Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #79

Hari Perlombaan Tiba

Mentari pagi di Jombang, Jawa Timur, menyembul perlahan dari balik cakrawala timur Pondok Pesantren Al-Ikhlas, memancarkan bias cahaya keemasan yang menghangatkan halaman utama komplek madrasah. Suasana pagi ini terasa jauh lebih semarak dan bergemuruh dibandingkan hari-hari biasa. Ratusan santri, guru, serta para tamu undangan dari berbagai pondok pesantren terkemuka di Jawa Timur tampak memadati area aula utama dan lapangan terbuka pondok. Umbul-umbul warna-warni berkibar megah di sepanjang jalan masuk, menyambut perhelatan akbar antar-pesantren se-Jawa Timur yang sudah lama dinanti-nantikan.

Di dalam kamar asrama nomor sembilan belas, Ghazi Al-Ghifari berdiri tegak di depan cermin kecil dinding, merapikan kancing baju koko putih bersihnya serta melilitkan kain sarung bercorak khas dengan rapi. Napasnya ditarik dalam-dalam guna meredakan detak jantung yang berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Hari ini adalah hari puncak pelaksanaan lomba Musabaqah Kitab Kuning dan debat ilmiah antar-pesantren tingkat regional Jawa Timur—sebuah ajang prestisius di mana Ghazi terpilih sebagai perwakilan utama Pondok Pesantren Al-Ikhlas atas restu langsung dari pengasuh tercinta, Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz.

"Gimana, Kang Ghazi? Udah siap mental buat menghadapi para jawara kitab kuning dari pesisir utara dan kawasan Tapal Kuda?" sapa Ghalib yang baru saja masuk ke kamar sambil membawa secangkir teh hangat beruap tipis.

Ghazi menoleh, menyunggingkan senyuman tipis meskipun guratan ketegangan masih tampak jelas di sudut bibirnya. "Jujur saja, Ghalib, rasanya beda banget waktu latihan di bilik asrama sama nanti waktu duduk di atas panggung utama berhadapan langsung sama dewan juri dan peserta-peserta hebat dari pesantren besar lainnya."

Kamil, yang sedang sibuk menyemir peci hitam miliknya di sudut ruangan, ikut menimpali dengan nada menyemangati. "Santai saja, Kang! Penggemblengan Kiai Mahmud selama berbulan-bulan kemarin bukan waktu yang singkat. Kamu sudah khatam melahap puluhan kitab-kitab sulit. Lawan seberat apa pun pasti bisa kamu hadapi dengan kepala dingin."

"Betul kata Kamil. Ingat pesan Kiai Mahmud kemarin malam di ruang ndalem? Niatkan semua ini murni karena ibadah dan li'i'latil 'ilmi, bukan semata-mata buat piala atau gengsi," tambah Fardhan sambil merapikan tumpukan catatan referensi bab fiqih dan ushul fiqih milik Ghazi.

Yafiq berjalan mendekat, menepuk bahu Ghazi dengan penuh keyakinan. "Kami berempat dan seluruh santri Al-Ikhlas di sini bakal jadi suporter paling setia di barisan depan penonton. Tunjukkan kalau santri didikan Kiai Mahmud punya kedalaman ilmu dan keluhuran adab yang tidak bisa diremehkan."

Ghazi merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya mendengar dukungan tulus dari sahabat-sahabat karibnya itu. Kecemasan yang sempat mencengkeram perlahan-lahan mulai mencair, digantikan oleh ketenangan batin yang bersumber dari rasa persaudaraan yang begitu erat. Ia lantas merapikan kitab-kitab rujukan utama ke dalam tas kulit hitamnya, siap melangkah keluar menghadapi dunia luar.

❖ ❖ ❖

Ghazi melangkah memasuki gerbang aula utama Pondok Pesantren Al-Ikhlas yang megah, didampingi oleh Ghalib, Kamil, Fardhan, dan Yafiq di sisi-sisinya. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Ghazi menetapkan sebuah tujuan yang sangat jelas dan terarah untuk hari perlombaan besar ini: ia ingin membuktikan bahwa dirinya—seorang pemuda asal Palembang yang sempat meremehkan kerasnya kehidupan pesantren di awal kedatangannya—kini telah bertransformasi menjadi seorang santri sejati yang menguasai khazanah keilmuan Islam klasik secara mendalam dan komprehensif.

Bagi Ghazi, keikutsertaannya dalam perlombaan tingkat regional Jawa Timur ini bukan sekadar ajang pertarungan intelektual antar-pesantren, melainkan sebuah bentuk pertanggungjawaban moral atas amanah besar yang telah diletakkan di pundaknya oleh Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz. Setiap tetes keringat, malam-malam panjang begadang menghafal Fathul Mu'in, hingga perdebatan sengit dalam bahsul masail di bilik pesantren, bermuara pada detik-detik penentuan hari ini.

"Peserta nomor urut tujuh, perwakilan dari Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, atas nama Ghazi Al-Ghifari, silakan menempati meja peserta di sisi timur panggung utama," panggil suara panitia pengeras suara dengan lantang dan tegas.

Ghazi menarik napas panjang, menatap sekilas ke arah jajaran meja peserta di seberang panggung. Di sana, telah duduk deretan lawan-lawan tangguh dari berbagai penjuru daerah: santri-santri sepuh berwajah cerdas dari pondok pesantren besar di Kediri, Tuban, Situbondo, hingga Madura. Mereka tampak tenang membaca kitab-kitab tebal berhuruf gundul dengan tatapan mata yang memancarkan ketajaman berpikir luar biasa.

