
Pukul tiga sore yang tenang di awal pekan, ketika sinar matahari condong ke barat dan menyelinap melalui jendela-jendela tinggi berjeruji besi di ruang baca utama Perpustakaan Pesantren Al-Ihsan, suasana terasa begitu damai dan khidmat. Debu-debu halus menari-nari dalam berkas cahaya kuning yang menimpa deretan rak kayu jati tua berisi ribuan jilid kitab kuning, ensiklopedia Islam, serta literatur modern. Di ruangan yang beraroma khas kertas tua dan lilin pernis kayu itu, hanya terdengar suara lembaran halaman buku yang dibolak-balik perlahan serta desau pelan kipas angin gantung yang berputar di langit-langit tinggi. Hari Senin sore adalah waktu paling favorit bagi para santri yang ingin mencari ketenangan untuk membaca atau menyelesaikan tugas riset mingguan mereka, jauh dari hiruk-pikuk lapangan asrama.
Di sudut paling belakang perpustakaan, di balik rak tinggi yang memuat literatur sejarah peradaban Islam, Ghazi duduk seorang diri di meja baca kayu panjang. Mengenakan kemeja koko putih berbalut sarung warna abu-abu tua dan peci beludru hitam yang sedikit miring, ia sedang serius mencatat intisari dari sebuah kitab tafsir klasik. Jemarinya yang memegang pena bergerak lincah di atas buku catatan tulis bergaris, sementara matanya menyusuri baris demi baris teks Arab gundul dengan penuh konsentrasi tinggi. Suasana sepi itu mendadak terasa begitu nyaman bagi Ghazi, memberikannya ruang untuk merenungkan kembali perjalanan panjang adaptasinya di pesantren selama beberapa bulan terakhir.
"Wah, kelihatannya Kang Ghazi sedang serius sekali meneliti naskah kuno," sebuah suara lembut berbisik pelan dari arah samping, memecah keheningan di sudut rak tersebut.
Ghazi terperanjat kecil, segera mendongakkan kepalanya dari buku catatan. Di hadapannya, berdiri seorang perempuan muda mengenakan gamis hitam sederhana dan jilbab panjang berwarna senada, membawa setumpuk kitab tebal di dalam dekapannya. Ghazi langsung mengenali sosok itu: Varisha, putri bungsu Kiai Mahmud yang juga pengampu rubrik literasi dan arsip perpustakaan pesantren. Dengan rasa kikuk yang mendadak menyerang, Ghazi segera merapikan posisi duduknya dan berdiri setengah badan untuk memberikan gestur hormat.
"Eh, maaf, Ning Varisha. Saya tidak menyadari ada orang yang datang mendekat," ucap Ghazi dengan suara tercekat, berusaha menutupi rasa gugupnya di hadapan putri sang pengasuh utama pondok.
Varisha tersenyum ramah, meletakkan setumpuk kitab yang dibawanya ke atas meja kosong di sebelah Ghazi. "Tidak apa-apa, Kang Ghazi. Silakan dilanjutkan bacanya. Saya hanya ingin merapikan beberapa kitab tafsir yang baru saja dikembalikan oleh santri tingkat akhir kemarin sore."
Suasana sore di antara deretan rak buku tua itu mendadak berubah menjadi ruang perjumpaan yang tak terduga, mempertemukan dua dunia santri yang selama ini berjalan dalam orbit yang sangat berbeda di kompleks Pesantren Al-Ihsan.
❖ ❖ ❖
Bagi Ghazi, tujuan awal kedatangannya ke perpustakaan sore ini sangatlah sederhana: ia ingin mencari referensi tambahan untuk memperdalam pemahaman tentang tata bahasa Arab tingkat lanjut dan menyelesaikan tugas meringkas bab Balaghah yang diberikan oleh Ustaz Fauzan sebelum batas waktu pengumpulan esok pagi. Sebagai santri pindahan yang masih merangkak mengejar ketertinggalan akademiknya, Ghazi memasang target pribadi agar setiap jam senggangnya di pondok tidak terbuang sia-sia tanpa tambahan ilmu yang konkret.
