Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #42

Rasa Penasaran yang Mulai Tumbuh

Rasa Penasaran yang Mulai Tumbuh: Siapa Sebenarnya Neng Varisha?

Angin senja berhembus lembut melintasi halaman luas Pondok Pesantren Al-Ikhlas, membawa serta aroma basah tanah usai disiram hujan rintik beberapa jam lalu. Di bawah naungan pohon rindang di dekat kompleks perpustakaan lama, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan riuhnya asrama santri putra menjelang magrib. Ghazi Al-Ghifari berdiri memegang setumpuk kitab kuning tebal di tangan kirinya, sementara tangan kanannya merapikan letak peci hitam yang sedikit miring akibat terpaan angin. Hari ini adalah hari yang panjang, namun rasa lelah dari kegiatan muthalaah dan setoran hafalan seolah lenyap ketika pikirannya melayang pada percakapan-percakapan tak terduga yang belakangan sering ia alami di lingkungan pesantren ini.

Sebagai seorang santri tingkat lanjut yang baru saja menginjakkan kaki di gerbang Alfiyah Ibnu Malik, Ghazi mengira hari-harinya hanya akan diisi dengan perdebatan seputar kaidah nahwu sharaf, i'rab, dan telaah kitab klasik. Namun, dinamika di Al-Ikhlas ternyata menyimpan dimensi yang jauh lebih luas. Pesantren bukan sekadar tempat menghafal teks-teks tua, melainkan sebuah ekosistem peradaban tempat gagasan besar tentang dunia Islam bersemi. Di tengah kesibukan itu, nama Varisha binti Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz kerap menjadi topik bisik-bisik di kalangan santriwati maupun pengurus pondok—bukan sekadar karena statusnya sebagai putri sang pengasuh utama, melainkan karena keluasan wawasan intelektualnya yang kerap membuat para santri senior terkagum-kagum.

"Ghazi, kamu masih di sini? Sebentar lagi azan magrib berkumandang, nanti keburu dicari Kang Hasan lho," suara Rian membuyarkan lamunan Ghazi. Teman sekamarnya itu berjalan mendekat sambil membawa cangkir kaleng berisi kopi hitam sisa sore tadi.

Ghazi menoleh, tersenyum kecil sembari melonggarkan sedikit leher jubah putih yang ia kenakan. "Ah, aku hanya sedang merenungkan materi diskusi tadi siang, Rian. Ada beberapa pandangan soal mazhab pemikiran modern dalam dunia Islam yang masih mengganjal di kepalaku."

"Merenungkan materi atau merenungkan siapa yang menyampaikan materi?" cerca Rian dengan nada menggoda, alisnya naik sebelah. "Jangan bilang kamu kepikiran lagi soal catatan kaki kitab yang dikirim lewat pengurus ndalem kemarin siang? Yang tulisannya rapi dan penuh kritik tajam terhadap metode perbandingan mazhab kontemporer itu."

Ghazi mendengus pelan, berusaha menepis rona merah yang tiba-tiba merayap di tengkuknya. "Jangan sembarangan, Rian. Itu murni catatan ilmiah. Tapi memang... harus diakui, cara pandang penulis catatan itu dalam melihat dialektika pemikiran Islam klasik dan modern sangat luar biasa tajam. Rasanya tidak biasa ditemukan di kalangan santri kebanyakan."

"Ya jelas tidak biasa, Ghazi. Itu kan catatan dari Neng Varisha," balas Rian dengan suara setengah berbisik, seolah takut nama tersebut terdengar oleh angin malam pesantren. "Putri Kiai Mahmud sendiri yang menelaah naskah-naskah perbandingan mazhab dari Timur Tengah. Konon, beliau menempuh pendidikan literatur Islam secara langsung dari ulama-ulama besar sebelum kembali mengabdi di Al-Ikhlas."

Nama itu lagi. Varisha. Ghazi terdiam sejenak. Rasa penasarannya pada sosok perempuan cerdas tersebut bukan lagi sekadar kekaguman biasa, melainkan sebuah dorongan intelektual yang kuat untuk memahami bagaimana seorang perempuan di lingkungan pesantren tradisional mampu merajut pemikiran Islam global dengan akar lokal yang begitu kokoh.

Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala barat Jawa Timur, menyisakan bias jingga yang memantul di kaca-kaca jendela gedung madrasah. Usai melaksanakan salat magrib berjemaah dan mengikuti sesi tadarus Al-Qur'an singkat di serambi masjid, Ghazi memutuskan untuk menuntaskan rasa penasarannya. Ia memiliki sebuah tujuan yang jelas malam ini: menemui pustakawan senior pondok untuk meminjam naskah risalah perbandingan mazhab yang sempat diulas oleh Neng Varisha, sekaligus mencari kesempatan untuk berdiskusi langsung jika kebetulan ia dipertemukan dalam forum kajian malam di perpustakaan khusus santri senior.

Bagi Ghazi, perdebatan keilmuan di dunia Islam bukan sekadar hafalan teks, melainkan upaya mencari relevansi hukum Islam di tengah zaman yang terus berubah. Dan di mata Ghazi, catatan-catatan pinggir yang ditinggalkan oleh Varisha pada naskah-naskah tua di perpustakaan memberikan perspektif segar yang belum pernah ia temukan dalam kitab-kitab syarah konvensional.

"Kamu serius mau langsung ke perpustakaan malam ini, Ghazi? Bukannya malam ini jadwal setoran hafalan nadham lanjutan?" tanya Rian ketika mereka berjalan beriringan menuju halaman asrama.

"Aku sudah menyetorkan hafalannya tadi sore ke Faruq, Rian. Jadi malam ini aku punya waktu luang untuk menelaah naskah perbandingan mazhab itu. Ada beberapa catatan kaki milik Neng Varisha yang ingin aku verifikasi sumber rujukannya," jawab Ghazi mantap.

"Hati-hati, Ghazi. Berurusan dengan pemikiran intelektual Neng Varisha itu sama saja dengan masuk ke arena debat terbuka. Beliau terkenal sangat kritis terhadap argumen yang hanya ikut-ikutan tanpa dasar illat hukum yang jelas," peringat Rian setengah berseloroh, meski ada nada kekaguman nyata dalam suaranya.

"Justru itu tujuanku, Rian. Ilmu itu hidup karena diuji, bukan sekadar dihafal di luar kepala," balas Ghazi sambil mempercepat langkahnya membelah koridor pesantren yang mulai diterangi lampu-lampu neon putih.

Setibanya di depan gedung perpustakaan utama pondok—sebuah bangunan bergaya kolonial berlantai dua yang menyimpan ribuan kitab klasik dan jurnal Islam kontemporer—Ghazi menarik napas dalam-dalam. Suasana di dalam perpustakaan tampak lengang. Hanya ada beberapa santri senior yang duduk di meja panjang, tenggelam di antara tumpukan literatur tebal.

Ghazi melangkah masuk dengan tenang, aroma khas kertas tua dan kayu jati langsung menyambut indra penciumannya. Di sudut meja sirkulasi, seorang pustakawan santri sedang merapikan kartu peminjaman.

"Malam, Kang," sapa Ghazi ramah kepada penjaga perpustakaan. "Saya ingin mencari naskah risalah perbandingan mazhab abad pertengahan yang kemarin sempat diletakkan di rak referensi khusus."

Pustakawan itu mendongak, tersenyum mengenali Ghazi. "Oh, Ghazi. Naskah itu? Kebetulan sekali, naskah catatan tersebut sedang dibawa oleh Neng Varisha di ruang baca dalam. Beliau baru saja menambahkan beberapa catatan baru terkait metodeistinbat hukum kontemporer."

Jantung Ghazi berdegup sedikit lebih kencang mendengar nama itu disebut secara langsung di tempat yang sama. Ini adalah kesempatan emas, sekaligus ujian mental pertamanya untuk membuktikan sejauh mana kapasitas keilmuannya di hadapan sang putri kiai.

Langkah kaki Ghazi membawa dirinya menyusuri lorong rak-rak buku yang menjulang tinggi di bagian dalam perpustakaan. Semakin ia mendekati ruang baca khusus referensi langka, suara gemerisik kertas dan aroma teh hangat semakin terasa. Ruangan itu disekat oleh dinding kaca buram dan rak kayu jati berukir klasik, tempat di mana para pengajar dan santri senior biasanya melakukan telaah mendalam.

