Persiapan Menghadapi Ujian Akhir Kutubussittah dan Kitab Besar---
Matahari sore di kawasan Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, perlahan-lahan merosot ke ufuk barat, memancarkan bias jingga kemerahan yang menembus celah-celah jendela besar gedung perpustakaan utama. Di bawah asuhan langsung Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz, pesantren yang berdiri megah di tengah hamparan sawah hijau nan subur itu kini tengah diliputi atmosfer keseriusan yang luar biasa pekat. Pekan depan adalah pekan paling krusial dalam kalender akademik pondok: Ujian Akhir Kutubussittah dan pengujian kitab-kitab besar berstandar salaf yang menjadi penentu kelulusan tingkat ulya.
Di dalam ruang baca utama perpustakaan yang dipenuhi rak-rak kayu jati berisikan ribuan jilid kitab kuning klasik, suasana terasa begitu senyap. Tidak ada suara gaduh, kecuali desau kipas angin gantung tua yang berputar pelan dan suara gesekan kertas halaman kitab yang dibolak-balik secara konstan. Di salah satu sudut meja panjang berpelitur gelap, Ghazi Al-Ghifari duduk termenung dengan pandangan kosong menatap setumpuk tebal kitab hadis monumental di hadapannya—mulai dari Shahih Bukhari, Shahih Muslim, hingga kitab Sunan lainnya yang terbungkus sampul kulit imitasi hitam.
Ghazi menarik napas panjang, meresapi aroma khas kertas tua dan tinta cetak timur tengah yang menguar kuat dari tumpukan kitab tersebut. Sebagai seorang santri yang dulunya tumbuh besar di lingkungan modern perkotaan Palembang dengan segala kemudahan teknologi digital, membayangkan harus menghafal dan menguasai ribuan matan hadis beserta sanad dan jarh wa ta'dil-nya dalam waktu singkat adalah sebuah tantangan mental yang kerap membuat dadanya terasa sesak.
"Belum juga mulai baca lembar pertama, Kang Ghazi? Wajahmu sudah pucat pasi begitu, kayak orang kehabisan bensin di tengah jalan," bisik Daffa pelan sambil merapikan tumpukan kitab Sunan An-Nasai di sebelah Ghazi.
Ghazi menoleh sekilas, tersenyum kecut sembari menyeka keringat dingin di pelipisnya. "Bukannya belum mulai, Daf. Saya cuma sedang mikir, bagaimana mungkin otak saya bisa menampung ribuan hadis sahih lengkap dengan jalur periwayatannya sekaligus dalam tempo beberapa hari saja. Ini ujian Kutubussittah, bukan ulangan harian fiqih biasa."
"Makanya, jangan cuma dipelototin kitabnya sampai tembus pandang. Ayo dibuka lembar pertama bab Kitabul Ilmi, kita cicil baca pelan-pelan bareng Fahrul dan Jefri di sini," ajak Daffa memberi semangat sambil menepuk pelan bahu Ghazi.
Suasana sore di pondok pesantren asuhan Kiai Mahmud Al-Quthuz itu benar-benar menuntut ketahanan fisik dan mental tingkat tinggi. Di luar jendela, suara santri-santri lain melantunkan hafalan nazham terdengar bersahut-sahutan dengan suara kumandang azan magrib yang mulai sayup-sayup berkumandang dari menara masjid utama, menandai batas waktu persiapan sore yang hampir habis.
❖ ❖ ❖
Ghazi menegakkan duduknya, membuang jauh-jauh rasa minder yang sempat merayap di dadanya. Di dalam lubuk hatinya, sebuah tujuan mutlak telah ditetapkan malam itu: ia harus merampungkan pembacaan ulang dan pemetaan sanad dari seluruh kitab induk Kutubussittah serta dua kitab besar mazhab sebelum matahari terbit esok pagi. Tidak ada ruang untuk lelah, tidak ada toleransi untuk rasa malas.
Bagi Ghazi, ujian akhir di hadapan langsung Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz bukan sekadar formalitas kelulusan administratif pondok, melainkan sebuah pertanggungjawaban moral atas seluruh pengorbanan kedua orang tuanya di Palembang yang telah mengirimnya menimba ilmu di tanah Jawa. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya—yang dulu dikenal sebagai anak manja kota—kini telah menjelma menjadi seorang penuntut ilmu sejati yang siap mengemban amanah keilmuan Islam secara komprehensif.
"Daf, target saya malam ini minimal merampungkan bab Kitab Al-Iman dan Kitab As-Shalah di Shahih Bukhari beserta catatan kaki sanadnya. Kalau ada jalur periwayatan yang rancu, tolong langsung tegur saya," ujar Ghazi mantap sambil menyalakan lampu meja belajar kecil di sudut perpustakaan.
Daffa mengangguk setuju, membuka kitab besarnya lebar-lebar. "Siap, Komandan! Kita bedah bareng-bareng. Kalau kamu tumbang duluan sebelum jam dua malam, saya pastikan air dingin kendi perpustakaan ini mendarat di mukamu."
