Tak terasa sudah hampir lima bulan wabah Covid 19 atau wabah Corona ini merajarela di seantero jagat raya ini, dan selama lima bulan pula aku menjadi pengangguran karena terkena imbas PHK wabah Covid 19 ini. Beruntung sekali aku masih mempunyai tabungan dari hasil jerih payahku bekerja selama ini, miris memang kalau melihat keadaanku saat ini, tetapi setidaknya masih cukup untuk membiayai kebutuhanku dan orang tuaku sehari hari sampai aku mendapatkan pekerjaan baru kembali. Hatiku tampak bergulat ragu dalam hati, namun ibuku selalu dapat menasehati aku dengan bijaksana, Nak, semua materi bisa dicari kembali jika keadaan ekonomi sudah mulai membaik seperti semula. PERCAYALAH! Badanku sudah berangsur angsur pulih kembali, setelah terpapar oleh Covid 19 yang cukup membuatku tak bisa berbuat apa apa selama sebulan belakangan (jikalau mau ditengok kembali keadaan itu, aku benar benar tidak ingin kembali masuk ke dalam masa masa isolasi yang membuatku seperti mayat hidup!).
Tetiba memecah dalam kesunyian akan lamunanku yang hambar, berderinglah ponselku dari kejauhan, dengan segera aku berlari mengambil ponselku yang sedang bertengger cantik diatas meja makan (karena memang satu jam sebelumnya aku baru saja selesai dengan makan siangku). Dalam layar ponselku berkedip nama Pak Toni ex managerku dulu dikantor lama sebelum aku terkena PHK. Dalam hatiku berbisik, ada apakah gerangan tetiba pak Toni meneleponku siang siang bolong seperti ini, akhirnya aku mengangkat ponselku setelah deringan kelima berbunyi.
YOP, YOPI! Woi apa kabar loe? gimana kabar loe sekarang bro?
Gimana uda sehatkah? gimana orang tua dirumah? aman amankan Yop? Gile ya wabah Corona ini, membuat semua orang tak bisa berpikir jernih. Sebelum sempat aku menjawabnya, pak Toni tetap bercerita panjang kali lebar kali tinggi dengan semangat juangnya.
Yop loe punya waktu ga? gini kapan kapan kita ketemuan yuk, sama gue, pak Xander, Endik. Di tempat biasa aja, loe masih inget kan kafe punya Kak Damar (Gantala Cuisine Kafe). Sore ini bisa ga loe? ayolah mumpung sudah lama kita tidak ketemuan dan ngubrul ngubrul gitu (celotehan suara di ujung telepon sana). Aku tentu sangat senang sekali kalau bisa bertemu mereka kembali, dengan antusias aku mengiyakan ajakan pak Toni untuk bertemu di Gantala Cuisine Kafe punya Kak Damar (aku pun rindu dengan Margharita cheese pizzanya, tetiba air liurnya mulai sedikit menetes membasahi bibirku. Ha ha ha).
Yes, tidak berapa lama aku memacu motor kesayanganku Si Paimo meluncur di jalanan Ibukota Jakarta tercinta ini. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mendarat di pelataran parkir Gantala Cuisine Kafe punya Kak Damar. Tampak bangunan modern bercampur klasik yang bernuansa estetik dan kekinian (Ya, kafe kesayangan semua orang di tempat ini). Setelah memarkirkan Si Paimo, aku langsung beranjak masuk ke dalam Kafe, dari kejauhan sudah terlihat penampakan pak Toni, pak Xander, dan Endik (seingatku dulu Endik juga salah satu karyawan di kantorku, hanya saja kami beda lantai). Mereka tampak asik mengubrul serius namun santai sambil sesekali menyeruput minuman dingin yang mereka telah pesan sebelumnya. Dan pak Xander yang sadar duluan aku telah datang, dia pun melambaikan tangannya kepadaku. HAI YOP, SINI AYO CEPETAN!