Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #55

Kedalaman Makna Al-Qur'an

Kedalaman Makna Al-Qur'an melalui Tafsir Ibnu Katsir.

Malam jumat di Kompleks Pesantren Al-Hidayah menyebarkan ketenangan yang khas, meresap bersama hembusan angin pegunungan yang membawa kesejukan hingga ke dalam bilik-bilik asrama santri. Di bawah temaram lampu bohlam sepuluh watt yang tergantung di balok kayu langit-langit kamar nomor dua belas, suasana begitu senyap. Hanya terdengar suara detik jam dinding plastik berwarna hijau yang berdetak konstan, berpadu dengan deru napas teratur dari para santri yang tengah tenggelam dalam keheningan malam.

Ghazi duduk bersila di atas dipan bambu miliknya, bersandar pada dinding papan yang dicat hijau lumut pudar. Di pangkuannya, terbentang sebuah mahakarya keilmuan Islam yang agung: kitab Tafsir Al-Qur'an al-'Azim karya Al-Hafiz Ibnu Katsir, atau yang lebih dikenal luas sebagai Tafsir Ibnu Katsir. Kitab tebal berjilid-jilid itu bersampul tebal warna biru tua dengan tulisan kaligrafi emas timbul di bagian depannya. Halaman-halamannya yang berwarna krem memantulkan cahaya lampu meja belajar portable, menciptakan bayangan siluet yang tenang di dinding kamar.

"Belum tidur, Ghazi? Matamu sudah merah begitu," tegur Umar pelan dari dipan sebelah, sambil menarik selimut wolnya sedikit ke atas dada. Ia terbangun sejenak karena haus sebelum kembali melanjutkan tidurnya.

Ghazi mendongak perlahan, merapikan letak peci hitamnya yang sedikit miring. "Belum, Mar. Sedikit lagi tanggung, saya sedang menelaah lembaran surat Al-Kahfi bagian kisah Nabi Musa dan Khidir. Penjelasan Ibnu Katsir di sini luar biasa teliti, merujuk langsung pada riwayat hadis sahih dari Bukhari dan Muslim."

Umar menguap lebar, mengucek matanya yang masih lengket karena mengantuk. "Wah, tafsir Ibnu Katsir itu terkenal dengan metode bi al-ma'tsur-nya ya, Ghazi? Menafsirkan ayat Al-Qur'an dengan ayat lain atau hadis Nabi. Nggak heran kalau tebalnya bikin kepala pening."

"Justru di situ letak keindahannya, Umar," balas Ghazi dengan mata berbinar antusias. "Dengan metode itu, kita jadi tidak terjebak pada penafsiran akal semata yang kadang subjektif. Kita diajak menyelami kedalaman makna wahyu sesuai dengan pemahaman para sahabat dan salafus saleh."

"Iya sih... tapi kalau bacanya tengah malam begini, yang ada malah mimpi didatangi Nabi Khidir di tengah lautan," kelakar Umar setengah sadar, lalu kembali merebahkan kepalanya di atas bantal kapuk dan terlelap dalam hitungan detik.

Ghazi tersenyum kecil mendengarkan dengkuran halus sahabatnya itu. Ia kembali menundukkan kepala, memfokuskan pandangannya pada baris-baris teks Arab berbaris rapat di halaman kitab tersebut. Malam itu, di keheningan Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, Ghazi memulai perjalanannya yang panjang untuk menyelami samudera makna kalam Ilahi melalui tetesan tinta emas Ibnu Katsir.

❖ ❖ ❖

Tujuan Ghazi malam ini bukanlah sekadar menuntaskan tugas bacaan harian yang diberikan oleh Kiai Ahmad menjelang ujian akhir semester madrasah diniyah. Lebih dari itu, ia memiliki target pribadi yang ingin ia capai: memahami korelasi mendalam antara ayat-ayat tentang kesabaran dalam surat Al-Baqarah dengan realitas kehidupan santri di pesantren yang penuh liku. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ilmu tafsir bukan sekadar hafalan teks mati, melainkan kompas penuntun jiwa yang menghidupkan hati.

"Bagaimana Ibnu Katsir menjelaskan makna sabar yang sebenarnya? Apakah sekadar menahan diri, atau ada dimensi spiritual yang lebih luas?" gumam Ghazi pelan, jemarinya membalik halaman demi halaman kitab tebal itu mencari bab yang membahas kata as-shabr.

Ia memegang pensil mekanik di tangan kanan, bersiap mencatat setiap poin penting yang ia temukan pada buku catatan kecil bergaris biru miliknya. Ghazi tahu betul bahwa mempelajari Tafsir Ibnu Katsir membutuhkan ketekunan ekstra. Kitab tersebut terkenal dengan keluasan pembahasannya, memuat riwayat-riwayat israiliyat yang dikritisi, asbabun nuzul yang akurat, serta penjelasan fikih hukum yang disarikan langsung dari ayat-ayat Al-Qur'an.

"Ghazi, serius banget kelihatannya. Belum tidur dari tadi?" suara renyah Kamil menyapa dari arah pintu kamar. Kamil, yang baru saja kembali dari kamar mandi usai mengambil air wudu untuk salat malam, melangkah mendekat dengan handuk kecil tersampir di lehernya.

Ghazi mendongak, menyambut kedatangan sahabatnya dengan senyuman hangat. "Eh, Kamil. Belum, Mil. Masih penasaran sama penjelasan Ibnu Katsir tentang tafsir ayat fa bistir-sabir sabran jamila di surat Al-Ma'arij. Kamu sendiri belum tidur?"

