Yafiq, Santri Asal Madura yang Mengajari Ghazi Cara Melipat Kain Sarung yang Benar---
Pukul 15.45 WIB. Mentari sore di kawasan Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jawa Timur, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela kayu kamar asrama santri lantai dua. Suara deburan ombak kecil Sungai Brantas yang terempas perahu nelayan di kejauhan berpadu dengan suara santri-santri yang melantunkan hafalan nazham jurumiyah dengan nada riang. Di dalam salah satu kamar asrama yang dihuni oleh belasan santri, suasana tampak cukup sibuk namun tertib. Kasur-kasur lipat diletakkan menempel di dinding kayu berpelitur cokelat tua, sementara lemari-lemari plastik warna-warni berjajar rapi di sudut ruangan, memancarkan aroma khas campuran minyak angin, kapur barus, dan kayu basah.
Ghazi Al-Ghifari duduk bersila di atas tikar pandan anyaman kasar di tengah kamar asrama tersebut. Ia mengenakan kaus oblong putih polos dan sarung batik motif Jogja berwarna cokelat tua yang tampak masih baru dan kaku. Sebagai seorang pemuda yang sepanjang hidupnya dibesarkan di lingkungan metropolitan Demang Lebar Daun dengan fasilitas serba modern—di mana pakaian selalu disetrika rapi oleh asisten rumah tangga dan digantung di dalam walk-in closet mewah—mengenakan dan merawat kain sarung ternyata menyimpan kerumitan tersendiri yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sejak memutuskan untuk lebih sering bermalam di pesantren demi mendalami ilmu agama dan mendekatkan diri dengan para santri, Ghazi dihadapkan pada ujian harian paling mendasar: bagaimana cara mengenakan dan melipat kain sarung dengan benar ala santri sejati.
"Duh... kenapa kain sarung ini gampang sekali melorot kalau dipakai berjalan?" gerutu Ghazi pelan sambil menarik ujung kain sarungnya yang hampir terlepas dari pinggangnya, membuat raut wajahnya menyiratkan kebingungan yang luar biasa.
Tepat pada saat itu, muncullah seorang santri bertubuh tegap namun tidak terlalu tinggi, dengan kulit sawo matang khas pesisir pantai dan sorot mata yang memancarkan ketegasan sekaligus keceriaan khas pemuda Madura. Ia adalah Yafiq, salah satu santri senior asal Sumenep yang dikenal paling mahir dalam hal kerapian berpakaian dan berorganisasi di lingkungan pesantren. Yafiq berjalan membawa sekeranjang pakaian basah yang baru dijemurnya, lalu meletakkannya di dekat pintu sebelum menoleh ke arah Ghazi yang sedang kesulitan melipat kain.
"Wah, wah, wah... Gusti Kanjeng Pangeran dari kota besar sepertinya sedang kerepotan menghadapi senjata ampuh para santri ini," ledek Yafiq dengan logat Madura yang kental namun diucapkan dengan nada ramah dan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.
Ghazi mendongak, tersenyum kecut menatap santri asal Madura tersebut. "Kamu benar, Yafiq. Sarung ini seperti punya nyawa sendiri. Setiap kali aku berdiri untuk melangkah, kainnya pasti melorot atau tersangkut di kaki. Padahal aku sudah melilitkannya tiga kali putaran."
Yafiq tertawa berderai, suara tawa khas pemuda pesisir yang lantang dan jujur. Ia melangkah mendekati Ghazi, duduk bersila di hadapan sang pewaris korporasi tersebut, lalu bersiap memberikan pelajaran kilat yang sangat berharga tentang seni melipat dan mengenakan sarung.
❖ ❖ ❖
Yafiq menepuk-nepuk lantai bambu di hadapan Ghazi. "Sini, Kang Ghazi. Jangan malu-malu belajar sama santri kampung seperti saya. Di pesantren ini, sarung itu bukan cuma sekadar pakaian harian, tapi lambang kehormatan, kesederhanaan, dan identitas seorang santri sejati. Kalau cara melipat dan memakainya salah, wibawa kiai sehebat apa pun bisa runtuh gara-gara sarungnya keseret lumpur."
Ghazi menggeser duduknya sedikit mendekat, menatap Yafiq dengan penuh perhatian. Tujuan Ghazi sederhana namun sangat mendesak: ia ingin menguasai tata cara mengenakan dan melipat kain sarung dengan benar sebelum acara khataman kitab kuning akhir pekan ini, di mana ia dijadwalkan hadir mendampingi Kiai Mahmud di hadapan ratusan wali santri. Sebagai mantan eksekutif yang terbiasa tampil sempurna dengan setelan jas bermerek internasional, Ghazi tidak ingin terlihat kaku dan memalukan di hadapan para ulama hanya karena urusan selembar kain sarung.
"Ajari aku triknya, Yafiq," ujar Ghazi serius. "Setiap kali aku melipat bagian pinggangnya untuk dijadikan wiron atau gulungan atas, lipatannya selalu berantakan begitu aku duduk bersila lebih dari sepuluh menit."
Yafiq mengangguk paham, lalu merentangkan sarung batik milik Ghazi yang tadi sempat terlepas di lantai. "Itu karena Kang Ghazi melipatnya dari luar ke dalam dengan cara yang salah. Orang kota biasanya memperlakukan sarung seperti memakai celana bahan—asal gulung di pinggang selesai. Padahal sarung itu punya 'ilmu gravitasi' dan 'teknik kancing alami' yang diwariskan turun-temurun oleh para kiai sepuh di Madura dan Jawa."
Yafiq mengambil ujung kain sarung tersebut, merentangkannya di hadapan Ghazi dengan gerakan tangan yang sangat cekatan dan terampil. Di dalam hati, Ghazi menetapkan tujuan kedua: ia ingin menyerap filosofi di balik kesederhanaan pakaian santri tersebut. Yafiq menjelaskan bahwa bagi para santri di pesantren, sarung adalah simbol keluwesan gerak dalam beribadah, kesiapan siaga untuk berdiri menghadap Sang Pencipta kapan saja, serta penangkal sifat kesombongan duniawi.
"Perhatikan tangan saya baik-baik, Kang Ghazi," instruksi Yafiq sambil mulai melipat bagian atas sarung selebar tiga jari dengan rapatan yang sangat presisi. "Lipatan pertama di bagian perut ini harus ditarik pas di atas tulang panggul. Jangan terlalu longgar, tapi juga jangan terlalu sesak supaya aliran darah tidak terhambat saat kita sujud lama di musala."
Ghazi mengamati setiap gerak-gerik tangan Yafiq dengan cermat, merekam setiap detail teknik melipat tersebut di dalam otaknya layaknya seorang insinyur yang sedang mempelajari cetak biru mesin rumit. Ia menyadari bahwa di balik kesederhanaan penampilan para santri di pesantren Al-Ikhlas, tersimpan kedisiplinan tingkat tinggi yang tidak kalah ketat dari standar operasional prosedur di ruang rapat direksi korporasi besar. Dan di bawah bimbingan Yafiq sore itu, Ghazi bertekad menguasai teknik tersebut hingga sempurna.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam kamar asrama santri perlahan berubah menjadi semakin akrab dan santai. Beberapa santri kamar sebelah yang kebetulan lewat di depan pintu berhenti sejenak, ikut tersenyum melihat seorang pemuda kota berdarah ningrat sekelas Ghazi Al-Ghifari sedang serius berlatih melipat kain sarung di bawah bimbingan Yafiq si santri Madura yang terkenal usil namun berhati emas.
"Nah, sekarang giliran Kang Ghazi yang coba praktikkan sendiri," tantang Yafiq sambil melipat kedua tangannya di dada, menyerahkan kembali kain sarung batik cokelat itu kepada Ghazi. "Ingat prinsip dasarnya: ukur pasak pinggang, lipat tiga tingkat ke bagian dalam dengan tekanan tangan yang kuat, lalu kunci simpulnya di sebelah kanan pusar supaya tidak mudah lepas waktu dibuat lari."
