
Menyelami Samudra Tasawuf Tingkat Tinggi: Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
Matahari sore baru saja condong ke barat, memantulkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela kayu jati di ruang perpustakaan induk Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur. Udara pegunungan yang sejuk berpadu dengan aroma khas kertas tua dan jilidan kulit kitab kuning, menciptakan atmosfer keheningan yang agung. Di salah satu sudut ruangan yang tenang, di atas meja panjang berlapis pelitur cokelat gelap, empat orang santriwati tingkat aliyah tampak duduk bersila dengan khidmat. Mereka adalah Chafia, Hanifah, Nadhira, and Yumna—empat sekawan yang dikenal paling tekun mendalami khazanah keislaman klasik di bawah bimbingan langsung para pengasuh pondok.
Di hadapan mereka terbentang sebuah kitab besar bersampul tebal dengan cetakan huruf Arab gundul yang elegan. Kitab monumental itu bukan sembarang kitab kuning biasa, melainkan Ihya’ ‘Ulumuddin karya Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali—sebuah karya mahakarya agung dalam dunia tasawuf dan moralitas Islam yang jarang disentuh oleh santri tingkat menengah kecuali atas izin khusus dan bimbingan mendalam dari kiai.
"Sudah sampai mana halaman yang kalian baca kemarin sore?" bisik Chafia pelan, membuka lembaran kertas catatan kecilnya sambil merapikan letak kacamata berbingkai tipis di hidungnya.
Hanifah, yang memegang kendali sebagai pembaca teks Arab pada sesi sore itu, menunjuk baris kelima di halaman dua puluh jilid pertama. "Kita baru saja merampungkan pembahasan mendalam tentang hakikat makrifat dan rahasia hati manusia. Sekarang kita memasuki bab yang jauh lebih menggetarkan jiwa: menyelami kedalaman samudra tasawuf tingkat tinggi tentang muhasabah diri dan penyucian hati dari penyakit-penyakit batin yang tersembunyi."
Nadhira, yang bertugas mencatat setiap poin penting beserta terjemahan bebasnya ke dalam buku tulis khusus, menyiapkan pena dengan sigap. "Bab ini benar-benar menguji kejujuran batin kita. Imam Al-Ghazali tidak hanya membahas hukum fikih lahiriah, melainkan membedah sampai ke akar-akar niat terkecil di dalam lubuk hati manusia yang paling dalam."
Yumna, yang duduk di ujung meja sambil merapikan tumpukan referensi kitab pendukung seperti Minhajul Abidin, mengangguk setuju dengan mata berbinar penuh takzim. "Belajar Ihya’ ‘Ulumuddin rasanya seperti menyelam ke dalam samudra yang sangat luas dan dalam. Setiap kalimatnya menyadarkan kita betapa dangkalnya ilmu yang kita miliki dibandingkan luasnya lautan makrifat para ulama salafusshalih."
Suasana perpustakaan yang senyap itu kian menambah khusyuk konsentrasi mereka. Di luar jendela, suara santri lain yang bersiap-siap menyambut salat ashar berangsur-angsur terdengar, namun keempat gadis itu seolah terisolasi dalam ruang waktu tersendiri, terhanyut oleh keagungan mutiara hikmah yang terpancar dari lembaran-lembaran kitab warisan abad pertengahan tersebut. Di balik kedisiplinan ketat pesantren, momen sore ini menjadi oase spiritual yang paling mereka nantikan setiap pekannya.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Chafia, Hanifah, Nadhira, and Yumna sore itu sangat mulia sekaligus menantang: mengkaji, memahami, dan meresapi esensi tasawuf tingkat tinggi yang diajarkan dalam Ihya’ ‘Ulumuddin untuk kemudian diaplikasikan dalam pembentukan karakter keseharian di asrama putri. Bagi mereka, mempelajari tasawuf bukan sekadar menghafal istilah-istilah filsafat spiritual, melainkan sebuah ikhtiar batin untuk membersihkan jiwa dari sifat sombong, ria, ujub, dan cinta dunia yang kerap menyusup secara halus ke dalam hati para penuntut ilmu.
