
Menghafal Hadis Pilihan dalam Riyadlus Sholihin.
Pukul empat lewat empat puluh menit subuh, suasana di dalam serambi masjid utama Pondok Pesantren Al-Ikhsan masih diselimuti kabut tipis dan udara dingin akhir pekan yang menusuk tulang. Lampu neon putih terang yang terpasang di langit-langit kubah masjid memancarkan cahaya benderang, menerangi puluhan santri tingkat aliyah yang duduk bersila rapi membentuk halaqah-halaqah kecil. Suara desau kipas angin gantung berputar pelan, berpadu dengan alunan suara merdu tilawah Al-Qur'an dari beberapa santri yang memanfaatkan waktu menjelang shalat subuh untuk murajaah hafalan.
Di sudut barat serambi dekat pilar pualam utama, Ghazi Al-Ghifari duduk tegak di atas sajadah tipis berwarna hijau tua. Di pangkuannya, sebuah kitab tebal bersampul hijau tua dengan judul keemasan Riyadlus Sholihin karya Imam an-Nawawi terbuka lebar pada halaman bab keutamaan sabar dan ikhlas. Di usianya yang kini menginjak delapan belas tahun, Ghazi telah terbiasa memulai hari-harinya sebelum fajar menyingsing dengan menghafal mutiara sabda Nabi Muhammad SAW.
"Sudah sampai hadis nombor berapa hafalanmu pagi ini, Gha?" bisik Faiz, sahabat karibnya yang duduk bersila tepat di sebelah kanannya, merapikan letak peci hitamnya.
Rasyid mendongak perlahan, menatap Faiz dengan senyuman tipis. "Baru sampai hadis kelima tentang niat dan keutamaan hijrah, Fa. Masih perlu diulang-ulang lagi agar lekat di kepala sebelum disetorkan ke Ustadz Hamdan ba'da subuh nanti."
Di atas meja lipat kecil kayu miliknya, selain kitab Riyadlus Sholihin, terhampar pula buku catatan harian tempat ia menuliskan terjemahan dan syarah ringkas dari setiap hadis yang dihafalkannya. Baginya, menghafal hadis bukan sekadar memenuhi tuntutan kurikulum pesantren, melainkan meresap petunjuk moral yang akan membimbing langkah hidupnya di tengah dunia luar yang penuh intrik.
"Ustadz Hamdan terkenal sangat ketat dalam pengujian hadis pilihan ini," lanjut Faiz mengingatkan sambil menepuk pelan sampul kitabnya. "Beliau tidak hanya meminta kita hafal matannya secara lafal, tapi juga sanad dan kandungan mutiara hikmah di dalamnya."
Ghazi mengangguk mantap. Ia merapatkan balutan kain sarung tenunnya untuk menahan udara dingin subuh, lalu kembali menundukkan kepala, memfokuskan pandangannya pada baris-baris teks bahasa Arab berharakat rapi di halaman kitab suci tersebut.
❖ ❖ ❖
"Kenapa kita harus menghafal teks hadis yang panjang-panjang ini, padahal makna umumnya sudah bisa kita baca lewat terjemahan bahasa Indonesia di kitab terbitan modern?" tanya salah seorang santri junior yang duduk di barisan belakang halaqah mereka, melontarkan rasa penasaran.
Ghazi menoleh sejenak ke arah santri tersebut, lalu tersenyum bijak sebelum menjawab pelan. "Karena menghafal lafal asli sabda Nabi adalah cara kita menjaga kemurnian wahyu dan menghadirkan kalimat-kalimat mulia itu hidup di dalam dada kita. Terjemahan hanya jembatan, tapi kekuatan utamanya ada pada hafalan matan yang otentik."
Bagi Ghazi, tujuan utamanya menghafal bab-bab pilihan dalam kitab Riyadlus Sholihin pagi ini sangatlah mendalam. Di tengah situasi keluarganya di Bandar Lampung yang masih dibayangi oleh ketegangan konflik bisnis serta hubungan yang rumit dengan pihak yayasan pesantren, Rasyid membutuhkan pegangan batin yang kokoh. Ia ingin menjadikan petunjuk moral dalam hadis-hadis Nabi sebagai kompas penuntun agar dirinya tidak terseret dalam arus ambisi duniawi atau keputusasaan.
"Aku harus menuntaskan hafalan sepuluh hadis pilihan bab sabar dan tawakal sebelum jam enam pagi ini," bisik Ghazi pada dirinya sendiri, menatap deretan teks hadis dengan sorot mata penuh determinasi. "Tidak ada alasan untuk malas. Kalau aku ingin menjadi pribadi yang tangguh menghadapi masalah keluarga dan masa depan pondok, aku harus menguasai ilmu ini dari akarnya."
Tujuan suci itu menuntut konsentrasi tingkat tinggi di tengah rasa kantuk yang masih menggelayut di kelopak matanya. Ghazi sadar bahwa sabda Rasulullah SAW memiliki kedalaman makna sastra dan hukum yang sangat tinggi, sehingga setiap kata di dalamnya harus dihafal secara presisi tanpa ada satu huruf pun yang terlewat atau keliru.
"Mari kita mulai menghafal bersama-sama, Fa, biar tidak ngantuk," ajak Ghazi kepada Faiz, membuka lembaran halaman baru kitabnya.
❖ ❖ ❖
Suara azan subuh yang berkumandang merdu dan bersahutan dari menara masjid utama tiba-tiba memecah keheningan fajar, menggema ke seluruh penjuru kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang. Seluruh aktivitas hafalan mandiri di serambi masjid seketika dihentikan; para santri merapikan kitab-kitab mereka, lalu bangkit berdiri untuk merapatkan shaf shalat berjamaah.
Ghazi dan Faiz turut menutup kitab Riyadlus Sholihin dengan penuh takzim, meletakkannya di rak khusus kitab di bagian depan pilar masjid, lalu bergegas mengambil air wudhu di kolam utama. Air wudhu yang dingin di pagi buta menyiram wajah Rasyid, seketika menyapu bersih sisa rasa kantuk di kepalanya dan menyegarkan aliran darah di tubuhnya.
Transisi dari suasana belajar mandiri menuju ibadah shalat subuh berjamaah berlangsung khusyuk dan tertib. Imam masjid mulai melantunkan bacaan surat pendek Al-Qur'an dengan suara merdu bernada tartil, menggetarkan hati setiap makmum yang berdiri di belakangnya dalam barisan shaf yang rapat dan teratur.
"Bismillah, semoga setoran hafalan hadis kita seusai shalat nanti dilancarkan oleh Allah," bisik Faiz pelan kepada Rasyid ketika mereka bersiap melakukan sujud terakhir pada rakaat kedua.
"Aamiin ya Rabbal 'alamin," jawab Ghazi dalam hati, meresapi setiap detik kekhusyukan ibadah subuh tersebut sebagai sumber energi batin yang tak ternilai harganya.
Selesai salam dan dzikir ba'da subuh yang dipimpin bersama-sama, para santri tidak langsung bubar. Mereka kembali mengambil kitab masing-masing di rak, membentuk kembali lingkaran halaqah di serambi masjid untuk menunggu kedatangan Ustadz Hamdan yang bertindak sebagai penguji hafalan pagi itu.