
Memasuki Dunia Tafsir: Mempelajari Tafsir Jalalain---
Pukul delapan lewat sepuluh menit malam. Suasana di ruang perpustakaan utama Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, terasa begitu hening, sakral, dan dipenuhi oleh aroma khas kertas tua bercampur minyak kayu putih yang biasa dioleskan para santri untuk menjaga konsentrasi belajar. Di luar gedung, rintik hujan gerimis turun secara perlahan, membasahi halaman pondok dan menghasilkan suara gemerisik lembut yang berpadu dengan desau angin malam pegunungan. Cahaya lampu neon putih terang dari langit-langit ruangan memantul di atas lantai keramik bersih, menerangi puluhan santri senior yang duduk bersila rapi di sekeliling meja-meja kayu panjang.
Di hadapan mereka, tersaji sebuah kitab tafsir yang sangat legendaris dan menjadi rujukan utama di hampir seluruh pesantren nusantara: Tafsir al-Jalalain, karya agung dua imam besar, Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi. Kitab tebal dengan sampul hijau tua berserat kain itu terbuka lebar di hadapan Ghazi, yang malam itu duduk bersila berdampingan erat dengan sahabat karibnya, Fathan. Mengenakan sarung tenun hitam bermotif samar, kemeja koko putih bersih, serta kopiah hitam beludru yang sedikit miring ke kiri, Ghazi tampak memegang bolpoin mekanik di tangan kanan dan selembar buku catatan tulis tangan bergaris di sebelah kirinya.
"Sudah dibuka pada juz amma, tepatnya surat An-Naba ayat pertama, Fathan?" bisik Ghazi pelan sambil merapikan letak kacamata berbingkai tanduk rusa di pangkal hidungnya.
"Sudah, Ghazi. Malam ini Ustadz Luqman dijadwalkan mengupas tuntas metode penafsiran ringkas ala Jalalain yang terkenal padat makna tapi membutuhkan ketelitian tinggi dalam memahami konteks asbabun nuzulnya," jawab Fathan berbisik lirih, jemarinya menunjuk teks berbahasa Arab gundul di halaman kitab yang mulai menguning.
Di bagian depan ruangan, sosok pengajar senior yang dikenal luas dengan ketegasan dan kedalaman ilmunya, Ustadz Luqman, melangkah tenang menuju meja mimbar kecil dengan membawa kitab pegangan yang sama tebalnya. Beliau tersenyum ramah menyambut pandangan takzim para santri yang langsung menegakkan punggung mereka sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada sang guru. Suasana akademik-spiritual di dalam perpustakaan itu mendadak menjadi begitu khidmat, seolah dunia luar dengan segala hiruk-pikuknya terhenti seketika di balik pintu kayu jati besar.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Ghazi dan Fathan mengikuti sesi pendalaman Tafsir Jalalain malam itu sangatlah spesifik, terarah, dan mendalam: mereka ingin menguasai metode penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an secara komprehensif tanpa terjebak pada pemahaman tekstual yang dangkal, sekaligus mencari ketenangan batin di tengah badai masalah keluarga di Sumatra yang terus membayangi pikiran Ghazi. Bagi Ghazi pribadi, menyelami samudera makna ayat-ayat suci Al-Qur'an adalah satu-satunya terapi jiwa paling mujarab untuk meredam kepanikan akibat ancaman sengketa aset yayasan keluarga yang dibawa oleh sang paman beberapa waktu lalu.
"Fathan, tujuan saya malam ini bukan sekadar mengejar hafalan materi untuk ujian akhir semester madrasah pekan depan," ucap Ghazi dengan suara rendah namun sarat kesungguhan, menatap lurus ke arah halaman kitab di hadapannya. "Saya ingin memahami bagaimana para ulama pendahulu menafsirkan ayat-ayat tentang kesabaran dan ujian hidup dengan kepala dingin dan hati yang sepenuhnya pasrah kepada Allah."
