Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #102

Prosesi Lamaran Sesuai Syariat Islam

Matahari pagi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, memancarkan sinarnya yang hangat, menembus rimbunnya dedaunan pohon mahoni di kompleks Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Udara pedesaan terasa sejuk, membawa aroma khas tanah basah dan wangi dedaunan yang tersiram embun pagi. Suasana di sekitar ndalem kiai tampak begitu sibuk namun tetap memancarkan ketenangan batin yang khas. Hari itu, sebuah momentum istimewa yang sarat akan nilai-nilai sakral tengah dipersiapkan dengan cermat. Pondok pesantren yang diasuh langsung oleh Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz tersebut bersiap menyelenggarakan sebuah prosesi lamaran yang jauh dari kesan hura-hura, melainkan menjunjung tinggi kesederhanaan sesuai dengan tuntunan syariat Islam yang murni. Di teras depan ndalem, Ghazi Al-Ghifari berdiri mengenakan baju koko putih bersih, celana kain hitam longgar, serta peci beludru hitam yang membingkai wajahnya yang tampak tenang namun menyisakan sedikit debar di dadanya. Pemuda santri akhir itu menarik napas dalam-dalam, meresapi setiap detik waktu yang berjalan, menyadari bahwa hari ini babak baru dalam lembaran hidupnya akan segera dimulai. Di sampingnya, Farhan—sahabat karib sekaligus rekan setianya—tengah merapikan nampan sederhana berisi buah-buahan lokal dan sekotak kue tradisional buatan dapur umum pondok, tanpa ada hiasan pita berkilau yang berlebihan atau barang-barang seserahan mewah yang kerap diagungkan tradisi modern.

"Zay, apa kamu tidak gugup? Tamu dari pihak keluarga calon mempelai wanita sebentar lagi dikabarkan akan memasuki gerbang utama pesantren," bisik Farhan sambil merapikan letak nampan di atas meja kayu jati kuno.

Ghazi menoleh, tersenyum tipis untuk menutupi gemetar di jemarinya. "Gugup pasti ada, Han. Tapi yang lebih dominan di dadaku saat ini adalah rasa syukur dan tanggung jawab. Kita ingin memastikan prosesi ini berjalan sesuai sunnah, lurus, dan barokah."

"Baguslah kalau begitu. Kiai Mahmud tadi berpesan khusus padaku, beliau ingin acara ini murni menjadi teladan bagi seluruh santri bahwa melamar seorang wanita mulia itu tidak perlu menguras harta atau jatuh pada sifat tabdzir yang dibenci Allah," timpal Farhan mengingatkan.

Suasana di kompleks pesantren memang sengaja dibuat sesederhana mungkin. Tidak ada tenda megah berkarpet merah menyala, tidak ada suara musik orkes yang memekakkan telinga, dan tidak ada pameran barang-barang hantaran bernilai jutaan rupiah. Yang tampak hanyalah kerendahan hati, keikhlasan niat, serta kehangatan ukhuwah yang terpancar dari para pengurus dan santri senior yang membantu menyambut kedatangan rombongan tamu. Bagi Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz, tradisi lamaran di lingkungan pesantren harus menjadi benteng moral yang menentang arus materialisme zaman.

Tak lama kemudian, suara ketukan pintu gerbang ndalem terdengar berketukan sopan, disusul oleh ucapan salam yang menggema lembut di udara pagi. Ghazi dan Farhan langsung berdiri tegap, merapikan pakaian mereka, sementara dari arah ruang tamu dalam, Kiai Mahmud keluar dengan langkah tenang ditemani oleh beberapa orang ustadz sepuh dewan pengasuh. Momentum yang dinantikan itu akhirnya tiba, membawa serta gelombang emosi yang suci di dalam dada setiap orang yang menyaksikannya.

