Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #80

Babak Final

Pukul delapan malam yang megah di awal bulan Rabiul Awal, Aula Utama Pondok Pesantren Al Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, tampak bergemuruh oleh detak jantung ratusan santri, para dewan asatiz, serta jajaran pengasuh yang duduk bersila memenuhi setiap jengkal lantai marmer putih. Lampu kristal besar yang tergantung di langit-langit tinggi memancarkan cahaya kekuningan, menerangi ribuan kitab yang tersusun rapi di pangkuan para penuntut ilmu. Udara malam lereng Jawa Timur berhembus sejuk dari jendela-jendela besar yang dibuka lebar, membawa serta aroma khas dupa melati dan wangi halaman pesantren yang basah usai disiram hujan gerimis sore tadi.

Di atas panggung utama beralaskan permadani merah marun, sebuah meja baca kayu jati berukir khas Jepara berdiri tegak. Di atas meja tersebut terbentang sebuah kitab kuning gundul—tanpa harokat satu pun—yang tebal dan menguning dimakan usia: kitab Fathul Mu'in karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari. Suasana di dalam aula mendadak sunyi senyap ketika tirai samping panggung bergeser perlahan, menampilkan sosok pemuda berpeci hitam, berkemeja koko putih bersih, dan bersarung samarinda hijau tua: Ghazi Al-Ghifari.

Langkahnya tegap namun penuh kehati-hatian saat ia menaiki anak tangga panggung utama, membawa serta beban mental dan harapan besar dari dua tahun perjalanan panjangnya menempa diri di pesantren asuhan Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz. Di barisan depan kursi kehormatan, Kiai Mahmud duduk bersila dengan anggun, mengenakan jubah putih dan sorban yang tersampir di bahunya, menatap tajam penuh kasih kepada santri kesayangannya yang malam itu akan menghadapi ujian puncak keilmuan pesantren.

"Malam ini adalah malam penentuan," bisik Fathan kepada Daffa di barisan tengah santri senior, suara mereka berdua nyaris tak terdengar di tengah keheningan aula yang begitu mencekam.

Ghazi menarik napas dalam-dalam, mengatur degup jantungnya yang bergemuruh hebat di balik rongga dadanya, lalu duduk bersila di kursi kayu panggung sambil merapikan posisi kitab gundul di hadapannya. Sorot mata ribuan pasang santri tertuju lurus kepadanya, menantikan detik-detik dimulainya babak final yang legendaris di Pesantren Al Ikhlas.

❖ ❖ ❖

Bagi Ghazi, tujuan utama berdiri di atas panggung megah aula utama malam itu bukan sekadar mencari pujian atau membuktikan kecerdasan akademik semata di hadapan para kiai dan ratusan santri, melainkan sebuah bentuk pertanggungjawaban mutlak atas seluruh proses panjang hijrah intelektual dan spiritualnya dari Jakarta menuju Jombang. Selama bertahun-tahun, Ghazi telah melewati malam-malam tanpa tidur, cucuran keringat di ruang perpustakaan, hingga tempaan batin yang keras di bawah asuhan Kiai Mahmud. Targetnya malam ini jelas: menerjemahkan, menguraikan, dan membedah makna kitab kuning tanpa harokat secara live tanpa ada satu pun kesalahan fatal dalam kaidah nahwu, shorof, maupun pemahaman substansi fiqihnya.

"Aku harus bisa membuktikan bahwa kerja keras dan doa orang-orang terkasih selama ini tidak sia-sia," batin Ghazi dalam hati, memantapkan niatnya semata-mata karena Allah untuk mengharumkan nama pesantren dan menjaga amanah gurunya.

Di sisi seberang panggung, Kiai Mahmud memberikan isyarat anggukan kepala pelan yang penuh wibawa, memberi lampu hijau kepada Ustaz Zarkasyi selaku dewan penguji utama untuk memulai jalannya sidang terbuka tersebut. Ustaz Zarkasyi berdiri dari kursinya, memegang mikrofon nirkabel, lalu melangkah mendekati meja Ghazi.

"Ghazi Al-Ghifari," ucap Ustaz Zarkasyi dengan nada suara tegas yang menggema ke seluruh penjuru aula. "Malam ini, di hadapan pengasuh pondok dan seluruh santri Al Ikhlas, kamu diuji untuk membuka kitab Fathul Mu'in pada halaman acak, membacakan teks gundulnya dengan makna gandul pegon yang akurat, serta membedah illat hukum di setiap pasal yang dibacakan secara spontan. Apakah kamu sudah siap?"

Ghazi mengangkat wajahnya, menatap lurus kepada sang penguji dengan sorot mata yang memancarkan ketenangan luar biasa. "Insya Allah siap, Ustaz. Mohon koreksinya jika ada kesalahan," jawab Ghazi mantap, suaranya terdengar jelas melalui mikrofon tanpa ada keraguan sedikit pun.

Tujuan besar itu kini berada di ujung jari-jarinya. Tidak ada lagi ruang untuk rasa takut atau grogi; yang tersisa hanyalah keyakinan bahwa ilmu yang telah ia pelajari dengan ketulusan hati akan membimbing setiap kata yang keluar dari lisan dan pikirannya malam itu.

❖ ❖ ❖

Transisi dari keheningan tegang menuju dimulainya prosesi pengujian akademik yang sakral ditandai oleh suara gemerisik lembaran kertas kitab kuning yang dibuka oleh Ghazi atas instruksi Ustaz Zarkasyi. Suasana di dalam aula mendadak begitu senyap hingga suara detak jam dinding besar di sudut ruangan terdengar sangat nyaring. Ghazi membuka kitab Fathul Mu'in tepat pada halaman empat puluh dua, bab yang membahas tentang tata cara pelaksanaan salat jamak dan qashar dalam kondisi safar—salah satu bab yang terkenal rumit karena melibatkan banyak pengecualian syarat dan perbedaan mazhab.

"Buka pada fasal tentang syarat-syarat sahnya qashar salat, Ghazi. Bacakan baris kelima dari atas tanpa harokat, berikan makna pegonnya, dan jelaskan illat dari pembatasan jarak safar tersebut," perintah Ustaz Zarkasyi sambil melipat tangannya di dada.

Ghazi menundukkan kepalanya, mendekatkan matanya pada barisan huruf arab gundul yang tercetak rapat di atas kertas kuning tua tersebut. Transisi mental dari rasa gugup menuju konsentrasi penuh terjadi dalam hitungan detik. Jemari tangan kanannya memegang erat pulpen hitam, siap menuliskan catatan kecil jika diperlukan, sementara lisan dan pikirannya mulai bekerja secara simultan menterjemahkan struktur gramatikal bahasa Arab tingkat tinggi.

Lihat selengkapnya