Kamil duduk bersila di lantai di samping dipan Ghazi, melirik sekilas sampul kitab tebal yang terbuka di pangkuan sahabatnya. "Tadi sempat kebangun karena mimpi buruk, jadi ambil air wudu sekalian mau ikutan tahajud sebentar. Wah, baca Tafsir Ibnu Katsir malam-malam begini? Nggak takut ketindihan jin, Ghazi?" ledek Kamil dengan nada jenaka khasnya.

"Kalau bacanya sambil niat mencari ilmu dan mendekatkan diri pada Allah, insya Allah yang datang malaikat, bukan jin," balas Ghazi tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, Mil, kamu pas baca bagian kisah-kisah para nabi di juz awal tafsir ini, pernah nggak merasa takjub sama cara Ibnu Katsir merangkai riwayat?"

Kamil mengangguk serius, gurauan di wajahnya perlahan memudar digantikan ekspresi khidmat. "Pernah, Ghazi. Waktu itu saya baca kisah Nabi Yusuf di surat Yusuf. Penjelasan Ibnu Katsir tentang bagaimana Nabi Yusuf menjaga kesucian dirinya di istana Mesir bikin saya merinding. Rasanya ayat-ayat itu jadi hidup banget di kepala kita."

"Nah, itu dia tujuan saya malam ini, Mil," kata Ghazi mantap. "Saya ingin mendalami bagaimana Ibnu Katsir menafsirkan ayat-ayat tentang keteguhan iman di tengah fitnah dunia. Biar nanti waktu kita lulus dan terjun ke tengah masyarakat, kita nggak gampang goyah sama godaan materi."

Kamil menatap Ghazi dengan penuh rasa kagum. Di balik kesederhanaan sahabatnya itu, tersimpan tekad dan semangat belajar yang luar biasa tinggi. "Hebat kamu, Ghazi. Kalau gitu, silakan dilanjutin bacanya. Saya mau ambil sajadah dulu buat tahajud di pojok kamar."

❖ ❖ ❖

Mentari pagi perlahan merayap naik di atas ufuk timur kompleks Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan embun pagi di pucuk-pucuk daun mangga halaman asrama. Suara lonceng kuningan pondok berdentang nyaring tiga kali, menandakan waktu bagi seluruh santri untuk bersiap menyambut aktivitas pagi: membersihkan lingkungan asrama, bersiap salat duha berjemaah, dan melanjutkan kegiatan ngaji bandongan bersama Kiai Ahmad di serambi utama musala.

Ghazi menutup kitab Tafsir Ibnu Katsir jilid kedua miliknya dengan sangat hati-hati. Ia merapikan catatan kecil yang penuh dengan tulisan tangan rapi di atas meja belajarnya. Meskipun matanya terasa agak berat karena hanya tidur selama dua jam semalam, ada rasa segar dan lapang yang luar biasa bersemayam di dalam dadanya. Pemahaman baru tentang ayat-ayat Al-Qur'an yang ia selami semalam seolah memberikan energi batin yang tak ternilai harganya.

"Waktunya siap-siap ke musala, Ghazi. Jangan sampai kehabisan saf depan kayak kemarin," seru Umar yang sudah mengenakan sarung kotak-kotak rapi dan peci hitam sambil menenteng kitab mahasantri di tangannya.

"Iya, Umar. Sebentar, saya beresin dulu kitab tafsir ini ke dalam rak supaya tidak berdebu," jawab Ghazi sigap sambil memasukkan kitab tebal itu ke tempat khusus di sudut lemarinya.

Sesampainya di serambi musala, puluhan santri sudah duduk bersila membentuk setengah lingkaran rapi menghadap ke arah mimbar tempat Kiai Ahmad biasa duduk. Pagi ini, udara terasa begitu sejuk berkat hujan gerimis yang sempat turun menjelang subuh tadi. Kiai Ahmad, dengan sorban putih melingkar rapi di kepala dan senyum kebijaksanaan terukir di wajahnya, sudah hadir lebih dulu sambil memegang kitab kuning rujukan.

"Pagi ini, sebelum kita melanjutkan kajian kitab fikih rutin, saya ingin mendengar sejauh mana pemahaman kalian tentang pentingnya merujuk pada tafsir bil-ma'tsur, khususnya karya Ibnu Katsir yang agung," suara Kiai Ahmad bergetar tenang namun tegas, mengawali pengajian pagi itu.

Para santri serempak membuka kitab tafsir dan catatan masing-masing. Ghazi merapikan duduknya, jantungnya sedikit berdegup lebih kencang karena topik yang diangkat gurunya pagi ini sangat bersesuaian dengan apa yang ia bedah semalaman di kamar.

"Siapa di antara kalian yang bisa menjelaskan keistimewaan metode penafsiran Ibnu Katsir dibandingkan tafsir lainnya?" tanya Kiai Ahmad sambil mengedarkan pandangan ke seluruh santri yang hadir.

Beberapa santri tampak saling berpandangan. Sebagian kecil mengangkat tangan ragu-ragu. Kiai Ahmad tersenyum ramah, lalu pandangannya mendarat tepat pada sosok Ghazi yang duduk di barisan tengah.

"Coba Ghazi, sampaikan apa yang kamu pahami tentang keistimewaan kitab Tafsir Ibnu Katsir yang selama ini kamu pelajari di asrama," pinta Kiai Ahmad lembut.

Ghazi menarik napas sejenak, mengumpulkan keberanian, lalu menjawab panggilan gurunya dengan suara yang jelas dan tenang di hadapan puluhan rekan santri lainnya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya