Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Surat Pertama untuk Ayah dan Ibu di Palembang

Surat Pertama untuk Ayah dan Ibu di Palembang: Berisi Keluh Kesah yang Berubah Jadi Syukur.

Malam sunyi menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, di bawah pendar cahaya bulan sabit yang menggantung anggun di antara rimbunnya dedaunan pohon mangga di halaman asrama. Jam dinding tua di koridor lantai dua Asrama Al-Ghazali baru saja menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Suara derik jangkrik dan tiupan angin malam pedesaan terdengar berirama, berpadu dengan dengkuran halus dari beberapa santri yang sudah terlelap setelah seharian penuh bergelut dengan jadwal kegiatan padat mulai dari salat subuh berjamaah, sekolah madrasah diniyah, hingga sorogan kitab malam.

Di dalam kamar nomor tujuh, suasana tampak jauh lebih senyap dibandingkan siang hari. Hanya ada satu titik cahaya lampu meja belajar yang masih menyala terang, memantulkan sinar kekuningan pada sesosok santri yang duduk bersila di atas tikar pandan. Ghazi Al-Ghifari mengenakan sarung batik lusuh dan kaos oblong putih polos, menundukkan kepala dalam-dalam di atas meja kayu kecil berukuran pas-pasan. Di hadapannya terbentang selembar kertas surat bergaris putih bersih dan sebuah pulpen bertinta hitam yang tutupnya sudah hilang entah ke mana.

Ghazi menarik napas panjang, meresapi keheningan malam yang terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk isi kepalanya. Sudah hampir tiga bulan ia resmi menjadi santri di pesantren ini, meninggalkan kenyamanan rumah mewah, fasilitas modern, serta dekapan hangat kedua orang tuanya di Palembang. Selama kurun waktu tersebut, Ghazi telah melalui berbagai fase adaptasi yang menguras tenaga dan mental—mulai dari berebut air di sumur subuh-subuh, menghafal kaidah nahwu yang memusingkan, hingga menghadapi teguran dari bagian keamanan asrama. Namun, malam ini, ada satu urusan personal yang belum sempat ia tuntaskan: menulis surat pertama untuk Ayah dan Ibu di kampung halaman.

"Belum tidur juga, Kang Ghazi? Matamu sudah merah begitu, kelihatan banget kalau lagi mikirin beban hidup tingkat tinggi," sapa Daffa pelan dari atas kasur busanya yang berada di seberang meja, terbangun sejenak karena mendengar suara gesekan kertas.

Ghazi menoleh sekilas, tersenyum tipis sembari merapikan letak pulpen di jari tangannya. "Belum bisa tidur, Daf. Saya lagi coba merangkai kata buat nulis surat balasan untuk Ayah dan Ibu di Palembang. Rasanya kok susah banget ya mau mulai dari mana."

"Ah, menulis surat buat orang tua di rumah mah gampang! Tinggal jujur saja ceritakan semua penderitaan kita waktu antre mandi atau pas dihukum gara-gara telat jamaah, dijamin langsung dikirim kiriman logistik tambahan minggu depan," ledek Daffa dengan suara berbisik agar tidak membangunkan Fahrul dan Jefri yang sudah pulas tertidur di sudut kamar.

Ghazi tertawa kecil, kembali menatap lembaran kertas putih di depannya. Di atas kertas kosong itu, baru tertulis satu baris kalimat pembuka: "Kepada Ayah dan Ibu tercinta di Palembang..." Selebihnya, pikiran Ghazi berkecamuk antara ingin meluapkan segala keluh kesah penatnya hidup di pondok atau menutupi semuanya dengan senyuman palsu agar orang tuanya di seberang pulau tidak merasa khawatir.

❖ ❖ ❖

Ghazi menatap tajam lembaran kertas putih di depannya, membiarkan pulpen di jarinya terdiam sesaat di atas garis merah margin kertas. Di dalam hatinya, Ghazi menetapkan sebuah tujuan yang sangat spesifik dan personal malam itu: ia ingin menulis sebuah surat yang jujur, terbuka, dan mampu merangkum seluruh perjalanan emosionalnya selama tiga bulan terakhir di Pesantren Al-Ikhlas untuk dikirimkan ke Palembang esok pagi melalui pos kilat pesantren.

Awalnya, niat Ghazi menulis surat ini didorong oleh rasa frustrasi yang menumpuk. Pekan lalu, ketika ia menelepon ibunya lewat wartel pesantren, ia sempat menahan tangis karena kelelahan fisik setelah mengikuti kerja bakti membersihkan selokan asrama. Ia ingin menumpahkan segala keluh kesahnya—mulai dari air sumur yang dingin menusuk tulang, jadwal tidur yang kurang, makanan pondok yang sederhana, hingga ketatnya aturan yang membuat gerakannya terasa dibatasi. Ghazi ingin orang tuanya tahu betapa beratnya perjuangan seorang anak kota beradaptasi di lingkungan pesantren tradisional Jawa Timur.

Namun, seiring berjalannya waktu perenungan malam itu, tujuan Ghazi mulai bergeser secara drastis. Ia tidak ingin surat pertamanya justru menjadi sumber kecemasan bagi Ayah dan Ibu di Palembang yang selama ini sudah mendoakannya dari jauh. Ghazi menetapkan tujuan baru yang lebih mulia: mengubah setiap keluh kesah kepenatan itu menjadi sebuah ungkapan rasa syukur yang mendalam atas transformasi batin yang sedang ia alami.

