Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #89

Ujian Integritas

Pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Udara malam di kawasan Pondok Pesantren Al Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, terasa begitu pekat menyelimuti deretan bangunan asrama santri yang mulai senyap dari hiruk-pikuk aktivitas harian. Rintik hujan gerimis sisa sore tadi masih meninggalkan kelembapan di dedaunan pohon mahoni tua yang menjulang di sepanjang jalan utama kompleks pesantren, memantulkan pendar kekuningan dari lampu-lampu taman yang berpijar lembut. Di balik keheningan malam itu, suasana batin di sekitar ndalem—kediaman resmi pengasuh utama pesantren—justru menyiratkan ketegangan emosional yang begitu nyata dan mendalam, jauh berbeda dari suasana asrama yang tenang.

Di teras ndalem yang beralaskan ubin putih bersih berkeramik klasik, Ghazi Al-Ghifari berdiri tegak dengan napas yang sedikit terengah-engah setelah berjalan cepat melintasi koridor utama usai menerima telegram darurat dari Sumatra. Mengenakan sarung tenun hitam bercorak samar, kemeja koko putih polos yang bagian kerahnya sedikit kusut akibat perjalanan emosional, serta kopiah hitam beludru yang menyelimuti kepalanya, Ghazi memegang selembar kertas faksimile dengan tangan kanan yang gemetar halus. Di hadapannya, pintu kayu jati berukir ukiran Jepara setinggi tiga meter itu tertutup rapat, memisahkan dirinya dari sosok ulama kharismatik yang selama ini menjadi guru, orang tua spiritual, sekaligus tempat berlindung utamanya di tanah Jawa: Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz.

"Ghazi, apakah kamu benar-benar yakin ingin menghadap Kiai Mahmud malam-malam begini? Beliau pasti sudah beristirahat setelah seharian memimpin sidang pleno dewan asatidz," bisik Fathan lirih sambil memegang pundak sahabat karibnya itu dengan penuh rasa khawatir.

Ghazi menoleh sekilas ke arah Fathan dan Ghalib yang setia mendampinginya berdiri di teras. Sorot mata Ghazi memantulkan ketegasan baja yang dipadu dengan kejernihan hati seorang santri sejati.

"Fathan, Ghalib, telegram dari pengadilan di Sumatra itu tidak boleh ditunda sedetik pun penjelasannya," jawab Ghazi dengan suara pelan namun terdengar sangat mantap. "Saya tidak ingin menghadap Kiai Mahmud dengan membawa kecurigaan atau keraguan. Beliau mengajarkan kita untuk selalu transparan, jujur, dan berani bertanggung jawab secara jantan atas setiap persoalan hidup yang kita hadapi."

Di kejauhan, suara jangkrik malam dan derik angin pedesaan Jombang mengiringi detik-detik menegangkan yang menguji mental seorang Ghazi Al-Ghifari di hadapan pintu gerbang ndalem kiai besar tersebut.

❖ ❖ ❖

Tujuan Ghazi mendatangi kediaman Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz pada malam yang sudah sangat larut itu bukan sekadar melaporkan persoalan pelik mengenai sengketa waris keluarga yang mendadak disidangkan di Sumatra, melainkan untuk menegakkan prinsip integritas moral tertinggi sebagai seorang santri senior Al Ikhlas. Ghazi ingin membuktikan secara langsung kepada sang kiai bahwa dirinya tidak lari dari tanggung jawab pondok, sekaligus memohon restu serta nasihat bijak agar langkah hukum yang harus ia ambil tidak mencoreng marwah pesantren dan nilai-nilai keilmuan yang telah ia tempuh selama bertahun-tahun di Jombang.

"Tujuan saya menghadap Kiai Mahmud malam ini tunggal, kawan-kawan," ucap Ghazi tegas sambil meremas lembaran telegram di tangannya. "Saya ingin menyatakan niat baik saya secara jantan. Saya harus meminta izin secara langsung untuk meninggalkan pondok sementara waktu demi menghadiri sidang putusan sela di Sumatra, tanpa sedikit pun meninggalkan kewajiban ujian akhir Kutubussittah yang telah di depan mata."