"Bismillah, saya berangkat ya, kawan-kawan," bisik Ghazi pelan kepada keempat sahabatnya sebelum melangkah menaiki tangga panggung utama.

"Bismillah! Fatawakkal 'alallah, Kang Ghazi! Tunjukkan kemampuan terbaikmu!" balas Ghalib dan kawan-kawan serempak memberikan dukungan penuh semangat dari bangku penonton barisan depan.

Duduk di kursi meja peserta perlombaan, Ghazi menetapkan fokus utamanya secara mutlak. Ia tidak boleh gentar melihat reputasi besar pesantren-pesantren lawan yang sudah malang melintang di kancah nasional. Tujuannya hanya satu: menjawab setiap pertanyaan tajam dari dewan juri dengan argumen teks kitab kuning yang valid, merujuk langsung pada ibarat kitab-kitab mu'tabarah, serta menyampaikannya dengan ketenangan jiwa dan adab kesantrian yang tinggi.

"Baiklah, para peserta sekalian. Babak penyisihan pertama kategori Musabaqah Kitab Kuning tingkat lanjut dengan sistem tanya-jawab terbuka akan segera dimulai," umum ketua dewan juri, seorang ulama kharismatik sepuh dari Surabaya yang dikenal sangat kritis dalam menguji keilmiahan santri.

Ghazi merapatkan duduknya, meletakkan kedua tangannya di atas meja, dan membuka lembaran kitab kuning di hadapannya dengan keyakinan penuh bahwa Allah SWT senantiasa membersamai langkah hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam aula utama Pondok Pesantren Al-Ikhlas mendadak berubah menjadi sunyi senyap begitu babak pertama perlombaan dimulai. Transisi ketegangan terasa begitu nyata di udara; ribuan pasang mata santri dan para kiai pengasuh dari berbagai daerah tertuju tajam ke arah panggung utama, mengamati setiap gerak-gerik dan diksi yang dilontarkan oleh para peserta lomba.

Dewan juri utama mulai membacakan soal pertama—sebuah kasus kontemporer fiqih muamalah yang sangat rumit mengenai hukum transaksi digital modern, yang harus dijawab dengan merujuk pada qaidah fiqhiyah klasik dan teks dari kitab Fathul Qarib serta Mughni al-Muhtaj.

Peserta pertama dari pondok pesantren asal Kediri, seorang santri senior berperawakan tegap dengan sorban melilit di lehernya, langsung mengangkat tangan memberikan jawaban. Ia memaparkan argumen dengan gaya retorika yang sangat fasih dan penuh percaya diri, menyebutkan referensi halaman dan bab dari kitab rujukan standar. Suasana aula tampak terpukau oleh ketajaman analisis santri tersebut.

Ghazi, yang duduk di meja nomor tujuh, mendengarkan pemaparan lawan-lawannya dengan saksama. Transisi batin Ghazi bergeser dari rasa cemas awal menuju konsentrasi intelektual yang sangat tajam. Di dalam kepalanya, roda pemikiran berputar kencang, membandingkan argumen yang disampaikan peserta lain dengan catatan hafalan dan pemahaman mendalam yang ia peroleh selama dibimbing langsung oleh Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz.

"Bagaimana tanggapan peserta dari Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Saudara Ghazi Al-Ghifari? Apakah ada catatan kritis atau tambahan argumen terkait kasus transaksi digital tersebut?" tanya sang ketua dewan juri menoleh langsung ke arah Ghazi dengan tatapan tajam menguji.

Seluruh pandangan penonton di aula seketika beralih tertuju kepada Ghazi. Ini adalah momen transisi krusial di mana Ghazi harus membuktikan kapasitas dirinya di hadapan para ulama besar Jawa Timur. Dengan gerakan tenang dan penuh wibawa, Ghazi merapikan peci hitamnya, mendekatkan mikrofon ke hadapannya, lalu memulai jawabannya dengan bacaan basmalah dan shalawat nabi.

"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan, Dewan Juri yang mulia," ucap Ghazi dengan suara lantang, jernih, dan terdengar sangat tenang tanpa sedikit pun keraguan. "Apa yang disampaikan oleh rekan peserta dari Kediri tadi sudah sangat baik dan komprehensif dari sudut pandang mazhab Syafi'i konvensional. Namun, jika kita menelaah lebih mendalam pada ibarat kitab Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi, terdapat illah hukum khusus mengenai syarat qabdhu (serah terima) dalam akad kontemporer..."

Ghazi melanjutkan penjelasannya dengan mengutip teks berbahasa Arab secara fasih hafalan di luar kepala, merinci rujukan halaman, serta menghubungkannya secara kontekstual dengan realitas permasalahan ekonomi modern yang ditanyakan dewan juri.

Transisi kualitas perdebatan di atas panggung seketika berbalik drastis. Para penonton di aula bergemuruh pelan karena kagum mendengar kedalaman argumen dan kefasihan pelafalan kitab kuning yang ditunjukkan oleh santri asal Palembang tersebut, membuktikan bahwa gemblengan di Pondok Pesantren Al-Ikhlas benar-benar melahirkan kader ulama muda yang tangguh.

❖ ❖ ❖

Namun, kompetisi tingkat regional tidak akan berjalan mudah tanpa adanya ujian ketat yang menguji mental baja para pesertanya. Memasuki babak kedua—sesi debat terbuka antarpeserta mengenai ushul fiqih dan metode istinbat hukum—rintangan sesungguhnya yang paling mendebarkan mulai menghantam panggung perlombaan.

Lihat selengkapnya