Persiapan Wisuda Akbar Santri Akhir Tahun
Angin malam bulan Sya'ban berembus pelan, menyelusup di antara celah-celah bilik kayu pondok pesantren Al Ikhlas di Jombang, Jawa Timur. Lampu-lampu neon di sepanjang koridor utama memancarkan cahaya kekuningan yang menerangi jalan setapak berbahan paving block. Suasana di kompleks pesantren tampak sibuk, diwarnai langkah kaki para santri akhir yang hilir mudik membawa tumpukan kardus, spanduk kain panjang, serta gulungan bambu untuk dekorasi panggung utama. Hari-hari menjelang Wisuda Akbar Santri Akhir Tahun telah tiba, membawa gelombang ketegangan sekaligus kelegaan yang luar biasa bagi mereka yang telah menimba ilmu selama bertahun-tahun di bawah naungan Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz. Di sudut lapangan utama, Ghazi Al-Ghifari berdiri mematung sambil memegang selembar rancangan tata letak panggung. Jubah putih sederhana yang biasa ia kenakan tampak sedikit berdebu setelah seharian bergelut dengan urusan logistik dan persiapan dekorasi. Tatapannya menerawang ke arah menara masjid tua yang menjulang tinggi, dikelilingi oleh rimbunnya pohon mangga yang menjadi saksi bisu perjalanan panjangnya di pesantren tersebut. Suara gemerisik daun yang bergesekan dengan angin malam berpadu dengan alunan santun tadarus Al-Qur'an dari surau sebelah, menciptakan atmosfer yang khidmat sekaligus sarat akan ketegangan batin. Ghazi menarik napas dalam-dalam, meresapi aroma tanah basah seusai hujan sore tadi, seraya menyadari bahwa detik-detik kelulusannya kini tinggal menghitung hari.
Tak jauh dari tempat Ghazi berdiri, Farhan—sahabat karibnya sesama santri pengurus bagian keamanan—datang tergesa-gesa sambil membawa secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap putih tipis.
"Zay, masih melamun saja kamu! Ini daftar pengisi acara khatmil Qur'an belum beres tanda tangan panitianya, kalau Kiai Mahmud keburu tanya bagaimana kita mau menjawabnya?" seru Farhan dengan napas sedikit tersenggal, lalu menyodorkan cangkir tersebut ke tangan Ghazi.
Ghazi menerima cangkir itu, tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Farhan pelan. "Bukannya melamun, Han. Aku cuma sedang merenungkan bagaimana cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru kemarin kita datang ke gerbang pesantren ini dengan membawa koper kusam dan rasa takut yang luar biasa, sekarang kita justru yang sibuk menyiapkan panggung kelulusan kita sendiri."
"Memang cepat, kawan. Tapi kalau persiapan ini berantakan gara-gara kita telat menyerahkan laporan, bukan cuma rasa haru yang kita dapat, melainkan omelan Kiai Mahmud yang terkenal setajam silet itu," balas Farhan setengah bercanda, meski matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam.
"Tenang saja, semuanya sudah saya susun di buku catatan. Laporan untuk seksi perlengkapan dan konsumsi sudah beres, tinggal menunggu konfirmasi dari bagian dokumentasi," jawab Ghazi meyakinkan, meneguk teh manis hangat yang seketika menghangatkan kerongkongannya di tengah dinginnya malam Jombang.
Bagi Ghazi, pesantren Al Ikhlas bukan sekadar tempat menuntut ilmu fiqih, tasawuf, atau nahwu-shorof. Pesantren ini adalah kawah candradimuka tempat karakternya dibentuk, diuji, dan ditempa melalui ribuan aturan ketat serta kedisiplinan yang diajarkan langsung oleh Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz—seorang ulama kharismatik sepuh yang dikenal sangat tegas namun memiliki limpahan kasih sayang kebapakan kepada seluruh santrinya. Di balik kesibukan malam ini, ada sebuah target besar yang diemban Ghazi sebagai ketua panitia pelaksana wisuda. Tanggung jawab ini bukanlah beban yang ringan, mengingat acara tersebut akan dihadiri oleh ratusan wali santri dari berbagai penjuru daerah, para tokoh masyarakat setempat, serta para masyaikh dari pesantren-pesantren tetangga di Jawa Timur. Ghazi tahu betul bahwa kesuksesan acara ini akan menjadi cerminan dari kualitas para santri akhir angkatan mereka. Setiap detail kecil, mulai dari susunan kursi undangan, tata suara, hingga konsumsi para tamu kehormatan, harus dipastikan berjalan tanpa cela. Tekanan psikologis ini kian bertambah karena Ghazi juga harus memikirkan ujian akhir lisannya sendiri yang dijadwalkan berlangsung tepat sehari sebelum hari-H wisuda akbar tersebut dilaksanakan.
Di tengah kesibukan tersebut, langkah kaki berwibawa terdengar mendekati area utama lapangan. Sosok sepuh dengan peci hitam bersarung putih tulang, mengenakan jubah abu-abu lembut dan membawa tongkat kayu jati, muncul dari balik pilar aula utama. Siapa lagi kalau bukan Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz. Sontak, Ghazi dan Farhan langsung menghentikan pembicaraan mereka, merapatkan posisi berdiri, lalu membungkuk takzim saat sang pengasuh pondok melintas di dekat mereka.
