
Perjalanan Menimba Ilmu di Bawah Bimbingan Kiai Mahmud secara Langsung.
Sore hari di kompleks Pondok Pesantren Al-Hidayah menyapa dengan keheningan yang syahdu, diiringi suara angin yang mendesir pelan melalui rimbunnya dedaunan pohon mangga di halaman ndalem kiai. Pukul 15.30 WIB, ketika bayangan bangunan asrama mulai memanjang di atas halaman paving block, puluhan santri tampak berjalan tergesa-gesa namun tetap tertib menuju serambi masjid utama. Di tangan masing-masing santri terselip kitab-kitab kuning tebal berukuran folio dengan sampul kertas kusam yang menandakan frekuensi penggunaan yang sangat tinggi setiap harinya.
Bagi Ghazi, pemuda asal Palembang yang sudah beberapa bulan menetap di lingkungan pesantren tersebut, waktu sore hari adalah momen paling sakral sekaligus menegangkan. Hari itu, ia mendapatkan kehormatan khusus sekaligus ujian mental yang luar biasa: untuk pertama kalinya ia dipanggil secara langsung oleh Kiai Mahmud, pengasuh tertinggi pondok pesantren yang dikenal sangat alim, tegas, dan berwibawa, untuk mengikuti bandongan tatap muka secara privat di serambi ndalem.
Ghazi merapikan jubah putih dan peci hitamnya di depan cermin kecil kamar 302, sementara tangannya gemetar pelan ketika memegang kitab Fathul Qarib yang halamannya sudah penuh dengan catatan makna pesanan berbahasa Jawa pegon.
"Wah, hebat bener kamu, Gha! Dipanggil langsung sama Kiai Mahmud sore ini buat ngaji privat. Jangan-jangan kamu mau diangkat jadi menantu kesayangan beliau nih!" ledek Umar sambil merebahkan diri di atas kasur tingkat bawah, tertawa kecil melihat ekspresi tegang di wajah sahabatnya.
Ghazi mendengus pelan, meski sudut bibirnya menyunggingkan senyuman tipis untuk meredakan ketegangan di dadanya. "Sembarangan saja kamu kalau ngomong, Mar. Ini urusan ngaji kitab kuning, bukan mau melamar siapa-siapa. Aku malah deg-degan setengah mati takut nanti salah baca harakat atau tidak bisa jawab kalau Kiai ngetes pemahamanku."
"Santai saja, kawan. Nikmati prosesnya. Kapan lagi anak baru tingkat dasar bisa duduk bersila tepat di hadapan sang pimpinan pesantren," balas Umar menyemangati dengan tulus.
❖ ❖ ❖
Ghazi melangkah pelan menapaki undakan kayu jati tua yang menuju ke teras ndalem kiai. Tujuannya sore itu sangat jelas: ia ingin menyerap ilmu fiqih langsung dari sumbernya, memahami makna mendalam dari setiap bait teks kitab kuning yang diajarkan oleh Kiai Mahmud, serta membuktikan bahwa dirinya mampu mengikuti standar keilmuan yang ketat di pesantren tersebut tanpa mengecewakan guru besarnya.
Begitu ia tiba di teras depan yang beralaskan tikar rotan bersih, ia melihat sosok Kiai Mahmud—pria sepuh berusia sekitar tujuh puluhan dengan sorot mata yang tajam namun memancarkan keteduhan, mengenakan sarung tenun halus dan baju koko putih berbalut selendang putih di pundaknya—sudah duduk bersila di atas kursi kayu jati pendek sambil membuka kitab tebal di hadapannya.
"Assalamualaikum, Kiai," ucap Ghazi dengan suara tercekat, lalu membungkuk takzim mencium punggung tangan kiai sepuh tersebut.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Silakan duduk, Nak Ghazi," jawab Kiai Mahmud dengan suara bariton yang berat namun lembut, menunjuk ke arah tikar kosong tepat di hadapannya. "Bagaimana perkembangan hafalan dan pemahaman kitabmu selama sebulan terakhir di asrama?"
Ghazi menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya sebelum menjawab. "Alhamdulillah berjalan lancar, Kiai. Meskipun terkadang saya masih harus menyesuaikan diri dengan tata cara penulisan makna pesantren."
"Baguslah kalau begitu," ujar Kiai Mahmud sambil tersenyum tipis. "Tujuan saya memanggilmu sore ini bukan untuk mencari-cari kesalahanmu, melainkan untuk membimbingmu menembus lapisan makna teks fiqih yang paling mendasar. Ilmu itu tidak cukup hanya dihafal di lidah, tapi harus diresapi sampai ke dalam hati nurani agar menjadi amal jariyah."
Ghazi mendengarkan setiap kalimat yang meluncur dari bibir sang kiai dengan penuh khidmat. Di hadapan ulama besar itu, ia merasa dirinya begitu kecil, namun di saat yang sama ia merasakan dorongan yang begitu kuat untuk belajar dan menyerap seluas-luasnya ilmu pengetahuan agama yang diajarkan langsung tanpa perantara.
❖ ❖ ❖
Suasana di serambi ndalem mendadak terasa begitu hening, seolah waktu berhenti berputar dan hanya menyisakan suara desiran angin sore serta deru kendaraan sesekali dari jalan raya di luar kompleks pesantren. Transisi dari riuhnya suasana asrama santri yang penuh canda tawa menuju kesyahduan ruang belajar privat bersama kiai menciptakan pergeseran mental yang drastis di dalam diri Ghazi.
"Coba buka bab tentang syarat sahnya salat pada halaman empat puluh lima, Nak Ghazi," instruksi Kiai Mahmud sambil merapikan letak kacamata minusnya.
Ghazi segera membalik lembaran demi lembaran kertas kitab Fathul Qarib dengan jari-jarinya yang sedikit berkeringat. Transisi perpindahan dari teori umum di kelas besar menuju pengkajian mendalam secara personal menuntut tingkat konsentrasi yang jauh lebih tinggi. Setiap huruf arab gundul di hadapannya kini tampak hidup, menuntut ketepatan bacaan dan pemahaman gramatika bahasa Arab yang sempurna.
"Sudah ketemu, Kiai," jawab Ghazi pelan.
"Bagus. Coba baca paragraf pertama dan jelaskan apa maksud dari syarat sah sucinya pakaian dari najis menurut mazhab Syafi'i," titah Kiai Mahmud sambil mengamati gerak-gerik santrinya dengan tatapan menyelidik.