Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #59

Peran Zahrah dan Gamila

Pukul setengah tiga sore. Udara di halaman utama kompleks madrasah putri Pondok Pesantren Al-Ihsan terasa begitu semarak, penuh dengan gelora semangat muda dan aroma cat poster yang baru saja dibuka. Mentari sore menyinari deretan papan pengumuman kayu berukir yang dihiasi spanduk kain kain perca warna-warni, menandakan dimulainya pekan Pekan Olahraga dan Seni Antar-Diniyah (Porsadin). Suara riuh rendah tawa para santriwati berpadu dengan ketukan meja rapat panitia kecil yang berdiri di bawah rindangnya pohon mangga besar di sudut lapangan.

Di tengah kesibukan persiapan panggung utama, Zahrah berdiri tegap sambil memegang bendera kecil penanda jalur lomba lari estafet. Mengenakan jilbab abu-abu tua yang dipadu rapi dengan gamis krem muda serta rompi panitia hijau botol berlogo pesantren di dada kiri, ia terlihat sangat cekatan membagi tugas kepada para anggota seksi perlombaan. Di sampingnya, Gamila duduk di atas bangku lipat portabel sambil memangku laptop jinjing berstiker kaligrafi Arab, jemarinya bergerak cepat merapikan daftar peserta lomba pidato tiga bahasa dan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).

"Zahrah, apakah piala bergilir untuk juara umum cabang seni kaligrafi sudah diamankan di ruang sekretariat putri?" tanya Gamila tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor yang menampilkan tabel Microsoft Excel bergaris biru.

Zahrah menoleh, tersenyum ramah sambil merapikan lembaran draf jadwal acara di tangannya. "Sudah aman, Gamila. Tadi ba'da zuhur aku sendiri yang meletakkannya di lemari kaca ruang transit ustadzah, lengkap dengan kunci ganda yang dipegang langsung oleh Mbak Nyai."

Suasana sore itu memancarkan kedisiplinan tingkat tinggi yang berpadu harmonis dengan kehangatan ukhuwah islamiyah. Setiap sudut kompleks madrasah putri disulap menjadi arena kompetisi persahabatan yang menuntut ketelitian logistik sekaligus kepekaan estetika yang mendalam dari para pengurusnya.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama keterlibatan Zahrah dan Gamila sebagai penggerak utama panitia Porsadin Antar-Asrama tahun ini bukan sekadar meriahkan agenda tahunan kalender pesantren, melainkan memastikan seluruh bakat terpendam para santriwati dari berbagai asrama dapat tersalurkan secara adil, transparan, dan menjunjung tinggi sportivitas. Bagi Zahrah, Porsadin adalah ajang pembuktian bahwa santri putri memiliki kapasitas kepemimpinan manajerial yang tangguh, tidak kalah sigap dibandingkan para santri putra di kepengurusan pusat.

"Tujuan kita panitia putri kali ini sederhana namun krusial, Gamila: memastikan tidak ada satu pun santriwati potensial yang merasa terabaikan hanya karena kendala administrasi pendaftaran yang mendadak," tegas Zahrah dengan nada bicara penuh keyakinan saat ia melangkah mendekati meja registrasi.

Gamila mengangguk setuju, menutup layar laptopnya sejenak untuk menatap sahabatnya lekat-lekat. "Betul sekali, Zahrah. Apalagi tahun ini cabang lomba seni sastra Islam seperti syarhil qur'an dan debat bahasa Arab mengalami lonjakan peserta hingga dua kali lipat dibanding tahun lalu. Tujuan kita adalah mengawal penjurian agar berjalan seobjektif mungkin tanpa ada intervensi tekanan dari pihak asrama mana pun."

"Alhamdulillah, kalau soal objektivitas dewan juri, kita sudah mengundang para ustadzah senior lulusan Mesir dan Yaman yang terkenal independen," tambah Zahrah dengan senyum lega.

Tujuan besar tersebut mencerminkan dedikasi murni para santriwati senior dalam merawat tradisi keunggulan akademik dan seni di pesantren, di mana setiap keringat yang tumpah dalam persiapan panitia diniatkan semata-mata sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada lembaga tercinta.

❖ ❖ ❖

Transisi dari hiruk-pikuk persiapan teknis lapangan menuju penyusunan koordinasi strategis di ruang transit sekretariat putri mengalir secara mulus dan tertib. Matahari perlahan mulai condong ke barat, memancarkan bias cahaya oranye kemerahan di balik dinding pilar asrama putri. Zahrah melipat lembaran jadwal lomba, lalu mengajak Gamila berpindah tempat menuju ruang rapat kecil di lantai dua gedung madrasah yang lebih tenang untuk mengevaluasi logistik konsumsi peserta.

"Mari kita naik ke atas sebentar, Gamila. Ustadzah Mardhiyah sudah menunggu rekapitulasi akhir anggaran konsumsi untuk malam pembukaan nanti," ajak Zahrah sambil merapikan map hijau di pelukan tangannya.

Gamila menutup tas laptopnya dengan hati-hati, lalu berdiri sambil meregangkan otot bahunya yang sedikit kaku. "Ayo, Zahrah. Kuharap laporan keuangan konsumsi ini sudah klop tanpa ada selisih angka lagi, karena bendahara pusat terkenal sangat teliti memeriksa setiap nota pembelian bahan makanan."

Transisi pemikiran terjadi di benak kedua gadis itu; dari hiruk-pikuk fisik di lapangan terbuka, fokus mereka kini beralih pada ketelitian administratif dan pertanggungjawaban keuangan yang transparan. Langkah kaki mereka menaiki tangga kayu jati berelief ukiran Jepara terdengar berirama teratur, menyelaraskan denyut nadi organisasi yang semakin mendekati detik-detik pembukaan acara.

"Bagaimana kabar Ghazi dan Fathan di bagian panitia putra? Apakah mereka mengalami kendala dalam penataan panggung utama di lapangan besar?" tanya Gamila di tengah perjalanan menaiki tangga.

Lihat selengkapnya