Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #60

Chafia, Hanifah, Nadhira, dan Yumna

Chafia, Hanifah, Nadhira, dan Yumna Menginisiasi Majalah Dinding Pesantren.

Mentari pagi di kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas Jombang, Jawa Timur, baru saja merayap naik, memantulkan cahaya keemasan di atas atap-atap asrama putri yang berderet rapi. Embun tipis masih menempel di pucuk-pucuk daun mangga di halaman samping gedung madrasah diniyah, sementara udara pegunungan yang sejuk berhembus pelan, membawa kesegaran bagi ratusan santri yang lalu-lalang mengenakan seragam putih dan jilbab rapi. Hari ini adalah hari Ahad, hari libur mingguan bagi sebagian besar pondok pesantren lain, namun di Al-Hidayah, Ahad pagi selalu diisi dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler santri yang dinamis.

Di sudut selasar gedung perpustakaan putri, tepat di bawah papan pengumuman besar berbingkai kayu jati yang lama tak tersentuh, empat orang santriwati tingkat aliyah tampak berkumpul melingkar. Mereka adalah Chafia, Hanifah, Nadhira, dan Yumna—empat sekawan yang dikenal paling aktif di organisasi kepengurusan asrama putri. Di hadapan mereka terbentang meja kayu panjang yang dipenuhi dengan gunting kertas warna-warni, spidol snowman berbagai ukuran, lem kertas, serta setumpuk majalah islami bekas dan koran harian nasional.

"Kalau papan pengumuman ini dibiarkan kosong terus, lama-lama ditumbuhi sarang laba-laba, bukan informasi penting," celetuk Chafia sambil merapikan letak kacamata berbingkai tipis di hidungnya. Ia memegang selembar kertas karton manila berwarna hijau muda yang akan dijadikan latar utama.

Hanifah, yang duduk bersila di samping Chafia sambil memegang penggaris besi panjang, mengangguk setuju. "Betul kata Chafia. Dari semester lalu, Mading putri ini cuma diisi pengumuman jadwal piket dapur umum yang tulisannya sudah pudar. Padahal banyak potensi tulisan santriwati yang tersimpan di kamar-kamar asrama tapi tidak punya wadah untuk disalurkan."

Nadhira, yang bertugas membawa stoples berisi permen mint kesukaan kelompok mereka, membuka tutupnya dan menawarkan isinya kepada teman-teman. "Makanya, ide kita untuk menghidupkan kembali majalah dinding pondok ini harus benar-benar diwujudkan minggu ini. Jangan cuma wacana pas rapat OSIS kemarin."

Yumna, si pendiam yang memiliki keahlian khusus dalam bidang kaligrafi dan seni rupa, tersenyum manis sambil menorehkan garis hiasan pinggir bermotif geometris di sudut karton. "Tenang saja, urusan estetika dan tata letak visual serahkan pada saya. Yang penting artikel, puisi, dan rubrik fikih ringan dari kalian sudah siap dikumpulkan siang ini."

Suasana di sekitar selasar perpustakaan mulai ramai oleh hilir mudik santriwati yang hendak meminjam kitab atau sekadar membaca buku di beranda. Keempat gadis itu tampak begitu antusias, tenggelam dalam kesibukan kreatif yang jarang ditemui di tengah rutinitas harian pondok yang padat dengan hafalan dan setoran kitab kuning. Di tengah kedisiplinan ketat pesantren, inisiatif kecil ini menjadi celah segar bagi mereka untuk menyalurkan kreativitas intelektual dan seni.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Chafia, Hanifah, Nadhira, dan Yumna pagi itu sangat jelas: merombak total papan pengumuman usang tersebut menjadi sebuah Majalah Dinding (Mading) Pesantren yang interaktif, informatif, dan estetis, dengan rubrikasi yang mencakup catatan inspiratif santri, tips belajar kitab kuning, puisi Islami, hingga pojok konsultasi remaja putri. Bagi mereka, Mading bukan sekadar hiasan dinding koridor, melainkan representasi dari suara dan dinamika berpikir santriwati modern di era kontemporer tanpa meninggalkan akar tradisi kepesantrenan.

