
Masuknya Kitab Ta’limul Muta’alim: Etika Mencari Ilmu Dimulai.
Matahari pagi di kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, menyembul perlahan dari balik cakrawala timur, menyapukan cahaya keemasan yang hangat ke atas genting-genting asrama santri. Udara subuh yang basah dan segar masih menyisakan embun di ujung-ujung daun pisang yang tumbuh subur di samping gedung madrasah diniyah. Suara santri melafalkan hafalan Al-Qur'an dan nadter dari berbagai penjuru bilik kamar berpadu dengan derik jangkrik pagi, menciptakan simfoni khas kehidupan pesantren yang selalu dirindukan oleh siapapun yang pernah tinggal di dalamnya.
Di kamar nomor tujuh Asrama Al-Ghazali, kesibukan pagi sudah dimulai sejak azan subuh berkumandang. Ghazi Al-Ghifari berdiri di depan cermin kecil yang digantung di dinding kayu, merapikan lilitan sarung batiknya serta mengenakan peci hitam kesayangannya. Di sebelah kanannya, Daffa sedang sibuk mengikat tali sandal jepitnya yang hampir putus menggunakan karet gelang sambil bersenandung kecil, sementara Fahrul dan Jefri sibuk melipat kasur busa tipis masing-masing agar kamar terlihat rapi sebelum ditinggal pergi ke aula utama.
"Wih, ganteng banget Kang Ghazi pagi ini! Mau setoran hafalan atau mau sidang skripsi, nih?" ledek Daffa dengan nada usil, melirik ke arah Ghazi melalui pantulan cermin.
Ghazi tersenyum tipis, menoleh ke arah Daffa sambil menggelengkan kepala pelan. "Bukan mau sidang, Daf. Tapi hari ini kan jadwal pertama kita mulai pengajian kitab Ta'limul Muta'alim bersama Kiai Mahmud. Makanya harus kelihatan rapi dan siap lahir batin."
"Ah, benar juga ya! Kitab legendaris babak penentuan akhlak santri," timpal Fahrul sambil merapikan tumpukan kitab di atas meja belajarnya. "Kalau nggak siap mental, dijamin kuping kita bakal panas seharian dengerin nasihat Kiai Mahmud soal adab sebelum ilmu."
Suasana pagi itu terasa begitu hidup dan bersemangat. Bagi Ghazi, hari ini menandai sebuah babak baru yang sangat krusial dalam perjalanan spiritual dan intelektualnya di pesantren. Sejak kedatangannya beberapa bulan lalu, ia telah melewati berbagai penyesuaian yang melelahkan, mulai dari gegar kultur perkotaan hingga dinamika persahabatan yang unik bersama Daffa dan kawan-kawan sekamarnya. Namun, kehadiran kitab Ta'limul Muta'alim karya Sekh al-Zarnuji di tangan para santri hari ini bukan sekadar tambahan materi pelajaran biasa, melainkan fondasi utama etika yang akan merombak cara pandang Ghazi tentang bagaimana ilmu pengetahuan seharusnya dicari dan diamalkan.
"Sudah, jangan pada ngobrol terus! Nanti keburu bel masuk aula berbunyi, dan kita bisa kena takzir lari keliling lapangan basket gara-agar terlambat," ajak Jefri mengingatkan sambil menyambar tumpukan kitab di pangkuannya.
Mereka berempat akhirnya melangkah keluar kamar secara bersamaan, bergabung dengan ratusan santri berbusana koko putih dan sarung rapi yang berbondong-bondong menapaki jalan setapak menuju aula besar pesantren. Pagi itu, angin sepoi-sepoi membawa kesejukan yang menenangkan, seolah merestui setiap langkah kaki Ghazi untuk menyerap kebijaksanaan agung dari lembaran-lembaran kitab kuning yang suci.
❖ ❖ ❖
Aula besar Pondok Pesantren Al-Ikhlas tampak sudah dipadati oleh ratusan santri dari berbagai tingkatan kelas. Aroma wangi kayu gaharu dan wangi khas halaman pesantren berpadu di dalam ruangan beratap tinggi tersebut. Di bagian depan aula, duduklah pengasuh pondok yang karismatik, Kiai Mahmud, bersila di atas kursi kayu jati dengan pandangan teduh menatap para santri yang tertib mengambil tempat duduk masing-masing. Ghazi, Daffa, Fahrul, dan Jefri mengambil posisi di barisan tengah, tepat di dekat tiang penyangga utama agar mereka bisa mendengar suara Kiai Mahmud dengan jelas tanpa terhalang santri lain.
Ghazi merogoh tas ransel kecilnya, mengeluarkan sebuah kitab kecil bersampul kertas cokelat tipis dengan tulisan arab gundul di sampulnya: Kitab Ta'limul Muta'alim fi Tariqati Ta'allum. Ghazi memegang kitab tersebut dengan kedua tangannya secara hati-hati, seolah-olah benda itu adalah barang paling berharga di muka bumi. Di dalam hatinya, Ghazi menetapkan sebuah tujuan batin yang sangat kuat: ia ingin benar-benar memahami makna sejati di balik adab menuntut ilmu, bukan sekadar menghafal teks atau mengejar nilai akademis seperti yang biasa ia lakukan semasa sekolah di Surabaya dulu.
