Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #68

Pengakuan Sang Ayah

Pengakuan Sang Ayah: Air Mata Kebanggaan di Hadapan Kiai Mahmud.

Pukul 16.30 WIB, ketika rona jingga matahari sore mulai memantul di atas atap-atap bangunan Pondok Pesantren Al Ikhlas di Jombang, Jawa Timur, suasana kompleks ndalem mendadak terasa lebih khidmat dan sarat emosi. Angin sore berhembus lembut melewati deretan pohon palem di halaman depan, membawa aroma khas tanah basah sehabis disiram gerimis tipis. Di ruang tamu utama ndalem, karpet permadani merah membentang rapi di bawah lampu gantung antik yang memancarkan cahaya kekuningan hangat.

Bagi Ghazi Al-Ghifari, pemuda asal Palembang yang baru saja menorehkan prestasi membanggakan dalam simposium nasional, sore itu menyimpan debaran batin yang jauh lebih kuat dari panggung-panggung besar manapun. Di hadapannya, duduk dua sosok paling berpengaruh dalam hidupnya: Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz yang tersenyum teduh di kursi kehormatan, serta seorang pria paruh baya berpeci bludru kusam dengan garis-garis keletihan yang jelas terpahat di wajahnya—ayah kandungnya sendiri, Dato' Sri Akbar Falimbani, yang baru saja tiba menempuh perjalanan jauh dari Palembang demi menemui putranya di Jawa Timur.

"Mari silakan diminum tehnya, Dato' Sri Akbar Al-Falimbani, biar hilang penatnya setelah perjalanan jauh dari Palembang ke Jombang ini," ucap Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz ramah sambil mempersilakan tamu kehormatannya.

Dato' Sri Akbar Falimbani mengangkat kedua tangannya dengan gemetar, merangkapkan telapak tangannya penuh takzim kepada sang pengasuh pondok. "Nggih, Kiai... terima kasih banyak. Saya masih seperti bermimpi bisa duduk di ruang tamu ndalem Pondok Pesantren Al Ikhlas ini bersama Kiai dan anak saya, Ghazi," jawab Dato' Sri Akbar Al-Falimbani dengan suara serak yang menyiratkan gelombang haru yang tertahan di tenggorokan.

Ghazi yang duduk bersimpuh di antara keduanya menatap lekat-lekat wajah sang ayah. Kerutan di dahi dan jemontang tangan kasar penuh bekas kerja keras itu seolah menceritakan seluruh pengorbanan sunyi yang telah dikerahkan demi melihat anaknya mengenakan jubah putih di tanah Jawa.

"Bagaimana perjalanan dari Palembang ke Jombang kemarin, Ayah? Tidak terlalu melelahkan kan?" tanya Ghazi dengan suara bergetar halus.

Dato' Sri Akbar Al-Falimbani menggeleng pelan, tersenyum hangat. "Perjalanan jauh terasa sangat singkat begitu bapak mendengar kabar dari pengurus pondok kalau kamu sukses mengharumkan nama pesantren di tingkat nasional, Gha."

❖ ❖ ❖

Ghazi menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasakan desakan emosi yang luar biasa bergemuruh di dalam dadanya. Tujuannya hari itu sangat personal dan amat mendalam: ia ingin mendengar secara langsung restu dan keikhlasan dari sang ayah yang selama bertahun-tahun membanting tulang seorang diri di tanah seberang, sekaligus membuktikan bahwa setiap butir keringat dan air mata yang dikeluarkan orang tuanya tidak pernah sia-sia di jalan ilmu di bawah asuhan Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz.

"Tujuan bapak datang jauh-jauh ke Jombang ini tidak lain dan tidak bukan adalah ingin melihat langsung keadaanmu, dan... ingin memastikan apakah semua cerita tentang prestasi dan amanahmu di pesantren Al Ikhlas ini benar adanya," lanjut Dato' Sri Akbar Falimbani dengan tatapan mata yang tak pernah lepas dari putranya.

Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz tersenyum bijak, menyandarkan punggungnya perlahan ke kursi kayu jati. "Nak Ghazi ini anak yang luar biasa, Dato' Sri Akbar Falimbani. Beliau tidak hanya membawa nama baik Pondok Pesantren Al Ikhlas di forum ilmiah, tapi juga menjaga adab dan ketulusan hatinya di hadapan para guru dan santri lainnya. Bapak patut berbangga memiliki anak seperti Ghazi."

Mendengar pujian tulus langsung dari sang pengasuh pondok membuat mata Dato' Sri Akbar Falimbani mendadak berkaca-kaca. Tujuan sang ayah datang jauh-jauh dari Palembang bukan sekadar menengok, melainkan membawa sebuah pengakuan batin yang selama ini terpendam rapat di balik senyum lelahnya.

"Saya sebagai orang tua hanya bisa menitipkan anak ini sepenuhnya di bawah didikan Kiai Mahmud di Jombang," ucap Dato' Sri Akbar Falimbani dengan suara lirih. "Karena saya tahu, ilmu yang berkah hanya lahir dari guru yang ikhlas."

Ghazi merasakan hatinya bergetar hebat mendengar percakapan antara ayah dan gurunya. Tujuan utamanya hari ini adalah menyempurnakan baktinya, memastikan sang ayah pulang dengan senyuman dan kebanggaan yang utuh setelah sekian lama berkorban.

❖ ❖ ❖

Suasana ruang tamu ndalem yang tadinya diisi oleh percakapan ringan mendadak berubah menjadi hening ketika Dato' Sri Akbar Falimbani menarik napas panjang, menundukkan kepalanya sejenak seolah sedang mengumpulkan segenap kekuatan batinnya. Transisi dari obrolan basa-basi menuju inti pertemuan yang sarat emosi langsung merayap pekat di udara, membuat Ghazi menelan ludah dengan susah payah.

"Kiai... Ghazi..." ucap Dato' Sri Akbar Falimbani terbata-bata, memulai kalimatnya dengan suara yang bergetar hebat. "Jujur, waktu pertama kali saya melepas anak ini berangkat dari Palembang menyeberang pulau menuju Jawa Timur bertahun-tahun lalu dengan modal seadanya, hati saya di kampung rasanya seperti diiris sembilu."

Ghazi mendongak perlahan, menatap sang ayah dengan dada yang mulai sesak. Transisi emosional dari rasa bangga atas prestasi kini bergeser menjadi rasa haru yang teramat dalam mengenang masa-masa sulit perjuangan awal mereka.

"Saya ingat betul bagaimana bapak harus meminjam uang ke sana ke mari di Palembang hanya untuk melunasi biaya pendaftaran awal di Al Ikhlas dan membelikan kitab-kitab dasarnya," lanjut Dato' Sri Akbar Falimbani sambil menyeka sudut matanya yang basah menggunakan ujung lengan baju batiknya. "Saya sering terbangun tengah malam di tanah seberang, berdoa dalam sujud malam saya, memohon kepada Allah agar anak saya tidak kelaparan dan putus di tengah jalan."

Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz menatap Dato' Sri Akbar Falimbani dengan tatapan penuh empati dan kelembutan seorang guru besar. "Kesabaran dan keikhlasan seorang ayah dalam mencari nafkah halal demi pendidikan anaknya di jalan Allah tidak akan pernah disia-siakan oleh Tuhan, Dato' Sri Akbar Falimbani. Buah dari kesabaran itu kini bapak saksikan sendiri di hadapan bapak."

Lihat selengkapnya