"Aku harus bisa menyelesaikan ringkasan bab gaya bahasa Al-Qur'an ini hari ini juga, supaya nanti malam bisa fokus menghafal nazham Jauharah Tauhid," batin Ghazi dalam hati sambil kembali menatap lembaran kitab di hadapannya, berusaha mengabaikan debar jantungnya yang mendadak tidak beraturan akibat kehadiran Varisha di dekat meja baca tersebut.
Di sisi lain, tujuan Varisha datang ke sudut perpustakaan itu adalah menjalankan tugas rutinnya sebagai pengawas inventaris arsip dan memastikan bahwa seluruh koleksi kitab langka di sudut barat tersusun rapi sesuai dengan klasifikasi keilmuannya. Namun, di balik tugas administratif tersebut, Varisha—yang kerap mendengar cerita dari para pengurus tentang kegigihan santri baru asal ibu kota bernama Ghazi—diam-diam memiliki ketertarikan tersendiri untuk melihat sejauh mana perkembangan adaptasi pemuda tersebut dalam membedah literatur klasik pesantren.
"Saya dengar dari Ustaz Fauzan bahwa Kang Ghazi belakangan ini sering menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan untuk mengejar ketertinggalan pelajaran nahwunya," ucap Varisha sambil mulai menyusun kitab-kitab di rak atas dengan gerakan teratur, membuka percakapan ringan namun sarat makna.
Ghazi menoleh sekilas, tersenyum simpul menanggapi pernyataan tersebut. "Ah, Ustaz Fauzan terlalu berlebihan, Ning. Nilai saya masih jauh dari standar rata-rata kelas. Kalau saya tidak melipatgandakan waktu belajar seperti ini, saya pasti sudah tertinggal jauh dari teman-teman yang lain."
Tujuan perjumpaan tanpa sengaja itu perlahan bergeser dari sekadar interaksi kebetulan menjadi sebuah dialog intelektual yang menguji ketulusan niat belajar Ghazi di hadapan putri sang ulama besar.
❖ ❖ ❖
Transisi dari keheningan membaca seorang diri menuju suasana interaksi langsung dengan Varisha menciptakan perubahan ritme emosional yang cukup signifikan di dalam diri Ghazi. Udara di sudut perpustakaan yang tadinya terasa sejuk mendadak terasa hangat, memicu keringat tipis di pelipis Ghazi. Ia menutup perlahan pulpennya, merapikan letak kitab tafsir di atas meja, dan memusatkan perhatian sepenuhnya kepada putri Kiai Mahmud yang kini berdiri bersandar santai pada tepi rak kayu di samping mejanya.
"Mengejar ketertinggalan bukanlah aib, Kang Ghazi," kata Varisha dengan nada suara yang tenang, menatap lurus ke arah Ghazi dengan sorot mata penuh kebijaksanaan yang mengingatkan Ghazi pada gaya bicara Kiai Ahmad. "Yang terpenting bukanlah seberapa cepat seseorang menguasai suatu ilmu di hari pertama, melainkan seberapa besar ketulusan hatinya dalam merendahkan diri di hadapan ilmu itu sendiri. Banyak santri senior yang pintar secara hafalan, tapi sedikit yang memiliki ketekunan seperti yang Anda tunjukkan selama beberapa bulan terakhir."
Ghazi meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir Varisha. Transisi mental dari rasa rendah diri sebagai santri pindahan kota yang sering merasa bodoh menjadi seseorang yang dihargai ikhtiarnya memberikan kelegaan batin yang luar biasa. Ia merasa bahwa segala lelah, kantuk, dan frustrasi akademik yang ia rasakan selama ini tidak luput dari pengamatan orang-orang di sekitarnya.
"Terima kasih atas apresiasinya, Ning. Jujur, awalnya saya sempat merasa salah mengambil keputusan besar ketika memutuskan meninggalkan dunia arsitektur di Jakarta untuk masuk ke pesantren ini," aku Ghazi dengan jujur, tanpa ada niat sedikit pun untuk menutupi keraguannya di masa lalu.