Kunjungan Haji Akbar ke Pesantren: Rasa Haru Melihat Transformasi Putranya.
Udara pagi di kawasan lereng Gunung Lawu menyapukan kabut tipis yang merayap lambat di antara pepohonan jati dan bangunan asrama berarsitektur kayu tua. Pukul 06.15 WIB, dentang lonceng penanda persiapan santri berbaris menuju aula pondok pesantren bergemerincing renyah di udara dingin Jawa Timur. Pagi itu, hari Minggu di awal musim kemarau tahun 2026, suasana pesantren terasa berbeda dari hari-hari biasa. Ada denyut kesibukan yang lebih senyap, namun sarat makna di balik dinding-dinding bata merah yang ditumbuhi tanaman rambat hijau.
Haji Ahmad Akbar berdiri di teras ndalem—rumah pengasuh pesantren—dengan mengenakan peci hitam beledu yang telah sedikit memudar di bagian tepinya dan baju koko putih bersih berbalut celana kain hitam longgar. Pria berusia enam puluh tahun asal Palembang itu menarik napas dalam-dalam. Aromanya khas: perpaduan antara embun pagi pegunungan, tanah basah, dan aroma buku-buku kitab kuning yang menguar dari jendela perpustakaan di sisi kiri halaman utama. Di tangan kanannya, sebuah tas selempang kulit sintetis usang tergenggam erat, berisi dokumen perjalanan serta oleh-oleh berupa lempok durian asli dari seberang yang dibawanya khusus.
"Alhamdulillah, udaranya benar-benar menenangkan, Pak Haji," ujar Kyai Mursyid, pengasuh pesantren, sambil melangkah mendekat dengan membawa dua cangkir teh poci hangat beruap tipis.
Haji Ahmad Akbar menoleh, lalu tersenyum ramah sambil menerima uluran cangkir tanah liat tersebut. "Ihamdulillah, Kyai. Jauh sekali bedanya dengan Palembang yang panas dan penuh deru mesin speedboat di Sungai Musi. Di sini, rasanya waktu berjalan lebih lambat, memberi kesempatan pada hati untuk menata ulang segala riuh rendah kehidupan."
"Perjalanan dari Palembang tentu melelahkan, ya? Kereta dari Jakarta, sambung mobil ke sini," lanjut Kyai Mursyid duduk di kursi rotan panjang.
"Sedikit pegal-pegal di badan, Kyai. Tapi begitu menginjakkan kaki di gerbang pesantren semalam, semua lelah itu seperti menguap begitu saja. Ada rasa rindu yang tertahan selama dua tahun terakhir sejak terakhir kali Ghazi pulang ke Palembang," jawab Haji Ahmad Akbar, matanya menerawang menatap barisan santri yang mulai berjalan teratur menuju masjid untuk majelis duha pagi.
Bagi Haji Ahmad Akbar, perjalanan panjang menyeberang pulau ini bukan sekadar kunjungan rutin seorang ayah kepada anak lelakinya di tanah rantau. Ini adalah sebuah ziarah batin. Selama dua tahun terakhir, komunikasi mereka lebih banyak terjalin melalui sambungan telepon seluler yang kerap terputus-putus karena sinyal pegunungan yang labil, atau pesan singkat berisikan laporan singkat tentang hafalan Al-Qur'an dan kegiatan santri.
Di Palembang, Haji Ahmad Akbar dikenal sebagai pedagang tekstil di Pasar 16 Ilir yang gigih. Hari-harinya dihabiskan di tengah deru pasar yang bising, tawar-menawar harga kain, dan debu jalanan kota besar. Namun, di balik kesuksesan kecil usahanya, ada ruang hampa di dadanya yang selama ini coba ia isi dengan doa-doa panjang di sepertiga malam terakhir. Ruang hampa itu bernama Ghazi Al Ghifari—putra bungsunya yang dulu dikenal keras kepala, gemar membantah, dan hampir terseret dalam pergaulan malam kota Palembang yang gemerlap.
"Ghazi sedang apa ya, Kyai, pagi-pagi begini?" tanya Haji Ahmad Akbar lembut, jemarinya memutar-mutar cangkir teh hangat tanpa meminumnya.
"Biasanya, jam segini Nak Ghazi sedang memimpin halaqah tahfiz di serambi utara masjid, atau sedang memeriksa pembukuan dapur umum santri. Belakangan, dia dipercaya menjadi salah satu pengurus harian bagian santri senior," jawab Kyai Mursyid dengan senyum penuh arti.
