
Refleksi Perjalanan: Mengingat Kembali Hari Pertama Ghazi Datang sebagai Anak Manja Kota.
Pukul 22.15 WIB, Rabu malam awal Oktober 2026, suasana di komplek Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, terbalut dalam keheningan malam yang syahdu dan menenangkan. Lampu-lampu penerangan koridor asrama santri memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menerpa lantai keramik bersih yang memantulkan bayangan pilar-pilar kokoh bangunan pesantren. Udara malam pegunungan berhembus sejuk, membawa aroma dedaungan basah dari taman ndalem serta samar-samar suara detak jam dinding antik yang berpadu dengan dengung lembut kipas angin dari kamar pengurus.
Di serambi kamar pribadinya yang terletak di lantai dua gedung asrama santri senior, Ghazi Al-Ghifari duduk seorang diri di atas kursi kayu jati berpelapis busa tipis. Mengenakan sarung tenun berwarna hijau tua dan baju koko putih lengan panjang yang digulung sebatas siku, Ghazi memegang sebuah cangkir keramik berisi teh jahe hangat yang mengepulkan uap tipis. Matanya menatap lurus ke arah halaman tengah pesantren yang luas dan gelap, tempat di mana deretan pohon mahoni tua berdiri tegak bagaikan raksasa malam yang setia menjaga ketenangan para santri yang sudah terlelap dalam tidur pulas mereka.
"Belum tidur, Ghazi?" suara bariton yang ramah tiba-tiba memecah keheningan malam, disusul langkah kaki tenang dari Ustadz Zaid, pembimbing senior asrama yang mengenakan kopiah hitam dan jaket kain tebal.
Ghazi segera menoleh, tersenyum santun sambil sedikit membungkukkan badan. "Belum, Ustadz. Udara malam ini begitu tenang, membuat mata saya sulit terpejam dan justru membawa pikiran saya melayang jauh mengenang masa lalu."
Ustadz Zaid melangkah mendekat, lalu ikut duduk di kursi kayu di samping Ghazi. "Mengenang masa-masa awal kedatanganmu kemari, ya? Waktu yang berlalu begitu cepat, mengubah seorang anak muda yang penuh keraguan menjadi sosok yang kini siap berdiri di atas kakinya sendiri."
Pernyataan itu seolah membuka gerbang ingatan Ghazi untuk memutar kembali kaset perjalanan hidupnya. Di bawah pendar cahaya lampu malam Jombang, malam itu menjadi momen paling tepat bagi Ghazi untuk merenungkan kembali metamorfosis luar biasa yang telah terjadi pada dirinya sejak hari pertama ia menjejakkan kaki di tanah pesantren ini.
❖ ❖ ❖
Tujuan Ghazi terjaga hingga larut malam bukan sekadar menikmati sunyinya udara Jombang atau menghabiskan secangkir teh jahe, melainkan untuk melakukan sebuah muhasabah atau refleksi batin yang mendalam. Ia ingin merangkkai kembali kepingan-kepingan memori perjalanan hidupnya, menghitung setiap tetes air mata, keringat, dan bimbingan yang telah membentuknya menjadi manusia baru sebelum ia benar-benar melangkah keluar menyelesaikan babak akhir pendidikannya di Al-Ikhlas.
"Jujur, Ustadz," ucap Ghazi pelan sambil menatap lekat permukaan air teh di dalam cangkirnya. "Terkadang kalau saya ingat-ingat lagi hari pertama saya datang ke pesantren ini beberapa tahun lalu, saya merasa seperti sedang melihat orang lain. Sosok Ghazi yang dulu sama sekali tidak mirip dengan saya yang duduk di sini hari ini."
Ustadz Zaid tersenyum hangat, melipat kedua tangannya di atas pangkuan. "Manusia memang makhluk yang selalu berproses, Ghazi. Allah SWT sengaja menuntun langkahmu melalui tangan Kiai Mahmud dan orang tuamu agar kamu bisa menemukan jati diri yang sebenarnya. Apa yang paling lekat di ingatanmu ketika pertama kali menginjakkan kaki di gerbang pesantren ini?"
"Hari pertama itu..." bisik Ghazi, menerawang jauh ke masa lalu. "Saya datang bukan atas kemauan sendiri, melainkan karena diseret oleh rasa malu, amarah, dan ketakutan akibat kenakalan masa remaja di Palembang. Saya adalah anak manja kota yang terbiasa hidup dikelilingi kemudahan fasilitas orang tua, tidak pernah mau diatur, dan selalu membentak setiap kali dinasehati."
Tujuan refleksi malam itu bagi Ghazi adalah merendahkan hati serendah-rendahnya di hadapan Allah SWT. Ia ingin memastikan bahwa rasa syukur atas segala pencapaian akademiknya—mulai dari keberhasilan sidang bahtsul masail hingga restu lamaran dengan Varisha—tidak sedikit pun menumbuhkan kesombongan di dalam hatinya. Ia ingin mengingat betapa rapuhnya ia di masa lalu, agar ia senantiasa berpijak di bumi dengan penuh ketawadluan.
❖ ❖ ❖
Suasana malam semakin larut, angin lembah berhembus sedikit lebih kencang, menggoyangkan dedaunan pohon mahoni di halaman pesantren dan menghasilkan suara desiran lembut yang menenangkan. Ustadz Zaid menarik napas dalam-dalam, membiarkan keheningan meresap sejenak sebelum ia membawa alur percakapan mereka menuju transisi batin yang lebih filosofis.
"Perubahan besar tidak pernah terjadi dalam semalam, Ghazi," kata Ustadz Zaid dengan nada suara yang penuh wibawa namun sangat meneduhkan. "Masa lalumu di Palembang, dengan segala luka, kesalahan, dan hampir celakanya kamu terseret hukum, adalah kawah candradimuka yang sengaja diizinkan Allah terjadi agar hatimu hancur berkeping-keping terlebih dahulu. Hanya dari hati yang hancur, cahaya hidayah bisa masuk dengan sempurna."
Ghazi mengangguk pelan, merasakan kebenaran mutlak dari setiap patah kata yang diucapkan oleh gurunya itu. "Benar sekali, Ustadz. Dulu saya mengira aturan-aturan ketat di pesantren ini adalah bentuk kekangan yang menyiksa kebebasan saya. Saya benci pada jam wajib bangun malam, saya benci pada jadwal setoran hafalan yang padat, dan saya benci pada teguran-teguran keras para ustadz."
"Lalu kapan titik di mana kebencian itu berubah menjadi kecintaan?" tanya Ustadz Zaid penasaran, menatap lekat mata Ghazi.