Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Fardhan dan Yafiq Memimpin Aksi

Fardhan dan Yafiq Memimpin Aksi Penggalangan Dana Mandiri untuk Santri Kurang Mampu---

Pukul 15.30 WIB. Terik matahari perlahan mereda di balik rimbunnya dedaunan pohon mangga arumanis di halaman utama Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur. Udara sore berhembus membawa kesejukan dari arah Sungai Brantas, menyapa kulit para santri yang baru saja menyelesaikan rangkaian kegiatan piket sore. Di sudut selasar gedung madrasah diniyah, dua orang santri senior tampak duduk berdampingan di atas bangku panjang kayu jati yang sudah mengkilap karena usia. Mereka adalah Fardhan dan Yafiq, dua sosok pemuda yang dikenal luas di kalangan santri sebagai motor penggerak berbagai kegiatan sosial dan kemandirian pesantren.

Fardhan mengenakan kemeja koko putih bergaris samar dengan sarung batik Pekalongan bernuansa cokelat tua. Di hadapannya terbentang sebuah meja lipat kecil yang dipenuhi lembaran kuitansi, buku catatan keuangan dari kertas buram, serta beberapa brosur program bantuan sosial yang mereka rancang sendiri. Sementara itu, Yafiq, sahabat setianya yang berpostur tegap dan memiliki pembawaan tenang, sedang merapikan setumpuk amplop donasi berlogo resmi pondok. Suasana sore itu diwarnai oleh derap langkah santri-santri junior yang berbondong-bondong menuju musala untuk bersiap menyambut salat Asar berjemaah.

Pondok Pesantren Al-Ikhlas Jombang, bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan sebuah komunitas yang hidup dan bernapas dalam denyut solidaritas sosial yang tinggi. Di tengah dinamika kehidupan pesantren yang menjunjung tinggi kesederhanaan, realitas ekonomi para santri ternyata sangat beragam. Sebagian besar santri berasal dari keluarga petani tambak, nelayan pesisir muara Sungai Musi, hingga buruh tani dari berbagai pelosok Sumatra Selatan. Tidak sedikit di antara mereka yang sering kali mengalami keterlambatan kiriman uang saku dari kampung halaman, bahkan ada beberapa santri yatim piatu dhuafa yang kesulitan sekadar untuk membeli kitab kuning babon atau membayar biaya ujian semester.

Kondisi inilah yang mengusik nurani Fardhan dan Yafiq sejak beberapa bulan terakhir. Sebagai santri yang dipercaya memimpin unit pelayanan kesejahteraan santri di bawah koordinasi pengurus asrama, mereka berdua merasa memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk tidak tinggal diam melihat kesulitan teman-teman sepesantrennya.

"Yafiq, daftar nama santri yang belum melunasi administrasi ujian akhir semester dan kekurangan biaya pembelian kitab babon bulan ini sudah bertambah lagi," kata Fardhan dengan nada prihatin, sambil menyerahkan lembar rekapitulasi kepada sahabatnya.

Yafiq menerima lembar kertas tersebut, matanya menelusuri satu per satu nama santri dari berbagai daerah pelosok. "Jumlahnya hampir mencapai tiga puluh orang, Fardhan. Kalau kita tidak segera bergerak melakukan penggalangan dana mandiri, dikhawatirkan mereka terpaksa harus menunda ujian atau bahkan berhenti mengaji karena masalah biaya."

Fardhan mengangguk pelan, menatap lurus ke arah gerbang utama pesantren yang terbuka lebar, memperlihatkan lalu-lalang warga sekitar. "Kita tidak boleh tinggal diam dan hanya menunggu uluran tangan dari dermawan luar. Kita harus mulai menggerakkan aksi nyata dari tangan kita sendiri, melibatkan seluruh potensi santri dan alumni."

