Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #114

Sah! Air Mata Syukur Haji Akbar

Pukul delapan lewat sepuluh menit pagi. Mentari pagi di pertengahan bulan musim kemarau menyinari pelataran utama Pondok Pesantren Al Ikhlas di Jombang, Jawa Timur, dengan pijar keemasan yang menghangatkan setiap sudut kompleks pesantren yang asri. Udara pagi yang segar berpadu sempurna dengan aroma wangi kayu gaharu dan harum daun pandan segar yang sengaja ditaburkan di sepanjang selasar aula utama. Di bawah naungan pohon-pohon mahoni tua yang rindang, ratusan santri berbusana serba putih tampak duduk rapi bersila di atas tikar pandan membentang, menciptakan suasana khidmat yang sarat akan nuansa tradisi pesantren salaf.

Di teras ndalem yang megah berarsitektur klasik Jawa, Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz duduk bersila di atas kursi ukir jati berpelapis Bludru hijau tua, mengenakan jubah putih bersih dengan sorban melilit rapi di kepalanya. Di hadapannya, meja akad nikah berhiaskan ukiran Jepara nan indah telah tertata dengan seperangkat alat salat dan kotak cincin perak berbalut kain beludru merah. Ghazi Al-Ghifari, pemuda berwajah tenang dengan kemeja koko putih tulang dan selendang batik sutra tersampir di bahunya, duduk berdampingan dengan sang paman yang bertindak sebagai wali nikah. Suasana pagi itu dipenuhi oleh debar jantung kebahagiaan yang dirasakan oleh seluruh warga pondok serta keluarga besar yang hadir dari berbagai penjuru daerah.

"Subhanallah, cuaca hari ini benar-benar mendukung kelancaran hari bahagia ananda Ghazi," bisik Fathan kepada Ghalib yang berdiri sigap di samping meja panitia.

Ghalib mengangguk takzim, matanya tak lepas memandangi barisan kursi tamu agung di sebelah kiri meja akad. "Iya, Fathan. Lihatlah, keluarga besar dari Sumatra dan para kiai sepuh dari berbagai pesantren di Jawa Timur sudah hadir lengkap. Ini adalah pemandangan ukhuwah yang paling menyentuh hati."

Di barisan kursi tamu kehormatan, ibunda Ghazi tampak duduk tenang diapit oleh Nyai Hajah Aminah dan kerabat wanita lainnya. Wajah sang ibu tampak berbinar, memancarkan guratan kelegaan yang luar biasa setelah bertahun-tahun melewati badai kehidupan yang berat di tanah rantau.

Ghazi menarik napas dalam-dalam, meresapi setiap detik waktu yang berdetak di pesantren tersebut, menyadari bahwa hari itu adalah kulminasi dari seluruh doa, keringat, dan air mata yang ia tumpahkan selama bertahun-tahun menimba ilmu di bawah bimbingan Kiai Mahmud.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama dari seluruh rangkaian prosesi agung di Pondok Pesantren Al Ikhlas hari itu bukanlah sekadar merayakan sebuah pernikahan formal, melainkan menyempurnakan ikatan suci di atas fondasi ilmu, iman, dan restu para ulama sepuh. Ghazi Al-Ghifari memegang teguh niat suci bahwa momen akad nikah tersebut harus menjadi bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah SWT, sekaligus wujud bakti nyata untuk membahagiakan ibunda tercinta dan menyatukan kembali tali silaturahmi keluarga besar yang sempat merenggang. Di bawah arahan langsung Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz, tujuan besar Ghazi adalah melafalkan ijab kabul dengan lancar, penuh keyakinan jiwa, serta disaksikan oleh orang-orang terkasih yang tulus mendoakannya.

"Tujuan kita hari ini bukan mencari kemegahan seremonial belaka, kawan-kawan," ucap Ghazi lirih kepada Daffa dan Fardhan yang berdiri mendampinginya di barisan belakang meja akad. "Kiai Mahmud berpesan agar akad ini menjadi majelis berkah yang menyatukan hati dua keluarga dalam ridha Ilahi."

Daffa mengangguk penuh dukungan, menepuk pelan pundak sahabat karibnya itu. "Kami tahu persis niat tulusmu, Ghazi. Kamu telah melewati ujian hidup yang begitu panjang di pesantren ini, dan hari ini adalah buah manis dari kesabaranmu."

"Fokuslah pada setiap kata ijab yang akan kamu ucapkan nanti," tambah Fardhan dengan nada penuh semangat. "Seluruh doa para santri dan kiai di Jombang ini menyertai setiap tarikan napasmu."

Bagi Ghazi, tujuan mulia tersebut memberikan kekuatan batin yang luar biasa, melenyapkan segala rasa gugup yang sempat merayap di dadanya, dan menggantikannya dengan ketenangan jiwa yang terpancar jelas dari sorot matanya yang jernih.

❖ ❖ ❖

Menjelang pukul sembilan lewat lima belas menit pagi, suasana di kompleks Pondok Pesantren Al Ikhlas berangsur-angsur bertransisi dari kesibukan persiapan teknis menuju keheningan sakral detik-detik dimulainya akad nikah. Penghulu dari Kantor Urusan Agama Kecamatan setempat membuka Kitab Nikah di atas meja, memeriksa berkas-berkas administratif dengan teliti, lalu memberikan isyarat kepada Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz bahwa seluruh syarat sah pernikahan telah terpenuhi secara hukum agama maupun negara. Transisi suasana pagi itu terasa begitu anggun; suara gemerisik daun mahoni yang tertiup angin sepoi-sepoi berpadu dengan alunan salawat Nabi yang dilantunkan secara pelan oleh para santri di serambi masjid.

Nyai Hajah Aminah memberikan senyuman menenangkan kepada ibunda Ghazi yang duduk di barisan depan, menyalurkan energi positif untuk meredakan ketegangan emosional kaum hawa yang menyaksikan momen bersejarah tersebut.

"Mari kita mulai prosesi ijab kabul dengan membaca Basmalah bersama-sama," tutur penghulu dengan suara tenang dan berwibawa, memecah keheningan yang menyelimuti seluruh ruangan aula.

Ghazi menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah meja kayu jati tempat wali nikah bersiap menjabat tangannya. Transisi visual dari hiruk-pikuk persiapan pagi hari menuju kesunyian khusyuk ruang akad menciptakan atmosfer spiritual yang begitu mendalam di dalam hati setiap orang yang hadir.

Lihat selengkapnya