Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

(Antre Air) dan Mandi Kilat

[partImg:[0]]

Mentari pagi di kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, baru saja menampakkan bias jingganya di balik rerimbunan pohon bambu di sisi timur asrama. Udara dingin khas pedesaan Jawa Timur masih menyelimuti bilik-bilik kamar santri, menempel di dinding kayu dan lantai semen yang basah karena embun semalam. Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama. Begitu lonceng panjang berbunyi nyaring menandakan pukul empat lewat seperempat pagi, seluruh kawasan asrama mendadak hidup oleh suara derap puluhan pasang sandal jepit yang berkejaran di atas koridor semen.

Di koridor depan kamar nomor tujuh Asrama Al-Ghazali, kesibukan luar biasa sudah pecah seketika. Ghazi Al-Ghifari keluar dari kamarnya dengan langkah tergesa-gesa, mengenakan sarung batik melilit longgar di pinggang dan handuk lusuh yang disampirkan di bahu kirinya. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah ember plastik berwarna hijau toska yang di dalamnya sudah tertata rapi gayung, sabun mandi batangan, sikat gigi, serta botol sampo saset. Suasana di sekitar area kamar mandi umum dan deretan sumur tua tampak sudah dipadati oleh puluhan santri yang antre berdiri memanjang sambil membawa ember masing-masing.

"Waduh, gawat! Barisan antrean di sumur utama sudah mengular sampai depan pintu laundry," seru Fahrul panik sambil berlari kecil keluar kamar menghampiri Ghazi.

"Makanya jangan suka molor pas alarm subuh bunyi, Kang Fahrul! Tahu sendiri kalau jam-jam segini rebutan air itu rasanya mirip ujian akhir madrasah," timpal Jefri dari arah belakang sambil menenteng ember merah miliknya dengan wajah masam.

Ghazi hanya bisa menarik napas panjang, meresapi realitas baru yang sangat kontras dengan kehidupannya dulu di Surabaya. Di rumahnya, air bersih selalu tersedia melimpah di dalam kamar mandi pribadi berkeramik mewah tanpa harus antre atau berebut giliran dengan puluhan orang. Namun di Pesantren Al-Ikhlas, krisis air bersih menjelang subuh adalah hal biasa. Di sinilah para santri mengenal sebuah tradisi unik yang sudah turun-temurun melekat dalam denyut nadi kehidupan pesantren: ngenthèngi—budaya antre air dengan penuh kesabaran, kedisiplinan tingkat tinggi, dan seni mandi kilat yang hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit.

"Sudah, jangan pada ngomel! Kalau kita terus-terusan ribut ngedumel, keburu azan subuh berkumandang dan kita bakal kehilangan tempat di saf depan masjid," lerai Daffa yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar sambil menguap lebar, mengenakan peci miring di kepalanya.

Ghazi mengangguk setuju, melangkah mengikuti arus kerumunan santri menuju barisan sumur pompa manual di sudut halaman belakang. Pagi itu, di tengah kepungan uap dingin dan suara gemercik air yang beradu dengan ember plastik, Ghazi bersiap menjalani salah satu ritual paling ikonik dan menantang dalam babak baru kehidupan pesantrennya.

❖ ❖ ❖

Ghazi berdiri di urutan ketujuh dalam barisan panjang santri yang mengelilingi sumur pompa manual di samping asrama Al-Ghazali. Di hadapannya, seorang santri senior bertubuh tegap tampak memompa tuas besi sumur dengan sekuat tenaga hingga air jernih memancar deras ke dalam ember-ember plastik yang berjejer rapi. Di balik hiruk-pikuk antrean yang mendesak, Ghazi menetapkan sebuah tujuan batin yang sangat spesifik: ia ingin menguasai seni ngenthèngi dan teknik mandi kilat ala santri tanpa harus kehilangan akal sehat atau tersulut emosi karena kesal diserobot oleh santri lain yang lebih gesit.

Selama beberapa bulan pertama di pondok, Ghazi sering kali menjadi korban dari ketidaksiapannya menghadapi budaya antre air yang serba cepat ini. Pernah suatu ketika, karena terlalu lambat mengambil gayung, Ghazi harus rela berangkat salat subuh tanpa sempat mandi karena air sumur keburu habis disedot ratusan santri. Oleh karena itu, hari ini Ghazi memasang target mental yang kuat: ia harus bergerak efisien, menjaga kesabaran, sekaligus membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu beradaptasi sepenuhnya dengan ritme keras kehidupan pesantren.

"Eh, Kang Ghazi! Jangan melamun melulu. Itu giliran embermu di depan sudah mau penuh, nanti kalau tumpah kamu kena protes barisan belakang," tegur Daffa sambil menyenggol siku Ghazi pelan.

