Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Fathan dan Ghalib

Fathan dan Ghalib: Duo Senior Kamar yang Suka Menasihati Diam-Diam---

Malam sudah merayap naik, membawa serta hawa dingin khas pegunungan yang meresap perlahan melalui ventilasi udara kamar asrama Al-Ghazali. Jarum jam dinding yang terbuat dari plastik putih di sudut ruangan menunjukkan pukul sepuluh lewat seperempat malam. Suasana di dalam kamar berukuran empat kali enam meter itu tampak remang-remang, hanya diterangi oleh satu bohlam lampu kuning berdaya kecil yang tergantung di langit-langit tengah ruangan. Tujuh dari delapan santri yang menghuni kamar tersebut sudah terlelap dalam mimpi masing-masing, terbungkus rapi di dalam balutan sarung tebal dan selimut wol untuk menghindari gigitan nyamuk serta tusukan udara malam yang semakin pekat.

Namun, di sudut dekat rak buku kayu yang menempel di dinding timur, dua buah lampu meja kecil masih memancarkan pendar cahaya kekuningan yang hangat. Di situlah dua orang santri senior kamar—Fathan dan Ghalib—duduk bersila berdampingan di atas selembar tikar pandan tipis. Di hadapan mereka terbuka lebar beberapa kitab kuning tebal bersampul kertas buram, catatan harian pengurus asrama, serta segelas kopi hitam hangat yang mengepulkan uap tipis ke udara malam yang sunyi.

Fathan, santri senior bertubuh jangkung dengan kacamata berbingkai tipis yang kerap melorot ke ujung hidung, tengah membolak-balik halaman kitab Ihya Ulumuddin dengan gerakan telaten. Sementara Ghalib, rekannya yang memiliki postur lebih gempal, berwajah teduh, dan terkenal sebagai sosok yang paling disegani sekaligus ditakuti karena ketegasannya dalam menjaga keamanan kamar, sedang sibuk merapikan tumpukan surat izin santri yang belum disetujui.

"Sudah lewat jam sepuluh malam, Fathan. Tapi anak baru itu—si Ghazi—sepertinya masih saja sibuk membaca di pojokan meja belajar," bisik Ghalib pelan sambil melirik sekilas ke arah sudut ruangan tempat Ghazi duduk membelakangi mereka.

Fathan mendongak dari kitabnya, merapikan letak kacamatanya dengan jari telunjuk, lalu ikut mengarahkan pandangannya ke arah Ghazi. Terlihat bayangan pemuda asal Bandar Lampung itu masih tekun menatap lembaran-lembaran kertas catatan dan kitab fikihnya di bawah temaram cahaya lampu belajar mini. Meskipun Ghazi baru beberapa minggu resmi bergabung menjadi bagian dari kamar Al-Ghazali setelah melalui berbagai prahara keluarga dan urusan mendesak di Jawa Timur, etos kerja dan ketekunan pemuda itu tidak pernah kendur barang sedikit pun.

"Dia memang punya semangat belajar yang luar biasa tinggi, Ghalib," balas Fathan berbisik, suaranya terdengar tenang dan penuh pertimbangan. "Anak itu membawa beban mental yang tidak ringan dari latar belakang keluarganya. Tapi justru di situlah letak tantangannya. Kalau kita tidak membimbingnya secara diam-diam, mental kerasnya bisa membakar dirinya sendiri."

"Makanya, malam ini kita harus bicara berdua dengannya," ujar Ghalib mantap sambil menutup buku catatan izin dan menyeruput sedikit kopi hitamnya yang mulai mendingin. "Sebelum dia keliru mengambil arah dalam memahami kitab atau terlalu memforsir tenaga fisiknya tanpa istirahat yang cukup."

❖ ❖ ❖

Fathan dan Ghalib memiliki tujuan yang sangat spesifik malam itu: mereka ingin mendekati Ghazi bukan sebagai senior yang suka menggurui atau mencari-cari kesalahan santri baru, melainkan sebagai kakak tingkat yang ingin memberikan nasihat mendalam secara diam-diam. Duo senior kamar Al-Ghazali ini sudah lama dikenal oleh para penghuni asrama sebagai sosok di balik layar yang kerap menyelamatkan santri-santri baru dari rasa frustrasi, kejenuhan belajar, hingga tekanan batin akibat gegar budaya pesantren.

"Ghazi, kemarilah sebentar ke sini. Jangan teruskan matamu menatap huruf-huruf gundul itu sampai pagi," panggil Fathan dengan nada suara yang ramah namun tegas, memecah kesunyian malam di sudut kamar.

Ghazi, yang tadinya sedang serius menerjemahkan kalimat-kalimat rumit dalam kitab fikih, terkejut kecil. Ia mengangkat kepalanya, mengerjap beberapa kali untuk mengusir rasa penat di matanya, lalu menoleh ke arah dua seniornya yang melambaikan tangan menyuruhnya mendekat.

"Ada apa, Kang Fathan? Ada tugas asrama yang terlewat oleh saya?" tanya Ghazi spontan sambil beranjak dari tempat duduknya, melangkah pelan mendekati tikar pandan tempat kedua senior itu duduk.