Ghazi tersenyum tipis mendengar ancaman bersahabat dari sahabat karibnya itu. Tujuan utamanya malam itu sangat jelas: menaklukkan rasa takut menghadapi standar pengujian ketat Kiai Mahmud. Kiai Mahmud Al-Quthuz terkenal sebagai ulama sepuh yang sangat teliti; beliau tidak hanya meminta santri menghafal teks matan hadis, tetapi juga menguji kecermatan logika berpikir dalam mendudukkan hukum dan memahami konteks asbabwurudul hadis.
"Fahrul, Jefri, bagaimana target hafalan kalian untuk bab Sunan Abu Dawud?" tanya Ghazi melirik ke arah dua temannya yang duduk di seberang meja.
"Aman, Kang! Kita sudah bagi tugas kelompok. Fahrul bagian menganalisis jalur perowi Kuffah, saya bagian perowi Madinah. Nanti kita mudzakarah (diskusi kecil) bergantian setiap dua jam sekali," jawab Jefri bersemangat sambil mengangkat stabilo kuning di tangannya.
Dengan tujuan yang terstruktur dan dukungan penuh dari lingkaran persahabatan yang solid di Asrama Al-Ghazali, Ghazi mulai menundukkan kepalanya kembali ke atas lembaran halaman kitab kuning, menyatukan seluruh fokus pikirannya untuk merangkai kepingan-kepingan ilmu hadis yang begitu luas dan mendalam.
❖ ❖ ❖
Waktu salat isya berjamaah di masjid utama baru saja usai dilaksanakan dengan khidmat di bawah imamah langsung Kiai Mahmud Al-Quthuz. Transisi dari aktivitas sore menuju sesi belajar malam penuh konsentrasi tinggi langsung terasa begitu ketat di lingkungan Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Para santri senior tingkat akhir tampak bergegas kembali ke kamar masing-masing atau langsung mengambil posisi di ruang-ruang diskusi terbuka seperti aula dan serambi perpustakaan.
Ghazi bersama Daffa, Fahrul, dan Jefri memilih kembali ke meja sudut perpustakaan utama yang kini lampunya sudah memancarkan cahaya terang benderang. Suasana di luar gedung perpustakaan berangsur-angsur sunyi, menyisakan derik jangkrik malam dan embusan angin pedesaan Jombang yang terasa semakin dingin menusuk kulit. Transisi psikologis Ghazi dari rasa cemas sore tadi mulai bergeser menjadi ketenangan batin yang dibarengi aliran konsentrasi tinggi.
"Sebelum kita masuk ke analisis mendalam kitab Shahih Muslim, mari kita segarkan kepala dulu dengan minum air hangat dan membaca basmalah bersama-sama supaya ilmu yang kita bedah malam ini berkah dan mudah meresap ke kepala," ajak Daffa sambil menuangkan air dari termos kecil ke dalam cangkir alumunium milik Ghazi.
Ghazi menerima cangkir tersebut, meniup permukaannya pelan lalu meminumnya hingga tandas. Rasa hangat air teh tawar itu mengalir lancar di tenggorokannya, meredakan ketegangan otot leher yang sempat kaku akibat berjam-jam menunduk membaca teks Arab gundul tanpa harakat.
“Bismillahirrahmanirrahim...” gumam Ghazi pelan sambil membuka lembaran halaman 112 dari jilid pertama Shahih Bukhari.
Transisi penelaahan materi ujian ini menuntut ketelitian luar biasa. Ghazi tidak lagi membaca sekadar menghafal terjemahan, melainkan membedah nama-nama perawi dalam sanad, mencatat siapa yang berstatus mudallis, dan memahami kriteria tsiqah dari ulama-ulama hadis klasik. Setiap kali ia menemukan jalur sanad yang rumit, ia menuliskan skema diagram kecil di buku catatan kecilnya agar lebih mudah dihafal di luar kepala.
"Daf, coba lihat rantai sanad hadis nomor empat puluh ini. Kenapa perawi fulan bin fulan di tabaqat ketiga itu dianggap thalib oleh Imam Bukhari padahal mazhab gurunya berbeda?" tanya Ghazi serius sambil menunjuk barisan teks Arab dengan ujung pulpennya.
Daffa mendekatkan wajahnya ke kitab Ghazi, mengamati barisan teks dengan saksama sebelum menjawab. "Ah, itu karena jalur periwayatannya melalui jalur Kuffah, Kang. Imam Bukhari terkenal sangat ketat mensyaratkan liqa' (pertemuan langsung) antara guru dan murid dalam satu masa."
Transisi interaksi akademik di antara mereka berjalan sangat dinamis dan hidup. Tidak ada kesan menggurui, yang ada hanyalah semangat kolektif sesama pejuang ilmu di pesantren yang sama-sama ingin lulus dengan predikat mumtaz (sangat memuaskan) di hadapan Kiai Mahmud.