"Tujuan kita membaca kitab agung ini hari ini bukan sekadar mengejar target khatam jilid pertama," ucap Chafia menegaskan kepada ketiga sahabatnya dengan nada suara yang tenang namun penuh wibawa. "Kita harus bisa memahami bagaimana Imam Al-Ghazali menjembatani antara syariat, hakikat, and makrifat secara proporsional tanpa keluar dari koridor Ahlussunnah wal Jamaah."
Hanifah mengangguk, jarinya menelusuri baris demi baris teks Arab berharakat minim di hadapannya. "Betul sekali, Chafia. Di bab ini, Imam Al-Ghazali mengupas tuntas tentang Riyadhatun Nafs—latihan spiritual dan pengendalian hawa nafsu. Beliau membagi tingkatan hati manusia menjadi tiga: Nafsu Ammarah, Nafsu Lawwamah, and Nafsu Muthmainnah. Target kita sore ini adalah memahami bagaimana cara mengenali tanda-tanda hati yang masih dikuasai oleh nafsu ammarah."
Nadhira, yang pena di tangannya siap menorehkan tinta di atas kertas putih, menambahkan sudut pandang praktis dari tujuan kelompok kecil mereka. "Selain memahami teorinya, kita juga harus bisa merumuskan ringkasan praktis ini menjadi catatan mutiara hikmah yang nantinya bisa kita bagikan kepada santriwati tingkat tsanawiyah di asrama. Banyak adik kelas kita yang mengira tasawuf itu ilmu tingkat tinggi yang mistis dan sulit dijangkau, padahal ini adalah panduan praktis akhlak sehari-hari."
Yumna tersenyum tipis sambil menatap sampul kulit kitab yang mulai mengelupas di bagian sudutnya karena sering dibaca. "Kalau dari sisi estetika pemahaman, saya ingin kita tidak hanya menangkap makna harfiahnya saja, tapi juga merenungkan kedalaman metafora yang digunakan Imam Al-Ghazali saat membandingkan hati manusia dengan cermin yang berkarat."
Namun, di balik luhurnya tujuan tersebut, keempat gadis itu menyadari sepenuhnya bahwa mendalami Ihya’ ‘Ulumuddin bukanlah perkara mudah. Kitab tersebut dikenal sangat mendalam, penuh dengan dalil-dalil Al-Qur'an, hadis pilihan, serta atsar sahabat yang memerlukan ketajaman nalar intelektual sekaligus kebersihan hati untuk mencernanya. Kesalahan dalam memahami penafsiran tasawuf tingkat tinggi dikhawatirkan justru membawa pembaca pada pemahaman yang ekstrem atau menyimpang dari syariat.
"Apakah kita sudah cukup matang secara keilmuan dasar fikih dan ushul fiqih untuk langsung menyelami bab pembersihan hati ini tanpa bimbingan langsung seorang mursyid atau kiai sepuh?" tanya Nadhira dengan nada sedikit ragu, menyembunyikan rasa khawatirnya di balik senyuman tipis.
Chafia menepuk pelan pundak Nadhira untuk menenangkan. "Itulah sebabnya kita selalu mengawali majelis kecil ini dengan tawasul dan niat yang lurus, serta selalu merujuk pada catatan kaki penjelasan para ulama mazhab Syafii. Jika ada kalimat yang musykil atau sulit dipahami, kita tandai dulu untuk ditanyakan langsung kepada Kiai Ahmad atau Ustadzah Aminah seusai pengajian malam nanti."
Dengan tekad yang bulat dan tujuan yang terarah, kelompok kecil itu mulai membuka lembaran bab baru dalam kitab monumental tersebut, siap mengarungi samudra hikmah yang membentang luas di hadapan mereka.