Mendengar kalimat itu, dada Haji Ahmad Akbar bergemuruh hebat. Bayangan tentang Ghazi yang dulu—anak remaja berambut agak panjang yang kerap membanting pintu kamar karena dilarang keluar malam—berkelebat cepat di kepalanya. Transformasi itu, perubahan drastis yang terjadi pada diri putranya, adalah misteri indah yang kini hendak ia saksikan dengan kedua matanya sendiri. Waktu menunjukkan pukul 06.40 WIB, dan detik-detik pertemuan itu semakin mendekat, membawa debar yang tak mampu disembunyikan oleh seorang ayah tua dari bumi Sriwijaya.
❖ ❖ ❖
Matahari perlahan meninggi, mengusir sisa-sisa kabut yang menempel di pucuk-pucuk daun mangga di halaman pesantren. Tujuan utama kedatangan Haji Ahmad Akbar hari ini sangat sederhana namun sarat dengan pergulatan emosional: ia ingin melihat dengan kepala dan matanya sendiri apakah Ghazi—putra yang bertahun-tahun lalu dilepasnya dengan linangan air mata kekecewaan—benar-benar telah menemukan kedamaian dan jati diri yang utuh di tempat ini.
Dua tahun lalu, keputusan memasukkan Ghazi ke pesantren di Jawa Timur bukanlah keputusan yang diambil dengan kepala dingin. Saat itu, konflik antara ayah dan anak telah mencapai titik nadir. Ghazi, yang baru saja menyelesaikan bangku SMA di Palembang, menolak mentah-mentah ajaran ayahnya untuk meneruskan toko tekstil di pasar. Ia merasa terkekang, jenuh dengan aturan keluarga, dan terjerumus dalam kelompok pertemanan jalanan yang kerap menghabiskan malam di pinggir Sungai Musi hingga subuh. Puncaknya adalah insiden tertangkapnya Ghazi dalam sebuah razia malam.
Malam itu, di kantor kepolisian sektor setempat, Haji Ahmad Akbar tidak memukul anaknya. Ia tidak melontarkan kata-kata kasar. Ia hanya menatap Ghazi lekat-lekat, lalu berkata dengan suara parau yang hingga kini masih sering berdenging di telinga sang anak: "Ayah sudah lelah membimbingmu dengan amarah, Ghazi. Pergilah ke tempat di mana kamu bisa belajar menghargai nafasmu sendiri."
Keesokan harinya, berkat bantuan seorang sahabat lama yang merupakan ulama sepuh di Jawa Timur, Ghazi diantar ke pesantren ini tanpa sepatah kata pun perpisahan yang manis.
Kini, tujuan Haji Ahmad Akbar melangkah menyusuri koridor pesantren berlantai tegel hijau tua itu adalah untuk menagih janji sunyi dari proses panjang tersebut. Ia tidak datang membawa tuntutan agar Ghazi kembali ke Palembang meneruskan toko kain. Tidak. Niatnya telah berubah seiring bertambahnya usia dan perenungan panjang di atas sajadah. Ia hanya ingin melihat apakah beban rasa bersalah yang selama ini menggelayuti hatinya—karena merasa gagal mendidik anak di masa kecilnya—dapat sedikit terhapus oleh senyuman ikhlas dari wajah sang putra.
"Mari, Pak Haji, kita ke serambi utara. Ghazi pasti sudah selesai dengan tugas paginya," ajak Kyai Mursyid ramah, membimbing langkah sang tamu agung melewati lorong-lorong asrama yang bersih.
Setiap langkah kaki Haji Ahmad Akbar terasa begitu berat namun penuh antisipasi. Di sepanjang koridor, para santri berpakaian koko putih dan bersarung rapi membungkuk hormat seraya mencium punggung tangannya saat mereka berpapasan. Sikap santun para santri itu sedikit banyak memberikan gambaran tentang atmosfer tempat Ghazi menempa diri. Namun, tetap saja, bayangan tentang sosok Ghazi yang keras kepala masih berkelebat di benak sang ayah.
Apakah Ghazi yang sekarang masih menyimpan bara amarah di balik peci putihnya? Apakah ia masih anak muda yang suka mendebat setiap keputusan dengan argumen tajam yang menyakitkan hati? Ataukah tempaan tirakat, lapar, dan sujud panjang di tanah Jawa telah meluruhkan seluruh keangkuhannya?