❖ ❖ ❖

Rombongan kecil keluarga calon mempelai wanita yang dipimpin oleh paman kandungnya—mengingat sang ayah telah berpulang ke rahmatullah—memasuki teras ndalem dengan langkah takzim. Mereka disambut langsung oleh Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz dengan senyuman ramah dan pelukan hangat penuh kekeluargaan. Di dalam lubuk hatinya, Ghazi Al-Ghifari telah menetapkan sebuah tujuan yang sangat jelas dan lurus: ia datang bukan untuk memamerkan status sosial, bukan pula untuk memenuhi standar gengsi duniawi yang kerap memberatkan langkah generasi muda dalam membina rumah tangga, melainkan semata-mata untuk meminang seorang gadis shalihah dengan cara yang diridhai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Bagi Ghazi, prosesi lamaran ini adalah wujud nyata pengamalan sunnah yang menekankan kemudahan dan keberkahan. Ia tidak ingin terjebak dalam lingkaran setan bernama tabdzir—pemborosan harta yang sia-sia—hanya demi memenuhi tuntutan adat istiadat yang memberatkan. Niat suci itu telah ia konsultasikan jauh-jauh hari kepada Kiai Mahmud, dan sang kiai sepuh menyambutnya dengan air mata haru serta restu yang luar biasa besar.

"Silakan duduk, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Mari kita letakkan niat pertemuan kita pagi ini semata-mata mencari ridha Allah SWT," ucap Kiai Mahmud dengan suara baritonnya yang tenang dan berwibawa, mempersilakan rombongan tamu duduk bersila di atas permadani tebal ruang tamu ndalem.

Paman calon mempelai wanita, seorang pria paruh baya bersarung hijau tua dan berkoko putih bernama Haji Manshur, mengangguk takzim sambil merangkapkan kedua tangannya di dada. "Alhamdulillah, Kiai. Kami sekeluarga sangat bersyukur bisa hadir di Pondok Pesantren Al-Ikhlas ini. Kedatangan kami kemari, seperti yang telah kita bicarakan melalui surat pengantar sebelumnya, adalah untuk memenuhi niat baik Ananda Ghazi Al-Ghifari yang ingin meminang keponakan kami, Salma."

Ghazi yang duduk di sudut ruangan di samping Farhan menundukkan pandangannya, merapalkan doa di dalam hati agar niat sucinya dimudahkan. Ia tahu persis bahwa tujuan utama dari pernikahan dalam pandangan Islam bukanlah kemegahan resepsi atau banyaknya jumlah hantaran, melainkan terbentuknya sebuah keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah yang menjadi sarana beribadah kepada Sang Pencipta.

"Alhamdulillah, kami dari pihak keluarga besar pesantren menyambut baik niat mulia Ananda Ghazi," lanjut Kiai Mahmud menanggapi dengan senyuman teduh. "Dan yang paling membuat saya bangga, Ghazi dan keluarga telah sepakat untuk melaksanakan prosesi khitbah ini secara sederhana, tanpa ada unsur tabdzir, tanpa pemborosan yang tidak ada tuntunannya dalam agama. Mahar dan hantaran yang dibawa murni sekadar simbol kecukupan dan kesungguhan, bukan ajang pamer kekayaan."

Haji Manshur tersenyum lebar mendengar penuturan sang kiai. "Itu pula yang menjadi prinsip keluarga kami, Kiai. Kami tidak menuntut mahar yang memberatkan, karena kami percaya bahwa keberkahan pernikahan itu terletak pada kemudahan dan kesederhanaannya."

Tujuan luhur yang disepakati oleh kedua belah pihak keluarga tersebut menciptakan suasana pertemuan yang sangat cair, penuh kekeluargaan, dan jauh dari rasa canggung. Tidak ada tawar-menawar harta yang melelahkan, tidak ada perdebatan gengsi keluarga, yang ada hanyalah musyawarah penuh berkah untuk menyatukan dua jiwa dalam ikatan suci pernikahan.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam ruang tamu ndalem perlahan-lahan beralih dari sesi perbincangan formal menuju momen inti penyerahan tanda ikatan pinangan. Transisi ritme acara tersebut dipimpin langsung oleh Ustadz Zarkasi yang bertindak sebagai juru bicara pihak pesantren.

"Baiklah, para sesepuh dan keluarga yang kami hormati. Mengingat niat dan tujuan silaturahim serta khitbah ini telah disepakati bersama dengan penuh kemudahan dan kesederhanaan, mari kita lanjutkan ke sesi penyerahan cinderamata atau tanda ikatan sederhana dari Ananda Ghazi kepada pihak keluarga calon mempelai wanita," ujar Ustadz Zarkasi dengan nada santun.

Ghazi menarik napas perlahan, lalu melangkah ke depan dengan membawa sebuah nampan kayu sederhana yang di atasnya hanya diletakkan sebuah Al-Qur'an terjemahan edisi khusus berukuran sedang serta seperangkat alat shalat bernuansa putih bersih, tanpa hiasan bunga plastik warna-warni atau kotak kaca berlapis emas yang biasa menghiasi hantaran modern zaman sekarang. Di hadapan Haji Manshur, Ghazi berlutut takzim, merendahkan diri sebagai bentuk penghormatan kepada paman calon istrinya tersebut.

"Paman Manshur... Bismillah, dengan mengharap ridha Allah SWT, saya serahkan tanda ikatan sederhana ini sebagai wujud kesungguhan hati saya untuk meminang Salma," ucap Ghazi dengan suara yang tenang, jelas, dan bergetar halus menahan rasa haru.

Haji Manshur menerima nampan sederhana itu dengan senyuman yang merekah lebar. Ia menepuk pundak Ghazi pelan penuh kasih sayang. "Saya terima pinangan ini, Nak Ghazi. Semoga Allah SWT memberkahi niat baikmu, meneguhkan langkahmu, dan menjadikanmu imam yang amanah bagi keponakan saya."

Transisi fisik dari perbincangan lisan menuju penyerahan simbolik yang sarat makna itu berlangsung begitu khidmat. Tidak ada kemewahan yang mencolok mata, namun justru kesederhanaan yang sangat kentara itulah yang memancarkan aura kewibawaan dan kesucian syariat Islam yang sesungguhnya. Para santri yang menyaksikan dari balik pintu kaca ndalem tampak terharu menyaksikan pemandangan tersebut. Bagi mereka, apa yang dilakukan Ghazi adalah sebuah teladan hidup bahwa pernikahan yang barokah tidak harus dibangun di atas fondasi pemborosan harta.

Di sisi ruangan yang lain, Farhan membisiki pelan telinga Ustadz Zarkasi mengenai kesiapan hidangan penutup sederhana untuk para tamu. "Ustadz, teh hangat dan jajan pasar buatan dapur umum sudah siap disajikan di meja tengah."

Ustadz Zarkasi mengangguk pelan. "Alhamdulillah, silakan dihidangkan, Farhan. Ingat pesan Kiai Mahmud, suguhan tamu tidak perlu berlebihan, yang penting halal, bersih, dan menyejukkan hati."

Transisi konsumsi dan jamuan pun berjalan mulus tanpa ada kesan mubazir. Piring-piring kecil berisi lemper, ketan hitam, dan pisang rebus tersaji rapi di atas meja kayu, disantap oleh para tamu dengan penuh nikmat diiringi perbincangan ringan seputar rencana akad nikah yang akan dilangsungkan seusai ujian akhir santri bulan depan. Transisi kelancaran acara ini menunjukkan betapa matangnya koordinasi para santri pengurus dalam menyukseskan hajat besar pimpinan mereka tanpa melenceng sedikit pun dari prinsip kesederhanaan syar'i.

❖ ❖ ❖

Namun, di tengah jalannya prosesi lamaran yang berjalan khidmat dan penuh kesederhanaan tersebut, sebuah rintangan tak terduga mendadak muncul dari luar lingkungan ndalem pondok. Menjelang waktu dzuhur, ketika sesi musyawarah tanggal akad nikah hampir mencapai kata sepakat, suara deru kendaraan bermotor berkaliber besar tiba-tiba menderu masuk ke halaman utama pesantren, mengusik ketenangan suasana ndalem.

Beberapa saat kemudian, seorang santri pengurus keamanan bernama Malik datang tergesa-gesa menghadap ke teras ndalem dengan wajah tampak cemas dan napas sedikit tersenggal. Ia mengetuk pintu perlahan lalu membisikkan sesuatu kepada Ustadz Zarkasi yang sedang duduk di dekat pintu masuk.

Ustadz Zarkasi mengerutkan keningnya, mendengarkan laporan Malik dengan ekspresi wajah yang mendadak serius. Ia kemudian meminta izin sejenak kepada Kiai Mahmud dan Haji Manshur untuk menyampaikan informasi penting tersebut secara hati-hati.

"Mohon maaf, Kiai, Paman Manshur, serta Ananda Ghazi... Ada tamu tak diundang di gerbang utama pesantren. Rombongan dari kerabat jauh pihak keluarga besar mendiang ayah Salma datang secara mendadak dengan membawa serta beberapa mobil mewah," lapor Ustadz Zarkasi dengan nada suara tertahan.

Lihat selengkapnya