Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Buku yang Tertukar

Buku yang Tertukar: Debat Singkat yang Membekas di Hati Ghazi---

Pukul 15.45 WIB. Matahari sore di kawasan Pondok Pesantren Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, meredupkan sinarnya di balik deretan awan kelabu yang menggantung di atas Sungai Brantas. Angin sungai berhembus cukup kencang, membawa aroma lumpur basah dan wangi khas halaman pesantren yang dipenuhi pohon sawo kecik. Di dalam perpustakaan utama pondok—sebuah ruangan luas berarsitektur kolonial dengan rak-rak kayu jati tua yang menjulang tinggi hingga menyentuh plafon—suasana terasa begitu tenang. Debu-debu halus menari-nari di dalam berkas cahaya matahari sore yang menyelusup melalui jendela kaca nako yang lebar.

Ghazi Al-Ghifari berdiri di lorong rak nomor empat, jemarinya menyusuri punggung jilid kitab-kitab kuning turats dan buku-buku referensi sosiologi modern. Ia mengenakan kemeja koko putih polos berbalut sarung tenun Samarinda berwarna hijau lumut, dengan peci hitam bludru yang sedikit miring di kepalanya. Sebagai seorang pemuda yang kini telah terbiasa membagi waktu antara mengurus manajemen panti asuhan, belajar di pesantren, dan merajut kembali hubungan bisnis dengan ayahnya, perpustakaan ini adalah tempat perlindungan favoritnya untuk mencari ketenangan sekaligus memperkaya wawasan keilmuan.

Hari itu, Ghazi tengah mencari referensi khusus mengenai etika bisnis Islam dan manajemen filantropi untuk melengkapi draf makalah yang diminta oleh Kiai Mahmud. Di hadapannya, tumpukan buku tebal sudah tersusun rapi di atas meja baca kayu panjang. Namun, di tengah kesibukannya memindai judul-judul kitab di rak paling atas, sebuah insiden kecil seketika memecah kesunyian sore itu.

"Aduh!" suara decitan sandal jepit berpadu dengan suara jatuhnya beberapa buku tebal terdengar dari seberang rak nomor lima.

Ghazi terkejut, segera melangkah memutari rak untuk melihat apa yang baru saja terjadi. Di lantai keramik yang bersih, tampak seorang santriwati berkerudung abu-abu gelap sedang terduduk sambil memunguti lembaran catatan dan buku-buku tebal yang berserakan. Tanpa berpikir panjang, Ghazi langsung berjongkok untuk membantu memungut salah satu buku bersampul kulit hitam yang terlepas pembatas halamannya.

"Maaf, biar saya bantu," ucap Ghazi ramah sambil mengulurkan buku tersebut.

Santriwati itu mendongak, menerima buku dari tangan Ghazi dengan cepat. Namun, tatapan mata mereka sempat beradu sepersekian detik. Ghazi terpaku sejenak; sorot mata gadis itu tajam, cerdas, namun menyimpan ketegasan yang tidak biasa ditemukan pada santriwati pada umumnya.

"Terima kasih," jawab gadis itu singkat dengan nada suara yang dingin, lalu segera berdiri merapikan tumpukan bukunya tanpa membuang waktu lebih lama.

Ghazi berdiri mengamati punggung santriwati tersebut yang berjalan cepat meninggalkan lorong perpustakaan menuju meja sirkulasi. Di atas lantai tempat gadis itu tadi jatuh, sebuah buku catatan kecil bersampul batik tertinggal tergeletak di dekat kaki meja. Ghazi membungkuk, memungut buku catatan itu, berniat memanggil pemiliknya. Namun, nama gadis itu sudah lenyap di balik pintu keluar perpustakaan. Ketika Ghazi membuka lembaran pertama buku tersebut untuk mencari identitas pemiliknya, ia tidak sengaja membaca catatan tangan yang tertulis di halaman depannya, sebuah coretan pemikiran tajam mengenai kritik sosial ekonomi yang langsung menghentak kesadaran Ghazi dan membekas kuat di dalam hatinya.

❖ ❖ ❖

Ghazi membawa buku catatan bersampul batik itu kembali ke meja bacanya, duduk terpekur menatap lembaran demi lembaran tulisan tangan yang tersusun sangat rapi. Setiap kalimat yang tertulis di dalam buku catatan itu bukanlah sekadar catatan harian biasa, melainkan ringkasan analisis mendalam mengenai ketimpangan ekonomi masyarakat perkotaan, kritik terhadap eksploitasi korporasi modern, dan pembelaan terhadap hak-hak kaum marjinal yang disandingkan secara elegan dengan dalil-dalil fiqih muamalah klasik.

Bagi Ghazi—yang latar belakang hidupnya bersentuhan langsung dengan dunia bisnis korporasi kelas atas milik keluarganya—pandangan-pandangan ekonomi yang tertulis di buku itu terasa sangat memukul telatah berpikirnya. Ia merasa tertantang, penasaran, sekaligus terpesona oleh kecerdasan penulis misterius tersebut.

"Siapa sebenarnya santriwati ini? Cara dia membedah sistem kapitalisme modern menggunakan perspektif keadilan distributif Islam benar-benar luar biasa," gumam Ghazi pelan sambil terus membalik halaman buku catatan itu.

