Kamil dan Fardhan: Teman Setor Hafalan yang Disiplin---
Pukul empat lewat lima belas menit pagi, ketika fajar baru saja merona tipis di ufuk timur perbukitan, suasana di serambi samping Masjid Al-Ikhsan sudah dipenuhi oleh suara dengung bacaan Al-Qur'an yang bersahutan. Udara subuh di lereng bukit itu terasa menggigit kulit, membawa embun dingin yang menempel di helai-helai daun mangga di halaman pesantren. Lampu-lampu neon putih di teras masjid memancarkan cahaya terang benderang, menerangi puluhan santri yang duduk bersila dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka memegang kitab suci atau buku setoran hafalan masing-masing, memanfaatkan waktu emas sebelum matahari terbit untuk mematangkan ayat-ayat yang harus disetorkan kepada para ustadz pengampu.
Di sudut paling timur serambi, tepat di dekat pilar besar bercat hijau lumut yang langsung menghadap ke arah taman pondok, Ghazi duduk bersila di atas sajadah tipis bermotif garis-garis. Di hadapannya, dua orang pemuda seusianya tampak duduk siaga dengan lembar pengesahan hafalan di tangan mereka. Mereka adalah Kamil dan Fardhan—dua santri senior yang ditunjuk oleh pengurus pondok untuk menjadi tutor sebaya sekaligus pasangan setor hafalan Ghazi selama sebulan terakhir. Kamil, dengan kacamata berbingkai tipis dan peci putih yang sedikit miring, dikenal sebagai sosok yang sangat teliti dalam urusan hukum tajwid dan makhorijul huruf. Sementara di sebelah kanannya, Fardhan berpostur tegap dengan suara bariton yang khas, terkenal sebagai penyemangat kelompok yang tidak pernah kehabisan cara untuk membuat santri lain disiplin tepat waktu.
"Kamu sudah siap dengan setoran halaman tiga puluh sembilan, Ghazi? Jangan bilang semalam kamu ketiduran lagi sebelum sempat murojaah," tegur Kamil ramah, sambil merapikan letak kitab di pangkuannya dan menatap Ghazi melalui lensa kacamata yang sedikit berembun karena udara dingin.
"Tenang saja, Kamil. Semalam aku begadang sampai jam sepuluh malam khusus untuk menghafal surat Al-Mulk ayat dua belas sampai duapuluh," jawab Ghazi dengan senyum tipis, meski lingkaran hitam tipis di bawah matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar kurang tidur demi mengejar target hafalannya.
"Bukan masalah seberapa malam kamu begadang, Ghazi," timpal Fardhan dengan nada tegas namun bersahabat, sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Di pesantren ini, disiplin itu bukan soal kerja keras di detik-detik terakhir, tapi soal konsistensi ritme setiap hari. Kalau ritmemu goyah, hafalanmu bakal gampang buyar saat ada masalah datang."
Suasana pagi itu terasa hidup, sarat dengan energi positif dari para pemuda yang sedang berjuang menata masa depan rohaniah mereka. Di tengah ritme hidup pesantren yang begitu ketat, keberadaan Kamil dan Fardhan bukan sekadar teman belajar, melainkan jangkar yang menjaga Ghazi tetap berada di jalurnya.
❖ ❖ ❖
Bagi Ghazi, tujuan utamanya duduk berhadapan dengan Kamil dan Fardhan pagi ini sangat jelas namun sarat dengan beban mental: ia ingin lulus dari sesi setoran hafalan tanpa ada catatan koreksi merah di buku catatannya. Selama berminggu-minggu menjadi santri, Ghazi menyadari bahwa dunia hafalan Al-Qur'an tidak bisa diajak kompromi dengan logika arsitektur yang biasa ia gunakan di luar sana. Jika dalam merancang bangunan sebuah garis miring bisa disesuaikan dengan estetika, dalam membaca Al-Qur'an, satu huruf saja salah panjang pendeknya, maka arti dari ayat tersebut bisa melenceng jauh.
