
Nasihat Mendalam Kiai Mahmud di Ndalem Mengembalikan Fokus Ghazi.
Pukul 20.30 WIB, ketika malam Minggu menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, dengan keheningan yang syahdu, lampu-lampu penerangan di sekitar kompleks ndalem—kediaman resmi pengasuh pondok—tampak berpendar hangat memantulkan cahaya kekuningan di atas jalan paving block. Di luar tembok ndalem, suara jangkrik bersahutan dengan sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur'an dari musala asrama putra, menciptakan suasana yang menenangkan sekaligus sakral.
Bagi Ghazi, pemuda asal Palembang yang kini telah dipercaya menjadi anggota tim perumus fatwa pesantren, malam itu membawa gelombang perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya. Setelah beberapa hari terakhir disibukkan oleh berbagai pujian, sorotan publik pesantren, dan tugas-tugas musyawarah yang begitu padat, Ghazi mulai merasakan tanda-tanda kelelahan mental dan sedikit rasa ujub—kebanggaan diri tersembunyi—yang mulai menyelinap masuk ke dalam hatinya.
Ghazi berdiri di teras ndalem dengan mengenakan jubah putih bersih dan peci hitam rapi, menunggu panggilan dari pengurus rumah setelah ia mendapatkan undangan khusus dari Kiai Mahmud.
"Gha, kamu tidak usah gugup begitu. Anggap saja ini silaturahmi biasa sama kiai, meskipun statusmu sekarang sudah jadi anggota dewan fatwa," bisik Umar yang mengantar Ghazi sampai ke halaman depan ndalem sebelum ia menunggu di pos satpam pondok.
Ghazi menarik napas dalam-dalam, merapikan letak sarungnya, lalu menggeleng pelan. "Bukan masalah gugup, Mar. Aku justru merasa akhir-akhir ini hatiku mulai goyah. Pujian dari orang-orang kemarin bikin aku lupa diri, seolah semua pencapaian ini karena kepintaranku sendiri."
Umar menepuk pundak sahabatnya itu penuh pengertian. "Sadar diri itu awal dari keselamatan, Gha. Masuklah sana, Kiai Mahmud sudah menunggumu di ruang tamu dalam."
❖ ❖ ❖
Ghazi melangkah masuk ke ruang tamu ndalem yang bernuansa klasik dengan dinding kayu jati tua dan deretan rak buku tebal berisi ratusan kitab turats klasik. Tujuannya malam itu sangat mendesak secara batin: ia ingin mencari petunjuk, meluruskan kembali niat belajar yang mulai melenceng akibat riya dan ujub, serta mengembalikan fokus spiritualnya agar tidak tersesat di tengah gemerlap prestasi semu yang ia raih di lingkungan pesantren.
Tak lama kemudian, Kiai Mahmud—pengasuh sepuh berwibawa dengan sorot mata yang teduh—muncul dari balik pintu penghubung ruang keluarga, mengenakan jubah putih dan kopiah haji putih bersih. Beliau berjalan tenang menuju kursi kayu di seberang meja tamu, lalu mempersilakan Ghazi duduk.
"Silakan duduk, Nak Ghazi. Jangan tegang begitu," ucap Kiai Mahmud dengan suara baritonnya yang menenangkan, tersenyum ramah menyambut kedatangan sang santri.
Ghazi duduk bersimpuh takzim di hadapan sang kiai, menundukkan pandangannya penuh hormat. "Terima kasih, Kiai. Mohon maaf mengganggu waktu istirahat malam Kiai."
"Tidak ada kata mengganggu untuk santri yang datang membawa niat tulus mencari kebaikan," jawab Kiai Mahmud lembut. "Saya memanggilmu malam ini bukan tanpa alasan, Ghazi. Saya memperhatikan gerak-gerikmu beberapa hari terakhir sejak kamu sukses di forum bahtsul masail. Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan atau rasakan di dalam hatimu?"
Mendengar pertanyaan langsung dan penuh ketajaman batin dari sang kiai, Ghazi merasa seolah seluruh isi hatinya dibaca dengan jelas tanpa ada yang ditutupi. Di hadapan Kiai Mahmud, tujuan Ghazi untuk menjernihkan batin dan meluruskan niat mulai menemukan jalannya.
❖ ❖ ❖
Suasana ruang tamu ndalem mendadak terasa begitu hening dan penuh wibawa. Transisi dari riuhnya aktivitas di luar asrama menuju keheningan batin di hadapan seorang ulama sepuh menciptakan pergeseran psikologis yang luar biasa di dalam diri Ghazi. Ia merasa seolah seluruh beban ambisi duniawi dan kebanggaan diri yang selama ini menggelayuti pundaknya perlahan-lahan mencair.
"Benar, Kiai," aku Ghazi dengan suara lirih dan jujur, menatap lantai keramik di bawah mejanya. "Sejak ditunjuk masuk tim perumus fatwa dan mendapat banyak pujian dari teman-teman, jujur saja, ada rasa bangga yang berlebihan di dalam dada saya. Saya takut ilmu yang saya pelajari ini justru menjadi jalan kehancuran hati saya karena sifat ujub."
Kiai Mahmud mengangguk perlahan, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan sejenak sebelum beliau memberikan tanggapan yang mendalam. "Pengakuan itu adalah awal dari kesembuhan, Nak Ghazi. Penyakit hati berupa ujub dan riya itu bagaikan semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap gulita; wujudnya tidak terlihat, tapi langkahnya sangat nyata merusak amal."
Transisi dari rasa gelisah menuju kesadaran spiritual membuat Ghazi merasa seolah mendapat siraman air sejuk di tengah teriknya padang pasir. Setiap patah kata yang meluncur dari lisan Kiai Mahmud bukan sekadar nasihat biasa, melainkan cermin batin yang memantulkan segala kelemahan manusiawinya.
"Umar sempat bilang kalau aku mulai sombong, tapi aku baru benar-benar merasakannya setelah duduk di hadapan Kiai malam ini," lanjut Ghazi dengan nada penuh penyesalan.