Tujuan Ghazi di sore itu mendadak bergeser. Jika awalnya ia datang ke perpustakaan untuk merampungkan makalah tugas dari Kiai Mahmud, kini ia memiliki tujuan baru yang jauh lebih spesifik: ia harus mencari pemilik buku catatan ini, mengembalikannya secara langsung, dan—jika memungkinkan—mengajak pemiliknya berdiskusi mengenai gagasan-gagasan ekonomi Islam yang sangat radikal namun bernas tersebut. Ghazi ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa di dalam tembok pesantren tradisional ini, terdapat pemikiran-pemikiran intelektual perempuan yang mampu menyaingi para akademisi universitas ternama di ibu kota.

Joko dan Yafiq yang baru saja masuk ke dalam perpustakaan untuk mencari Ghazi, mendapati sahabat mereka sedang termenung menatap sebuah buku catatan asing di atas meja. Joko melangkah mendekat, menepuk bahu Ghazi pelan sambil tersenyum usil.

"Wah, Kang Ghazi sore-sore begini bukannya nyelesaiin tugas makalah, malah asyik membaca buku harian orang lain. Jangan-jangan itu buku catatan santriwati pujaan hati yang baru kamu kenal di perpustakaan ya?" ledek Joko dengan nada jenaka.

Ghazi menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, menutup buku catatan itu dengan hati-hati. "Jangan sembarangan, Joko. Ini bukan buku harian biasa. Ini buku catatan milik seorang santriwati yang tidak sengaja tertukar tadi. Isinya penuh dengan kritik tajam tentang ekonomi kerakyatan dan keadilan sosial yang membuatku tercengang."

"Oh ya? Coba lihat, siapa tahu ada namanya di halaman belakang," usul Yafiq ikut penasaran, merapat ke sisi meja baca.

Ghazi membuka kembali halaman sampul belakang buku tersebut. Di pojok kanan bawah, tertulis sebuah inisial nama dengan tinta hitam yang tegas: A. Z. K. Disertai catatan kecil institusi kelas akhir madrasah aliyah pondok pesantren. Ghazi menghafal inisial dan nama institusi tersebut di dalam kepalanya. Tujuan Ghazi kini semakin bulat: ia harus mencari pemilik inisial A. Z. K. keesokan paginya sebelum jadwal kegiatan belajar mengajar dimulai. Buku catatan itu bukan sekadar barang tertinggal, melainkan kunci pembuka bagi sebuah perdebatan intelektual yang sangat dinantikannya.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, pukul 07.30 WIB. Suasana di kompleks madrasah aliyah Pondok Pesantren Al-Ikhlas tampak sibuk. Para santri berlalu-lalang membawa kitab di bawah lengan mereka, bersiap memasuki ruang kelas masing-masing. Ghazi berjalan menyongsong koridor lantai dua gedung madrasah, mengenakan kemeja koko putih bersih dengan sarung abu-abu rapi dan peci hitam. Di tangannya, buku catatan bersampul batik milik santriwati misterius itu ia simpan rapat di dalam tas kulitnya.

Langkah Ghazi terhenti di depan papan pengumuman kelas XII Agama, tempat di mana daftar nama santriwati tingkat akhir tertempel rapi di balik kaca bingkai kayu. Jemarinya menyusuri deretan nama-nama tersebut hingga matanya mendarat pada satu nama lengkap yang cocok dengan inisial A. Z. K. di buku catatan: Aisyah Zahra Khairunnisa, santriwati asal Palembang yang dikenal sebagai salah satu pengurus aktif organisasi debat bahasa Arab dan ketua majelis sastra pondok.

"Jadi namanya Aisyah Zahra Khairunnisa..." bisik Ghazi pelan pada dirinya sendiri, merasakan secercah rasa kagum bercampur penasaran bergemuruh di dadanya.

Transisi dari rasa ingin tahu yang abstrak di perpustakaan kemarin sore kini berwujud nyata menjadi sebuah perjumpaan yang direncanakan. Ghazi tidak berniat berlama-lama menyimpan barang milik orang lain; ia tahu betul betapa pentingnya sebuah buku catatan bagi seorang santri yang gemar menulis dan menimba ilmu. Namun di balik niat mengembalikan buku tersebut, tersimpan hasrat intelektual yang kuat untuk membuktikan apakah sosok Aisyah aslinya sehebat gagasan-gagasan tajam yang tertulis di atas kertas catatan itu.

Saat Ghazi hendak melangkah menuju ruang pengurus organisasi santriwati untuk mencari Aisyah, dari arah berlawanan, seorang santri senior pengurus keamanan pondok bernama Ustaz Farhan memanggilnya.

"Kang Ghazi! Dicari oleh Kiai Mahmud di ruang kantor pengasuh sekarang juga. Ada tamu penting dari yayasan panti asuhan yang datang mendadak," ujar Ustaz Farhan dengan nada tergesa-gesa.

Ghazi menarik napas sejenak, menghentikan langkahnya menuju kelas Aisyah. Prioritas utamanya saat ini tetaplah urusan panti asuhan dan amanah dari sang ayah. Namun, ia menyisipkan buku catatan batik itu ke dalam saku tasnya dengan aman, berjanji pada dirinya sendiri bahwa begitu urusan dengan Kiai Mahmud selesai, ia akan langsung menemui Aisyah untuk mengembalikan buku tersebut sekaligus memulai perdebatan intelektual yang sudah ia bayangkan sejak semalam.

Lihat selengkapnya