
Ngantuk di Kelas Diniyah: Tantangan Melawan Rasa Lelah.
Matahari pagi di kawasan Jombang baru saja merayap naik, memantulkan bias cahaya keemasan di atas genting-genting tua Pondok Pesantren Al-Ikhlas Jawa Timur. Udara pagi yang tadinya menusuk tulang perlahan berganti dengan kehangatan lembut, menyinari halaman luas tempat para santri berlalu-lalang membawa kitab di bawah lengan mereka. Pukul 07.30 WIB, aktivitas harian di pesantren memasuki babak yang paling menguji ketahanan mental dan fisik para santri: jam pelajaran diniyah pagi di ruang kelas madrasah salafiyah.
Ruangan kelas berlantai semen bersih itu tampak dipadati oleh puluhan santri remaja dari berbagai daerah. Di dinding depan kelas, sebuah papan tulis hitam besar tergantung kokoh, ditemani kaligrafi ayat suci Al-Qur'an yang terpampang rapi. Meja-meja kayu panjang berderet rapi ke belakang, penuh dengan tumpukan kitab kuning tebal bersampul cokelat khas pesantren. Bau khas kertas tua, tinta cina, dan aroma kayu lapis menyatu di udara ruangan, menciptakan atmosfer akademis tradisional yang sangat khas.
Ghazi Al-Ghifari duduk di bangku barisan tengah, tepat di sebelah Fahrul dan Jefri. Di hadapannya terbuka kitab Fathul Qarib dengan halaman-halaman yang penuh coretan catatan pensil kecil. Meskipun malam sebelumnya ia sempat merasakan kedamaian spiritual yang luar biasa saat tahajud berjamaah, sisa-sisa kelelahan fisik kini mulai menagih bayaran. Tubuhnya yang terbiasa tidur cukup di kota besar mendadak terasa sangat berat, sementara kelopak matanya terasa bagaikan ditarik oleh beban tak kasat mata seberat puluhan kilogram.
"Wah, Kang Ghazi, kelihatan sekali kalau semalam habis begadang mikirin masalah polisi ya?" bisik Jefri pelan sambil menyenggol siku Ghazi dengan cengiran lebar di wajahnya.
Ghazi menggeleng pelan, berusaha keras menegakkan punggungnya yang terasa kaku. "Bukan karena itu, Jef. Emang dari semalam badan ini rasanya remuk redam habis berdiri lama waktu salat malam di belakang Kiai Mahmud."
"Ha-ha-ha, itu namanya ritual 'penyiksaan' nikmat khas santri baru, Kang! Tunggu sampai nanti jam sepuluh siang, dijamin kepala antum sudah manggut-manggut seperti burung pelatuk," timpal Fahrul dari sisi sebelah kanan sambil merapikan letak pecinya.
Suasana kelas yang tadinya agak gaduh oleh bisikan-bisikan santri seketika mendadak senyap tatkala sesosok pria paruh baya berpeci putih bersih dan mengenakan jubah abu-abu melangkah masuk ke dalam kelas. Beliau adalah Kiai Haji Ahmad Dahlan, pengajar senior ilmu fikih yang dikenal sangat disiplin, berwibawa, dan tidak segan-segan menegur santri yang kedodoran di dalam kelas. Beliau berjalan tenang membawa tongkat kayu pendek, lalu duduk di kursi pengajar depan kelas sambil membuka kitab besarnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, anak-anak sekalian," sapa Kiai Ahmad Dahlan dengan suara baritonnya yang tegas dan menggema ke seluruh sudut ruangan.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Kiai," jawab seluruh santri serempak dalam paduan suara yang penuh takzim, mengawali kegiatan belajar mengajar pagi itu.
❖ ❖ ❖
Ghazi menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir kabut kantuk yang kian pekat menggelayuti kepalanya. Tujuan utamanya di kelas diniyah pagi ini sangat jelas dan tidak boleh ditawar: ia harus bisa memahami penjelasan Kiai Ahmad Dahlan mengenai bab hukum taharah (bersuci) dalam kitab Fathul Qarib, serta mencatat setiap makna gandul atau terjemahan perkata berbahasa Jawa pegon yang dituliskan di papan tulis. Bagi Ghazi, memahami ilmu agama secara mendalam adalah kunci utama agar ia bisa menyamai ritme belajar santri senior lainnya yang sudah bertahun-tahun mengenyam pendidikan di pesantren.
"Perhatikan halaman empat puluh lima, bagian fasal tentang air yang suci dan menyucikan," instruksi Kiai Ahmad Dahlan sambil mulai membacakan teks Arab gundul dengan fasih. "Barang siapa yang tidak mengerti pembagian air mutlak, maka salatnya seumur hidup bisa tidak sah karena salah dalam tatacara bersuci."
