Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #43

Pelajaran Akhlak dan Tasawuf

Pelajaran Akhlak dan Tasawuf: Mengenal Kitab Syarh Al-Hikam.

Sore hari di kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, menyapa dengan keheningan yang syahdu, diiringi suara angin yang mendesir pelan melalui rimbunnya dedaunan pohon mangga di halaman ndalem kiai. Pukul 15.30 WIB, ketika bayangan bangunan asrama mulai memanjang di atas halaman paving block, puluhan santri tampak berjalan tergesa-gesa namun tetap tertib menuju aula utama pesantren. Di tangan masing-masing santri terselip kitab-kitab kuning tebal berukuran folio dengan sampul kertas kusam yang menandakan frekuensi penggunaan yang sangat tinggi setiap harinya.

Bagi Ghazi, pemuda asal Palembang yang sudah beberapa bulan menetap di lingkungan pesantren tersebut, waktu sore hari adalah momen paling sakral sekaligus menenangkan jiwa. Hari itu, ia mendapatkan jadwal khusus mengikuti pengajian tasawuf mingguan yang diasuh langsung oleh Kiai Mahmud, pengasuh tertinggi pondok pesantren yang dikenal sangat alim, zuhud, dan berwibawa.

Ghazi merapikan jubah putih dan peci hitamnya di depan cermin kecil kamar 007, sementara tangannya menggenggam erat sebuah kitab klasik berukuran sedang bersampul tebal—Kitab Syarh Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha'illah al-Iskandari, yang halaman-halamannya sudah dipenuhi coretan makna pesanan berbahasa Jawa pegon.

"Wah, rajin sekali anak Palembang satu ini mau berangkat ngaji tasawuf paling awal," ledek Umar sambil merebahkan diri di atas kasur tingkat bawah, tertawa kecil melihat ekspresi khusyuk di wajah sahabatnya.

Ghazi mendengus pelan, meski sudut bibirnya menyunggingkan senyuman tipis untuk meredakan ketegangan di dadanya. "Bukan masalah paling awal, Mar. Tapi ini soal menyiapkan hati sebelum mendengarkan mutiara hikmah dari Kiai Mahmud. Kalau hati kita tidak siap, ilmu tasawuf yang beliau sampaikan cuma akan lewat di telinga kiri dan keluar di telinga kanan."

Umar mengangguk sambil tersenyum simpul. "Betul juga katamu, Gha. Makanya aku nitip doa ya, semoga hatiku yang keras ini bisa sedikit melunak setelah mendengarkan penjelasan tentang tawakal sore ini."

Ghazi tertawa kecil, menepuk bahu sahabatnya itu pelan. "Ayo kalau begitu, segera ambil kitabmu dan berangkat ke aula sebelum kehabisan tempat duduk di saf depan."

❖ ❖ ❖

Ghazi melangkah pelan menapaki undakan aula utama pesantren yang beralaskan karpet hijau tebal. Tujuannya sore itu sangat jelas: ia ingin menyelami makna mendalam dari ilmu akhlak dan tasawuf, membersihkan hati dari sifat-sifat tercela seperti riya dan ujub, serta memahami hakikat tawakal yang sesungguhnya di bawah bimbingan langsung Kiai Mahmud.

Begitu ia tiba di dalam aula yang sudah dipenuhi oleh ratusan santri dari berbagai tingkat kelas, ia melihat sosok Kiai Mahmud—pria sepuh berusia sekitar tujuh puluhan dengan sorot mata yang tajam namun memancarkan keteduhan luar biasa—sudah bersila di atas kursi kayu jati pendek di bagian depan, membuka lembaran kitab Syarh Al-Hikam.

Ghazi mengambil tempat duduk bersila di barisan ketiga, merapikan posisi duduknya, lalu membuka Kitab Syarh Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha'illah al-Sakandari (dengan salah satu syarah atau penjelasan yang paling populer, seperti Iqazhul Himam karya Syekh Ibnu Ajibah atau Al-Fathu al-Mubin karya Syekh Ahmad Zaini Dahlan) memuat mutiara hikmah yang sangat dalam pada awal pembahasannya.

Hikmah pertama dalam kitab Al-Hikam menjadi fondasi spiritual yang meletakkan dasar tauhid perbuatan (tauhidul af'al), meluruskan pandangan seorang hamba agar tidak menyandarkan segala urusan kepada amal ibadahnya sendiri, melainkan kepada karunia dan anugerah Allah SWT.

Berikut adalah deskripsi isi pembahasan pada halaman awal yang memuat Hikmah Pertama:

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, anak-anakku sekalian," ucap Kiai Mahmud dengan suara bariton yang berat namun sangat menyejukkan hati.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Kiai," jawab ratusan santri serempak dengan nada penuh takzim.

Ghazi mendengarkan setiap kalimat pembuka yang meluncur dari bibir sang kiai dengan penuh khidmat, mencatat setiap poin penting di pinggir halaman kitabnya. Di hadapan ulama tasawuf tersebut, tujuan Ghazi bukan sekadar menghafal teks atau mencari dalil hukum fiqih, melainkan memperbaiki batin, menata niat hidup, dan belajar bagaimana menempatkan diri sebagai hamba yang sepenuhnya bergantung kepada Sang Pencipta tanpa menyandarkan diri pada kekuatan amal ibadah semata.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam aula utama mendadak terasa begitu hening dan khusyuk, seolah waktu berhenti berputar dan hanya menyisakan suara lembut Kiai Mahmud yang mengupas bait demi bait hikmah tasawuf. Transisi dari riuhnya suasana asrama santri yang penuh canda tawa menuju kesyahduan majelis ilmu tasawuf menciptakan pergeseran mental yang drastis di dalam diri Ghazi.

"Perhatikan baik-baik makna hikmah ini, anak-anakku," lanjut Kiai Mahmud sambil melepaskan kacamata minusnya sejenak. "Banyak orang yang beribadah siang dan malam, lalu merasa amalannya sudah cukup banyak untuk menjamin keselamatannya. Ketika ia terpeleset dalam dosa kecil, ia putus asa. Itu tanda bahwa ia menyembah amalnya sendiri, bukan menyembah Tuhan yang menciptakan amal."

Ghazi meresapi setiap kata yang diucapkan sang kiai, membiarkan makna filosofis tersebut merasuk ke dalam relung hatinya. Transisi dari pemahaman syariat yang bersifat tekstual menuju pemahaman hakikat yang bersifat batiniah menuntut kepekaan spiritual yang tinggi. Setiap kalimat mutiara di dalam kitab Syarh Al-Hikam seolah menjadi cermin raksasa yang memantulkan segala kelemahan dan kearoganan tersembunyi di dalam jiwanya selama ini.

Lihat selengkapnya