"Assalamu’alaikum, Ghazi, Farhan," ucap Kiai Mahmud dengan suara parau namun tetap terdengar tegas dan berwibawa.
"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Kiai," jawab Ghazi dan Farhan hampir bersamaan, mencium punggung tangan kiai sepuh itu secara bergantian dengan penuh takzim.
❖ ❖ ❖
Kiai Mahmud berhenti sejenak, mengedarkan pandangannya ke sekeliling lapangan yang dipenuhi dekorasi setengah jadi. Alis putihnya yang tebal sedikit berkerut, mengamati kerapian kabel-kabel sound system yang melintang di atas rumput. "Bagaimana persiapannya, Ghazi? Apakah ada kendala yang berarti sejauh ini?" tanya Kiai Mahmud sambil menatap tajam ke dalam mata Ghazi, seolah ingin membaca sejauh mana kesiapan mental sang ketua panitia.
"Alhamdulillah, Kiai, secara umum berjalan lancar. Struktur panggung utama sudah berdiri kokoh, dan para santri kelas sebelas juga sangat antusias membantu pekerjaan malam ini. Tinggal penyempurnaan dekorasi kain penutup dan gladi bersih besok pagi," jawab Ghazi dengan nada tenang namun tetap menunjukkan rasa hormat yang mendalam.
Kiai Mahmud mengangguk-angguk pelan, lalu mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai paving. "Ingat, Ghazi, acara wisuda ini bukan sekadar seremoni seremonial untuk memamerkan kelulusan kalian. Ini adalah wujud syukur kepada Allah SWT atas ilmu yang telah dititipkan di dada kalian selama di pesantren ini. Jaga niat kalian lillahi ta'ala. Jangan sampai kepanitiaan yang megah ini justru melalaikan persiapan batin kalian menghadapi ujian akhir," pesan Kiai Mahmud dengan intonasi yang sarat akan nasihat mendalam.
"Insya Allah, Kiai. Nasihat ini akan selalu kami pegang teguh," jawab Ghazi, meresapi setiap patah kata yang meluncur dari lisan sang kiai.
Setelah memberikan senyuman tipis yang menenangkan, Kiai Mahmud kembali melangkah menuju kediamannya di bagian dalem pesantren, ditemani oleh seorang santri pengawal setianya. Sepeninggal sang kiai, Ghazi dan Farhan saling berpandangan. Ada energi baru yang mengalir deras di dalam dada mereka setelah mendengar dawuh penuh hikmah barusan, mengusir rasa lelah yang sedari tadi merayap di persendian tubuh mereka.
Matahari pagi esok harinya menyingsing dengan anggun di atas langit Jombang, memancarkan bias keemasan yang menembus kabut tipis di atas kompleks pesantren Al Ikhlas. Suasana pagi terasa jauh lebih dinamis dibanding malam sebelumnya. Para santri berhamburan keluar dari asrama masing-masing menuju lapangan utama untuk mengikuti apel pagi sekaligus memulai rangkaian gladi bersih Wisuda Akbar. Di sinilah tujuan utama Ghazi diuji secara nyata. Sebagai pemimpin operasional lapangan, ia harus memastikan ribuan santri yang akan diwisuda dapat berbaris dengan tertib, memahami alur naik ke atas panggung, serta menguasai tata cara penerimaan ijazah tanpa membuat kebingungan massal. Ghazi berdiri di atas panggung darurat sambil memegang pengeras suara toa, memberikan instruksi dengan suara lantang namun tetap terukur.
"Perhatian untuk seluruh peserta wisuda kelompok putra! Mohon barisannya diluruskan sejajar dengan garis ubin putih di depan tenda utama. Ketika nama kalian dipanggil nanti, berjalanlah dengan tegap, pandangan lurus ke depan, dan lakukan gerakan salam takzim kepada Kiai Mahmud dengan santun!" seru Ghazi melalui pengeras suara, sementara Farhan bersama beberapa pengurus keamanan lainnya sibuk menata posisi barisan santri di bawah terik matahari pagi yang mulai menghangat.
Di tengah hiruk-pikuk gladi bersih tersebut, seorang santri junior bernama Zaidan datang berlari kecil menghampiri Ghazi di atas panggung dengan wajah tampak panik.
"Gus Ghazi! Mohon maaf mengganggu sebentar, ada masalah di bagian logistik konsumsi untuk para tamu undangan VIP!" lapor Zaidan dengan napas tersenggal-senggal.
Ghazi segera menurunkan toa-nya, menatap santri junior itu dengan kening berkerut. "Ada apa, Zaidan? Tenang dulu, katakan pelan-pelan."
"Itu... pesanan kotak kue tradisional dari toko langganan kita di pasar kota ternyata keliru jumlahnya. Mereka baru mengirim separuh dari total pesanan dua ratus kotak, dan katanya kurir mereka mengalami kendala ban bocor di tengah jalan," jelas Zaidan cemas.