Ghazi langsung menyimak dengan seksama. Ia memegang pensil di tangan kanannya, siap menyalin setiap penjelasan penting ke dalam buku catatannya. Di masa lalunya sebagai anak metropolitan, urusan bersuci dan fikih ibadah seringkali ia anggap sebagai hal sepele yang bisa dipelajari secara instan melalui internet. Namun, setelah sebulan lebih hidup di Al-Ikhlas, Ghazi menyadari bahwa ilmu fikih adalah fondasi mutlak dari seluruh amal ibadah seorang Muslim.
"Kang Ghazi, tolong bacakan matan teks Arab di baris ketiga dari atas," tiba-tiba suara Kiai Ahmad Dahlan memanggil nama Ghazi dengan nada tegas.
Jantung Ghazi berdegup kencang seketika. Lamunannya buyar dalam sekejap. Ia menelan ludah kelat, segera meraba halaman kitab yang dimaksud dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. Di tengah rasa kantuk yang mendera hebat, ia harus memaksa otaknya bekerja cepat membaca teks Arab tanpa harakat tersebut di hadapan puluhan pasang mata teman sekelasnya.
"B-baik, Kiai..." jawab Ghazi terbata-bata, lalu mulai membaca teks tersebut dengan suara agak pelan namun jelas. "Qaala al-mushannif rahimahullahu ta'ala... al-miyahul latiy yajuzu biha ath-thaharah sab'u miyah..."
"Kurang tegas suaranya, Kang Ghazi! Baca yang lantang supaya teman di belakang bisa dengar!" tegur Kiai Ahmad Dahlan ramah namun tegas.
"Baik, Kiai!" balas Ghazi dengan suara yang lebih lantang, mengulang bacaannya dengan penuh percaya diri meskipun matanya masih terasa panas karena kurang tidur.
Tujuan Ghazi pagi ini bukan sekadar bertahan agar tidak ketahuan mengantuk oleh sang guru, melainkan benar-benar menyerap esensi ilmu yang disampaikan. Ia tidak ingin menjadi santri yang hanya numpang nama atau mengejar ijazah formal; ia ingin ilmu agama itu meresap ke dalam akal dan sanubarinya, menjadi pegangan hidup baru setelah sekian lama ia tersesat dalam kebingungan duniawi di luar sana.
❖ ❖ ❖
Jam dinding kelas menunjukkan pukul 09.00 pagi. Transisi suasana belajar di dalam kelas mulai terasa semakin intensif. Setelah sesi baca kitab dan tanya jawab gramatika Arab dasar selesai, Kiai Ahmad Dahlan mulai masuk ke sesi penjelasan mendalam (syarah) yang membutuhkan konsentrasi tinggi dari seluruh santri. Suasana kelas yang tadinya interaktif kini berubah menjadi keheningan khidmat, di mana yang terdengar hanyalah suara sang kiai menjelaskan hukum-hukum fiqih dengan sesekali diselingi suara goresan kapur tulis di papan.
Ghazi merasakan transisi psikologis yang cukup drastis di dalam dirinya. Dari rasa gugup karena sempat ditunjuk membaca teks tadi, ia kini terhanyut dalam gelombang penjelasan filosofis di balik hukum-hukum fikih Islam. Kiai Ahmad Dahlan menjelaskan bagaimana para ulama mazhab Syafi'i merumuskan hukum-hukum tersebut dengan sangat teliti, mempertimbangkan kemaslahatan umat manusia sekaligus menjaga kesucian ibadah kepada Sang Pencipta.
"Ilmu fikih itu bukan sekadar aturan kaku tentang boleh dan tidak boleh, anak-anakku," ujar Kiai Ahmad Dahlan sambil melangkah pelan menyusuri lorong antar bangku kelas, memegang kitab di dada kirinya. "Fikih adalah peta jalan keselamatan manusia agar setiap gerak langkah lahiriah kita di muka bumi ini bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Ghazi mengangguk-angguk kecil, mencatat setiap kalimat mutiara yang meluncur dari lisan guru sepuh tersebut. Transisi dari rasa kantuk yang berat menuju kesadaran mental yang tajam terjadi berkat daya tarik materi pelajaran yang disampaikan dengan penuh penghayatan. Ghazi merasa seolah sekat-sekat kebodohan di dalam kepalanya perlahan mulai runtuh, digantikan oleh pemahaman baru yang mencerahkan cara pandangnya terhadap agama dan kehidupan sehari-hari.
"Coba kamu jelaskan kembali apa bedanya air musyammal dan air mutanajis, Kang Jefri," panggil Kiai Ahmad Dahlan secara tiba-tiba ke arah bangku sebelah Ghazi.
Jefri yang sedari tadi duduk tegak langsung tersentak kaget. Ia berdehem kecil, berusaha mengingat-ingat catatan yang baru saja ia tulis. "Euh... air musyammal itu air yang dipanaskan matahari dalam bejana selain emas dan perak, Kiai. Kalau air mutanajis adalah air yang terkena najis dan berubah salah satu sifatnya..."