❖ ❖ ❖

Yafiq meletakkan lembar rekapitulasi data santri kurang mampu itu di atas meja lipat, lalu menatap Fardhan dengan sorot mata yang menyiratkan ketegasan dan visi yang jelas. "Jadi, apa target utama kita untuk gerakan penggalangan dana mandiri kali ini, Fardhan? Apakah kita cukup mengandalkan kotak amal keliling di lingkungan pondok seperti tahun-tahun sebelumnya?"

Fardhan menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak, Yafiq. Kalau kita hanya mengandalkan kotak amal keliling di dalam lingkungan pesantren saja, perolehannya pasti sangat terbatas dan tidak akan mencukupi kebutuhan mendesak puluhan santri yang terancam putus sekolah atau gagal ikut ujian. Tujuan kita sore ini harus jauh lebih besar dan terukur."

Fardhan merentangkan peta wilayah Jombang dan kawasan Surabaya di atas meja. Dengan menggunakan pensil kayu, ia melingkari beberapa titik strategis yang menjadi pusat keramaian ekonomi masyarakat. "Tujuan utama kita adalah menggalang dana mandiri secara kreatif dan transparan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat luas, para alumni pesantren yang sudah mapan, serta para pedagang pasar tradisional di sekitar Sungai Musi."

Yafiq menyimak pemaparan Fardhan dengan saksama, mengangguk tanda sepakat. "Sebuah gagasan yang sangat berani. Tapi bagaimana teknis pelaksanaannya agar tidak mengganggu jadwal mengaji dan kegiatan wajib di pesantren?"

"Kita akan membagi gerakan ini menjadi tiga pilar utama," jelas Fardhan dengan penuh antusias. "Pertama, pembentukan 'Gerakan Kencleng Jumat Berkah' di mana para santri sukarelawan akan menitipkan kotak amal transparan ke toko-toko milik alumni. Kedua, pameran dan bazar buku karya tulis santri serta hasil kerajinan tangan tapak suci yang hasilnya seratus persen didonasikan untuk subsidi silang biaya pendidikan santri dhuafa. Dan ketiga, kampanye digital melalui grup WhatsApp alumni pesantren."

Tujuan mulia yang diusung oleh Fardhan dan Yafiq bukan sekadar mencari dana finansial semata, melainkan menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial, jiwa kewirausahaan sosial (social entrepreneurship), dan semangat gotong royong di dalam jiwa setiap santri Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Mereka ingin membuktikan bahwa santri pesantren tradisional bukanlah kelompok eksklusif yang hanya tahu berdiam diri di bilik kamar, melainkan agen perubahan sosial yang tangguh dan solutif bagi masyarakat sekitarnya.

"Aku sangat setuju dengan konsep bazar karya tulis dan kerajinan tangan santri," sahut Yafiq dengan mata yang berbinar penuh semangat. "Dengan cara itu, kita tidak sedang mengemis atau meminta-minta sumbangan secara pasif, melainkan menawarkan karya produktif yang bernilai edukatif tinggi kepada masyarakat."

Fardhan tersenyum lebar mendengar dukungan penuh dari sahabat karibnya itu. Tujuan besar mereka telah dirumuskan secara matang; kini tantangan terbesarnya adalah bagaimana merumuskan langkah transisi dan persiapan teknis di lapangan agar rencana besar tersebut bisa segera dieksekusi tanpa menemui hambatan birokrasi internal pondok.

❖ ❖ ❖

Seiring dengan berkumandangnya azan salat Asar dari menara musala utama, percakapan strategis antara Fardhan dan Yafiq harus dihentikan sejenak. Suasana di sekitar selasar madrasah berangsur-angsur senyap seiring dengan bergeraknya puluhan santri menuju tempat wudu. Fardhan dan Yafiq merapikan seluruh dokumen pencatatan dana, brosur, dan peta wilayah ke dalam tas kerja kain kanvas kesayangan mereka, lalu bangkit berdiri secara bersamaan.

