
Mengenal Daffa, Teman Sekamar yang Jail tapi Setia Kawan.
Matahari sore mulai meredupkan sinarnya, meninggalkan pendar jingga keemasan di balik rimbunnya pepohonan jati yang mengelilingi kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang. Suasana di halaman asrama santri putra mendadak terasa lebih hidup setelah hiruk-pikuk kegiatan salat asar berjamaah di masjid utama usai. Para santri berbondong-bondong kembali ke kamar masing-masing untuk sekadar beristirahat sejenak, mencuci pakaian, atau bersiap menghadapi pengajian sorogan ba'da magrib. Di kamar nomor tujuh Asrama Al-Ghazali, aroma minyak kayu putih dan bau khas lemari kayu bercampur menjadi satu di dalam ruangan berukuran empat kali lima meter tersebut.
Ghazi Al-Ghifari duduk bersila di atas kasur busa tipisnya sambil merapikan beberapa kitab kuning yang baru saja ia bawa dari masjid. Di sebelah kanannya, Fahrul sibuk melipat sarung kotak-kotaknya, sementara Jefri sedang membereskan botol-botol air minum di dekat jendela. Namun, perhatian Ghazi sore itu mendadak tersita oleh sosok seorang santri berpostur tinggi kurus yang sedang duduk santai di sudut kamar sambil memainkan sebuah rubik lawas dengan gerakan tangan yang sangat lincah. Namanya Daffa, santri senior asal Malang yang baru saja kembali ke kamar nomor tujuh setelah dua hari izin pulang ke rumah karena keperluan keluarga.
"Wih, hebat juga tanganmu, Daf. Bisa cepat begitu selesaikan rubik tanpa lihat warna aslinya," puji Jefri sambil melirik ke arah Daffa yang tersenyum lebar.
"Ah, ini sih belum seberapa, Jef! Kalau kamu sering latihan di terminal bus sambil nunggu angkutan umum seperti aku dulu, dijamin mata tertutup pun selesai," balas Daffa dengan nada bicara yang jenaka, khas logat Malangan yang ceplas-ceplos namun akrab.
Ghazi hanya tersenyum tipis memerhatikan tingkah polah Daffa. Sejak pertama kali Ghazi menginjakkan kaki di pondok pesantren ini sebulan lalu, Daffa memang dikenal sebagai salah satu santri yang paling usil dan hobi menjahili santri baru. Berbagai keusilan kecil, mulai dari menyembunyikan sandal jepit, menaruh replika cicak mainan di dalam peci, hingga menukar kitab milik teman sekamar, sering menjadi sumber gelak tawa di kamar nomor tujuh. Meskipun begitu, di balik sifatnya yang jahil dan suka melucu, Daffa menyimpan loyalitas dan kesetiakawanan yang luar biasa tinggi terhadap sesama penghuni kamar.
"Gimana, Kang Ghazi? Masih betah tinggal di kandang macan ini? Jangan-jangan habis ketemu utusan pamanmu siang tadi, antum malah mau kabur balik ke Surabaya?" sapa Daffa tiba-tiba sambil melempar rubiknya ke arah kasur Ghazi.
Ghazi menangkap rubik itu sigap, lalu tersenyum lebar. "Kabur ke mana lagi, Daf? Saya malah makin betah di sini gara-gara punya teman-teman sekamar yang suka bikin darah tinggi kayak kamu."
Suasana sore di kamar nomor tujuh itu mendadak cair oleh gelak tawa riang. Bagi Ghazi, kehadiran Daffa memberikan warna tersendiri dalam dinamika kehidupan pesantrennya yang awalnya terasa kaku dan asing.
❖ ❖ ❖
Ghazi meletakkan rubik di atas bantal, lalu menatap lekat ke arah Daffa yang kini sedang meregangkan kedua tangannya ke atas. Di balik canda tawa sore itu, Ghazi memiliki tujuan batin yang sangat spesifik: ia ingin benar-benar mengenal latar belakang Daffa dan memahami alasan di balik sifat usil namun penuh perhatian yang selalu ditunjukkan santri asal Malang tersebut. Selama ini, Ghazi sering merasa penasaran mengapa seorang santri yang kelihatan sangat santai dan kerap berbuat usil bisa dipercaya oleh pengurus asrama untuk memegang tanggung jawab penting sebagai bagian dari tim keamanan kamar.
"Daf, seriusan tanya nih. Kamu sebenarnya dulu sekolah di mana sebelum masuk ke Al-Ikhlas? Kelihatan santai banget kayak nggak punya beban hidup," tanya Ghazi penasaran sambil merapikan tumpukan kitab di pangkuannya.
Daffa menyeringai lebar mendengar pertanyaan Ghazi. Ia mengubah posisi duduknya bersila menghadap Ghazi, sementara Fahrul dan Jefri ikut mendekatkan diri, tertarik mendengar kisah di balik layar kehidupan sang santri jail tersebut.