"Kamu serius mau nulis surat sepanjang itu, Ghazi? Kayak mau bikin naskah novel tebal saja tampangnya," celetuk Daffa sambil mengubah posisi tidurnya menghadap ke meja Ghazi.

"Bukan novel, Daf. Ini surat buat orang tua. Saya pengin mereka tahu kalau keputusan saya pindah ke pesantren ini tidak salah, meskipun awalnya penuh air mata dan drama," jawab Ghazi serius sambil menatap lurus ke arah Daffa.

"Bagus kalau begitu! Orang tua di rumah pasti bakal bangga kalau baca anak cowoknya yang tadinya manja di kota, sekarang sudah bisa mandiri dan tahan banting di pesantren," timpal Daffa memberikan dukungan moral penuh.

Ghazi mengangguk mantap, kembali memfokuskan pandangannya pada lembaran kertas. Tujuan utamanya malam itu adalah menuntaskan surat tersebut dengan kejujuran hati yang paling murni—menyampaikan salam takzim, menceritakan lika-liku kehidupan santri dengan nada humor yang menghibur, sekaligus meyakinkan Ayah dan Ibu bahwa dirinya kini tumbuh menjadi pemuda yang lebih sabar, kuat, dan mandiri di bawah bimbingan para kiai dan ustadz di Al-Ikhlas.

❖ ❖ ❖

Dengan tekad yang sudah bulat di dalam hatinya, Ghazi mulai menggoreskan tinta hitam pulpennya di atas kertas putih bergaris. Kalimat demi kalimat mulai mengalir dengan lancar, mengubah keheningan malam di kamar nomor tujuh menjadi sebuah ruang kontemplasi yang sunyi namun sarat makna. Transisi dari keraguan mental menuju kejelasan ekspresi batin mulai terasa begitu nyata pada setiap goresan tangan Ghazi.

Pada paragraf pertama suratnya, Ghazi menuliskan salam hormat dan kabar kesehatannya di pondok. Ia berkisah tentang bagaimana suasana pagi hari di Jombang yang selalu disambut dengan embun dingin dan derap langkah ratusan santri berlari menuju masjid. Transisi penulisan beralih secara halus ketika Ghazi mulai menyinggung bagian-bagian tersulit dari kehidupannya di pesantren—pengalaman pertamanya menghadapi budaya ngenthèngi atau antre air di sumur pompa, perjuangan mandi kilat dalam waktu tiga menit, hingga insiden kecil saat ia hampir salah membaca kedudukan harakat i'rab di hadapan Ustadz Malik.

“Ayah dan Ibu yang saya cintai di Palembang,” tulis Ghazi perlahan sambil melafalkan kalimatnya dalam hati. “Maafkan Ghazi kalau selama beberapa bulan pertama di pondok ini sering menelepon dengan suara parau karena kecapekan. Jujur, pada minggu-minggu awal, Ghazi merasa kaget luar biasa. Semua fasilitas mewah yang biasa Ghazi nikmati di rumah mendadak hilang. Ghazi harus antre berjam-jam untuk mandi, mencuci baju sendiri pakai tangan, dan tidur berdesakan di kamar sederhana bersama teman-teman dari berbagai daerah...”

Daffa yang melihat keseriusan Ghazi menulis perlahan bangkit dari tempat tidurnya, berjalan mendekati meja belajar dan menuangkan sisa air putih dari kendi ke dalam gelas kecil untuk Ghazi.

"Nih, minum dulu, Kang. Jangan sampai surat buat orang tua malah ternoda oleh keringat konsentrasi tingkat tinggi," ujar Daffa sambil meletakkan gelas di samping tumpukan kitab.

Ghazi mendongak, tersenyum kecil menerima gelas air tersebut. "Terima kasih, Daf. Pas banget tenggorokan saya rasanya agak kering pas nulis bagian cerita waktu pertama kali dihukum berdiri di depan kelas gara-gara telat setor hafalan."

Transisi psikologis yang dirasakan Ghazi saat menuangkan kenangan-kenangan pahit itu ke dalam bentuk tulisan sangatlah menakjubkan. Alih-alih merasakan kembali rasa kesal atau sedih seperti saat kejadian aslinya, Ghazi justru mendapati dirinya tersenyum geli mengenang kebodohan dan kepanikannya sendiri di masa lalu. Ia menyadari bahwa setiap peristiwa menyebalkan yang ia alami di pesantren ternyata memiliki porsi humor dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Lembaran surat itu kini bukan lagi sekadar media pelampiasan keluh kesah, melainkan sebuah catatan harian jiwa yang merekam proses kedewasaan seorang pemuda kota yang sedang menempa jati dirinya di tanah Jawa.

❖ ❖ ❖

Namun, tepat ketika Ghazi hendak melanjutkan paragraf berikutnya untuk menceritakan momen-momen kebersamaan hangat bersama teman-teman sekamarnya, sebuah rintangan tak terduga mendadak muncul dan menguji konsentrasinya. Di luar jendela kamar, suara gemuruh angin malam tiba-tiba bergemuruh kencang, disusul oleh tetesan air hujan deras yang turun menghantam seng atap asrama dengan suara bising yang memekakkan telinga.

Bum! Suara sambaran petir menggelegar di langit Jombang, membuat lampu neon di kamar nomor tujuh berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam total, meninggalkan kegelapan pekat yang mencekam di seluruh sudut ruangan.

Lihat selengkapnya