Dari balik celah pintu kaca yang terbuka sedikit, Ghazi dapat melihat siluet seorang perempuan berkerudung rapi berwarna abu-abu gelap sedang duduk menunduk di balik meja baca kayu besar. Di hadapannya terbuka sebuah naskah manuskrip tua dengan tinta tebal, dikelilingi oleh belasan buku referensi modern berbahasa Arab dan Inggris. Itu pasti Varisha.

Ghazi menghentikan langkahnya sejenak, merasakan transisi emosional yang drastis dari seorang santri biasa yang sibuk menghafal nadham menjadi seorang penuntut ilmu yang bersiap memasuki diskursus pemikiran Islam yang lebih tinggi. Ia menyadari bahwa apa yang akan ia hadapi bukan lagi sekadar tanya-jawab hafalan, melainkan pertukaran gagasan yang menuntut kejernihan logika dan keluasan wawasan.

"Assalamualaikum," ucap Ghazi lirih namun cukup jelas untuk memecah keheningan ruang baca tersebut, sambil mengetuk pelan daun pintu kayu.

Perempuan di dalam meja baca itu mendongak seketika. Sorot matanya yang tajam namun teduh langsung menatap ke arah Ghazi. Wajahnya memancarkan ketenangan khas seorang akademisi pesantren yang terbiasa hidup di tengah gelombang literatur.

"Waalaikumsalam warahmatullah," jawab Varisha dengan suara tenang dan berwibawa. "Silakan masuk, Ghazi Al-Ghifari, bukan? Aku sering mendengar laporan dari Ustadz Zaid bahwa kamu adalah salah satu santri yang menunjukkan progres paling cepat di kelas Alfiyah angkatan ini."

Ghazi sedikit terperanjat mendengarnya. Ia tidak menyangka putri sang kiai mengetahui namanya secara langsung. Dengan sopan, Ghazi melangkah masuk dan menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda takzim.

"Njiih, Neng. Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu telaah Neng Varisha," jawab Ghazi dengan nada santun. "Saya ke sini tadinya ingin meminjam naskah perbandingan mazhab yang ada di meja ini, tapi penjaga bilang Neng sedang memeriksanya."

Varisha tersenyum tipis, menutup perlahan tutup pulpen di tangannya. Ia menggeser sedikit posisi duduknya agar naskah di hadapannya terlihat lebih jelas. "Tidak mengganggu sama sekali, Ghazi. Naskah ini justru membutuhkan sudut pandang baru dari para santri muda yang sedang bersemangat mendalami ushul fiqh. Silakan duduk."

Ghazi menarik kursi kayu di hadapan Varisha, duduk dengan posisi tegap namun tetap santai. Transisi dari rasa canggung menuju suasana diskusi ilmiah mulai terbentuk secara alami ketika Varisha membuka lembaran naskah yang penuh dengan coretan tinta merah dan hitam di pinggir halamannya.

"Kamu kebetulan datang di saat yang tepat, Ghazi," kata Varisha membuka percakapan sambil menunjuk catatan kecil di pinggir halaman manuskrip. "Aku sedang menelaah ulang bagaimana ulama mazhab Syafi'i dan Hanafi memandang posisi urf (tradisi lokal) dalam pembentukan hukum Islam di Nusantara. Menurutmu, sejauh mana tradisi lokal bisa dijadikan dasar hukum yang sah tanpa mencederai kemurnian nash?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tajam dan langsung menghujam inti persoalan ushul fiqh klasik yang sering menjadi perdebatan hangat di kalangan intelektual muslim kontemporer. Ghazi menarik napas perlahan, merapikan kembali pikirannya untuk memberikan jawaban yang tidak sekadar klise.

Pertanyaan Varisha bukan sekadar basa-basi akademis; itu adalah ujian intelektual yang langsung menguji kedalaman pemahaman Ghazi terhadap metodologi istinbat hukum Islam. Di hadapan seorang perempuan yang telah lama melahap literatur pemikiran Islam global dan klasik, setiap kata yang diucapkan Ghazi harus memiliki landasan argumentasi yang kokoh.

Lihat selengkapnya