang langsung terasa keras di punggungnya. Ia menarik selimut tipis bermotif kotak-kotak yang beraroma kapur barus dan keringat, mencoba memejamkan mata di tengah suara dengkuran halus dari beberapa santri di sudut kamar.
❖ ❖ ❖
Suara dengkuran pelan di dalam kamar asrama perlahan-lahan mulai berpadu dengan suara angin malam yang mendesau melewati jendela nako yang tidak tertutup rapat. Transisi dari kesibukan malam menjelang tidur menuju keheningan total malam pesantren terjadi begitu perlahan, seolah alam sendiri sedang mengatur ritme untuk menidurkan seluruh penghuni kompleks seluas dua hektar itu. Lampu utama di langit-langit kamar akhirnya dipadamkan tepat pukul sepuluh malam sesuai aturan pondok, menyisakan seberkas cahaya kuning temaram dari lampu tidur di koridor luar yang menyusup lewat celah pintu.
Ghazi membelalakkan matanya dalam gelap. Kegelapan di kamar asrama itu terasa berbeda dengan kegelapan di kamarnya di kota; di sini, kegelapan terasa begitu pekat, sunyi, dan seolah memiliki berat massanya sendiri yang menekan dada. Transisi lingkungan fisik ini membawa dampak psikologis yang seketika merontokkan pertahanan mental yang sejak siang tadi ia bangun dengan susah payah. Di tengah sepi malam itu, bayangan wajah ibunya yang tersenyum sedih saat ia berpamitan di teras rumah kembali berkelebat jelas di kepalanya.
"Ghazi yakin mau pergi ke pesantren itu? Di sana tidak ada yang melayanimu seperti di rumah," suara ibunya terngiang-ngiang lembut di telinga batinnya, bercampur dengan suara tegas sang ayah yang memintanya untuk tidak pulang setengah-setengah.
Ghazi membalikkan badannya menghadap dinding, menarik selimutnya hingga menutupi separuh wajahnya. Perasaan asing yang menyergapnya berubah wujud menjadi rasa sesak yang luar biasa di tenggorokan. Transisi emosional dari seorang pemuda kota yang independen dan penuh percaya diri menjadi seorang santri baru yang terisolasi di sudut desa terpencil terjadi dalam hitungan detik. Ia merasa seperti sebutir debu yang terlempar jauh dari orbitnya, tersesat di galaksi asing yang tidak mengenal siapa dirinya, apa latar belakang pendidikannya, atau seberapa besar tabungan yang pernah ia miliki di rekening bank.
Di luar kamar, sesekali terdengar suara langkah kaki petugas keamanan pondok yang berpatroli sambil membawa senter besar, menyapu setiap sudut halaman pesantren. Suara ketukan tongkat kayu di paving blok itu menjadi satu-satunya penanda waktu yang tersisa di tengah dunia yang terasa berhenti berputar bagi Ghazi.