
Sapaan Hangat yang Dijaga: Batasan Interaksi Ghazi dan Varisha yang Penuh Kehormatan.
Pukul 16.15 WIB, ketika semilir angin sore berhembus lembut melewati sela-sela pagar tanaman hias di halaman samping kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, suasana tampak begitu tenang dan sejuk. Di bawah naungan rindangnya pohon sawo manila, deretan bangku kayu panjang yang biasa digunakan para santri untuk berdiskusi tampak lengang. Hanya terdengar suara sayup-sayup santri putri yang sedang menghafalkan Al-Qur'an dari kejauhan gedung asrama putri di seberang lapangan.
Bagi Ghazi, pemuda asal Palembang yang kini telah menjadi salah satu teladan di pesantren tersebut, waktu sore hari menjelang asar adalah momen transisi yang menenangkan setelah seharian penuh berjibaku dengan kitab-kitab kuning tebal dan setoran hafalan yang melelahkan. Hari itu, Ghazi sedang duduk sendiri di bangku kayu sambil merapikan tumpukan catatan kajian ushul fiqih di pangkuannya.
Tak lama kemudian, langkah kaki ringan berbalut sandal santri putri terdengar mendekat dari arah koridor perpustakaan. Varisha, mahasiswi sekaligus santri senior putri yang juga aktif membantu pengelolaan administrasi perpustakaan pesantren, berjalan pelan membawa beberapa bundel majalah dinding bulanan pondok yang harus diserahkan kepada pengurus bagian publikasi.
"Sore, Ghazi. Sibuk sekali kelihatannya dengan catatan ushul fiqih itu," sapa Varisha dengan nada ramah namun tetap menjaga jarak aman, berdiri sekitar dua meter dari bangku tempat Ghazi duduk.
Ghazi segera mendongakkan kepala, berdiri seketika dengan sikap tegap namun santun, lalu menundukkan pandangannya sejenak sebagai bentuk penghormatan. "Sore juga, Varisha. Ah, tidak terlalu sibuk, hanya merapikan beberapa catatan materi kajian kemarin sore."
Umar yang kebetulan baru keluar dari kamar asrama putra dan melihat kejadian itu dari jarak jauh hanya bisa tersenyum simpul, menggelengkan kepala melihat bagaimana kedua sahabat santri tersebut selalu menjaga batasan interaksi dengan penuh kehormatan dan adab yang tinggi.
❖ ❖ ❖
Ghazi kembali duduk dengan tenang setelah Varisha meletakkan bundel majalah dinding di atas meja kayu di sebelah bangku tempatnya bersandar. Tujuan utama pertemuan singkat dan tidak sengaja di sore itu bagi Ghazi bukanlah sekadar berbasa-basi, melainkan menyerahkan draf artikel ilmiah santri tentang integrasi sains dan agama yang telah ia selesaikan, agar bisa ditelaah dan diterbitkan dalam buletin bulanan perpustakaan yang dikelola oleh Varisha.
"Ini draf artikel yang kemarin sempat dibahas bersama Ustadz Zaid, Varisha. Kalau menurutmu layak, silakan dimasukkan untuk rubrik pemikiran santri edisi bulan depan," kata Ghazi sambil menyerahkan amplop cokelat tertutup rapat tanpa sedikit pun bersentuhan tangan, meletakkannya dengan hati-hati di atas tepi meja kayu.
Varisha mengangguk pelan, menerima amplop tersebut dengan penuh rasa hormat. Tujuannya datang ke area paviliun putra sore itu memang untuk mengambil naskah-naskah rubrik santri agar proses layout buletin tidak keteteran menjelang deadline akhir bulan.
"Terima kasih banyak, Ghazi. Insya Allah naskah-naskah dari kelompokmu selalu bernas dan memberikan sudut pandang yang segar bagi para pembaca di perpustakaan," tanggap Varisha dengan pandangan tetap dijaga menunduk ke arah amplop di tangannya.
Bagi Ghazi dan Varisha, menjaga batasan interaksi antara santri putra dan putri bukanlah hal yang kaku, melainkan bentuk manifestasi nyata dari nilai-nilai akhlak mulia dan tasawuf yang diajarkan di Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur. Mereka menyadari betul bahwa kedekatan intelektual dalam dunia pendidikan pesantren harus selalu dibentengi oleh adab kesopanan, rasa malu, serta kehormatan diri agar senantiasa mendatangkan berkah dan keridaan Allah subhanahu wa ta'ala.
❖ ❖ ❖
Suasana di bawah pohon sawo manila mendadak terasa senyap ketika pembicaraan administratif mengenai naskah buletin selesai dibahas. Transisi dari perbincangan formal menuju keheningan sore menciptakan jeda waktu yang menuntut kedewasaan sikap dari kedua belah pihak untuk tidak memperpanjang obrolan yang tidak memiliki keperluan mendesak.
"Baiklah kalau begitu, Ghazi. Saya permisi dulu kembali ke kantor perpustakaan karena masih ada tugas rekapitulasi daftar peminjaman kitab yang belum selesai," pamit Varisha dengan sopan sambil sedikit merapatkan posisi jilbab syar'i-nya.
"Silakan, Varisha. Hati-hati di jalan, semoga urusan administrasinya dimudahkan," jawab Ghazi dengan suara tenang, tetap berdiri tegap di tempatnya tanpa melangkah mendekat.
Transisi gestur tubuh dan arah pandangan mata mereka menunjukkan betapa ketatnya batasan kehormatan yang mereka junjung tinggi. Ghazi tidak pernah menatap langsung ke arah wajah Varisha lebih dari sekadar pandangan sekilas yang diperlukan untuk kesopanan berbicara, begitu pula Varisha yang selalu menjaga intonasi suara agar tetap datar, tegas, namun tidak menimbulkan kesan berlebihan.
Dari kejauhan, Umar yang mendekat membawa dua gelas teh hangat menghampiri Ghazi setelah kepergian Varisha. "Wah, cepet banget pertemuannya, Gha. Padahal baru mau aku tawarin teh hangat buat nambah suasana ngobrol."
Ghazi tersenyum kecil sambil menerima segelas teh hangat dari sahabatnya. "Justru karena obrolannya sudah selesai sesuai porsi dan keperluannya, Mar. Buat apa diperpanjang kalau tidak ada hajat yang mendesak? Etika santri itu harus dijaga betul."
Umar mengangguk setuju sambil tertawa kecil. "Benar juga katamu. Menjaga pandangan dan batasan itu memang berat, tapi hasilnya menenangkan hati."