Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Tempat Berbagi Nasi Bungkus

Suasana siang hari di kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, selalu dipenuhi oleh gelora energi yang khas. Ketika lonceng istirahat berbunyi nyaring menandakan berakhirnya jam pelajaran fiqih di madrasah diniyah, ratusan santri serentak berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Langkah kaki mereka bergemuruh di atas jalanan berkerikil, berkejaran dengan waktu sebelum bel masuk pengajian sore berbunyi. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, pusat kehidupan sosial yang paling dinamis di pesantren ini tidak lain adalah sebuah bangunan semipermanen berukuran sedang yang terletak tepat di samping lapangan utama: Kantin Mak Makmun.

Kantin sederhana itu dipadati oleh asap tipis dari kompor minyak tanah yang mengepul di sudut ruangan, berpadu dengan aroma harum nasi hangat, sambal bajak, dan gorengan tempe mendoan yang baru diangkat dari wajan besar. Bangku-bangku panjang dari kayu jati tua tampak penuh diduduki oleh para santri yang berebut tempat demi melepas penat setelah berjam-jam memeras otak memahami kitab-kitab kuning yang rumit. Di sinilah tempat segala kasta santri melebur menjadi satu—mulai dari santri senior yang berpeci kusam hingga santri baru yang masih kikuk menyesuaikan diri.

Di salah satu sudut meja kayu yang agak pojok, Ghazi Al-Ghifari duduk bersila di atas bangku panjang bersama tiga orang sahabat setianya: Daffa, Fahrul, dan Jefri. Ghazi mengenakan kemeja koko putih yang bagian lengan digulung sekenanya dan sarung hijau tua yang sedikit berdebu. Di hadapan mereka, tersaji dua piring kerupuk kaleng dan empat bungkus nasi bungkus berlapis kertas cokelat yang mengepulkan uap tipis.

"Wah, gila! Pelajaran faraidh tadi benar-benar bikin kepala saya mau meledak, Kang Ghazi. Bisa-bisanya pembagian warisan bikin pusing tujuh keliling begitu," keluh Daffa sambil membuka karet gelang pada bungkusan nasinya dengan gerakan cepat.

Ghazi tersenyum tipis, membuka bungkusannya perlahan. "Namanya juga ilmu hitung tingkat tinggi di pesantren, Daf. Makanya kalau guru menerangkan di depan, jangan malah ngantuk sambil ngitungin cicak di plafon."

"Bukannya ngantuk, Kang! Tapi saya lagi merenungkan filosofi di balik pembagian harta pusaka itu," bela Daffa dengan nada jenaka yang langsung disambut tawa renyah dari Fahrul dan Jefri.

Bagi Ghazi, kantin Mak Makmun bukan sekadar tempat untuk mengisi perut yang lapar setelah beraktivitas seharian. Tempat ini adalah ruang hidup yang memperlihatkan sisi lain dari dinamika kepesantrenan—tempat di mana lelah lebur dalam canda tawa, dan kesenjangan sosial antar santri sirna di balik sebungkus nasi seharga beberapa ribu rupiah. Di tempat inilah Ghazi mulai menemukan arti ketulusan yang sesungguhnya, jauh berbeda dari kemewahan hampa yang dulu ia tinggalkan di kota besar.

❖ ❖ ❖

Ghazi menyuap sesendok nasi hangat berlauk tempe orek dan sambal teri ke dalam mulutnya. Di balik suasana santai yang dipenuhi gelak tawa santri di sekelilingnya, Ghazi menyimpan sebuah tujuan batin yang sangat spesifik pada hari itu: ia ingin menguji seberapa jauh ikatan persaudaraan dan solidaritas di antara ia dan teman-teman sekamarnya melalui sebuah tradisi kecil yang sering disebut sebagai "nasi bungkus silang". Di pesantren, ketika seorang santri mendapat kiriman uang saku lebih dari rumah atau memiliki rezeki berlebih, sudah menjadi kebiasaan tak tertulis untuk membelikan makanan bagi teman satu kamar yang sedang dalam kondisi pas-pasan.

Ghazi melirik sekilas ke arah Daffa yang tampak melahap nasinya dengan sangat lahap, seolah tidak peduli dengan sisa uang sakunya yang tinggal beberapa lembar saja menjelang akhir bulan. Ghazi tahu betul bahwa Daffa sering kali kehabisan bekal lebih cepat karena kerap membagikan jatah jajannya kepada adik-adik kelas yang kelaparan. Tujuan Ghazi hari ini adalah memastikan bahwa tidak ada satupun penghuni kamar nomor tujuh yang merasa kekurangan atau kelaparan di tengah ketatnya aturan keuangan pondok.

