
Pusing Tujuh Keliling Menghafal Nadhom Alfiyah di Bawah Lampu Koridor.
Malam sudah merayap naik, membawa serta angin dingin pedesaan Jawa Timur yang menyusup lewat celah-celah ventilasi kayu di kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang. Jarum jam dinding tua di ujung lorong lantai dua Asrama Al-Ghazali baru saja bergeser menunjuk tepat pukul sebelas malam. Suasana di dalam kawasan asrama yang tadinya riuh oleh suara perbincangan para santri kini telah berganti menjadi keheningan yang pekat, hanya menyisakan suara desau angin malam yang menggesek dedaunan bambu dan sesekali derik jangkrik dari arah kebun belakang pondok.
Sebagian besar santri sudah terlelap di dalam kamar masing-masing, membenamkan diri di bawah selimut tebal demi mengumpulkan tenaga menyambut salat malam dan rutinitas subuh esok hari. Namun, suasana kontras justru terlihat di sepanjang koridor luar kamar nomor tujuh belas. Di bawah pendar cahaya lampu neon kuning redup yang menggantung di plafon koridor, seorang pemuda berbalut sarung batik kumal tampak mondar-mandir gelisah sambil memegang selembar kitab kecil berwarna hijau tua dengan sampul yang sudah mulai mengelupas di bagian sudutnya.
Ghazi Al-Ghifari menghentikan langkah mondar-mandirnya, lalu bersandar lekat pada dinding tembok semen yang terasa dingin di punggungnya. Matanya yang sudah merah dan sayu menatap lekat-lekat pada barisan bait-bait Nadhom Alfiyah Ibnu Malik yang tertulis rapi dalam huruf pegon tanpa harakat. Di hadapannya, bait demi bait ilmu nahwu dan sharf tingkat lanjut itu seolah berputar-putar di dalam kepalanya, menciptakan pusing tujuh keliling yang membuat keningnya berkerut dalam.
"Duh, bagaimana bisa bait 'Kalamuhu lafzhun mufidun kal istiqim' kemarin lancar, tapi giliran masuk ke bab 'Af'alul Muqorobah' malam ini otak saya langsung mendadak error total begini?" keluh Ghazi pelan sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut menahan kantuk.
Sebagai santri yang baru beberapa bulan lalu mengenal dunia pesantren—jauh sebelum ia terbiasa dengan kerasnya budaya antre air atau rumitnya tata bahasa dasar—menghafalkan Nadhom Alfiyah yang berisi seribu bait syair tata bahasa Arab klasik adalah sebuah ujian mental yang luar biasa berat. Tenggat waktu penyetoran hafalan kepada Kiai sepuh tinggal menghitung jam, dan Ghazi masih terjebak pada bait-bait sulit yang lidahnya terasa kelu untuk melafalkannya dengan benar.
Pintu kamar tujuh belas tiba-tiba terbuka perlahan, menampakkan wajah Daffa yang mengintip keluar sambil menguap lebar, mengenakan peci miring di kepalanya.
"Belum tidur juga, Kang Ghazi? Dari jam sepuluh tadi saya dengar suara langkah kakimu mondar-mandir kayak satpam ronda keliling asrama," tegur Daffa dengan suara serak khas orang mengantuk.
"Boro-boro tidur, Daf! Kepala saya rasanya mau pecah mikirin bait-bait Alfiyah yang nggak mau nempel di otak. Kalau besok pagi saya gagal setor hafalan ke ndalem, bisa-bisa nama saya dipajang di papan pengumuman pelanggaran akademik lagi," jawab Ghazi putus asa sambil mengibaskan kitab kecil di tangannya.
Daffa mendengus pelan, lalu melangkah keluar kamar dan duduk bersila di atas lantai semen koridor yang dingin. "Makanya, jangan dihafal pakai sistem kebut semalam kayak anak kuliah mau ujian skripsi. Sini, duduk yang benar. Biar saya bantu tasmi' (menyimak) hafalanmu sampai malam ini tuntas."
❖ ❖ ❖
Ghazi segera merapatkan duduknya di sebelah Daffa di atas lantai koridor yang beralaskan seadanya. Di dalam lubuk hatinya, sebuah tujuan yang sangat harga mati telah dicanangkan: malam ini, sebelum fajar menyingsing di ufuk timur Jombang, ia harus berhasil menuntaskan hafalan minimal sepuluh bait baru Nadhom Alfiyah beserta penjelasan maknanya tanpa ada satu pun kesalahan fatal pada pelafalan huruf i'rab-nya.