Fathan menoleh, menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh pengertian dan empati yang mendalam. "Tujuan yang sangat mulia, Ghazi. Mempelajari Jalalain memang menuntut kita untuk berpikir analitis sekaligus merenungi makna hakiki di balik setiap kata yang dipilih oleh Imam al-Mahalli dan as-Suyuthi. Semoga lewat kajian ini, setiap gelisah di dadamu perlahan-lahan menemukan jawabannya."
"Betul sekali," timpal Ghalib yang duduk tepat di barisan depan mereka, memutar tubuhnya sedikit ke belakang. "Kitab Jalalain ini terkenal sangat padat. Satu kalimat penjelasannya bisa mewakili berhalaman-halaman kitab tafsir lainnya. Tujuan kita malam ini adalah menangkap intisari mutiara hikmah itu agar bisa kita aplikasikan dalam menghadapi kerasnya dinamika kehidupan sehari-hari di asrama maupun di luar pondok."
Tujuan kolektif para santri di kelompok belajar kecil itu mencerminkan esensi tertinggi dari tradisi intelektual pesantren: bahwa ilmu agama tidak dipelajari sekadar untuk menghias kepala dengan gelar keilmuan, melainkan untuk membentuk karakter jiwa yang tangguh, tawakal, dan berakhlak mulia dalam menghadapi segala ujian takdir.
❖ ❖ ❖
Suara merdu Ustadz Luqman membaca ayat suci Al-Qur'an dari surat An-Naba dengan tartil yang fasih dan penuh penghayatan memecah keheningan ruang perpustakaan. Seluruh santri menyimak dengan khidmat, menundukkan pandangan ke arah kitab masing-masing sambil mengikuti setiap lafaz yang keluar dari lisan sang guru. Transisi dari obrolan persiapan yang serius menuju keheningan total kajian ilmiah terjadi begitu cepat, mulus, dan alami.
"Perhatikan pada penjelasan singkat di baris tengah halaman tersebut, anak-anakku sekalian," suara bariton Ustadz Luqman menggema lembut di ruangan berukuran sedang itu. "Imam as-Suyuthi menafsirkan kata an-naba' al-'azhim bukan sekadar berita biasa, melainkan berita besar tentang kebangkitan hari kiamat yang diperselisihkan oleh kaum kafir Quraisy. Perhatikan bagaimana ringkasnya beliau merangkum perdebatan akidah yang kompleks hanya dalam tiga kata kunci."
Ghazi segera menggarisbawahi kalimat penjelasan tersebut menggunakan bolpoin mekaniknya, memusatkan seluruh indra penglihatan dan pendengarannya pada setiap untaian makna yang dijabarkan oleh Ustadz Luqman. Transisi pemikiran terjadi di benaknya secara dramatis; dari bayang-bayang kelam ancaman paman dan masalah hukum notaris keluarga di Sumatra, pikirannya ditarik seutuhnya ke dalam luasnya samudera kebesaran Ilahi yang terpancar dari ayat-ayat suci.
"Ustadz," tanya seorang santri senior dari sudut meja sebelah kiri dengan sopan santun yang tinggi. "Mengapa Imam al-Mahalli memulai penafsiran surat ini dengan langsung memberikan rujukan gramatika bahasa Arab yang begitu ketat sebelum masuk ke substansi maknanya?"
Ustadz Luqman tersenyum bijak, mengangguk menghargai pertanyaan analitis tersebut. "Pertanyaan yang sangat cerdas. Beliau melakukan itu karena dalam tradisi ulama Syafi'iyah, memahami struktur tata bahasa atau nahwu-sharaf adalah kunci mutlak agar seseorang tidak salah dalam menangkap maksud asli dari firman Allah SWT. Tanpa landasan bahasa yang kuat, penafsiran Al-Qur'an akan jatuh pada kecocokan hawa nafsu semata."
Transisi penjelasan gramatikal menuju hikmah spiritual itu memberikan pencerahan yang luar biasa segar bagi para santri. Mereka menyadari bahwa ketelitian akademis di pesantren tidak pernah terpisahkan dari pembentukan kedisiplinan akal dan kebersihan hati.