Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Evaluasi Bulanan

Pukul dua siang yang terik di akhir bulan, ketika udara di dalam Aula Serbaguna Pesantren Al-Ihsan terasa begitu padat oleh aroma kertas arsip baru dan keringat ratusan santri, suara lembaran kertas yang dibolak-balik bergemerisik pelan memenuhi ruangan. Di bawah naungan kipas angin gantung tua yang berputar lambat di langit-langit tinggi, para santri tingkat menengah duduk bersila di atas lantai tegel putih yang dingin. Hari ini adalah momen yang paling ditakuti sekaligus dinantikan setiap akhir bulan: pengumuman hasil evaluasi akademik bulanan, di mana rapor nilai dari berbagai fan ilmu—mulai dari nahwu-shorof, fiqih, hingga tafsir dan hafalan Al-Qur'an—dibagikan secara terbuka oleh jajaran dewan asatiz.

Di barisan tengah, di antara puluhan santri yang tampak tegang menunggu namanya dipanggil, Ghazi duduk bersila dengan punggung tegak namun kedua tangannya mencengkeram erat ujung sarung kotak-kotaknya. Matanya menatap lurus ke arah meja kehormatan di bagian depan aula, tempat Ustaz Fauzan—kepala bagian kurikulum pesantren—berdiri di balik mimbar kayu jati sambil memegang map tebal berwarna merah tua. Keringat dingin terasa menetes perlahan di pelipis Ghazi, membawa kembali ingatan tentang malam-malam panjang ketika ia harus berjuang melawan rasa kantuk demi menyelesaikan setoran hafalan dan memahami kitab-kitab kuning berbahasa Arab gundul yang awalnya terasa seperti labirin tanpa ujung.

"Tenanglah, Kang Ghazi. Apapun hasilnya nanti, kita sudah berusaha maksimal sebulan ini," bisik Udin yang duduk tepat di sebelah kanannya, mencoba mencairkan ketegangan yang merayap di antara mereka berdua.

Ghazi menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan debar jantungnya yang berdegup kencang bak bunyi gendang perang. "Bukannya aku tidak tenang, Din. Tapi aku tahu persis betapa rumitnya soal ujian tata bahasa minggu lalu. Aku hanya takut kerja kerasku selama ini masih belum cukup untuk menyejajarkan nilaiku dengan standar ketat di pondok ini," jawab Ghazi lirih, matanya masih terpaku pada lembaran rekapitulasi nilai yang mulai dibagikan oleh para pengurus kelas.

Suasana di dalam aula mendadak hening ketika Ustaz Fauzan mulai membacakan nama-nama santri dengan perolehan nilai tertinggi, disusul oleh derap langkah kaki para santri yang maju ke depan untuk menerima lembar evaluasi mereka masing-masing.

❖ ❖ ❖

Bagi Ghazi, tujuan utamanya dalam evaluasi bulanan kali ini sangat spesifik: ia ingin melihat angka-angka di dalam lembar rapornya menembus batas aman rata-rata kelas, membuktikan pada dirinya sendiri dan para guru bahwa kepindahannya dari dunia arsitektur modern ke lingkungan pesantren tidak sia-sia. Selama empat minggu terakhir, Ghazi telah mendedikasikan sebagian besar waktunya di luar jam wajib untuk mengikuti bimbingan ta'lim tambahan, meminta bantuan Udin untuk membedah kaidah nahwu, serta mengurangi jam tidurnya demi memperkuat hafalan.

"Aku tidak muluk-muluk harus masuk peringkat tiga besar seperti santri senior lainnya, Din. Aku hanya ingin nilai ujian Qowa'id dan Fiqih-ku tidak lagi berada di zona merah atau di bawah rata-rata kelas," ucap Ghazi menegaskan target pribadinya kepada Udin sebelum lembar nilai dibagikan.

Bagi Ghazi, nilai di bawah rata-rata bukan sekadar angka merah di atas kertas, melainkan cerminan dari seberapa jauh ia masih tertinggal dibandingkan santri-santri lain yang telah mengenyam pendidikan dasar pesantren sejak kecil. Ia ingin menghapus stigma bahwa santri pindahan dari kota besar selalu kesulitan beradaptasi dengan sistem keilmuan salaf yang ketat.

Di sisi lain, tujuan para dewan asatiz yang dipimpin oleh Ustaz Fauzan dalam evaluasi bulanan ini adalah melakukan pengukuran objektif terhadap tingkat penyerapan ilmu para santri, sekaligus menyaring siapa saja yang memerlukan perhatian khusus atau takhasus remedial. Bagi mereka, angka rapor bukan alat untuk menghakimi, melainkan peta jalan untuk membimbing santri yang masih tertinggal agar tidak putus asa di tengah jalan.

Ketika nama Ghazi akhirnya dipanggil oleh pengurus kelas untuk mengambil lembar evaluasi miliknya di meja depan, tekad dan kecemasan beradu menjadi satu di dalam dadanya. Ia berdiri dari barisannya, melangkah pasti menuju mimbar utama dengan kepala tetap tegak, siap menerima apapun kenyataan yang tertera di balik lipatan kertas putih tersebut.

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Ghazi menyeberangi lantai tegel aula menuju meja pengurus terasa begitu panjang, seolah jarak beberapa meter itu membentang berkilo-kilometer. Transisi dari posisi aman di antara barisan santri menuju sorotan pandangan rekan-rekan sekelas menciptakan gelombang keheningan psikologis di dalam kepala Ghazi. Suara kipas angin di langit-langit mendadak terdengar samar, digantikan oleh detak jantungnya sendiri yang bergemuruh keras di telinganya.

Ustaz Fauzan menyerahkan selembar kertas rapor bulanan itu dengan senyuman tipis yang menyiratkan kedewasaan dan pengertian. "Terimalah dengan lapang dada, Ghazi. Apapun isinya, ini adalah potret usahamu selama tiga puluh hari terakhir di pesantren ini."

"Terima kasih, Ustaz," balas Ghazi singkat sambil menerima lembar kertas tersebut dengan kedua tangan, lalu sedikit membungkuk tanda hormat sebelum berbalik arah kembali ke tempat duduknya.

Transisi emosional terjadi seketika begitu Ghazi merebahkan pandangannya ke barisan angka-angka yang tertera di atas kertas putih itu. Di kolom mata pelajaran Nahwu-Shorof, tertera angka 62; di kolom Fiqih Ibadah, angka 65; dan di kolom Akhlak, angka 78. Angka-angka tersebut langsung dibandingkan secara mental dengan rata-rata kelas yang tertera di bagian bawah lembar: 72,5.

Ghazi menarik napas panjang saat menyadari kenyataan pahit yang terpampang nyata di hadapannya. Meskipun nilai akhlaknya cukup baik dan beberapa hafalan surat pendeknya mendapat apresiasi, nilai rata-rata keseluruhan akademiknya masih berada di bawah garis standar rata-rata kelas Pesantren Al-Ihsan. Transisi dari rasa penasaran yang mendebarkan menuju hantaman kenyataan pahit itu membuat tenggorokannya terasa keluh seketika ia duduk kembali di samping Udin.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya