Menyaksikan Langsung Realitas Kehidupan Masyarakat Bawah yang Menguji Kepekaan Sosial Ghazi.
Matahari sore di wilayah pinggiran Jombang, Jawa Timur, memancarkan rona kemerahan yang perlahan meredup di balik rimbunnya perkebunan tebu dan deretan gubuk-gubuk bambu yang berdiri berserakan di bantaran sungai Brantas. Suasana di luar tembok kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas tampak kontras dengan kedamaian di dalam asrama. Di sinilah, di luar pagar pesantren yang megah, realitas kehidupan masyarakat kelas bawah terbentang tanpa polesan. Hari itu, Ghazi Al-Ghifari bersama dua rekan karibnya, Rian dan Faruq, mendapat tugas khusus dari Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz untuk melakukan peninjauan langsung sekaligus menyalurkan bantuan sosial hasil dari kajian filantropi santri.
Ghazi melangkah pelan menyusuri jalan setapak tanah liat yang becek dan berlubang. Mengenakan kemeja koko putih yang bagian bawahnya mulai terciprat lumpur, sarung tenun berkualitas yang ia lipat sedikit ke atas agar tidak kotor, serta peci hitam di kepalanya, Ghazi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bau lumpur sungai yang pekat bercampur dengan aroma kayu bakar menyengat hidung setiap kali angin sore berhembus. Di kiri-kanan jalan, anak-anak kecil berkaus oblong kusam dan bertelanjang kaki tampak berlarian mengejar layangan putus, sementara para ibu rumah tangga duduk di depan pintu rumah papan yang hampir lapuk, menatap rombongan santri itu dengan tatapan lelah namun menyiratkan rasa ingin tahu.
"Perhatikan baik-baik sudut itu, Rian," bisik Ghazi pelan sambil menunjuk ke arah sekumpulan buruh tani tebu yang sedang beristirahat di bawah naungan pohon randu dengan kondisi pakaian compang-camping dan wajah kusam penuh keringat. "Kita sering kali berdiskusi tentang konsep maqashid syariah dan kemaslahatan umat di ruang perpustakaan yang sejuk dan nyaman. Tapi di sinilah ujian sebenarnya dari ilmu yang kita pelajari."
Rian mengangguk takzim, merapatkan ransel berisi buku catatan dan paket sembako di punggungnya. "Benar kata kamu, Ghazi. Di dalam kitab, kemiskinan itu dibahas dalam bab zakat dan fidyah sebagai rumusan hukum normatif. Tapi melihatnya secara langsung seperti ini... rasanya ada hantaman telak di dada yang membuat teori-teori itu mendadak jadi jauh lebih berat tanggung jawabnya."
"Itulah kenapa Romo Kiai Mahmud mengutus kita keluar tembok pesantren sore ini," timpal Faruq yang berjalan di sisi kanan Ghazi sambil membawa daftar nama warga penerima amanah. "Beliau tidak ingin kita menjadi santri yang hanya pandai berdebat dalil di atas mimbar bahtsul masail, tapi buta terhadap penderitaan riil masyarakat di halaman belakang pondok kita sendiri."
Langkah kaki mereka terus berlanjut memasuki kawasan permukiman padat penduduk yang didominasi oleh para buruh tani harian dan nelayan sungai tradisional. Suara deburan air sungai Brantas yang mengalir deras di dekat perkampungan itu seolah menjadi latar suara konstan yang mengiringi setiap langkah Ghazi, membawa batinnya masuk ke dalam kontemplasi mendalam mengenai makna pengabdian seorang santri sejati.
Tujuan utama Ghazi turun langsung ke perkampungan masyarakat bawah sore itu bukanlah sekadar menjalankan rutinitas bakti sosial tahunan pondok pesantren, melainkan menguji sejauh mana kepekaan sosial dan empati nuraninya sebagai seorang calon pemikir muda Islam. Di bawah arahan Kiai Mahmud, Ghazi dibebani sebuah misi reflektif: ia harus mendengarkan langsung keluh kesah, persoalan hidup, dan jeritan batin dari warga marjinal yang selama ini hanya ia ketahui lewat statistik atau lembaran kitab fikih muamalah.
"Fokus kita hari ini bukan hanya membagikan paket sembako, teman-teman," ujar Ghazi kepada Rian dan Faruq saat mereka berhenti sejenak di depan sebuah surau kecil berdinding bilik bambu yang tampak rapuh. "Kita harus menggali apa akar permasalahan sosial yang mereka hadapi. Kenapa di tengah kesuburan tanah Jombang ini, masih ada warga yang kesulitan sekadar untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari?"
Tujuan mulia itu mendorong Ghazi untuk mendekati sebuah rumah panggung kecil yang hampir roboh di pinggir tebing sungai. Di teras rumah tersebut, duduk seorang kakek renta berkaus partai usang dengan kaki yang dibalut perban kain kusam akibat luka yang tak kunjung sembuh. Di samping sang kakek, seorang anak perempuan seusia sekolah dasar tampak termenung menatap lantai papan yang berlubang.