Bagi Ghazi, hafalan Alfiyah bukan sekadar syarat administratif kelulusan sorogan kitab tingkat lanjut di Pondok Pesantren Al-Ikhlas, melainkan sebuah pertaruhan harga diri akademik. Ia tidak ingin lagi dipandang sebelah mata sebagai santri kota yang hanya mengandalkan fasilitas dan kebetulan bisa bertahan. Ghazi ingin membuktikan bahwa dengan kerja keras, ketekunan, dan bimbingan sahabat-sahabatnya, ia mampu menyamai kapasitas intelektual para santri senior yang sudah bertahun-tahun mengenyam pendidikan pesantren.
"Oke, Daffa. Tolong simak baik-baik bait tentang Af'alul Raja' ini. Jangan biarkan ada satu harakat atau wazan yang meleset dari lidah saya," kata Ghazi serius sambil membuka kembali halaman kitab Alfiyah-nya tepat di bawah sorot lampu koridor yang temaram.
Daffa mengangguk mantap, memegang kitab pegangannya sendiri sebagai panduan koreksi. "Siap, Komandan! Silakan mulai bait pertama dari bab baru itu. Tarik napas pelan-pelan supaya aliran oksigen ke otak lancar dan nggak gampang pusing."
Ghazi menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya sejenak untuk memanggil kembali bait-bait syair yang sempat berterbangan di kepalanya. Dengan suara pelan namun tegas, ia mulai melantunkan bait demi bait syair klasik tersebut menggunakan irama khas santri pondok salaf.
“Asa wa karoba wa awsyakun kadza... watus-tu 'an lufzhin biha 'asin 'ghudza'...”
Suara Ghazi bergetar kecil di tengah kesunyian malam koridor asrama. Setiap bait yang ia lantunkan bukan sekadar menghafal bunyi kata, melainkan meresapi makna filosofis di balik struktur gramatika Arab yang disusun oleh Ibnu Malik ratusan tahun silam. Tujuan utamanya malam itu sangat jelas: meruntuhkan tembok kebodohan diri sendiri dan menjinakkan bait-bait rumit yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi santri baru.
"Stop sebentar, Kang Ghazi!" interupsi Daffa tiba-tiba dengan nada agak tinggi namun tertahan. "Pada kata 'wa awsyakun', pelafalan nun-nya jangan dibaca samar. Harus dibaca jelas karena bertemu dengan huruf wau di depannya. Coba ulangi dari bait itu!"
Ghazi mengangguk, tidak merasa tersinggung sedikit pun atas koreksi Daffa. Ia justru merasa bersyukur memiliki teman sekamar yang teliti dan sabar. Ghazi mengulang kembali bait tersebut dengan koreksi tajwid dan pelafalan yang lebih sempurna, menyatukan tekad untuk terus mengejar target hafalannya hingga tuntas sebelum malam berganti pagi.
❖ ❖ ❖
Waktu terus berjalan merayap mendekati pukul dua belas malam. Suhu udara di koridor lantai dua Asrama Al-Ghazali semakin terasa dingin menusuk tulang, membuat bulu kuduk merinding. Namun, semangat Ghazi dan Daffa di bawah pendar lampu neon kuning sama sekali tidak kendur. Transisi dari suasana belajar santai di awal malam menuju sesi hafalan intensif tengah malam mulai mencapai puncaknya.
Tiba-tiba, dari ujung koridor sebelah timur, terdengar suara langkah kaki berat disertai bunyi ketukan tongkat kayu ringan yang khas di atas lantai semen. Suara itu langsung membuat suasana di sekitar mereka menegang seketika. Fahrul yang tadinya tertidur lelap di dalam kamar mendadak terbangun dan melongokkan kepalanya keluar pintu dengan wajah panik.
"Waduh, gawat! Itu suara sandal jepitnya Kang Badri, ketua keamanan asrama, lagi patroli malam keliling lantai dua!" bisik Fahrul setengah berteriak tertahan kepada Ghazi dan Daffa.
Mendengar nama Kang Badri disebut, mata Ghazi yang tadinya mengantuk langsung terbuka lebar seketika. Di Pondok Pesantren Al-Ikhlas, kedapatan santri berkeliaran di luar kamar lewat jam sepuluh malam tanpa izin resmi dari pengurus bisa berujung pada sanksi administratif atau hukuman membersihkan kamar mandi umum selama seminggu penuh.
"Aduh, bagaimana ini, Daf? Kalau kita ketahuan masih nongkrong di koridor jam segini buat ngafalin Alfiyah, bukannya dapat pahala ilmu, kita malah dapat surat peringatan merah dari bagian keamanan," bisik Ghazi panik sambil merapikan kitabnya.
Daffa terdiam sejenak, berpikir cepat di tengah situasi genting tersebut. "Jangan panik! Jangan lari masuk kamar, nanti malah kelihatan mencurigakan. Cepat pura-pura duduk bersila sambil diskusi kitab serius, seolah-olah kita lagi mojok belajar kelompok resmi atas izin pengurus."