Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #83

Pertemuan Singkat dengan Varisha

Pertemuan Singkat dengan Varisha: Ucapan Selamat yang Sarat Makna dan Ketundukan Pandangan.

Pukul 15.45 WIB, ketika surya sore mulai condong ke barat dan memancarkan cahaya keemasan di atas kompleks Pondok Pesantren Al Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, suasana di sekitar area selasar aula utama mendadak terasa begitu sejuk. Angin sepoi-sepoi berembus pelan, membawa aroma khas dedaunan basah dan tanah liat seusai hujan gerimis singkat yang mengguyur Jombang beberapa jam sebelumnya. Di bawah naungan rindangnya pohon sawo kecik yang menghiasi halaman samping ndalem, para santri tampak berjalan santai menuju masjid untuk menunaikan salat asar berjemaah.

Di antara kerumunan santri yang hilir mudik, Ghazi Al-Ghifari melangkah tenang dengan mengenakan jubah putih bersih yang dibalut sarung hitam bergaris rapi serta peci hitam di kepalanya. Di tangannya terselip sebuah kitab kuning tebal tentang ushul fiqih yang baru saja ia pinjam dari perpustakaan pondok. Hari itu adalah hari yang cukup melelahkan namun penuh berkah bagi Ghazi, setelah pagi tadi ia menyelesaikan rangkaian kegiatan administratif dan persiapan delegasi ilmiah di bawah pengawasan langsung para pengurus pondok.

Langkah Ghazi terhenti sejenak ketika ia melewati koridor pilar marmer putih yang menghubungkan gedung asrama putri dengan aula utama. Di tempat itulah, sebuah pertemuan tak terduga yang sarat makna akan segera mengubah dinamika sore harinya di pesantren.

"Gha, kamu duluan saja ke masjid ya. Aku mau marbot sebentar merapikan sandal di teras," bisik Umar yang berjalan di samping Ghazi sambil melirik ke arah pelataran masjid.

Ghazi mengangguk pelan. "Baiklah, Mar. Jangan lama-lama, sebentar lagi azan asar berkumandang."

Ghazi pun melanjutkan langkahnya seorang diri menelusuri koridor pilar marmer, sementara suasana sore di pesantren terasa begitu damai, diiringi sayup-sayup suara santri yang melafalkan hafalan Al-Qur'an dari bilik-bilik asrama.

❖ ❖ ❖

Ghazi menarik napas dalam-dalam, menundukkan pandangannya ke lantai marmer putih sebagai bentuk penjagaan diri yang senantiasa diajarkan oleh para masayikh di Pondok Pesantren Al Ikhlas. Di balik ketenangan luar biasa yang ia tampilkan di hadapan para santri, Ghazi memiliki tujuan batin yang sangat spesifik dan amat dijaganya: ia ingin menjaga kehormatan diri, memelihara adab interaksi antara santri ikhwan dan akhwat sesuai syariat Islam, serta menyelesaikan hari itu tanpa ada noda kelalaian sedikit pun dalam hatinya.

"Menjaga pandangan bukan sekadar formalitas aturan pondok, melainkan bentuk ketundukan hati kepada Allah," gumam Ghazi pelan di dalam hatinya, mengingatkan dirinya sendiri atas berbagai amanah besar yang sedang ia emban.

Tujuan Ghazi sore itu sangatlah sederhana namun penuh prinsip: berjalan menuju masjid dengan hati yang bersih, fokus pada ibadah salat asar, dan menghindari segala bentuk percakapan atau interaksi non-esensial yang dapat melunturkan keikhlasan niatnya dalam menuntut ilmu di tanah Jawa.

Namun, takdir Allah terkadang mempertemukan seseorang dengan situasi yang menguji keteguhan prinsip tersebut. Tepat ketika Ghazi hendak berbelok di tikungan koridor aula utama, langkah kakinya mendadak terhenti secara alami ketika ia menangkap sosok Varisha—santriwati teladan sekaligus salah satu pengurus organisasi santri putri—berdiri tidak jauh dari pilar marmer, tampak sedang memegang beberapa berkas laporan kegiatan ekstrakurikuler pesantren.

Ghazi langsung merapatkan tumpuan matanya ke bawah, menunjukkan adab ketundukan pandangan yang ketat, seraya tetap bersiap memberikan salam penghormatan selayaknya santri yang berakhlak mulia.

❖ ❖ ❖

Suasana koridor marmer yang tadinya sunyi dan hanya diisi oleh derap langkah kaki Ghazi perlahan-lahan berubah menjadi hening yang sarat akan kekhidmatan ketika Varisha menyapa namanya dengan suara yang sangat lembut namun terdengar jelas di telinga. Transisi dari suasana berjalan santai menuju momen perjumpaan yang penuh kehati-hatian langsung merayap pekat di udara sekitar koridor pesantren.

"Assalamualaikum, Ghazi Al-Ghifari," ucap Varisha dengan nada suara yang tenang, berdiri dengan posisi tetap menjaga jarak aman di sisi kiri koridor.

Ghazi menghentikan seluruh langkah kakinya, merapatkan kedua telapak tangan di depan dada dalam posisi takzim, tanpa sedikit pun mengangkat pandangannya untuk menatap wajah lawan bicaranya.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Varisha," jawab Ghazi dengan suara pelan, tegas, dan terjaga kesopanannya.

Transisi psikologis terjadi seketika di dalam diri Ghazi; rasa terkejut yang sempat mampir di benaknya langsung dinetralisir oleh kesadaran penuh akan batasan syariat dan adab pesantren. Ia berdiri tegak namun dengan postur tubuh yang tetap menunduk, menunjukkan sikap profesional sekaligus penghormatan yang tulus kepada sesama santri berprestasi di Pondok Pesantren Al Ikhlas.

Lihat selengkapnya