"Wah, kalau ditanya soal masa lalu saya, Kang Ghazi, dijamin antum bisa geleng-geleng kepala," buka Daffa dengan nada sok misterius. "Dulu waktu SMP di Malang, saya itu langganan ruang Bimbingan Konseling gara-gara hobi tawuran antarsekolah dan bikin gaduh. Orang tua saya sampai pusing tujuh keliling karena nggak ada satupun pesantren di Malang yang mau nampung saya."
"Serius kamu pernah bandel begitu, Daf? Nggak kelihatan dari muka sabun mandimu," ledek Jefri disambut tawa renyah dari Fahrul.
"Eh, jangan salah, Jef! Muka boleh alim begini, tapi aslinya mantan preman terminal," bela Daffa sambil tertawa terbahak-bahak. "Sampai akhirnya bapak saya pasrah dan bawa saya ke hadapan Kiai Mahmud di pondok ini tiga tahun lalu. Waktu pertama kali ketemu Kiai Mahmud, saya sempat mau kabur lewat jendela masjid karena takut mau digunduli. Tapi, Kiai Mahmud malah merangkul saya, bilang kalau santri bandel itu bahan bakunya paling bagus kalau sudah jadi kiai."
Ghazi mendengarkan cerita Daffa dengan rasa takjub yang mendalam. Tujuan batin Ghazi untuk memahami karakter Daffa kini mulai terjawab secara perlahan. Di balik topeng keusilan dan canda tawanya sehari-hari, Daffa ternyata menyimpan masa lalu penuh kenakalan remaja yang hampir serupa dengan kebingungan identitas yang pernah dialami Ghazi di kota besar.
"Makanya, Kang Ghazi," lanjut Daffa dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi lebih serius dan teduh, "waktu pertama kali lihat antum datang sebulan lalu dengan wajah stres bawa koper bermerek dari Surabaya, saya langsung tahu kalau antum itu sedang lari dari masalah besar. Dulu saya juga begitu. Tapi percaya deh, pesantren ini punya cara ajaib buat nyuci hati kita sampai bersih."
Ghazi tertegun mendengar kalimat bijak yang meluncur dari lisan pemuda usil tersebut. Tujuan perbincangan sore itu tercapai melebihi ekspektasinya; Ghazi tidak hanya mengenal siapa Daffa secara personal, tetapi juga menemukan cerminan jiwa dan solidaritas persahabatan yang tulus di antara dinding-dinding sederhana asrama Al-Ghazali.
❖ ❖ ❖
Menjelang pukul lima sore, suasana di asrama mulai berangsur-angsur sibuk. Suara derap langkah kaki santri yang bersiap mengambil air wudu beradu dengan suara kumandang iqamah latihan menjelang magrib dari pengeras suara masjid kecil di ujung kompleks. Transisi dari obrolan santai penuh gelak tawa menuju kesiapan spiritual malam hari terjadi secara alami di dalam kamar nomor tujuh.
Daffa bangkit berdiri dari kasurnya, menyambar handuk kecil yang menggantung di paku dinding, lalu melemparkan senyuman usil ke arah Ghazi. "Udah, ngobrol soal masa lalunya cukup sampai di sini dulu, Kang! Kalau nggak segera ke kamar mandi, nanti kita kehabisan air bersih dan terpaksa wudu pakai air keran belakang yang dinginnya bisa bikin masuk angin."
"Iya benar, Daf. Bisa-bisa kamu malah jadi es balok kalau wudu jam sembilan malam," timpal Fahrul sambil merapikan kopiah hitamnya.
Ghazi ikut berdiri, merapikan sarung batiknya, lalu meraih gayung plastik hijau miliknya. Transisi psikologis yang dirasakan Ghazi saat itu sangatlah kontras dibandingkan hari-hari pertamanya di pesantren. Dulu, setiap pergantian waktu salat selalu diiringi rasa cemas, rindu rumah, dan kebingungan batin. Namun kini, transisi menuju waktu magrib terasa begitu hangat dan menenangkan, disokong oleh kehadiran sahabat-sahabat baru seperti Fahrul, Jefri, dan terutamanya Daffa yang selalu bisa mencairkan ketegangan suasana.
Mereka berempat berjalan keluar kamar secara bersamaan, bergabung dengan ratusan santri lain yang mengalir menelusuri jalan setapak berkerikil menuju masjid utama. Langit petang di Jombang memperlihatkan gradasi warna ungu tua dan jingga yang sangat indah di ufuk barat, seolah alam semesta ikut bersujud menyambut datangnya malam.
"Eh, Ghazi! Jangan lupa nanti malam jadwal piket kebersihan halaman masjid bagian timur giliran kelompok kita ya," bisik Daffa di tengah perjalanan, sengaja memasang wajah sok serius.
Ghazi melirik curiga ke arah Daffa. "Beneran jadwal kelompok kita, Daf? Perasaan minggu lalu kelompok kamu yang kena piket malam jumat."
"Hus! Jangan protes sama ketua kebersihan tidak resmi, Kang! Kalau nggak percaya, nanti tanya sendiri sama lurah pondok," jawab Daffa sambil tertawa cekikikan, berjalan mendahului mereka menuju tempat wudu.