Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #62

Puncak Kelelahan Mental

Puncak Kelelahan Mental: Ghazi Hampir Ingin Menyerah dan Pulang.

Malam telah merayap semakin larut di kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, menyisakan keheningan yang kian pekat di balik dinding-dinding asrama santri yang mulai padam lampu kamarnya. Di ruang perpustakaan utama yang berukuran luas, aroma khas kertas tua dari ribuan kitab kuning bercampur dengan bau minyak kayu putih menyeengat penciuman. Di salah satu sudut meja kayu panjang yang diterangi cahaya lampu belajar bercorak hijau redup, Ghazi Al-Ghifari duduk seorang diri. Di hadapannya berserakan lembaran-lembaran catatan risalah, kitab Kifayatul Awam, Fathul Mu'in, serta draf naskah perbandingan ushul fiqh yang harus ia selesaikan sebelum batas waktu pengumpulan berkas malam esok hari.

"Belum tidur juga, Ghazi?" suara Rian terdengar pelan, memecah kesunyian malam saat ia melangkah mendekat dengan membawa secangkir teh hangat.

Ghazi mendongak perlahan. Wajahnya tampak begitu pucat, lingkaran hitam tercetak jelas di bawah kedua matanya, dan bahunya terlihat merosot menahan beban kelelahan yang luar biasa. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan yang terasa dingin. "Belum, Rian. Tanggung, risalah komparasi untuk bab metodologi ini masih menyisakan beberapa halaman koreksi dari Neng Varisha. Kalau tidak selesai malam ini, jadwal revisi total bakal berantakan."

"Sudah lewat pukul dua pagi, kawan. Badanmu tidak terbuat dari besi," ujar Rian sambil meletakkan cangkir teh di sisi meja Ghazi. "Kamu sudah mengurung diri di perpustakaan ini hampir tiga hari berturut-turut tanpa istirahat yang benar. Jangan sampai kamu tumbang sebelum impianmu tercapai."

"Aku tidak punya pilihan, Rian," jawab Ghazi dengan suara serak, nyaris berbisik. "Beban risalah ini bukan hanya tentang namaku sendiri, tapi juga menyangkut marwah Pondok Pesantren Al-Ikhlas di hadapan dewan pengasuh dan para kiai sepuh. Jika aku gagal menyelesaikannya tepat waktu, semuanya akan sia-sia."

Rian menghela napas panjang, menepuk pelan bahu Ghazi yang terasa kaku. "Baiklah, tapi jangan dipaksakan sampai merusak kesehatanmu. Aku tinggal dulu ke kamar, kalau butuh apa-apa panggil saja."

Setelah kepergian Rian, Ghazi kembali menatap barisan teks Arab dan catatan pena di atas kertas. Namun, malam itu, pikirannya terasa buntu. Huruf-huruf hijaiyah di hadapannya tampak berbayang, melebur menjadi satu tumpukan tinta hitam yang tidak bermakna. Di luar jendela, angin malam musim kemusim berhembus dingin, membawa gesekan daun-daun bambu yang berkertak pelan, seolah menambah beban sunyi di dalam dada seorang santri muda yang mulai kehilangan arah tujuan hidupnya di pesantren.

Ghazi menarik napas dalam-dalam, mencoba memfokuskan kembali pikirannya pada tujuan utama mengapa ia rela meninggalkan kampung halamannya dan merantau jauh ke tanah Jombang ini. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di gerbang Pondok Pesantren Al-Ikhlas di bawah asuhan langsung Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz, tujuannya sangat jelas: ia ingin menguasai kedalaman ilmu ushul fiqh dan teologi Islam agar kelak mampu menjembatani khazanah klasik pesantren dengan dinamika pemikiran modern umat Islam.

Ia memegang pena dengan jemari yang terasa kaku, mencoba merangkai kembali argumen mengenai integrasi sifat Jaiz Allah dengan etika sains kontemporer. "Aku harus menyelesaikan bab ini... Targetku malam ini adalah merampungkan sub-bab kritik epistemologi," gumamnya pelan menyemangati diri sendiri.

