Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #64

Pesan Tersirat dari Varisha

Pesan Tersirat dari Varisha melalui Buku Catatan yang Dipinjamkan---

Pukul dua belas lewat lima belas menit siang. Suasana di dalam kamar asrama putra Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, terasa begitu hangat, senyap, dan dipenuhi oleh aroma kertas buku tebal bercampur wangi khas kapur barus yang tersimpan di sudut lemari kayu jati. Di luar jendela kamar, terik matahari siang bulan madu memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata, menyorot lurus ke arah halaman pondok yang tampak lengang karena sebagian besar santri sedang bersiap-siap menunaikan salat zuhur berjamaah di masjid utama. Suara dengungan kipas angin gantung tua yang berputar pelan di langit-langit kamar berpadu dengan suara detak jarum jam dinding plastik putih, menciptakan ritme waktu yang terasa begitu lambat dan khidmat.

Di atas meja belajar kayu beralas taplak plastik bermotif kotak-kotak biru, Ghazi duduk bersila seorang diri sambil mengenakan sarung tenun hijau lumut dan kemeja koko putih yang bagian lengannya sedikit dilipat ke atas. Di hadapannya, tergeletak sebuah buku catatan berukuran sedang bersampul kulit sintetis warna cokelat muda dengan hiasan ukiran pita kain rajut di bagian tepinya—sebuah buku catatan milik Varisha, santriwati senior pengurus perpustakaan yang beberapa hari lalu dipinjamkan kepadanya untuk keperluan referensi materi bahtsul masail kepengurusan madrasah. Ghazi membuka halaman demi halaman buku catatan tersebut dengan penuh kehati-hatian, seolah setiap lembar kertas bergaris itu menyimpan rahasia penting yang belum sempat terungkap secara langsung melalui lisan.

"Sudah hampir tiga hari buku ini ada di tanganku, tapi baru siang ini aku punya kesempatan luput dari kesibukan rapat panitia untuk membacanya secara utuh," gumam Ghazi pelan pada dirinya sendiri, jemarinya membalik lembar demi lembar catatan rapi beraksara tegak bersambung yang ditulis menggunakan tinta hitam pekat.

Di sudut meja, sebuah lampu baca kecil portabel menyala lembut, menerangi barisan kalimat-kalimat mutiara dan catatan literatur fiqih kontemporer yang tersusun sangat sistematis di dalam buku tersebut. Setiap goresan pena di sana mencerminkan ketelitian, kecerdasan, dan kepekaan estetika seorang Varisha yang selama ini dikenal sebagai sosok santriwati cerdas, pendiam, namun memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia literasi pesantren.

❖ ❖ ❖

Tujuan awal Ghazi meminjam buku catatan tersebut sebenarnya murni untuk kepentingan akademis organisasi kepengurusan: mencari referensi perbandingan dalil mengenai hukum transaksi digital dalam pandangan mazhab Syafi'iyah yang pernah dibahas dalam seminar internal santri putri. Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah ia membaca lebih mendalam catatan-catatan pinggir di halaman belakang buku tersebut, tujuan Ghazi bergeser secara perlahan menuju pencarian makna yang jauh lebih personal—sebuah upaya untuk memahami isi hati dan pesan tersirat yang ingin disampaikan oleh Varisha di balik pilihan kutipan-kutipan teks klasik tersebut.

"Fathan sempat bilang kalau Varisha tidak sembarangan meminjamkan buku catatannya kepada orang lain," ucap Ghazi dalam hati, matanya menatap tajam sebuah kutipan ayat Al-Qur'an surat Ar-Rad ayat 28 yang digarisbawahi tebal menggunakan spidol kuning stabilo di halaman empat puluh lima. "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."

Ghazi merenungkan setiap kata yang tertulis di bawah ayat tersebut. Ada catatan kecil bernada motivasi yang ditulis dengan tangan mungil Varisha: 'Ujian sebesar apa pun yang datang menghantam keluarga atau studimu, kembalikan semuanya pada sandaran Ilahi. Ketenangan jiwa adalah modal utama seorang pemimpin.' Kalimat itu seolah menohok langsung ke lubuk hati Ghazi, mengingatkannya pada badai sengketa aset keluarga di Sumatra yang beberapa pekan lalu nyaris meruntuhkan mentalnya.

"Apakah Varisha sengaja menulis catatan ini untukku? Apakah dia tahu beban berat yang sedang kutanggung selama ini?" gumam Ghazi lirih, merasakan debaran hangat yang tiba-tiba bergemuruh di dadanya.

Tujuan Ghazi saat itu bukan lagi sekadar merampungkan tugas administrasi madrasah, melainkan menangkap gelombang empati dan dukungan moral tulus yang diselipkan oleh seorang sahabat seperjuangan di balik barisan aksara yang tertata rapi di atas kertas putih.

❖ ❖ ❖

Suara azan zuhur yang berkumandang merdu dari menara masjid utama Pondok Pesantren Al-Ihsan memecah keheningan siang itu, mengalirkan gelombang suara penyeru kebaikan ke seluruh penjuru asrama. Transisi dari perenungan personal yang mendalam di dalam kamar menuju kesibukan kolektif bersiap menuju masjid terjadi seketika, namun menyisakan jejak pikiran yang masih melayang pada lembaran buku catatan Varisha. Ghazi menutup buku bersampul cokelat muda itu secara perlahan, menyelipkan sehelai pembatas buku dari kertas origami merah di halaman tempat ia berhenti membaca, lalu merapikan letaknya di dalam laci meja belajar yang terkunci rapat.

"Waktunya bersiap ke masjid. Jangan sampai terlambat menempati shaf pertama di sebelah Ustadz Luqman," ucap Ghazi mengingatkan dirinya sendiri sambil berdiri dan mengambil peci hitam beludru dari atas kasur lipat.

Transisi pemikiran di benak Ghazi bergerak dari ruang privat penuh teka-teki emosional menuju ruang publik pesantren yang penuh kedisiplinan dan keteraturan sosial. Ia melangkah keluar kamar menuju kamar mandi asrama untuk mengambil air wudhu, merasakan kesegaran air wudhu yang membasuh wajah dan tangannya, meredakan kehangatan emosi yang sempat memenuhi rongga dadanya setelah membaca catatan tangan sang gadis.

Di sepanjang koridor asrama putra, beberapa santri junior tampak berbondong-bondong berjalan cepat menuju masjid sambil membawa kitab suci Al-Qur'an di dada mereka. Ghazi bergabung dalam barisan santri tersebut dengan langkah tenang, memancarkan wibawa seorang pengurus senior yang disegani.

"Hei, Ghazi! Tadi kulihat dari jendela kamu kelihatan serius banget membaca buku tebal di meja. Buku apa itu? Jangan-jangan draf proposal bakti sosial edisi ketiga?" sapa Fathan yang tiba-tiba muncul dari arah tangga asrama sambil merapikan kain sarungnya.

Ghazi tersenyum tipis, menggeleng pelan menanggapi pertanyaan sahabat karibnya itu. "Bukan, Fathan. Ini buku referensi catatan fiqih pinjaman dari perpustakaan putri untuk bahan perbandingan materi bahtsul masail pekan depan."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya