Matahari pagi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, baru saja merayap naik dari balik barisan pegunungan Kendeng, menyiramkan pendar cahaya keemasan yang hangat ke atas pelataran Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Udara pagi pedesaan terasa begitu segar, membawa aroma tanah basah seusai sisa hujan semalam dan harumnya dedaunan bambu yang bergesekan ditiup angin timur. Di halaman utama asrama, kesibukan luar biasa tampak mendominasi; puluhan santri senior berpeci hitam dan bersarung rapi tampak berdiri berkelompok di samping sepeda, motor tua, hingga bak terbuka truk pondok yang disiapkan untuk mengangkut perlengkapan logistik program pengabdian masyarakat.
Di hadapan barisan santri, pengurus pondok membentangkan peta wilayah pedesaan terpencil yang menjadi titik sasaran bakti sosial tahun ini. Di antara kerumunan santri tersebut, Ghazi Al-Ghifari berdiri tegap di samping sepeda jengki kesayangannya, mengenakan baju koko putih berbalut jas almamater pesantren dan sorban putih tersampir rapi di bahunya. Napasnya ditarik dalam-dalam, meresapi detik-detik penting perpindahan fase dari bilik kelas asrama yang nyaman menuju realitas kehidupan masyarakat desa pelosok yang sesungguhnya.
"Bagaimana, Kang Ghazi? Tas ranselmu dan kitab-kitab panduan TPQ sudah beres semua dimasukkan ke keranjang sepeda?" sapa Ghalib yang melangkah mendekat sambil menenteng termos kecil berisi air hangat.
Ghazi menoleh, tersenyum ramah sembari mengangguk mantap. "Sudah beres semua, Ghalib. Kitab Juz Amma, buku panduan tajwid metode cepat, sampai kapur tulis cadangan sudah saya amankan di dalam tas antiair. Agak deg-degan juga membayangkan rute jalanan berbatu menuju Dusun Sumberarum nanti."
Kamil, yang datang menyusul bersama Fardhan dan Yafiq, tertawa kecil mendengar pengakuan Ghazi. "Tenang saja, Kang! Penggemblengan fisik dan mental selama bertahun-tahun di bawah asuhan Kiai Mahmud itu jauh lebih berat daripada sekadar mengajar ngaji anak-anak desa. Justru di sanalah ujian keikhlasan kita yang sebenarnya diuji."
"Betul sekali. Jangan kaget kalau nanti setibanya di TPQ pelosok sana, fasilitasnya jauh dari kata mewah seperti di asrama kita," tambah Fardhan menimpali dengan nada penuh semangat menyemangati.
Yafiq menepuk bahu Ghazi dengan akrab. "Kami bertiga kebagian posko pengabdian di dusun sebelah barat, sementara kamu sendirian di Dusun Sumberarum yang terkenal paling jauh dan menantang akses jalannya. Semangat ya, perwakilan andalan kamar sembilan belas!"
Ghazi mengangguk penuh keyakinan. Suasana pagi itu dipenuhi oleh denyut nadi pengabdian yang bergemuruh di dada setiap santri Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Panggilan untuk terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat pedesaan bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan wujud nyata pengamalan ilmu agama agar bermanfaat bagi sesama manusia.
❖ ❖ ❖
Ghazi menuntun sepeda jengkinya keluar dari gerbang utama Pondok Pesantren Al-Ikhlas, memisahkan diri dari rombongan besar santri yang menuju ke arah utara. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Ghazi telah menetapkan sebuah tujuan yang sangat mulia dan spesifik untuk program pengabdian masyarakat kali ini: ia ingin mendedikasikan seluruh tenagaan, ilmu baca Al-Qur'an, dan pemahaman fiqih praktis yang telah ia pelajari langsung dari Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz untuk membimbing anak-anak serta warga di Dusun Sumberarum—sebuah dusun pelosok terpencil yang selama ini jarang tersentuh pengajaran agama secara intensif.
Bagi Ghazi, penugasan ke dusun terpencil ini bukan hukuman atau tugas buangan, melainkan sebuah amanah kehormatan yang sangat besar. Ingatannya kembali melayang pada pesan khusus yang disampaikan oleh Kiai Mahmud sehari sebelum keberangkatan di ruang ndalem tertutup. Sang kiai berpesan bahwa nilai seorang santri sejati tidak diukur dari seberapa banyak kitab tebal yang dihafalnya di dalam bilik pondok, melainkan seberapa besar cahaya ilmu tersebut mampu menerangi masyarakat di tempat yang paling gelap dan membutuhkan.
"Bismillahirrohmanirrohim... Niat ingsun lillahita'ala mengabdi untuk umat," gumam Ghazi pelan saat mengayuh sepedanya menyusuri jalanan aspal yang perlahan-lahan mulai berubah menjadi jalan makadam berbatu putih.
Jarak tempuh menuju Dusun Sumberarum memakan waktu sekitar satu jam perjalanan bersepeda melintasi hamparan sawah luas dan perkebunan tebu yang lebat. Sesampainya di perbatasan dusun, Ghazi disambut oleh pemandangan sederhana: rumah-rumah panggung kayu beratap genting tanah liat, jalanan tanah yang becek di beberapa titik, serta bangunan surau kecil berdinding bilik bambu yang tampak sederhana namun berdiri kokoh di tengah pemukiman warga. Itulah Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) Al-Hidayah, tempat di mana Ghazi akan mengabdikan dirinya selama sebulan penuh ke depan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kang Guru! Selamat datang di Dusun Sumber Arum!" sapa seorang paruh baya berpeci bludru usang yang menyambut Ghazi di halaman surau dengan senyuman lebar penuh keramahan.
Ghazi segera menghentikan sepedanya, turun, lalu membungkuk takzim mencerminkan adab kesantrian, menyalami tangan bapak paruh baya yang ternyata adalah Pak RT sekaligus tokoh masyarakat setempat bernama Pak Haji Dahlan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Pak Haji. Saya Ghazi, santri utusan dari Pondok Pesantren Al-Ikhlas yang ditugaskan untuk membantu mengajar di TPQ ini," balas Ghazi memperkenalkan diri dengan sopan.
Tujuan utama Ghazi tiba di tempat itu langsung diaplikasikannya detik itu juga. Tanpa membuang waktu untuk beristirahat setelah perjalanan jauh yang melelahkan, Ghazi meminta izin untuk langsung membuka pintu surau, merapikan lemari kitab yang berantakan, dan menyiapkan papan tulis kecil guna menyambut kedatangan anak-anak santri TPQ yang dijadwalkan hadir bakda Ashar nanti.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam surau kecil Dusun Sumberarum berangsur-angsur berubah seiring dengan datangnya waktu senja menjelang Ashar. Transisi dari perjalanan fisik yang melelahkan di jalanan berbatu menuju suasana batin pengabdian spiritual mulai dirasakan oleh Ghazi secara nyata. Ia duduk bersila di atas tikar pandan usang, menata lembaran-lembaran buku absensi santri dan kapur tulis putih di atas meja kayu kecil yang reyot.
Tak lama kemudian, suara derap langkah kaki kecil bergemuruh riuh di halaman surau. Puluhan anak-anak desa berusia antara tujuh hingga dua belas tahun berbondong-bondong datang memasuki pintu surau dengan mengenakan sarung warna-warni, peci miring, serta mukena putih yang sebagian besar tampak kusut namun bersih. Wajah mereka memancarkan rasa penasaran yang besar bercampur rasa segan melihat kehadiran seorang guru ngaji baru berpakaian rapi dari pesantren besar di kota kabupaten.
"Ayo, anak-anak, silakan duduk yang rapi melingkar di depan papan tulis. Jangan berdesakan ya," sapa Ghazi ramah dengan senyuman hangat yang seketika mencairkan suasana kaku di dalam ruangan surau yang sederhana itu.
Anak-anak itu duduk tertib, meskipun sesekali masih terdengar bisik-bisik dan cekikikan kecil di antara mereka. Transisi psikologis dari seorang santri yang biasa belajar di bawah bimbingan kiai besar kini berubah menjadi seorang pendidik sabar yang harus membimbing anak-anak dusun mengenal huruf-huruf hijaiyah dasar dari nol.
"Perkenalkan, nama saya Ghazi Al-Ghifari. Selama sebulan ke depan, saya akan membersamai kalian semua belajar membaca Al-Qur'an, menghafal surat-surat pendek, serta belajar tata cara shalat yang benar di TPQ Al-Hidayah ini," lanjut Ghazi memperkenalkan diri sambil menuliskan nama panggilannya di papan tulis menggunakan kapur putih.
Seorang bocah laki-laki berambut ikal duduk di barisan depan mengangkat tangan kecilnya dengan polos. "Kang Guru, beneran dari pondok pesantren besar di Jombang ya? Beneran bisa sulap hafalan kitab kayak di televisi nggak?" tanya bocah bernama Udin itu, membuat seisi surau langsung meledak dalam tawa renyah anak-anak.
Ghazi ikut tersenyum lebar, merasa gemas dengan kepolosan santri cilik tersebut. Transisi obrolan yang cair itu membuat hubungan emosional antara Ghazi dan anak-anak dusun langsung terjalin erat tanpa batasan formalitas yang kaku.
"Saya nggak bisa sulap, Udin. Tapi kalau kalian rajin belajar dan menyimak bacaan Iqra dengan telus, insya Allah kalian bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar dan merdu," jawab Ghazi bijak.
Sesi pembelajaran sore itu dimulai dengan khusyuk. Suara lantunan huruf alif, ba, ta, tsa bergema lantang memecah kesunyian sore di Dusun Sumberarum. Ghazi mendatangi anak-anak satu persatu dengan penuh kesabaran, membimbing lafal makhraj huruf yang masih keliru tanpa sedikit pun menunjukkan rasa jenuh. Di balik kesederhanaan dinding bilik bambu surau tersebut, transisi peran hidup Ghazi menemukan makna sejati dari arti ilmu yang bermanfaat.
❖ ❖ ❖