"Daf, pelan-pelan makannya. Kayak nggak ketemu makanan seminggu saja," ledek Jefri sambil menyodorkan sepotong tahu goreng ke piring Daffa.

"Tenang, Jef! Rezeki anak soleh nggak boleh ditolak," balas Daffa dengan mulut penuh makanan, membuat Fahrul menggelengkan kepala pelan.

Ghazi meletakkan sendoknya sejenak, lalu menatap lekat-lekat ketiga sahabatnya secara bergantian. "Jujur ya, teman-teman, saya sengaja traktir nasi bungkus hari ini bukan karena saya lagi banyak duit dari Surabaya. Tapi saya cuma ingin kita bertiga—eh, kita berempat maksudnya—selalu ingat kalau susah senang kita pikul bareng-bareng di kamar nomor tujuh."

Daffa menghentikan kunyahannya seketika. Ia menatap Ghazi dengan binar mata yang tidak biasanya serius, meskipun sedetik kemudian senyum usilnya kembali tersungging. "Wih, tumben banget nih anak kota ngomongnya agak melow. Jangan-jangan antum habis menang undian umrah dari Kiai Mahmud ya, Kang?"

"Bukan menang umrah, Daf. Cuma lagi ingin bersyukur saja bisa kenal kalian," jawab Ghazi tenang, tersenyum tulus.

Tujuan Ghazi untuk mempererat ikatan emosional melalui momen sederhana di kantin itu tercapai dengan sangat baik. Di meja kayu yang penuh goresan pisau itu, batas-batas latar belakang sosial yang dulu memisahkan Ghazi dengan dunia luar benar-benar runtuh. Mereka bukan lagi anak orang kaya atau mantan preman terminal; mereka adalah para pencari ilmu yang saling menopang pundak satu sama lain di bawah satu atap asrama Al-Ghazali.

❖ ❖ ❖

Menjelang pukul satu siang, suasana di Kantin Mak Makmun mulai berangsur-angsur lengang. Sebagian besar santri sudah membubarkan diri kembali ke asrama atau bersiap menuju masjid untuk menunaikan salat zuhur berjamaah. Transisi dari riuhnya jam istirahat siang menuju ketenangan sesaat di area kantin terjadi begitu alami, menyisakan deru kipas angin gantung tua yang berputar lambat di langit-langit ruangan.

Mak Makmun, seorang wanita paruh baya berkerudung sederhana yang terkenal ramah kepada seluruh santri, tampak sibuk membereskan piring-piring kotor di meja dekat dapur. Beliau melangkah mendekati meja Ghazi sambil membawa segelas teh poci hangat gratis sebagai bonus tambahan bagi para santri yang setia nongkrong di kantinnya.

"Gimana, Kang Ghazi? Masakan Bibi hari ini pas di lidah santri Surabaya atau masih kurang pedas sambalnya?" sapa Mak Makmun ramah dengan logat Jawa timuran yang kental.

"Pas banget, Mak! Malah sambalnya bikin melek, cocok buat ngelawan ngantuk pas jam pelajaran nahwu nanti," jawab Ghazi sopan sambil menerima gelas teh poci tersebut.

Daffa langsung menyahut cepat dengan nada jenaka, "Kalau urusan sambal bikinan Mak Makmun mah juara pertama se-Jombang Raya, Mak! Makanya nilai ushul fiqih saya kemarin bisa selamat berkat energi sambal ini."

Mak Makmun tertawa renyah mendengar kelakar Daffa, lalu menepuk pelan pundak pemuda asal Malang itu. "Makanya jangan suka bikin ulah terus di asrama, Nak Daffa. Kasihan Kang Ghazi ini yang sering ketiban pulung gara-gara keusilanmu."

Transisi emosional yang dirasakan Ghazi saat berinteraksi dengan Mak Makmun memperlihatkan betapa kuatnya jalinan kekeluargaan yang terbangun di lingkungan pesantren. Di sini, hubungan antara santri dan warga sekitar pondok tidak sekadar bersifat transaksional jual-beli, tetapi sudah seperti hubungan antara anak dan ibu angkat. Mak Makmun mengenal hampir seluruh nama santri beserta kebiasaan unik mereka, menciptakan atmosfer yang membuat Ghazi merasa benar-benar memiliki rumah kedua.

"Ayo, teman-teman! Sebentar lagi azan zuhur berkumandang. Kalau kita telat masuk masjid, bisa-bisa takzir berdiri di depan pintu utama jadi jatah kita siang ini," ajak Fahrul mengingatkan sambil merapikan sisa bungkus nasi di atas meja.

Lihat selengkapnya