"Tidak ada tugas yang terlewat, Ghazi. Duduklah dulu di sini bersama kami," kata Ghalib sambil menepuk ruang kosong di sebelah kanannya. "Kamu tidak perlu tegang begitu. Kami berdua tidak sedang ingin menghukum atau memarahi kamu."

Ghazi mengangguk pelan, lalu melipat kakinya bersila di hadapan Fathan dan Ghalib. Ia meletakkan pensil dan kitabnya di atas lantai, menatap kedua senior itu dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu bercampur hormat. Selama ini, ia tahu persis bagaimana peran Fathan dan Ghalib dalam menjaga ketertiban sekaligus kehangatan kekeluargaan di kamar Al-Ghazali.

"Tujuan kami memanggilmu malam-malam begini bukan untuk hal yang rumit, Ghazi," mulai Fathan membuka pembicaraan dengan senyuman tipis yang menenangkan. "Kami hanya ingin melihat sejauh mana proses penyesuaian dirimu selama di pesantren ini. Kami tahu latar belakangmu bukan santri didikan pondok sejak kecil. Kamu datang dari dunia luar yang serba cepat, penuh target bisnis keluarga, dan hiruk-pikuk kota besar."

"Benar kata Fathan," sambung Ghalib menimpali dengan nada suara yang lebih tegas namun sarat perhatian. "Tujuan kami malam ini adalah memastikan bahwa pundakmu tidak patah karena menanggung beban dunia luar yang kamu bawa serta ke dalam kamar ini. Belajar di pesantren itu maraton, Ghazi, bukan lari cepat seratus meter. Kalau kamu memforsir energimu seperti orang yang sedang mengejar tenggat waktu perusahaan di luar sana, kamu akan tumbang sebelum pertengahan jalan."

Kalimat itu mendarat telak di dalam lubuk hati Ghazi. Ia tertegun, menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh kedua seniornya itu memang benar adanya. Selama ini, ia sering kali merasa harus membuktikan diri secara berlebihan—baik kepada ayahnya di Sumatra, kepada para staf perusahaan di Surabaya, maupun kepada dirinya sendiri di hadapan para santri senior lainnya—sehingga ia sering mengabaikan batas kemampuan fisik dan mentalnya sendiri.

❖ ❖ ❖

Suasana di sudut kamar asrama itu mendadak menjadi jauh lebih cair dan akrab. Transisi dari obrolan formal pengurus kamar menjadi sebuah sesi diskusi hati ke hati mengalir begitu natural tanpa ada rasa canggung yang tersisa di antara mereka bertiga. Fathan menuangkan sedikit sisa air hangat dari ceret poci ke dalam cangkir kecil, lalu mendorongnya ke hadapan Ghazi sebagai simbol kehangatan sambutan senior kepada juniornya.

"Minumlah sedikit air hangat, Ghazi. Tenggorokanmu pasti kering karena terlalu lama fokus membaca di ruangan yang dingin ini," kata Fathan ramah.

Ghazi menyambut cangkir itu dengan kedua tangannya, mengucapkan terima kasih pelan, lalu menyesap air hangat tersebut secara perlahan. Transisi pemikiran terjadi di dalam benaknya; dari perasaan defensif yang kerap muncul ketika dikritik orang lain, berubah menjadi keterbukaan batin yang siap mendengarkan setiap butir pengalaman hidup dari orang-orang yang sudah lebih dulu makan asam garam kehidupan di pesantren.

"Terima kasih banyak atas perhatiannya, Kang Fathan, Kang Ghalib," ucap Ghazi jujur, suaranya terdengar tulus tanpa ada nada gengsi sedikit pun. "Jujur saja, kadang saya masih sering merasa kewalahan. Terkadang ritme kehidupan di sini terasa begitu kontras dengan apa yang biasa saya jalani di luar. Ada kalanya saya merasa takut tidak bisa memenuhi ekspektasi keluarga besar saya di rumah."

Ghalib mengangguk-angguk paham, merapikan letak kopiah hitamnya sambil tersenyum tipis. "Itu perasaan yang sangat wajar dialami oleh setiap santri baru, Ghazi. Terutama bagi mereka yang membawa masa lalu yang cukup berat. Tapi kamu harus tahu satu hal mendasar yang sering dilupakan orang: pesantren ini bukan tempat untuk membuktikan seberapa hebat kamu di hadapan manusia, melainkan tempat untuk belajar merendahkan hati di hadapan Sang Pencipta."

"Betul sekali," timpal Fathan memperkuat penjelasan rekannya. "Dulu, waktu pertama kali saya masuk ke Pondok Pesantren Al-Ihsan ini beberapa tahun lalu, saya juga merasakan hal yang sama persis seperti yang kamu rasakan sekarang. Saya merasa tertinggal jauh dari anak-anak lain yang sudah hafal puluhan juz Al-Qur'an sejak kecil, sementara saya membaca kitab gundul saja masih terbata-bata."

Lihat selengkapnya