Ghazi tersadar dari lamunannya, segera maju dua langkah untuk menarik ember hijau toskanya yang sudah terisi penuh air sumur yang dingin menyegarkan. "Aman, Daf! Tenang saja, refleks tangan saya sudah mulai naik level berkat latihan tiap subuh."

"Bagus kalau begitu! Tapi ingat, tantangan sebenarnya bukan cuma ngambil airnya, tapi bagaimana caranya kamu mandi kilat dalam waktu tiga menit tanpa bikin badan belang-belang kena sabun," ledek Daffa dengan tawa khas Malangannya.

Tujuan Ghazi pagi itu bukan sekadar mendapatkan air bersih untuk mandi dan wudu, melainkan melatih ketahanan mental dan kedisiplinan diri. Dalam tradisi pesantren, ngenthèngi bukan sekadar kegiatan fisik membuang waktu antre, melainkan sebuah madrasah kesabaran yang mengajarkan para santri untuk menghargai setiap tetes air sebagai nikmat Tuhan yang amat berharga. Ghazi bertekad untuk menjalani proses tersebut dengan lapang dada, mengubah rasa cemasnya menjadi ketenangan batin yang solid.

Fahrul dan Jefri yang berada di antrean sebelah ikut mengawasi perjuangan Ghazi sambil tersenyum geli. Di antara uap air dingin pagi hari, ikatan persahabatan mereka di kamar nomor tujuh semakin terasa erat, menjadi penyemangat tersendiri di tengah padatnya jadwal harian pesantren.

❖ ❖ ❖

Setelah berhasil mengamankan satu ember penuh air bersih hasil perjuangan ngenthèngi selama hampir seperempat jam, Ghazi segera bergegas menuju bilik kamar mandi umum yang terletak di ujung koridor asrama. Suasana di depan deretan pintu kamar mandi tampak sangat sibuk dan dinamis; puluhan santri bergantian keluar-masuk bilik berukuran satu setengah kali satu setengah meter tersebut dengan kecepatan kilat, membawa handuk kecil tersampir di leher dan ember di tangan.

Transisi dari suasana antrean yang panjang dan melelahkan menuju aksi mandi kilat menuntut efisiensi tingkat tinggi dari setiap santri. Ghazi mendapatkan bilik nomor empat yang pintunya terbuat dari seng tua berkarat. Begitu ia melangkah masuk dan menutup rapat pintu bilik, waktu seolah berjalan sepuluh kali lebih cepat. Suara azan subuh pertama mulai berkumandang sayup-sayup dari menara masjid utama, memberikan aba-aba mutlak bahwa waktu gerak mereka tinggal hitungan menit.

Byur!

Ghazi menyiramkan gayung pertama berisi air dingin sumur ke seluruh tubuhnya, membuat sekujur kulitnya merinding hebat seketika. Transisi suhu tubuh yang drastis akibat air sumur yang sedingin es pagi itu langsung melenyapkan sisa-sisa kantuk di kepala Ghazi. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menyambar sabun batangan, menggosokkannya ke seluruh tubuh dengan gerakan cepat mirip mesin cuci otomatis, lalu menyiramkan dua gayung air terakhir untuk membilas bersih sisa busa sabun.

"Waktu subuh sudah dekat, jangan lama-lama di dalam bilik, Kang!" teriak suara salah seorang santri pengurus dari luar pintu kamar mandi, mengingatkan para penghuni bilik agar tidak berlama-lama.

Ghazi mengelap badannya dengan handuk sekenanya, mengenakan kembali sarung dan kemeja koko putih dengan gerakan tangkas, lalu menyambar ember kosongnya. Transisi psikologis yang dirasakan Ghazi saat keluar dari bilik kamar mandi sangatlah luar biasa; tubuhnya terasa sangat bugar, segar, dan pikirannya mendadak jernih luar biasa. Standar mandi kilat ala santri yang tadinya dianggap mustahil kini berhasil ia taklukkan dalam kurun waktu kurang dari tiga menit.

Ia berjalan kembali ke kamar nomor tujuh untuk merapikan peci dan mengambil kitab kecil, bergabung dengan Fahrul dan Jefri yang sudah siap berdiri di depan pintu kamar. Daffa menyambut Ghazi dengan tepuk tangan kecil bernada mengejek.

"Wah, luar biasa! Rekor baru buat anak kota! Mandi kilat tanpa ketinggalan sabun di punggung," puji Daffa sambil nyengir lebar.

Ghazi tertawa kecil, merapikan letak pecinya di depan cermin kecil. "Berkat latihan intensif dari pelatih kepala kamar nomor tujuh, saya sekarang jagoan urusan mandi kilat, Daf!"

Lihat selengkapnya