"Target kita hari ini, Mading edisi perdana dengan rubrik khusus 'Mutiara Pesantren' harus sudah terpasang rapi sebelum waktu Zuhur tiba," tegas Chafia sambil menata lembaran naskah artikel yang sudah diketik rapi menggunakan mesin tik manual asrama.

Hanifah, yang memegang rubrik opini dan resensi kitab, mengecek kembali isi tulisan hasil rangkumannya dari kajian tafsir minggu lalu. "Saya sudah merangkum poin-poin penting dari penjelasan Nyai Hajah tentang adab menuntut ilmu. Judulnya sengaja saya buat menarik: Menjadi Santri Tangguh di Era Digital."

"Bagus tuh, Hanifah! Judulnya kekinian banget," puji Nadhira yang bertanggung jawab atas rubrik pojok sastra dan pantun nasehat khas santri. "Kalau saya kebagian rubrik 'Kisah Inspiratif Tokoh Muslimah'. Saya menulis tentang perjuangan Ummul Mukminin Aisyah ra. dalam meriwayatkan hadis-hadis Nabi. Biar santriwati lain termotivasi untuk semangat menghafal."

Yumna mengangguk antusias sambil terus merapikan hiasan bunga kertas di pinggiran karton. "Kalau dari sisi visual, saya tambahkan kaligrafi khat Naskhi di bagian kepala Mading dengan tulisan Al-Ilmu Nurun—Ilmu adalah Cahaya. Supaya siapa pun yang lewat langsung terpesona dan tertarik membacanya."

Namun, di balik semangat membara itu, mereka menyadari bahwa jalan menuju peluncuran Mading perdana tidak akan semulus perkiraan. Pengurus keamanan asrama putri terkenal sangat ketat terhadap segala bentuk publikasi baru di lingkungan pondok demi menjaga ketertiban dan keselarasan dengan kurikulum pesantren. Setiap artikel atau catatan yang dipublikasikan harus melalui proses sensor dan izin administratif dari bagian pengasuhan santriwati.

"Kira-kira Ustadzah Aminah bakal ACC semua tulisan kita nggak ya, terutama rubrik opini remaja tentang pentingnya manajemen waktu antara hafalan dan kegiatan organisasi?" tanya Nadhira dengan nada sedikit cemas, melirik tumpukan naskah di pangkuannya.

Chafia tersenyum menenangkan. "Selama isi tulisan kita tetap berada dalam koridor akhlak karimah dan tidak melanggar aturan pondok, insya Allah beliau akan mendukung penuh. Yang penting kita jujur dan transparan sejak awal menyampaikan konsep Mading ini."

Dengan tujuan yang telah disepakati bersama, keempat gadis itu membagi tugas dengan cekatan. Chafia merangkap sebagai editor utama, Hanifah sebagai penanggung jawab rubrik keagamaan, Nadhira memegang sastra dan humor sehat santri, serta Yumna sebagai pengarah artistik. Mereka ingin membuktikan bahwa santriwati pondok pesantren tradisional juga mampu melahirkan karya jurnalistik dinding yang profesional dan mencerahkan.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan naik tepat di atas kepala, memancarkan terik hangat yang menyinari halaman kompleks asrama putri Pondok Pesantren Al-Hidayah. Suara bel istirahat kegiatan pagi berbunyi nyaring, menandakan berakhirnya jam pelajaran madrasah diniyah tahap pertama. Para santriwati berbondong-bondong keluar dari ruang kelas, mengenakan jilbab putih seragam dengan kitab-kitab tebal terselip di bawah lengan mereka, menuju kantin pondok atau kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak sebelum salat zuhur.

