Bangun Pukul 03.00 Dini Hari: Kejut Pertamanya Tahajud Berjamaah---
Malam baru saja merajut separuh perjalanannya ketika udara dingin pedesaan Jombang merangsek masuk melalui celah-celah jendela kayu kamar nomor tujuh Asrama Al-Ghazali. Suasana di Pondok Pesantren Al-Ikhlas terasa begitu sunyi, nyaris mati, kecuali suara jangkrik yang bersahut-sahutan di balik rimbunnya pohon bambu belakang pondok dan deru angin malam yang menggoyang dahan-dahan mangga. Pukul tiga tepat dini hari, di saat sebagian besar manusia di luar sana masih terlelap dalam mimpi indah di bawah selimut tebal, tiba-tiba sebuah suara benda berbenturan menggema keras di sepanjang lorong asrama.
Teng... teng... teng!
Suara ketukan linggis kecil pada sebatang besi tua yang digantung di pos keamanan santri berdering nyaring, memecah keheningan malam tanpa ampun. Ketukan itu diulang tiga kali dengan ritme cepat, sebuah isyarat mutlak yang tidak boleh diabaikan oleh siapa pun yang berstatus sebagai santri di kompleks pesantren tersebut. Di kamar nomor tujuh, tempat Ghazi Al-Ghifari tidur pulas di atas kasur busa tipisnya, getaran suara itu langsung merangsang kesadaran para penghuninya untuk segera bergerak.
"Ayo bangun, Kang! Sudah jam tiga lewat! Jangan sampai keduluan santri blok barat!" seru Fahrul, ketua kamar, sambil menepuk-nepuk kaki Jefri dan melompat dari pembaringannya dengan gesit.
Ghazi mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa masih berat. Ia meraba-raba bantal mencari ponselnya untuk melihat jam, sebuah kebiasaan lama dari kota besar yang kini perlahan mulai ditinggalkannya. Layar ponsel menunjukkan pukul 03.02 WIB. Udara dingin langsung menusuk tulang begitu Ghazi menurunkan kakinya menyentuh lantai semen kamar yang sedingin es. Di sekelilingnya, anak-anak kamar nomor tujuh bergerak cepat bagai sepasukan lebah yang sarangnya disengat; melipat selimut, menyambar handuk, dan mengenakan sarung dengan gerakan refleks yang sudah terlatih selama bertahun-tahun.
"Wah, dingin banget subuh ini, Kang Ghazi! Kalau tidak bergerak cepat, air wudu di pancuran bisa bikin jantung copot!" sapa Jefri sambil tertawa kecil, berjalan setengah berlari menuju pintu kamar sambil menenteng gayung plastik hijau.
Ghazi bangkit perlahan, merapikan sarung kotak-kotak hijaunya, lalu mengenakan jaket tipis untuk menahan gigil angin malam yang menyergap kulitnya. Sebagai mantan pemuda metropolitan yang terbiasa tidur di ruangan ber-AC dengan suhu yang bisa diatur sesuka hati, bangun pukul tiga pagi di tengah udara pedesaan Jawa Timur yang membeku adalah sebuah kejutan fisik yang luar biasa keras. Namun, tidak ada rasa malas di hatinya; sebulan lebih hidup di pesantren telah mengubah disiplin batin Ghazi secara drastis. Bersama riuhnya santri lain yang mulai tumpah ruah ke lorong asrama, Ghazi melangkah keluar menghadapi dini hari yang penuh misteri spiritual.
❖ ❖ ❖
Ghazi melangkah menyusuri jalan setapak berkerikil putih yang memantulkan cahaya temaram lampu neon kuning di sepanjang koridor menuju masjid utama pesantren. Tujuan utamanya dini hari ini bukan sekadar memenuhi absensi harian pondok atau menghindari hukuman kedisiplinan santri, melainkan sebuah niat luhur yang sudah ia tata sejak semalam: mengikuti rangkaian ibadah malam sunnah tahajud berjamaah yang dipimpin langsung oleh pengasuh agung, Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz. Bagi Ghazi, tahajud berjamaah di tengah malam sunyi ini adalah medan latihan mental dan spiritual untuk membersihkan sisa-sisa kegelisahan batin yang kerap menghantuinya sejak kedatangan pria misterius dari Surabaya tempo hari.
"Jalan yang benar, Kang Ghazi, jangan sampai salah injak rumput halaman ndalem, nanti bisa kena tegur bagian keamanan," bisik Fahrul yang berjalan di sampingnya sambil menenteng kitab kecil di tangan kiri.
"Iya, Kang Fahrul. Saya usahakan tetap di jalur batu," balas Ghazi dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Sesampainya di halaman masjid utama yang luas, pemandangan yang tersaji membuat Ghazi terpana seketika. Ratusan santri berpakaian serba putih dengan sarung dan peci rapi tampak berjalan tertib dalam keheningan yang khusyuk menuju pintu-pintu masjid yang terbuka lebar. Tidak ada suara teriakan atau canda tawa; yang terdengar hanya derap sandal jepit beradu dengan semen halaman dan suara lirih santri melafalkan zikir penenang jiwa. Suasana sakral itu begitu pekat, seolah dunia luar yang penuh hiruk-pikuk perebutan harta dan ambisi duniawi musnah seketika di balik gerbang pesantren.
