Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #99

Pertemuan Keluarga Besar

Pukul empat sore lewat lima belas menit. Sore itu, cuaca di kawasan Pondok Pesantren Al Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, tampak begitu cerah setelah beberapa hari sebelumnya diguyur hujan deras dan angin kencang. Semburat cahaya matahari keemasan memantul lembut di atas pelataran marmer putih ndalem—kediaman resmi pengasuh utama pesantren—menghangatkan udara sejuk pegunungan yang berhembus sepoi-sepoi. Di teras ndalem yang luas dan asri, dikelilingi oleh pot-pot bunga melati serta pohon mangga arumanis yang rindang, sebuah meja kayu jati besar berukir khas Jepara telah ditata sedemikian rupa dengan berbagai hidangan kue tradisional Jawa, mulai dari klepon, nagasari, hingga wedang jahe hangat yang mengepulkan aroma rempah harum semerbak.

Suasana di sekitar teras sore itu terasa sangat istimewa, sakral, namun penuh dengan kehangatan kekeluargaan yang jarang sekali tersaji. Di salah satu sisi meja, duduklah Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz bersama istri beliau, Nyai Hajah Aminah, mengenakan busana muslim serba putih bersih yang memancarkan wibawa dan ketenangan jiwa. Berhadapan langsung dengan mereka, duduklah perwakilan keluarga besar Ghazi Al-Ghifari dari Sumatra—termasuk sang ibu tercinta yang mengenakan kerudung abu-abu lembut serta beberapa paman yang kini sudah melunak dan tersenyum ramah setelah badai sengketa hukum berhasil diselesaikan secara damai dan bermartabat berkat mediasi bijak sang kiai.

"Silakan dinikmati hidangan sederhana dari pondok kami, bapak-bapak dan ibu sekalian dari Sumatra," ucap Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz dengan suara bariton yang ramah, mempersilakan para tamu kehormatannya mencicipi wedang jahe di atas meja.

"Alhamdulillah, Kiai. Terima kasih banyak atas sambutan yang begitu luar biasa hangat ini," jawab paman Ghazi sambil tersenyum tulus, merapatkan kedua tangannya di dada sebagai bentuk takzim yang mendalam kepada sang pengasuh pesantren.

Ghazi sendiri duduk berdampingan erat dengan sahabat karibnya, Fathan dan Ghalib, beberapa langkah di sisi meja utama, menyaksikan langsung momen rekonsiliasi bersejarah yang mempertemukan darah daging keluarganya dengan keluarga besar Pondok Pesantren Al Ikhlas.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama dari pertemuan keluarga besar Ghazi dan keluarga Kiai Mahmud sore itu bukanlah sekadar merayakan selesainya urusan sengketa waris atau penandatanganan akta perdamaian di pengadilan, melainkan untuk merajut kembali silaturahmi yang sempat retak, sekaligus menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas asuhan, perlindungan, dan bimbingan moral yang telah diberikan oleh Kiai Mahmud kepada Ghazi selama bertahun-tahun di Jombang. Bagi sang ibu dan keluarga besar Ghazi dari Sumatra, tujuan kedatangan mereka ke ndalem adalah untuk menyerahkan secara resmi masa depan Ghazi kepada sang kiai, sekaligus memohon restu atas kelulusan gemilang pemuda itu dalam ujian Kutubussittah dan kitab besar.

"Kiai Mahmud, kedatangan kami sekeluarga kemari dengan tujuan yang bulat untuk bersimpuh dan memohon maaf atas segala keributan yang sempat terjadi di luar lingkungan pondok tempo hari," ucap ibunda Ghazi dengan suara bergetar menahan haru, menatap takzim ke arah pengasuh pesantren. "Sekaligus, kami ingin mengucapkan terima kasih yang tiada tara karena Kiai telah mendidik, membimbing, dan melindungi anak kami hingga ia menjadi pemuda yang berintegritas."

Kiai Mahmud tersenyum lembut, menggelengkan kepalanya pelan menanggapi ucapan penuh kerendahan hati tersebut. "Jangan berkata demikian, Ibu. Ghazi adalah anak kami juga di pondok ini. Selama ia berada di Al Ikhlas, ia telah menunjukkan kesabaran, kejernihan akal, dan akhlak yang luar biasa di hadapan para guru dan teman-temannya."

Ghazi, yang mendengarkan percakapan tersebut dari kursi sebelah, merasakan dadanya membuncah oleh rasa haru yang teramat sangat. Tujuan hidupnya kini terasa begitu sempurna: keluarga besarnya telah berdamai dengan damai yang sejati, dan restu dari gurunya telah menyatu dengan restu ibunda tercinta.

"Betul apa yang dikatakan Kiai, Bu," sahut Fathan berbisik pelan di samping Ghazi. "Perjuanganmu selama ini di pondok tidak sia-sia. Hari ini semuanya terbayar lunas dengan kehangatan dan kedamaian ini."

❖ ❖ ❖

Sambil menikmati hidangan wedang jahe hangat yang disajikan oleh para santri pengabdi ndalem, suasana perbincangan di teras beralaskan marmer putih itu berangsur-angsur bertransisi dari topik yang serius dan formal menuju obrolan santai penuh gelak tawa ringan khas kekeluargaan. Nyai Hajah Aminah membuka percakapan dengan menceritakan kenangan-kenangan lucu saat Ghazi pertama kali datang sebagai santri baru yang pemalu dan sering nyasar di kompleks asrama pondok bertahun-tahun silam.

"Dulu waktu pertama kali masuk ke Al Ikhlas ini, Ghazi sering sekali salah masuk kamar asrama santri senior saking gugupnya," kenang Nyai Hajah Aminah sambil tersenyum ramah ke arah ibunda Ghazi.

Sontak, suasana di teras ndalem pecah oleh tawa renyah dari seluruh anggota keluarga yang hadir. Paman Ghazi yang tadinya tampak kaku dan serius kini tertawa lepas, sementara Ghazi sendiri hanya bisa tersenyum simpul sambil menundukkan kepala karena merasa sedikit malu.

"Wah, pantas saja waktu itu Ghazi sering mengeluh di suratnya kalau ia harus beradaptasi ekstra keras dengan lingkungan Jombang, Nyai," balas ibunda Ghazi sambil tersenyum lebar, ikut hanyut dalam kehangatan suasana transisi sore itu.

Ghazi melirik sekilas ke arah Fathan dan Ghalib, yang juga ikut tersenyum lebar menikmati momen kekeluargaan yang begitu cair. Transisi emosional dari ketegangan sengketa hukum yang menegangkan beberapa waktu lalu menuju kedamaian penuh keakraban ini terasa bagaikan sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan di bumi Pesantren Al Ikhlas.

"Tapi dari situlah mental baja Ghazi terbentuk, Bu," tambah Kiai Mahmud dengan mata berbinar bijak. "Pesantren bukan hanya tempat menghafal kitab, tapi juga kawah candradimuka tempat menempa kesabaran dan kedewasaan jiwa."

Lihat selengkapnya