Transisi dari ruang perencanaan konseptual menuju persiapan spiritual ibadah salat berjemaah berlangsung dengan penuh kedisiplinan. Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor pesantren yang dinaungi pohon-pohon kamboja tua. Di sepanjang jalan, beberapa santri junior memberikan salam takzim, yang dibalas oleh Fardhan dan Yafiq dengan senyuman hangat dan anggukan kepala yang santun.

Bagi Fardhan dan Yafiq, setiap perpindahan aktivitas di lingkungan pesantren selalu dimaknai sebagai bagian dari ritme pembentukan karakter. Keseriusan mereka dalam merumuskan aksi sosial kemanusiaan tidak boleh sedikit pun mengurangi kekhusyukan ibadah dan kedisiplinan belajar ilmu agama. Sesampainya di tempat wudu, air jernih yang membasuh wajah dan tangan mereka seolah menyegarkan kembali fisik dan mental setelah berjam-jam berpikir keras merancang program penggalangan dana.

Mereka mengambil tempat di saf bagian depan, berdiri tegap dan khusyuk di belakang imam musala. Gerakan rukuk, sujud, dan salam yang mereka tunaikan bersama ratusan santri lainnya menyatukan niat dan menyucikan hati dari segala ambisi pribadi. Selepas salat Asar berjemaah selesai, dilanjutkan dengan wirid singkat dan pembacaan surah pendek secara berjemaah, Fardhan dan Yafiq tidak langsung kembali ke kamar istirahat.

Mereka melangkah menuju ruang kantor pengasuhan santri untuk menemui Ustaz Hamdan, selaku pembina bagian kesejahteraan santri dan kemandirian pondok. Transisi kegiatan sore itu berlanjut ke tahap konsultasi resmi guna mendapatkan restu dan arahan langsung dari pihak pimpinan pesantren.

"Masuk, silakan duduk, Fardhan dan Yafiq," sambut Ustaz Hamdan ramah ketika melihat kedua santri senior itu berdiri di ambang pintu kantor dengan membawa berkas proposal kegiatan.

Fardhan duduk dengan sopan di kursi kayu berpelapis busa tipis, lalu membentangkan proposal program penggalangan dana mandiri di atas meja kerja Ustaz Hamdan. "Mohon izin, Ustaz. Sore ini kami berdua telah merumuskan draf program aksi penggalangan dana mandiri untuk membantu teman-teman santri kita yang kurang mampu dan terkendala biaya ujian semester."

Ustaz Hamdan membuka lembar demi lembar proposal tersebut dengan teliti, membaca setiap poin program mulai dari kotak amal keliling, bazar karya santri, hingga kampanye digital alumni. Senyuman bangga tampak mengembang di wajah guru senior tersebut. Transisi dari ide-ide liar anak muda menjadi sebuah program terstruktur yang mendapat legitimasi resmi pesantren berhasil dilalui dengan mulus berkat kepercayaan penuh yang diberikan oleh Ustaz Hamdan.

❖ ❖ ❖

Meskipun proposal program penggalangan dana mandiri telah mendapatkan restu tertulis dari Ustaz Hamdan, pelaksanaan di lapangan ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Rintangan demi rintangan mulai bermunculan ketika Fardhan dan Yafiq turun langsung ke lapangan keesokan harinya untuk menemui para pengurus unit usaha di kawasan pasar tradisional Seberang Ulu dan berkoordinasi dengan kelompok-kelompok santri relawan.

Rintangan pertama datang dari keterbatasan logistik dan izin tempat penyelenggaraan bazar karya tulis santri di area publik luar pesantren. Ketika Fardhan mendatangi kantor kelurahan setempat untuk mengurus perizinan penggunaan lapangan terbuka di dekat dermaga sungai, ia disambut dengan birokrasi yang cukup rumit dan kecurigaan dari sebagian oknum petugas pasar yang mengira kegiatan bazar tersebut adalah bentuk penggalangan dana ilegal.

Lihat selengkapnya