Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #109

Momen Perpisahan yang Haru

Momen Perpisahan yang Haru dengan Daffa, Fathan, Ghalib, Kamil, Fardhan, dan Yafiq

Pukul setengah dua belas malam. Udara malam di kawasan Pondok Pesantren Al Ikhlas, Jombang, Jawa Timur, merayap dingin menusuk tulang, membawa serta aroma khas daun mahoni yang basah oleh embun larut malam serta wangi kayu gaharu yang dibakar lembut di serambi masjid utama. Di bawah temaram lampu pilar berornamen klasik Jawa, kompleks asrama santri senior tampak begitu sunyi dan lengang. Sebagian besar bilik kamar santri sudah gelap gulita, menyisakan keheningan malam yang khusyuk setelah seharian penuh dipadati oleh riuh rendah aktivitas pengajian kilat dan persiapan keberangkatan penting.

Namun, di kamar asrama nomor tujuh belas yang berada di sudut lorong lantai dua, suasana justru jauh dari kata tidur. Lampu neon putih terang masih menyala benderang, memancarkan bias cahaya ke luar jendela kayu yang dibiarkan terbuka lebar. Di dalam kamar berukuran tiga setengah kali empat meter itu, enam orang pemuda santri senior—Daffa, Fathan, Ghalib, Kamil, Fardhan, dan Yafiq—tampak duduk melingkar di atas lantai karpet hijau usang. Di tengah-tengah lingkaran mereka, sebuah koper besar berwarna hitam legam terbuka lebar, dipenuhi tumpukan kitab kuning bersampul tebal, beberapa helai pakaian koko putih, serta selembar selendang batik sutra kenang-kenangan.

Ghazi Al-Ghifari berdiri tegap di samping meja belajar kayunya yang penuh coretan catatan bahtsul masail, merapikan tumpukan terakhir lembaran naskah risalah ilmiah yang akan ia bawa serta dalam penerbangan malam menuju Kairo, Mesir.

"Apakah semua perlengkapan kitab rujukan untuk forum internasional di Kairo sudah kamu masukkan ke dalam koper, Ghazi?" tanya Daffa dengan suara berat, memecah kesunyian malam sambil menatap sedih ke arah sahabat karibnya itu.

Ghazi menoleh perlahan, menghentikan gerakannya sejenak lalu tersenyum tipis menatap wajah sahabat-sahabat setianya. "Sudah lengkap, Daffa. Semua kitab babon ushul fiqih dan catatan perbandingan mazhab yang kita diskusikan bersama selama bertahun-tahun di pondok ini sudah aman di dalam koper."

Fardhan menghela napas panjang, melipat tangan di dadanya dengan ekspresi wajah yang tampak menyiratkan beban kehilangan yang mendalam. "Rasanya masih seperti mimpi, Ghazi. Baru kemarin kita begadang semalaman suntuk di serambi masjid demi menyelesaikan bab muamalah kitab Fath al-Mu'in, malam ini kamu justru harus terbang jauh meninggalkan Jombang."

"Waktu berjalan begitu cepat ketika kita menjalaninya dengan ketulusan ilmu, Fardhan," timpal Yafiq pelan, menepuk lembut bahu koper Ghazi. "Dan kamu adalah saksi hidup bagaimana perjuangan seorang santri dusun bisa menembus panggung dunia internasional."

❖ ❖ ❖

Tujuan utama dari pertemuan malam terakhir di kamar asrama nomor tujuh belas itu bukanlah sekadar basa-basi melepas kepergian seorang rekan seperjuangan menuju bandara, melainkan untuk meneguhkan ikatan ukhuwah islamiyah yang telah mereka jalin selama bertahun-tahun di bawah naungan Pondok Pesantren Al Ikhlas. Ghazi bersama Daffa, Fathan, Ghalib, Kamil, Fardhan, dan Yafiq ingin memanfaatkan detik-detik terakhir sebelum azan subuh berkumandang untuk saling berpesan dalam kebaikan, memperbaharui janji setia persahabatan, serta memohon doa restu agar perjalanan dakwah Ghazi di Kairo senantiasa dilindungi oleh Allah SWT. Bagi keenam sahabat setianya, tujuan malam itu adalah memastikan bahwa perpisahan fisik ini tidak akan pernah memutuskan tali silaturahmi hati yang telah diikat di atas majelis ilmu Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz.

"Teman-teman sekalian," ucap Ghazi dengan suara yang bergetar tertahan, memandang satu per satu wajah sahabat karibnya yang duduk melingkar. "Tujuan saya mengumpulkan kalian malam ini di kamar sempit ini bukan untuk meratapi perpisahan, melainkan untuk meluruskan niat bahwa apa pun yang kita raih di masa depan harus kembali untuk kemaslahatan umat di bumi pertiwi."

Ghalib mengangguk mantap, sorot matanya menyiratkan keteguhan tekad yang sama. "Kamu benar, Ghazi. Kepergianmu ke Kairo adalah perwakilan dari kita semua, perwakilan dari santri-santri Jombang yang ingin membuktikan bahwa tradisi intelektual pesantren salaf mampu berbicara di kancah global."

"Kami tidak akan pernah melupakan setiap cangkir kopi pahit yang kita seduh bersama saat malam jengkel ujian hafalan Kutubussittah," tambah Kamil sambil tersenyum hangat, mencoba mencairkan ketegangan emosional di dalam ruangan. "Itu adalah memori terindah yang membentuk siapa kita hari ini."

Fathan merapatkan posisi duduknya, menatap lekat-lekat mata Ghazi. "Tujuan kita malam ini adalah saling menguatkan. Kamu akan menghadapi dunia luar yang jauh lebih luas dan kompetitif di Mesir, Ghazi. Jangan pernah lupakan akar keikhlasan yang ditanamkan Kiai Mahmud di pesantren ini."

Ghazi tersenyum haru, meresapi setiap kata yang meluncur dari mulut sahabat-sahabat terdekatnya itu, menyadari bahwa harta paling berharga selama ia nyantri di Jombang bukanlah ijazah atau predikat mumtaz, melainkan persaudaraan tulus tanpa batas dari mereka.

❖ ❖ ❖

Jarum jam di dinding kayu kamar asrama menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh lima menit malam. Suasana perbincangan di antara ketujuh pemuda santri itu berangsur-angsur bertransisi dari obrolan serius penuh semangat idealisme menuju momen-momen nostalgia personal yang menyentuh hati. Yafiq mengambil sebuah buku catatan harian tua berisi kumpulan bait-bait nadhom Alfiyah Ibnu Malik yang dulu sering mereka hafalkan bersama di bawah lampu taman pesantren, lalu membacakannya dengan nada melantun pelan khas santri.

"Masih ingatkah kalian saat kita bertaruh siapa yang paling cepat menghafal seribu bait Alfiyah tanpa keliru satu huruf pun?" kenang Yafiq sambil tertawa kecil, melirik ke arah Fardhan dan Daffa.

Sontak, tawa renyah berderai memenuhi sudut-sudut kamar asrama yang sempit itu. Ketegangan dan rasa sedih menjelang perpisahan sejenak mencair, digantikan oleh kehangatan kenangan masa-masa sulit penuh canda tawa di pondok.

"Wah, kalau soal itu, Fardhan juaranya karena dia hampir setiap malam ketiduran di atas kitab sambil memegang bulpen," kelakar Ghalib, menunjuk ke arah Fardhan yang langsung memasang wajah pura-pura cemberut.

Lihat selengkapnya