Di selasar perpustakaan, meja tempat Chafia dan kawan-kawan bekerja kini tampak jauh lebih berwarna. Papan karton hijau muda yang tadinya kosong kini telah tertata rapi dengan berbagai potongan artikel berbingkai kertas warna oranye dan kuning, dilengkapi ilustrasi gambar tangan karya Yumna yang sangat artistik.

"Alhamdulillah, bagian utama layout-nya sudah selesai tertempel semua," ucap Yumna sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, menatap hasil kerja kelompok mereka dengan mata berbinar puas.

Hanifah merapikan sisa-sisa potongan kertas dan lem yang berserakan di lantai. "Tinggal tahap krusial terakhir: meminta tanda tangan izin publikasi dari Ustadzah Aminah selaku kepala bagian pengasuhan santriwati sebelum papan Mading ini kita pasang di dinding utama."

"Wah, kebetulan sekali itu Ustadzah Aminah baru saja keluar dari kantor pengasuhan menuju ke arah perpus," tunjuk Nadhira secara diam-diam ke arah seorang perempuan berbusana Muslimah abu-abu gelap dengan kerudung lebar senada yang sedang melangkah anggun di koridor seberang.

Chafia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Sebagai ketua kelompok inisiatif Mading tersebut, ia memikul tanggung jawab penuh untuk menghadap langsung kepada pengurus senior yang dikenal disiplin dan teliti itu. "Bismillah, biar saya yang membawa draf Mading ini menghadap beliau. Doakan ya teman-teman, semoga langsung disetujui tanpa ada revisi yang rumit."

"Semangat, Chafia! Kami tunggu di sini," koor Hanifah, Nadhira, dan Yumna memberikan dukungan penuh.

Chafia melangkah mantap menghampiri Ustadzah Aminah yang kini berdiri di depan pintu perpustakaan, sedang memeriksa beberapa buku laporan keaktifan santri. Dengan takzim, Chafia merangkapkan kedua tangan di depan dada, membungkuk hormat, lalu mengucapkan salam dengan suara yang santun dan jelas.

"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustadzah Aminah," sapa Chafia sopan.

Ustadzah Aminah menoleh, tersenyum ramah menyambut kedatangan salah satu santriwati berprestasi di asrama tersebut. "Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Chafia. Ada perlu apa tampaknya serius sekali membawa papan karton warna-warni begitu?"

"Mohon maaf mengganggu waktunya sebentar, Ustadzah. Kami dari perwakilan pengurus kamar dan santriwati tingkat aliyah ingin memohon izin sekaligus memperlihatkan draf Mading perdana hasil karya santriwati yang ingin kami pasang di papan pengumuman selasar perpustakaan," jelas Chafia sambil menyerahkan papan Mading mini tersebut dengan kedua tangan.

Ustadzah Aminah mengambil papan tersebut, meneliti satu per satu tulisan, artikel, dan rubrik yang tertempel rapi di atasnya dengan tatapan tajam namun penuh perhatian. Suasana di sekitar selasar mendadak terasa hening bagi Chafia yang berdiri menunggu keputusan di hadapan sang ustadzah.

❖ ❖ ❖

Ustadzah Aminah membolak-balik pandangannya meneliti setiap sudut tulisan dalam mading tersebut. Alisnya yang rapi sempat sedikit berkerut ketika membaca salah satu artikel opini remaja karya Hanifah yang membahas tentang pentingnya ruang ekspresi santri di luar jam pelajaran formal pondok.

"Chafia..." suara Ustadzah Aminah terdengar tenang namun bernada evaluatif. "Secara estetika visual, karya Yumna ini sangat rapi dan indah. Rubrik keagamaannya juga bagus. Tapi coba perhatikan paragraf ketiga pada artikel opini ini. Di situ tertulis bahwa santri kadang merasa jenuh dengan jadwal hafalan yang monoton jika tidak diselingi hobi menulis."

Lihat selengkapnya