"Perhatikan baik-baik, anak-anakku," suara bariton Kiai Mahmud menggelegar lembut melalui pengeras suara tua di sudut aula, membuat seluruh percikan suara di dalam ruangan seketika mendadak senyap. "Sebelum kalian mempelajari fiqih, ushul, tafsir, atau hadis, kalian wajib menguasai adabnya terlebih dahulu. Sebab, ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar—ia tidak akan menghasilkan apa-apa selain kehancuran."
Ghazi mendengarkan setiap kalimat yang meluncur dari lisan Kiai Mahmud dengan penuh perhatian. Catatan kecil di buku tulisnya sudah terbuka lebar dengan pena yang siap mencatat setiap mutiara hikmah. Tujuan Ghazi hari ini sangat jelas: ia ingin menyembuhkan penyakit mental masa lalunya—arogansi intelektual dan rasa bangga diri atas kekayaan keluarga—dengan cara merendahkan hati di hadapan guru dan kitab suci.
Daffa yang duduk di sebelah Ghazi tampak melirik ke arah kitab Ghazi, lalu menyenggol pelan lengan temannya itu. "Wah, Kang Ghazi serius banget nih mukanya. Kelihatan banget santri teladan baru," bisik Daffa pelan berusaha mencairkan suasana.
Ghazi melirik sekilas ke arah Daffa, lalu balas berbisik dengan nada setengah bercanda, "Makanya ikut serius, Daf! Jangan-jangan bab pertama nanti bahas tentang cara menghilangkan kebiasaan jail ke teman sekamar."
"Sstt! Jangan keras-keras, Kang! Kalau Kiai Mahmud dengar, nanti saya disuruh nginep di kandang kambing seminggu," balas Daffa sambil pura-pura menutup mulutnya dengan kedua tangan, membuat Ghazi tersenyum kecil menahan tawa.
Meskipun diselingi sedikit candaan ringan dari Daffa, fokus utama Ghazi tidak goyah. Tujuan utamanya hari ini adalah menyerap inti sari dari pasal pertama kitab Ta'limul Muta'alim, yakni tentang hakikat ilmu, keutamaannya, dan pemilihan guru serta teman seperjuangan. Ghazi menyadari bahwa perjalanan hidupnya di pesantren ini baru benar-benar dimulai dari titik ini, di mana etika batin dan kebersihan niat menjadi syarat mutlak untuk membuka pintu keberkahan ilmu yang sesungguhnya.
❖ ❖ ❖
Pengajian babak pertama kitab Ta'limul Muta'alim berlangsung selama hampir dua jam penuh tanpa jeda yang berarti, diisi dengan pembacaan teks oleh Kiai Mahmud, penerjemahan lafaz per lafaz dalam bahasa Jawa Pegon, serta penjelasan filosofis yang sangat mendalam. Transisi dari suasana awal yang tegang dan penuh antisipasi menuju proses penyerapan ilmu yang mengalir deras terjadi begitu mulus seiring dengan merdunya alunan suara Kiai Mahmud yang menjelaskan bait-bait pengantar karangan Sekh al-Zarnuji.
"Perhatikan bab pertama ini, Fashli fi Ma'hiyatil 'Ilmi wa Fadlihi," lanjut Kiai Mahmud sambil membuka halaman kitab beliau. "Ketahuilah, bahwa mencari ilmu itu difardukan atas setiap muslim laki-laki dan perempuan. Dan ilmu yang paling utama untuk dipelajari pertama kali adalah ilmu hal—ilmu tentang bagaimana cara seseorang beribadah dan menjaga hatinya."
Ghazi menuliskan setiap poin penting dengan sangat teliti di buku catatannya. Transisi psikologis yang dirasakan Ghazi sangat nyata; setiap kalimat yang dibacakan Kiai Mahmud seolah menghujam langsung ke lubuk hatinya yang paling dalam, membersihkan sisa-sisa kesombongan duniawi yang selama ini melekat akibat gemerlap kehidupan kota besar. Di sebelah kanannya, Daffa yang tadinya sempat berkelakar kini tampak serius mendengarkan, sesekali mengangguk-angguk kecil saat Kiai Mahmud menyelipkan cerita-cerita teladan para ulama salaf dalam mencari ilmu.
Menjelang pukul sembilan pagi, pengajian sesi pertama pun ditutup dengan bacaan hamdalah bersama-sama. Suasana aula yang tadinya senyap mendadak kembali bergemuruh oleh suara santri yang membereskan kitab, merapikan sandal, dan bersiap membubarkan diri menuju kegiatan pondok selanjutnya. Transisi dari suasana majelis taklim yang sakral menuju hiruk-pikuk aktivitas harian di kompleks pesantren terasa begitu dinamis.
"Alhamdulillah, selamat juga otak saya nggak sampai berasap dengerin penjelasan panjang lebar tadi," seloroh Daffa sambil meregangkan kedua tangannya ke atas begitu mereka keluar dari pintu utama aula.
"Makanya, otakmu itu perlu sering-sering dicuci pakai air hikmah supaya nggak karatan, Daf," balas Fahrul sambil merapikan kopiah hitamnya.
Ghazi berjalan di antara mereka dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Transisi emosional yang dialaminya hari ini membawa ketenangan batin yang luar biasa. Ia merasa bahwa keberadaannya di Pondok Pesantren Al-Ikhlas bukanlah sebuah bentuk hukuman atau pelarian dari masalah keluarga di Surabaya, melainkan sebuah takdir indah yang membimbingnya menuju jalan hidup yang lebih bermakna.