
Malam-Malam Panjang Tanpa Tidur: Saling Bantu Antara Ghazi, Daffa, dan Fathan.
---
Pukul setengah dua belas malam, ketika keheningan pekat merayap menyelimuti bilik-bilik asrama santri di Pondok Pesantren Al Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, suasana di kamar nomor sembilan justru tampak terang oleh nyala lampu tempel berbahan bakar minyak tanah dan lampu belajar mini yang menyorot tajam ke atas tumpukan kitab kuning. Udara malam lereng Jawa Timur berhembus dingin, menyelinap melalui celah-celah ventilasi kayu jati yang sudah tua, membawa serta aroma khas daupan bambu basah dari luar pesantren. Di luar bilik, jangkrik mengerik bersahutan menandakan waktu kian larut, sementara di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu, tiga orang santri tampak tenggelam dalam kepekatan malam tanpa sedikit pun tanda-tanda hendak merebahkan diri di atas kasur busa tipis mereka.
Ghazi Al-Ghifari duduk bersila di sudut ruangan, mengenakan sarung tenun kasar berwarna hijau lumut dan kaus oblong putih polos yang bagian sikunya mulai tipis. Di hadapannya terbentang kitab Fathul Qarib setebal ratusan halaman yang penuh dengan catatan pinggir hasil makna gandul menggunakan bahasa Jawa pegon. Wajah Ghazi tampak kuyu, dengan lingkaran hitam samar membayang di bawah kelopak matanya akibat tiga malam berturut-turut hanya tidur kurang dari tiga jam. Di sisi kanannya, Daffa—santri asal Surabaya yang terkenal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos—tengah memijat pelipisnya yang berdenyut pening sambil memandangi lembaran kertas tugas nahwu-shorof yang belum terselesaikan sebaris pun.
"Kepalaku rasanya mau pecah, Gha. Rumus i'rab fi'il mudhari' ini benar-benar seperti teka-teki silang dari dimensi lain," keluh Daffa dengan suara berbisik serak, sengaja merendahkan volume suaranya agar tidak membangunkan santri lain di kamar sebelah.
Ghazi mendongak, menyunggingkan senyuman tipis yang menyembunyikan rasa lelah luar biasa di balik sorot matanya. "Sabar, Daffa. Namanya juga mencari ilmu di pesantren asuhan Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz, jalannya memang tidak pernah ada yang instan. Kalau gampang, semua orang di luar sana sudah jadi ulama besar," balas Ghazi tenang, lalu menggeser posisinya sedikit lebih dekat untuk merangkul bahu Daffa yang mulai frustrasi.
Di sudut lain meja, Fathan—santri senior tingkat akhir yang bertindak sebagai mentor kelompok belajar malam itu—sedang sibuk meracik seduhan kopi hitam pekat tanpa gula ke dalam tiga cangkir kaleng seng berkarat. Uap tipis mengepul tipis di udara dingin malam itu, membawa aroma pahit yang membangkitkan kesadaran di tengah badai kantuk yang siap menyerang kapan saja.
❖ ❖ ❖
Bagi Ghazi, Daffa, dan Fathan, tujuan malam panjang tanpa tidur itu bukan sekadar menyelesaikan tugas akademis mingguan dari dewan asatiz, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk menembus batas kemampuan diri demi menghadapi ujian lisan tahfidz dan kitab kuning yang akan digelar tepat lusa pagi di hadapan langsung Kiai Mahmud. Selama berminggu-minggu, tekanan mental dan fisik berputar tanpa henti di lingkungan pesantren, menuntut setiap santri untuk membuktikan bahwa mereka layak menyandang predikat santri teladan di bawah bimbingan sang kiai karismatik tersebut.
"Target kita malam ini jelas, kawan-kawan," ujar Fathan tegas sambil membagikan cangkir kopi panas kepada Ghazi dan Daffa secara bergantian. "Kitab Fathul Mu'in bab Janazah harus tuntas kita bedah sampai tuntas sebelum azan subuh berkumandang. Tidak boleh ada satu pun pasal yang terlewat, terutama bagian takyin niat salat jenazah yang sering jadi bahan jebakan Kiai Mahmud saat ujian lisan."
Daffa menghela napas panjang, meniup permukaan kopi panasnya sebelum menatap lurus ke arah Fathan. "Aku tidak muluk-muluk targetnya, Fan. Bisa lolos dari todongan pertanyaan Kiai Mahmud tanpa disuruh berdiri di depan kelas seharian saja sudah merupakan mukjizat besar buatku."
Ghazi menggeleng pelan, meneguk sedikit kopi pahit yang langsung terasa membakar kerongkongannya. "Jangan meremehkan diri sendiri, Daffa. Tujuan kita bukan sekadar lolos dari hukuman, tapi memastikan bahwa setiap ilmu yang kita pelajari malam ini benar-benar meresap ke dalam hati dan bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Kiai Mahmud selalu berpesan, ilmu itu bukan yang dihafal di luar kepala, melainkan yang memberi manfaat pada akhlak kita."
Ketiga pemuda itu menyatukan tekad dalam diam. Di balik perbedaan watak dan latar belakang—Ghazi yang tenang dan penuh perhitungan, Daffa yang santai namun sering panik mendadak, serta Fathan yang disiplin dan kebapakan—terjalin sebuah tujuan suci: saling menopang pundak agar tidak ada satupun dari mereka yang tumbang di tengah jalan sebelum garis akhir perjuangan pesantren tercapai.
❖ ❖ ❖
Perlahan namun pasti, jarum jam dinding pondok menunjuk ke angka dua belas lewat empat puluh lima menit malam. Transisi suasana dari perbincangan santai penuh strategi menuju keheningan total pengerjaan tugas menciptakan gelombang ketegangan psikologis yang nyata di dalam bilik sempit tersebut. Suara gesekan pena di atas kertas HVS murahan berpadu dengan suara desah napas berat yang lelah. Tidak ada lagi candaan ringan atau keluhan tentang dinginnya malam; yang tersisa hanya fokus luar biasa yang terpancar dari wajah ketiga santri muda itu.
"Ghazi, coba jelaskan lagi bagian illat hukum dalam bab ini. Kenapa syarat sahnya takbir jenazah harus berurutan dengan niat?" tanya Fathan sambil menyerahkan kitab kepada Ghazi, menguji pemahaman sahabatnya sekaligus memastikan alur diskusi tetap berjalan dua arah.
Ghazi merapikan letak pecinya yang sedikit melorot, lalu merapatkan posisi duduknya menghadap kitab. Transisi mental dari rasa kantuk yang menyerang hebat menuju kesadaran analitis terjadi seketika begitu ia mulai membacakan teks Arab gundul dengan nada tartil. "Begini, Fan. Berdasarkan syarah kitab ini, niat dan takbir pertama adalah satu kesatuan rukun yang tidak boleh dipisahkan oleh jeda waktu yang lama, karena..." penjelasan Ghazi mengalir lancar, memecah kesunyian malam dengan argumentasi fiqih yang sistematis.
Daffa mendengarkan dengan saksama sambil mencatat poin-poin penting di buku catatannya dengan tinta merah. Transisi energi di ruangan itu terasa begitu hidup; ketika Ghazi mulai kehabisan tenaga untuk menjelaskan, Fathan segera mengambil alih dengan memberikan contoh-contoh kasus nyata dari pengalamannya mengikuti bahtsul masail bulan lalu.