Ghazi ingin membuktikan pada dirinya sendiri, dan juga pada kedua pembimbing setianya itu, bahwa ia mampu mengejar ketertinggalannya dari para santri lain yang sudah menghafal sejak usia belasan tahun. Sebagai mantan arsitek kota besar yang terbiasa hidup serba cepat, tujuan Ghazi saat ini adalah melatih kesabaran tingkat tinggi, menundukkan ego intelektualnya, dan membiarkan dirinya dibimbing oleh dua pemuda desa yang usianya bahkan lebih muda darinya, namun memiliki kekayaan ilmu batin yang luar biasa.
"Aku benar-benar ingin menyelesaikan juz ini minggu ini, kawan," ucap Ghazi dengan nada serius, menatap bergantian ke arah Kamil dan Fardhan. "Supaya minggu depan aku bisa mulai masuk ke materi tafsir lanjutan tanpa harus terbebani setoran yang tertunda."
Di sisi lain meja kecil lipat mereka, tujuan Kamil dan Fardhan jauh lebih mendasar dan berorientasi pada proses. Sebagai santri senior yang diamanahkan untuk membimbing Ghazi, tujuan mereka bukan sekadar melihat Ghazi setor lalu selesai, melainkan membentuk karakter ketekunan di dalam diri pemuda kota itu. Mereka tahu persis bahwa Ghazi membawa beban psikologis masa lalu yang berat—mulai dari kebangkrutan proyek hingga keretakan hubungan keluarga yang perlahan mulai mencair. Bagi Kamil dan Fardhan, mendampingi Ghazi menghafal adalah bagian dari ibadah sosial untuk membantu seorang musafir menemukan kembali arah hidupnya.
"Target itu bagus, Ghazi. Tapi ingat, Al-Qur'an itu tidak mau dihafal dengan nafsu ambisius," kata Kamil lembut sambil menunjuk ayat pertama di lembar kitab Ghazi dengan ujung pensilnya. "Ayat ini harus meresap dulu ke dalam hati, baru lidahmu akan otomatis melafalkannya dengan benar. Coba, silakan mulai dari ayat sepuluh."
Dengan menarik napas panjang untuk meredakan debar di dadanya, Ghazi mulai membuka suara, melantunkan ayat-ayat suci dengan suara baritonnya yang tenang, sementara kedua sahabatnya mendengarkan dengan penuh perhatian.
❖ ❖ ❖
Suara dengung kelompok-kelompok sebelah perlahan-lahan mulai mereda seiring dengan semakin tingginya posisi matahari pagi yang mulai memunculkan sinarnya di balik punggung bukit. Transisi dari suasana subuh yang dingin dan remeh-temeh menuju pagi hari yang terang benderang terjadi begitu alami di lingkungan Pesantren Al-Ihsan. Cahaya keemasan matahari menyapu halaman pondok, menghangatkan ubin serambi masjid tempat Ghazi dan kedua temannya duduk bersila.
Ghazi menghentikan bacaannya sejenak ketika Kamil mengangkat tangan kanannya sebagai tanda ada bacaan yang perlu dikoreksi. Transisi dari momen membaca lancar menuju sesi evaluasi tajwid selalu menjadi saat-saat yang menegangkan bagi Ghazi, namun ia kini mulai menikmati proses koreksi tersebut tanpa rasa tersinggung sedikit pun—sesuatu yang sangat kontras dengan sifat aslinya di masa lalu yang selalu ingin tampil sempurna dan tidak suka dikritik di tempat kerjanya di Jakarta.
"Tadi pada lafaz ya'lamuun di ujung ayat sebelas, dengungnya kurang dua ketukan, Ghazi," tegur Kamil dengan nada sabar, mencontohkan cara membaca yang benar secara pelan. "Coba diulang dari kata wa laa khaufun."
"Baik, Mil. Aku ulang ya," balas Ghazi tanpa nada protes, mengulang kembali potongan ayat tersebut sesuai dengan bimbingan Kamil.