Fathan mengangguk perlahan, memahami betul beban berat yang sedang dipikul oleh sahabatnya itu. "Tujuan yang sangat berat, Ghazi. Di satu sisi kamu harus menjaga amanah keilmuan di hadapan Kiai Mahmud, di sisi lain harta peninggalan keluargamu di Sumatra terancam direbut pihak lain jika kamu absen di persidangan."

"Itulah sebabnya integritas kita diuji di sini," sahut Ghalib menambahkan dengan nada penuh empati. "Kiai Mahmud selalu berpesan bahwa seorang santri dinilai bukan dari seberapa hebat ia menghafal kitab, melainkan dari seberapa jujur ia bersikap ketika berada di ujung tanduk pilihan yang sulit."

Ghazi menatap lurus ke arah daun pintu ndalem yang kokoh. "Betul sekali, Ghalib. Tujuan saya menghadap beliau bukan untuk mencari keringanan atau dispensasi murahan yang mencederai keadilan akademik pondok, melainkan untuk menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada kebijaksanaan Kiai Mahmud. Apapun titah beliau nanti, itulah jalan keselamatan bagi saya."

Bagi Ghazi, restu dari seorang guru mursyid seperti Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz adalah kunci utama pembuka keberkahan hidup. Tanpa restu itu, kemenangan di pengadilan manapun di dunia ini tidak akan ada artinya bagi seorang santri yang mengabdikan jiwanya di bumi Al Ikhlas.

❖ ❖ ❖

Tak lama setelah percakapan batin yang penuh ketegangan itu berlangsung di teras, pintu kayu jati berukir di hadapan mereka tiba-tiba berderit pelan membuka ke arah dalam. Seorang santri pengabdi ndalem berpeci putih muncul dari balik pintu dengan senyum ramah, menyambut kedatangan tiga pemuda santri tingkat akhir tersebut dengan tatapan penuh keheranan.

"Ghazi, Fathan, Ghalib? Ada apa kalian bertiga bertamu ke ndalem selarut ini? Bukankah besok pagi jadwal kalian mengikuti ujian lisan Kutubussittah?" tanya santri pengabdi itu dengan nada suara yang sengaja dilembutkan agar tidak mengganggu keheningan malam di dalam rumah.

Transisi dari ketegangan di luar teras menuju kehangatan ruang tamu ndalem terjadi secara cepat dan penuh keakraban khas tradisi pesantren. Ghazi melangkah masuk dengan takzim, menundukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda hormat kepada sesama santri yang bertugas menjaga kediaman kiai.

"Maafkan kami mengganggu waktu istirahat Kiai Mahmud, Kang," ujar Ghazi dengan suara sopan seraya merapatkan kedua tangannya di depan dada. "Kami membawa urusan yang sangat mendesak terkait telegram dari pengadilan Sumatra. Kami mohon izin apakah Kiai Mahmud masih terjaga dan berkenan menerima kami sebentar saja?"

Santri pengabdi itu melirik sejenak ke arah lembaran kertas di tangan Ghazi, lalu mengangguk perlahan. "Silakan masuk ke ruang tunggu dalam. Tadi Kiai Mahmud baru saja menyelesaikan muthala'ah kitab malam beliau dan kebetulan belum beranjak tidur. Beliau pasti akan mendengarkan kalian."

Transisi suasana batin Ghazi bergeser drastis dari rasa cemas yang mencengkeram menjadi rasa tawakal yang menenangkan. Langkah kakinya menyusuri lantai marmer putih ruang tamu ndalem yang dihiasi kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur'an berukuran besar di dinding ruangan. Aroma kayu gaharu dan wangi melati segar menyambut indra penciumannya, menciptakan ketenangan spiritual yang meresap hingga ke lubuk hati paling dalam.

"Silakan duduk di sini, Ghazi,"bisik Fathan sambil menuntun sahabatnya menuju kursi sofa kayu berpelapis kain beludru hijau tua di sudut ruang tamu dalam.

Lihat selengkapnya