Ghazi mengambil kain sarung tersebut dengan napas sedikit tertahan, lalu berdiri perlahan dari posisi bersilanya. Ia merentangkan kain melingkari pinggangnya, mencoba mengingat setiap instruksi yang baru saja diberikan oleh Yafiq. Tangannya meraba bagian atas kain, melipatnya selebar tiga jari dengan hati-hati, lalu menarik bagian ujungnya untuk dikunci di sisi pinggang sebelah kanan.
"Beginikah, Yafiq?" tanya Ghazi ragu-ragu sambil melangkah pelan dua langkah ke depan.
Yafiq menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. "Kurang pas, Kang! Lipatan bagian perutnya terlalu miring ke kiri. Kalau dipakai jalan agak cepat sedikit, dijamin sarungnya bakal melorot sampai mata kaki dan bikin Kang Ghazi terjungkal di tangga musala."
Mendengar komentar jenaka itu, beberapa santri yang menonton di ambang pintu tertawa kecil. Ghazi tidak merasa tersinggung; ia justru ikut tersenyum lebar, merasakan kehangatan persaudaraan yang begitu tulus di antara para santri tanpa ada sekat status sosial atau kekayaan harta yang membedakan mereka. Transisi batin dari seorang eksekutif pencemas menjadi seorang santri yang rendah hati kini terpancar jelas dari sikap tubuh Ghazi yang semakin luwes dan cair.
"Baiklah, mari kita ulangi sekali lagi dari awal," ucap Ghazi penuh semangat, membuka kembali lilitan sarungnya dan merentangkannya dengan gerakan yang mulai menyerupai gaya Yafiq.
Transisi pembelajaran itu tidak hanya berhenti pada teknik fisik melipat kain, melainkan meresap jauh ke dalam cara pandang Ghazi terhadap arti kerapian hidup. Selama bertahun-tahun di dunia bisnis korporasi, Ghazi mengira bahwa kerapian dan wibawa seseorang ditentukan oleh merk jas mahal, dasi sutra impor, dan jam tangan Rolex bersepuh emas di pergelangan tangannya. Namun sore ini, di kamar asrama berlantai kayu sederhana di Seberang Ulu, Ghazi menyadari bahwa wibawa seorang pria sejati justru terpancar dari seberapa rapi ia merawat kesederhanaan dirinya sendiri, termasuk cara ia melipat dan mengenakan selembar kain sarung buatan lokal.
"Nah, begitu! Sempurna!" seru Yafiq bertepuk tangan kecil ketika melihat percobaan kedua Ghazi berhasil mengunci lilitan sarungnya dengan sangat rapi dan kokoh di pinggang. "Sekarang coba buat jalan keliling kamar, pastikan tidak ada bagian kain yang menyentuh lantai."
Ghazi melangkah mengelilingi ruangan kamar asrama dengan postur tegap. Kain sarung batik cokelat itu melekat sempurna di tubuhnya, memberikan kebebasan bergerak yang luar biasa tanpa rasa khawatir akan melorot. Senyuman puas terkembang di bibir Ghazi; ia berhasil melewati fase transisi pertama sebagai seorang santri baru yang siap menghadapi tantangan rintangan berikutnya di pesantren.
❖ ❖ ❖
Kepuasan Ghazi mengenakan sarung dengan benar tidak berlangsung lama karena sebuah rintangan tak terduga seketika menguji ketangkasannya sore itu. Tepat ketika ia sedang berdiri bangga di tengah kamar asrama, suara sirene tanda persiapan salat Ashar berkumandang nyaring dari pelantang suara musala utama pesantren, disusul oleh teriakan panik dari luar jendela kamar.
"Cepat! Kiai Mahmud sudah berjalan menuju musala! Siapa yang belum mengambil wudu cepat turun ke sumur wudu!" seru salah seorang santri pengurus asrama berlari tergesa-gesa di koridor luar.
Suasana kamar asrama yang tadinya santai mendadak berubah menjadi hiruk-pikuk. Belasan santri berhamburan keluar kamar sambil mengenakan peci dan merapikan sarung mereka masing-masing dengan kecepatan kilat. Yafiq langsung berdiri menyambar kopiah hitamnya.
"Ayo, Kang Ghazi! Kita harus gerak cepat kalau tidak mau tertinggal saf pertama di belakang Kiai Mahmud!" ajak Yafiq setengah berlari menuju pintu.