Ghazi menarik napas dalam-dalam, menata niat di dalam hatinya agar langkah kakinya murni karena mencari ridha Allah SWT, bukan sekadar menuntaskan tugas formal pesantren. Ia melangkah mendekati teras rumah itu dengan penuh takzim, mengucapkan salam dengan suara yang lembut namun terdengar jelas.
"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mbah," sapa Ghazi ramah sambil membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua.
Kekek renta itu mendongak perlahan, menyipitkan mata tuanya untuk mengenali tamu yang datang. "Wa’alaikumussalam warahmatullah... Wah, anak-anak santri Al-Ikhlas ya? Silakan duduk, Nak, meski tempatnya alakadar begini," jawab sang kakek dengan suara serak dan batuk kecil yang tertahan.
Ghazi dan kedua rekannya langsung duduk bersila di atas lantai papan kayu yang berderit pelan menahan beban. Ghazi menatap luka di kaki sang kakek dengan pandangan yang menyiratkan rasa iba mendalam. Tujuannya kini semakin mengerucut: ia ingin memastikan bahwa kehadiran santri pesantren tidak berjarak dari penderitaan umat, dan bahwa risalah keilmuan yang ia pelajari di pesantren harus mampu menawarkan solusi nyata bagi persoalan kemiskinan struktural tersebut.
Percakapan antara Ghazi dan sang kakek buruh tani yang akrab disapa Mbah Karto itu mengalir dalam keheningan sore yang syahdu. Mbah Karto menceritakan bagaimana ia harus berjuang seorang diri membiayai cucunya yang yatim piatu setelah kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan kerja di pabrik gula beberapa tahun lalu.
"Dulu waktu bapaknya masih ada, hidup tidak separah sekarang, Nak Ghazi," cerita Mbah Karto sambil mengusap lututnya yang sakit. "Sekarang harga kebutuhan pokok naik terus, sementara upah buruh tani tebu dibayar harian pas-pasan. Kalau musim hujan datang dan sungai meluap, rumah ini sering kemasukan air, terpaksa kami mengungsi ke surau."
Ghazi mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Mbah Karto dengan saksama. Tidak ada catatan yang ia tulis di buku saat itu; ia memilih untuk merekam setiap penderitaan tersebut langsung di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Transisi dari suasana akademis di ruang perpustakaan pesantren yang penuh buku-buku tebal menuju kenyataan pahit kehidupan jalanan ini menciptakan pergeseran paradigma yang luar biasa besar di dalam mental Ghazi.
"Apakah pihak desa atau dinas sosial tidak pernah memberikan bantuan, Mbah?" tanya Faruq dengan nada penasaran yang tertahan.
Mbah Karto tersenyum pahit, menggelengkan kepalanya pelan. "Bantuan sesekali datang, Nak. Tapi sering kali tidak merata atau terbentur urusan administrasi yang rumit. Kami orang bodoh, tidak tahu cara mengurus surat-surat begitu. Yang penting hari ini bisa makan nasi aking atau singkong rebus saja sudah bersyukur pada Allah."
Mendengar jawaban itu, Ghazi merasakan hantaman emosional yang telak di dadanya. Selama ini, dalam diskusi-diskusi Bahtsul Masail di pesantren, ia dan rekan-rekannya sering kali berdebat panjang lebar mengenai hukum zakat produktif, distribusi harta waris, hingga teori makroekonomi Islam dengan menggunakan istilah-istilah Arab yang rumit. Namun, di hadapan Mbah Karto, teori-teori agung itu seolah kehilangan bentuk nyatanya ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk sekadar mengisi perut hari ini saja, seseorang harus bergulat dengan kelaparan yang nyata.
Transisi emosional itu mengubah cara pandang Ghazi terhadap ilmu yang dipelajarinya. Ilmu agama bukanlah sekadar perhiasan akal untuk memenangkan perdebatan ilmiah di atas mimbar kehormatan, melainkan sebuah amanah moral yang harus turun tangan langsung menyelesaikan penderitaan umat di tingkat paling bawah.
Menjelang magrib, Ghazi, Rian, dan Faruq pamit meninggalkan rumah Mbah Karto untuk melanjutkan perjalanan menyusuri perkampungan kumuh tersebut guna membagikan sisa paket sembako dan mencatat daftar warga lain yang membutuhkan uluran tangan. Namun, rintangan psikologis yang sesungguhnya justru mulai menghantam batin Ghazi ketika mereka melangkah lebih jauh ke bagian sudut perkampungan yang lebih dalam.
Di dekat tepian sungai Brantas yang mulai diselimuti kabut petang, mereka menemui pemandangan yang jauh lebih menyayat hati. Sekelompok anak-anak pengamen jalanan tampak duduk bergerombol di bawah jembatan gantung tua, menghirup aroma lem perekat kayu sambil tertawa-tawa kosong menatap arus sungai yang keruh. Di dekat mereka, beberapa orang pemuda pengangguran tampak bersitegang adu mulut karena masalah utang piutang kecil-kecilan.