❖ ❖ ❖
Suara azan Ashar berkumandang merdu dari menara masjid utama pesantren, memecah keheningan sore di kompleks Pondok Pesantren Al-Hidayah. Gelombang suara panggilan shalat tersebut menggema ke seluruh penjuru asrama, mengantarkan getaran spiritual yang menenangkan ke dalam sanubari setiap santri.
Di ruang perpustakaan, Chafia dan kawan-kawan menghentikan sejenak aktivitas membaca mereka. Hanifah menutup perlahan kitab Ihya’ ‘Ulumuddin yang terbentang di hadapannya, lalu meletakkan pembatas buku dari sehelai pita merah tepat di halaman yang sedang mereka bedah.
"Alhamdulillah, kita sudah berhasil merampungkan separuh dari sub-bab tentang penyucian hati dari sifat dengki dan ria," ucap Hanifah sambil meregangkan jemarinya yang sedikit kaku karena terlalu lama memegang pena dan kitab.
Nadhira merapikan tumpukan catatan hasil ringkasan mereka ke dalam map binder biru kesayangannya. "Pembahasan tentang bahaya sifat ujub—membanggakan amal diri sendiri—tadi benar-benar menampar kesadaran batin saya. Ternyata merasa diri sudah saleh saja sudah merupakan bentuk kesombongan tersembunyi."
Yumna berdiri dari duduknya, merapikan letak jilbab abu-abunya di depan cermin kecil dinding perpustakaan. "Mari kita bersiap-siap mengambil air wudu di musala sebelum qamah di mulai. Waktu perpustakaan akan segera ditutup oleh petugas jaga sore."
"Betul, mari kita lanjutkan kajian mendalam ini nanti malam seusai jamaah Isya di teras asrama putri," ajak Chafia sambil memasukkan kitab tebal itu ke dalam tas khusus berlapis kain batik.
Keempat gadis itu membereskan meja perpustakaan dengan cekatan, memastikan tidak ada satupun lembar catatan atau kitab referensi yang tercecer. Langkah kaki mereka berempat beriringan keluar dari pintu perpustakaan, menyusuri jalan setapak berbalur semen yang dikelilingi oleh barisan pohon palem hias menuju tempat wudu utama. Suasana sore di pesantren tampak begitu dinamis namun tetap tertib; ratusan santriwati berjalan beriringan mengenakan mukena putih bersih dengan langkah tenang menuju musala.
Perpindahan aktivitas dari majelis telaah kitab privat menuju kewajiban ritual shalat berjemaah menjadi transisi yang sangat mulus bagi jiwa mereka. Teori-teori tasawuf tingkat tinggi tentang keikhlasan dan muraqabah—merasa selalu diawasi oleh Allah—yang baru saja mereka bedah dari karya Imam Al-Ghazali langsung menemukan medan praktiknya di tempat wudu dan saf salat berjemaah.
"Rasanya luar biasa ya, teori tasawuf yang kita baca di kitab tadi langsung bisa kita rasakan implementasinya saat kita membasuh muka di tempat wudu ini," bisik Nadhira pelan kepada Yumna ketika mereka mengantre tertib di keran air wudu.
Yumna mengangguk tersenyum, air jernih membasahi sebagian wajahnya. "Itulah kehebatan para ulama salaf. Ilmu yang mereka tulis bersumber dari kedalaman hati, sehingga langsung menembus sanubari siapa pun yang membacanya dengan niat tulus."
Selepas menunaikan salat Ashar berjemaah di bawah imamah salah seorang ustaz senior, keempat gadis itu tidak langsung kembali ke kamar. Mereka menyempatkan diri duduk sejenak di serambi musala yang menghadap ke arah kebun pondok, menikmati hembusan angin sore yang sejuk sambil menenangkan pikiran sebelum malam menyapa. Di situlah babak baru ujian pemahaman mereka akan dimulai, ketika teori-teori tasawuf agung itu berbenturan dengan realitas dinamika kehidupan sosial santri di asrama.