Membuka Majelis Taklim Baru di Palembang dengan Berbekal Ilmu Pesantren
Pukul empat sore lewat lima belas menit. Mentari sore di pertengahan musim kemarau menyiramkan bias cahaya jingga keemasan di atas permukaan Sungai Musi yang tenang, memantulkan siluet megah Jembatan Ampera yang berdiri kokoh sebagai ikon kebanggaan kota Palembang, Sumatra Selatan. Di salah satu sudut kawasan Seberang Ulu yang padat penduduk namun sarat akan nuansa religius, sebuah bangunan surau tua berarsitektur panggung kayu ulin tampak berdiri megah di bawah naungan pohon-pohon mangga yang rindang. Suasana sore itu terasa begitu hidup; suara anak-anak kecil melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan nada tartil dari teras surau berpadu harmonis dengan deru perahu ketek yang melintas di aliran sungai di kejauhan.
Di halaman surau yang bersih dari sampah, Ghazi Al-Ghifari—pemuda berwajah teduh dengan kemeja koko putih polos, celana kain hitam, dan peci hitam beludru—tampak berdiri sambil merapikan tumpukan kitab kuning dan papan nama kayu bertuliskan "Majelis Taklim Al-Ikhlas Seberang Ulu". Di sampingnya, dua pemuda setempat bernama Ilham dan Zulfikar tampak sigap membantu menyusun puluhan tikar pandan dan lampu penerangan minyak tradisional untuk persiapan pengajian perdana selepas salat magrib nanti.
"Luar biasa antusiasme warga sore ini, Ghazi," puji Ilham sambil menyeka peluh di dahinya dengan handuk kecil, menatap ke arah jalan setapak kampung yang mulai dipadati warga. "Baru tiga hari kamu tiba di Palembang setelah menyelesaikan misi dari Jombang dan Kairo, majelis taklim ini langsung ramai dibicarakan orang."
Ghazi tersenyum ramah, meletakkan kitab Fath al-Mu'in di atas meja mimbar kayu jati. "Ini semua bukan karena saya, Ilham, melainkan karena kerinduan masyarakat Palembang terhadap majelis ilmu yang menghidupkan kembali tradisi salaf dan kajian mendalam seperti yang diajarkan di Pesantren Al Ikhlas."
Zulfikar yang baru saja membawakan kendi air kendi tanah liat ikut menimpali dengan nada kagum. "Kami benar-benar bersyukur Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz memberikan restu dan mengutusmu pulang ke tanah kelahiran untuk membimbing kami di sini."
❖ ❖ ❖
Tujuan utama dari pendirian Majelis Taklim Al-Ikhlas di Palembang sore itu bukanlah sekadar mendirikan sebuah lembaga pengajian seremonial yang megah, melainkan mengamalkan sanad keilmuan pesantren Jombang secara nyata di tengah masyarakat urban Sumatra. Ghazi Al-Ghifari memegang teguh amanah besar dari Kiai Haji Mahmud Al-Quthuz bahwa setiap tetes ilmu yang diperoleh di pondok harus disebarkan dengan penuh keikhlasan, merangkul berbagai kalangan—dari pemuda kampung hingga para sesepuh—untuk memahami akidah dan fiqih sehari-hari dengan benar. Di bawah bimbingan batin sang kiai sepuh, Ghazi ingin menjadikan majelis taklim tersebut sebagai pusat pencerahan spiritual yang merekatkan ukhuwah islamiyah di tanah kelahirannya.
"Tujuan kita malam ini bukan mencari popularitas majelis, kawan-kawan," tegas Ghazi di hadapan Ilham dan Zulfikar saat mereka memeriksa kesiapan tempat duduk jamaah. "Kiai Mahmud berpesan agar setiap majelis ilmu yang kita buka murni diniatkan untuk menghidupkan hati manusia dengan zikir dan pemahaman agama yang lurus."
Ilham mengangguk paham, mencatat daftar materi bab thaharah dan salat yang akan disampaikan Ghazi malam nanti di atas papan tulis hitam kecil. "Tenang saja, Ghazi. Tokoh-tokoh masyarakat dan para pemuka agama setempat sudah saya temui secara langsung, dan mereka sangat mendukung penuh kehadiran majelis ini."
"Bagus sekali," lanjut Ghazi dengan napas lega. "Bagi saya, melihat para pemuda kampung kembali bersemangat mendatangi surau setelah salat magrib adalah pencapaian terbesar dari misi kepulangan saya ke Palembang."
Zulfikar menepuk pelan bahu Ghazi dengan penuh rasa takzim. "Kamu tenang saja, urusan konsumsi alakadarnya dan penyambutan para sesepuh kampung sudah dipegang oleh para pemuda karang taruna surau."
Tujuan besar yang berlandaskan niat suci itu memberikan ketenangan batin yang luar biasa bagi Ghazi, mengubah rasa lelah perjalanan panjang antar-pulau menjadi energi positif yang menyejukkan seluruh rongga dadanya.
❖ ❖ ❖
Menjelang waktu magrib tiba, suasana di sekitar Surau Al-Ikhlas Seberang Ulu berangsur-angsur bertransisi dari kesibukan persiapan fisik sore hari menuju kekhusyukan ritual ibadah salat berjemaah. Suara azan magrib berkumandang merdu dari menara surau, memecah keheningan senja di atas aliran Sungai Musi dan memanggil ratusan warga kampung yang berbondong-bondong mengenakan sarung serta peci hitam untuk melangkah menuju surau. Di dalam ruang utama surau yang berlantai kayu ulin tua, lampu-lampu gantung antik mulai memancarkan cahaya kekuningan yang hangat, menerangi tumpukan kitab kuning yang tertata rapi di dekat mimbar penceramah.
Para sesepuh kampung dan tokoh agama setempat tampak duduk bersila di barisan saf pertama, menyambut kedatangan Ghazi dengan senyuman hangat penuh penghormatan atas sanad keilmuan yang dibawanya langsung dari tanah Jombang. Transisi suasana senja itu terasa begitu agung, memancarkan aura keimanan dan kehangatan kekeluargaan yang meruntuhkan segala keraguan awal sebagian warga terhadap anak muda perantauan tersebut.
"Mari silakan, Nak Ghazi, waktu magrib sudah masuk," tutur Haji Mahmudin, salah satu sesepuh kampung, sambil menyerahkan kendi air wudu dengan senyum tulus.
Ghazi merapatkan kedua tangannya di dada sambil menunduk takzim, air muka penuh rasa syukur terukir jelas di wajahnya. "Alhamdulillah, Wak. Terima kasih atas sambutan yang begitu mulia ini. Mari kita dirikan salat berjemaah."