Ghazi mengambil air wudu di pancuran wudu sisi utara masjid. Air sumur malam itu terasa begitu dingin bagaikan es, menusuk hingga ke ujung jari-jari tangannya. Ia membasuh muka, tangan, hingga kakinya dengan penuh kesadaran, meresapi setiap tetesan air yang merontokkan rasa kantuk sekaligus kotoran duniawi dari raganya. Tujuan batin Ghazi sangat jelas: ia ingin malam ini hatinya benar-benar jernih, siap mendengarkan lantunan ayat suci yang dibawakan oleh Kiai Mahmud dalam rakaat-rakaat panjang yang melelahkan fisik namun menenangkan jiwa.
"Bagaimana, Kang Ghazi? Airnya segar atau bikin jantungan?" tanya Jefri sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang basah usai berwudu.
"Segar sekali, Jef. Rasanya langsung menyadarkan seluruh sel saraf di kepala saya," jawab Ghazi sambil tersenyum tipis, merapikan peci hitam di kepalanya sebelum melangkah menaiki tangga masjid.
Di dalam masjid, saf-saf salat sudah mulai terisi rapat dan rapi. Ghazi memilih duduk di saf ketiga dari depan, tepat di belakang barisan santri senior, agar ia bisa melihat dengan jelas sosok Kiai Mahmud Al-Quthuz yang malam itu dijadwalkan bertindak langsung sebagai imam salat tahajud berjamaah. Di mihrab depan, di bawah temaram lampu gantung kuno berukir tembaga, Kiai Mahmud tampak duduk bersila sambil merapikan sorban hijaunya, khusyuk melantunkan zikir malam dengan suara lirih yang menembus ke lubuk hati setiap orang di dalam ruangan tersebut.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam masjid mendadak berubah menjadi hening total tatkala jam dinding menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menit. Seluruh santri duduk bersila dengan takzim, menundukkan pandangan ke lantai marmer masjid yang bersih tanpa ada suara bergesernya kain sarung sedikit pun. Ghazi merasakan transisi psikologis yang sangat tajam; dari riuhnya suasana lorong asrama yang penuh canda tawa, kini ia terlempar ke dalam dimensi kesunyian batin yang amat dalam dan agung.
Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz perlahan bangkit berdiri dari tempat duduknya di dekat mihrab. Meskipun usianya telah melampaui delapan puluh tahun, tubuh sepuh itu tampak tegap berdiri di atas sajadah panjang merah berbulu tebal. Beliau membalikkan badan, menatap sekilas barisan makmum di belakangnya dengan sorot mata yang memancarkan keteduhan dan wibawa luar biasa.
"Istaqiimuu wa tawajjahuu ilallah... rahmakumullah," suara bariton Kiai Mahmud yang serak-serak basah menggema lembut namun tegas melalui pengeras suara masjid, memberi aba-aba agar para santri merapatkan dan meluruskan saf salat.
Ghazi segera merapatkan bahunya dengan santri di sebelah kanannya, merapatkan tumit kaki sesuai sunnah yang diajarkan. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa gentar yang kudus menghadapi momen ibadah malam yang belum pernah ia lakukan secara berjamaah dalam skala sebesar ini sepanjang hidupnya.
"Allahu Akbar," ucap Kiai Mahmud mengumandangkan takbiratul ihram dengan suara yang begitu bergetar penuh penghayatan, merasuk menembus dinding-dinding dada setiap jamaah.
Seluruh makmum mengikuti gerakan takbir secara serentak. Suara gemuruh kain dan kepalan tangan naik bersamaan, menciptakan harmoni gerakan fisik yang menyatukan ratusan jiwa dalam satu komando ilahi. Transisi dari manusia yang terpecah oleh urusan duniawi masing-masing menjadi satu kesatuan barisan hamba di hadapan Sang Pencipta terjadi dalam hitungan detik. Ghazi melipat kedua tangannya di atas dada, menundukkan kepala, dan mulai membaca doa istiftah dengan hati yang gemetar.
Pada rakaat pertama, Kiai Mahmud mulai membaca surah Al-Mulk dengan nada tartil yang sangat pelan, indah, dan penuh penjiwaan. Suara beliau yang paruh baya namun bertenaga itu melantunkan ayat demi ayat Al-Qur'an dengan ritme yang membuat bulu kuduk Ghazi meremang seketika. Setiap lafaz yang keluar dari lisan sang kiai seolah membawa beban makna yang sangat berat, mengingatkan manusia akan kekuasaan Allah dan betapa kerdilnya masalah-masalah duniawi yang selama ini mereka tangisi.
Ghazi terhanyut dalam arus bacaan tersebut. Transisi batin dari rasa kantuk yang mendera beberapa menit lalu kini berubah menjadi keheningan total yang melumpuhkan ego rasionalnya. Di dalam kepekatan malam Jombang itu, Ghazi merasa seolah ia sedang berdiri seorang diri di hadapan pengadilan akhirat, menimbang setiap amal dan dosa masa lalunya, terutama penyesalan mendalam terhadap almarhum ayahnya di Surabaya.
❖ ❖ ❖
Namun, kekhusyukan spiritual itu tidak berjalan tanpa rintangan fisik yang berat. Menjelang rakaat ketiga dan keempat, ujian yang sebenarnya mulai mendera fisik Ghazi. Salat tahajud yang dipimpin Kiai Mahmud bukanlah salat kilat yang biasa dilakukan di beberapa masjid perkotaan; beliau membaca surat-surat panjang dari juz amma hingga juz-juz awal Al-Qur'an dengan gerakan rukuk dan sujud yang sangat tumakninah dan berdurasi lama.