Tujuan Haji Ahmad Akbar pagi ini mengerucut pada satu titik temu: sebuah konfirmasi batin. Ia ingin melihat sorot mata putranya. Sebab, bagi seorang ayah, mata tidak pernah bisa berbohong. Mata seorang anak yang tulus mencintai jalan pencariannya akan memancarkan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan harta kekayaan berlimpah di Palembang.
❖ ❖ ❖
Langkah kaki mereka terhenti di ambang pintu serambi utara masjid pesantren yang berukuran cukup luas. Tempat itu dinaungi oleh pilar-pilar kayu jati kokoh tanpa dinding penyekat, sehingga angin pagi berhembus bebas, membawa suara deburan air dari kolam ikan hias di halaman samping serta suara lembut santri-santri yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan nada tartil yang merdu.
"Itu dia, Pak Haji," bisik Kyai Mursyid sambil menunjuk ke sudut timur serambi, tempat seorang pemuda bertubuh tegap namun sedikit lebih kurus dibanding dua tahun lalu sedang duduk bersila di atas tikar pandan.
Haji Ahmad Akbar menahan napasnya. Tenggorokannya mendadak terasa kering, seolah tertelan debu jalanan Palembang yang panas. Matanya memicing, berusaha fokus menembus jarak sekitar lima belas meter antara tempatnya berdiri dan sosok pemuda yang sedang memegang sebuah kitab tebal berukuran besar di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang pensil kecil untuk mencatat catatan pinggir di lembaran kertas kuning yang mulai menguning.
Pemuda itu mengenakan baju koko krem polos yang tampak sederhana, berlengan panjang dengan liputan rapi di pergelangan tangan, serta sarung tenun samarinda berwarna hijau lumut yang melingkar pas di pinggangnya. Peci putih menutupi sebagian rambut hitamnya yang tampak dipangkas pendek.
"Ghazi..." gumam Haji Ahmad Akbar nyaris tak terdengar. Suaranya bergetar hebat, tertahan di rongga dada.
Transisi pemandangan dari hiruk-pikuk ingatan masa lalu di Palembang menuju keheningan sakral di serambi masjid ini menciptakan gelombang emosi yang luar biasa kuat di dalam hati sang ayah. Dua tahun lalu, Ghazi berdiri di hadapannya dengan jaket kulit hitam beledu, mata memerah karena begadang, dan rahang mengeras menolak nasihat. Hari ini, di hadapan Haji Ahmad Akbar, berdiri seorang pemuda yang postur tubuhnya tampak jauh lebih tegap, namun auranya memancarkan keteduhan yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya pada diri putranya sendiri.
Pemuda itu tampak sedang dikelilingi oleh tiga orang santri yang usianya lebih muda—kemungkinan santri tingkat Tsanawiyah. Ghazi sedang menjelaskan hukum fiqih tentang akad muamalah dengan gestur tangan yang tenang, sabar, dan sesekali tersenyum hangat ketika salah seorang santri mengajukan pertanyaan yang agak rumit. Cara bicaranya terstruktur, intonasinya rendah, tidak ada lagi nada tinggi atau ketidaksabaran yang dulu kerap meledak-ledak di ruang keluarga rumah mereka.
Haji Ahmad Akbar merasakan lututnya mendadak lemas. Perubahan fisik itu memang nyata—wajah Ghazi tampak lebih tirus, kulitnya sedikit lebih gelap karena tersengat matahari pesantren, dan ada garis-garis kedewasaan yang mulai terukir di sekitar sudut matanya—tetapi yang paling mengejutkan adalah transformasi jiwanya. Suasana di sekitar Ghazi seolah ditenangkan oleh kehadiran dirinya sendiri.
Kyai Mursyid menepuk pelan pundak Haji Ahmad Akbar, memberikan dukungan moril tanpa sepatah kata pun. Sang pengasuh pesantren tahu betul betapa berat perjuangan batin yang telah dilalui oleh ayah dan anak ini. Kini, tirai pemisah antara masa lalu yang kelam dan masa depan yang penuh cahaya itu perlahan-lahan tersingkap, memperlihatkan sebuah pemandangan yang membuat air mata seorang pedagang tangguh asal Palembang itu mulai menggenang di pelupuk mata.