Namun, malam itu, setiap kali ia mencoba menuliskan satu kalimat, pikirannya langsung terpental kembali. Beban mental yang menumpuk dari rentetan ujian lisan, perdebatan sengit di forum Bahtsul Masail sebelumnya, hingga ekspektasi besar yang diletakkan oleh Kiai Mahmud dan Varisha padanya, mendadak berubah menjadi monster psikologis yang menekan batok kepalanya.

"Mengapa semuanya terasa begitu berat?" keluh Ghazi lirih, menatap kosong ke arah deretan kitab tebal di rak dinding.

Tujuan awalnya yang dulu begitu terang dan membakar semangat kini terasa kabur di balik kabut kelelahan fisik dan mental yang telah mencapai puncaknya. Ia tidak lagi merasakan kenikmatan dalam muthalaah kitab. Yang tersisa hanyalah rasa takut yang mendalam—takut mengecewakan kiai, takut gagal memenuhi standar keilmuan pesantren, dan takut bahwa seluruh usahanya selama ini ternyata tidak lebih dari sebuah kesia-siaan belaka.

Ghazi meletakkan penanya di atas meja. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kayu, memejamkan mata rapat-rapat sambil memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Target yang ia tetapkan sendiri kini berbalik menjadi beban yang mencekik lehernya perlahan-lahan.

Suara ketukan pelan di pintu perpustakaan memecah keheningan malam yang menekan. Pintu bergeser perlahan, menampilkan sesosok perempuan berkerudung abu-abu lembut membawa setumpuk catatan revisi—Varisha binti Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz. Putri sang pengasuh itu melangkah masuk dengan tenang, namun langkahnya terhenti ketika melihat kondisi Ghazi yang tampak sangat berantakan dan kelelahan.

Varisha meletakkan tumpukan buku di atas meja, lalu menatap Ghazi dengan pandangan penuh perhatian. "Ghazi? Kamu masih terjaga selarut ini? Wajahmu pucat sekali."

Ghazi membuka matanya perlahan, mencoba tersenyum kikuk untuk menyembunyikan keletihannya. "Ah, Neng Varisha. Ya, saya sedang merampungkan koreksi sub-bab terakhir risalah kita agar bisa dikumpulkan besok pagi."

Varisha menarik kursi di seberang meja, duduk sambil mengamati lembaran-lembaran catatan yang berserakan. Namun, matanya yang tajam langsung menangkap kejanggalan pada tulisan tangan Ghazi di halaman terakhir—goresan penanya tampak tidak beraturan, berantakan, dan jauh dari standar kerapian biasanya.

"Tulisanmu kacau, Ghazi," kata Varisha dengan nada suara yang tegas namun menyiratkan kelembutan seorang sahabat sekaligus rekan seperjuangan. "Ini bukan gaya tulisanmu yang biasa. Kamu memaksakan diri melampaui batas kemampuan fisik dan mentalmu."

Transisi dari suasana fokus penuh menuju momen kerentanan emosional terjadi begitu cepat di antara keduanya. Ghazi menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mata Varisha. Rasa lelah yang selama ini ia pendam rapat-rapat di balik senyuman tegar kini mulai mendesak naik ke permukaan kerongkongannya.

"Saya baik-baik saja, Neng. Hanya sedikit lelah karena kurang tidur," jawab Ghazi membela diri, meskipun suaranya terdengar bergetar hebat.

Varisha menggeleng pelan. Ia melipat kedua tangannya di atas meja. "Kelelahan bukan lagi 'sedikit' kalau sudah membuatmu kehilangan kendali atas pikiranmu sendiri, Ghazi. Menjadi santri teladan dan pemegang risalah bukan berarti kamu harus menghancurkan diri sendiri secara perlahan."

Kata-kata itu seolah menjadi palu pemukul yang meruntuhkan benteng pertahanan terakhir yang dibangun oleh Ghazi sepanjang malam.

Pertahanan diri Ghazi akhirnya jebol sepenuhnya. Ia tidak lagi mampu menahan gejolak emosi dan kelelahan mental yang telah menumpuk berminggu-minggu di dalam dadanya. Dengan tangan yang gemetar hebat, Ghazi mendorong tumpukan kitab dan catatan risalah di hadapannya hingga bergeser kasar.

Lihat selengkapnya